Fiance

Fiance
Darel


__ADS_3

Aku sedang duduk santuy di kantin sekolah, sekarang sabtu jadwal seluruh anggota ekstrakulikuler ngumpul.


Kebetulan aku ga ngikut satupun ekstrakulikuler makanya sekarang di kantin. Kalo pulang ga tau mau ngapain.


"Loh, Wafaa?" aku menoleh saat nama ku di panggil.


"Kak Darel? Kok bisa disini?" tanya ku menatap Kak Darel heran.


"Ada urusan aja, kebetulan kangen makanan ibuk kantin." aku mengangguk kemudian Kak Darel duduk didepanku.


"Lo ga ikut ekstra? Malah disini."


"Ga Kak, males. Lagian ga nyangkut ke nilai juga," jawab ku.


"Gimana kabar Adsel?" aku mengangkit sebelah alis ku.


"Ngapain tanya sama gue? Lo temennya kan?" tanya ku heran.


"Gue belum ada kontakan sama dia semenjak perpisahan, makanya gue nanya sama lo." aku mengangguk sebentar.


"Ya tanya sama Mama nya atau siapa kek. Kok malah sama gue? Gue bukan siapa-siapa dia kali." jawab ku menatap Kak Darel.


"Ya setau gue dia deket pas SMA sama lo, dia juga yang paling patuh sama lo, makanya gue nanya sama lo,"


"Gue ga nyimpan kontak dia kali Kak," jawab ku. Udah hampir 3 tahun tunangan aku ga nyimpan kontak Adsel.


"Kontak Mama dia lo ada, kok dia ga ada?" aku hanya mengangkat bahu acuh.


"Mama nya ga mungkin ga gue simpan. Udah lah kenapa bahas dia sih, eneg nih gue lama-lama." kesal ku menatap Kak Darel yang sudah tertawa.


"Ya siapa tau lo masih sempet kontakan sama dia, terus ketemuan." aku hanya menggeleng, malas menanggapi Kak Darel.


Untung ganteng, kalo ga ganteng udah pergi aku dari tadi dia mulai nanya Adsel.


"Ada acara ga nanti Wa?" aku kembali menggeleng.


"Habis gue makan temenin ke mall dong, keliling-keliling mall," aku diam sebentar, siapa sih yang mau tolak ajakan cogan.


"Boleh-boleh," jawab ku mengangguk.


"Yaudah yuk sekarang aja, di foudcart mall aja makannya." aku kemudian menatap Kak Darel heran.


"Kak, gue belum boleh pulang," ucap ku.


"Tenang aja, ayo gue bantuin izin." aku ikut berdiri berjalan bersebelahan dengan Kak Darel.

__ADS_1


Fyi, aja deh kalo walas aku itu galaknya minta ampun, tapi kalo sama Kak Darel ga tau. Soalnya Kak Darel katanya sih kesayangan para guru.


Nilai Kak Darel itu ga pernah mengecewakan walaupun temenan sama anak-anak bejat semua termasuk Adsel.


"Lo yakin mau minta izin sama walas gue Kak?" tanya ku menyakinkan Kak Darel.


"Pak Mamat kan? Walas lo? Walas gue juga kali dulu," aku mengangguk, berarti aku adek komunitas Kak Darel.


Wah asik, nanti kalo udah tamat terus ngumpul ketemu Kak Darel hehe.


"Oo gue ga tau, soalnya ga pernah nanya-nanya tentang geng kalian sama Adsel," jawab ku.


Banyak yang memperhatikan ku dengan Kak Darel dan banyak juga sih yang nyinyir kayak.


'Pake cadar kok jalan sama banyak cowok?'


'Alah percuma cadar kek gitu'


Dan masiih banyaak lagi, aku ya bodoamat toh aku jalannya sama cogan.


"Jangan didengerin," tegur Kak Darel yang hanya ku angguki.


"Udah biasa kak, dari dulu juga kaya gitu." jawab ku santai.


"Ga mau nampar lagi? Kaya Adsel gitu," aku hanya tertawa kecil.


"Masuk dulu Kak," suruh aku ketika kami telah sampai didepan pintu ruang guru.


"Kok malah takut?" aku hanya menggerutu kesal, malah diketawain.


"Assalamualaikum Pak," aku menatap Kak Adsel yang bersalaman dengan Pak Mamat.


"Eh, ada apa Darel sama Wafaa?" aku tersenyum kearah Pak Mamat walaupun ga kelihatan, tapi kan lewat mata bisa dilihat.


"Ini Pak, saya mau bawa Wafaa jalan-jalan tapi kata Wafaa belum jam pulang sekolah makanya izin sama Bapak." jelas Kak Darel yang membuatku menahan nafas sejenak.


Takut di pelototin sama Pak Mamat mah kalo aku.


"Boleh, kenapa ga langsung keluar aja. Kalo Wafaa ga ada ekstrakulikuler?" Pak Mamat menatap aku.


"Ga ada Pak," jawab ku singkat.


"Yaudah sana, hati-hati," semudah itu? Kalau kaya gini aku sering-sering aja minta izin sama Kak Darel.


Setelah berpamitan aku berjalan beriringan dengan Kak Adsel.

__ADS_1


"Semudah itu Kak? Kalau kaya gitu tiap sabtu ajakin gue jalan ya Kak," ucap ku yang di sambut tawa oleh Kak Darel.


"Gue emang deket sama Pak Mamat, jarang bolos sih kalau jam Pak Mamat makanya Pak Mamat gitu." aku mengangguk setuju.


Setelah sampai di parkiran akhirnya aku dan Kak Darel jalan deh ke mall.


"Wahh udah lama ga ke mall." aku menyusuri mall dengan mata ku.


"Loh, biasanya cewek suka ke mall." aku mengiyakan ucapan Kak Darel.


"Gue ga suka jalan sendiri, Kak Rara sibuk. Lagian gue jarang juga ke mall sama Abi atau Umi." ucapku menjelaskan.


"Sama lo kayak Mama, Mama paling ga suka ke mall sendirian, karena gue anak tunggal kadang Mama ngajak sepupu gue," aku mengangguk setuju.


Ternyata Kak Darel juga anak tunggal, kok sikapnya jauh beda sama Adsel yang notabennya juga anak tunggal.


Astaghfirullah ga boleh kaya gitu Awa, beda orang beda prilaku.


"Kakak sepupu lo kuliah dimana?"


"Di UNPAD kak, jarang ketemu jadinya." curhatku.


"Lo mau masuk UI kan? Satu jurusan sama gue." aku mengangguk.


Aku udah dari dulu pengen masuk UI jurusan Kriminologi, entah kenapa rasanya seru kalau jadi BIN itu.


"Gue tunggu," aku mengangguk semangat.


"Kita bakal ketemu bentar lagi, gue yakin banget," ucapku penuh semangat.


"Tapi OSPEK nya susah ya Allah, bagi gue susah soalnya gue susah akrab sama orang." aku menatap Kak Adsel penuh tanda tanya.


"Kaya lo harus bisa posisiin diri lo sebagai orang penting disana, kenal sama semua orang, harus nyapa orang." aku mengangguk mengerti.


Aku ketika Tsanawiyah cukup friendly tapi kalau SMA ga terlalu, gimana caranya pas Kuliah?


"Gue lihat lo di SMA ga terlalu terbuka sama orang, malahan gue jarang lihat lo main sama temen-temen." kalo sama Kak Darel aku kebanyakan ngangguk sih.


"Gue pas Tsanawiyah cukup friendly karena ya dapat yang satu tingkah, tapi lihat-lihat temen SMA rasanya beda aja, kadang gue nyesel ga SMA sama dia." aku menjelaskan secara detail ke Kak Darel.


"Emang apa bagusnya sekolah sekarang? Kok lo malah masuk sini?" aku mencibir sebentar.


"Bukan gue yang mau Kak, Ami sama Ubi yang mau katanya biar satu sekolah sama Adsel. Padahal Kakak sepupu gue juga ada malah mereka milih Adsel. Ga ada untungnya gue satu sekolah sama Adsel, malah bikin sengsara yang ada," jelas ku panjang lebar dengan nada kesal.


Setelah itu kami mengelilingi mall dan sempat singgah makan sebentar karena Kak Darel lapar.

__ADS_1


Tepat jam 5 sore kita pulang, aku di antar pulang Kak Darel, aduuh malah baper.


__ADS_2