
Aku menatap Adsel yang sedang bersama Tasya, iya sekarang aku lagi di mall sama Kak Darel.
Alhamdulillah cuci mata lagi jalan sama cogan.
"Loh itu Adsel, ajak gabung yuk?" aku mengangguk, ya ga ada salahnya kan? Yang penting mah aku sama Kak Darel.
"Sel! Sini gabung," aku hanya mengangguk sebentar, aku malas makan.
Karena ribet dan ga lapar, terakhir pergi sama Kak Darel aku ga makan, sama Adsel juga engga cuma bungkus.
"Lo-."
"Kalo lo mau nanyain masalah cadar gue bunuh lo disini!" tunjuk ku kearah Adsel dengan garpu Kak Darel.
Walaupun aku ga tau Adsel mau nanya apa, yang penting kasih peringatan dulu.
"Kok lo tau gue mau nanyain cadar?" aku hanya menatap Adsel sinis, tidak minat meladeni dia.
"Lo ga sekolah? Udah kelas 3, mau jadi apa lo?" aku spontan mendelik kesal.
"Lo aja yang kelas 3, ga absen 20 hari lulus. Gue yang bolos sehari ini ga lulus? Udah ga bisa lagi lo didunia ini hidup." jawab ku sarkas.
"Setidaknya gue juara kelas ya." aku kembali mendelik.
"Juara paling belakang? Jan sok banyak gaya deh lo, gue yang bolos lo yang sewot." sinis ku menatap Adsel.
Sementar itu Kak Darel sama Tasya cuma diam aja.
"Idih, gue bilangin Abi lo jalan sama cowok!" lah ngancam?
Aku melempar batu es dari minuman ku yang sudah habis.
"Sadar lah wahai manusia." aku kembali menatap Adsel sinis, lama-lama sama Adsel bisa naik darah nih.
"Udah-udah malah berantem. Lo ga kuliah?" aku menatap Adsel yang sedang ditanyai sama Kak Darel.
"Ski-"
"Nah gue bilangin Mama ya, lo skip kelas," aku tertawa saat Adsel menatap ku tajam.
Malah balik sama dia kan.
__ADS_1
"Tahan ya lo pacaran sama dia, eh iya kelakuannya kan sama." ucapku santai menatap Tasya.
"Kok lo bawa-bawa gue?" aku hanya mengedik bahu.
"Gue masih dendam sama lo sih, pengen nampar juga lagi," jawab ku santai.
"Dih gila ya lo?" aku menatap Adsel.
"Dih gili yi li." jawabku mengejek Adsel yang sudah kesal setengah mati.
"Udah-udah jangan ganggu gue, lagi ga mood gue lihat wajah lo." ucapku mengibaskan tangan ke udara.
"Ga sopan lo sama yang tua!" aku hanya memberi aba-aba untuk diam, aku malas berdebat dengan Adsel.
"Wa tunggu disini ya sama Tasya, gue mau ngomong dulu sama Adsel." aku mengangguk, toh sekarang aku udah menang dari Tasya.
"Ajak gue ngomong dong, gabut nih gue." ucapku menatap Tasya sambil menumpukan wajahku ke tangan.
"Main hp sana! Sok deket banget sih lo sama gue!" aku menatapnya heran, padahal mau baik-baik eh malah di kasarin.
"Ye si Siti, udah untung gue mau baik-baik sama lo." ucapku kesal.
Kemudian aku memutuskan untuk memperhatikan gerak-gerik Tasya, dari pada ga ada kerjaan kan.
"Lo kenapa sih masih dendam sama gue?! Salah gue apa lagi?!" aku spontan terkejut.
Benar-benar manusia not have akhlak.
"Di dunia ini ada 3 yang wajib ada di diri lo, Maaf, Tolong sama Makasih! Dan gue lihat lo ga pernah tuh bilang itu semua," jabar ku menatap Tasya intens.
"Lo dari mana tau?!" aku hanya mengedik.
"Orang ga punya akhlak kaya lo udah pasti ga pernah ngomong kaya gitu. Bahkan sama gue lo belum minta maaf kan? Kalo gue mau sih pengen bawa semuanya ke jalur hukum, bagus tuh cari pengalaman di kantor polisi,"
"Tapi, lo kan ga mau cari pengalaman di penjara. Ya lo bilang aja gue ga sopan, main ngancam dan lain-lain, alhamdulillah gue ga rame-rame dan ga pakai fitnah. Soalnya gue mau main bersih ga main sampah kaya lo kemaren." maaf manteman, ini hanya pelajaran buat Tasya.
Udah terlalu songong dan ga pernah minta maaf, anggap aja ini berlebihan. Tapi, bagi aku ini belum cukup membayar semuanya.
"Eh! Mulut lo tu jaga ya! Beraninya bilang gue sampah!" aku hanya santai, Tasya udah bikin keributan dengan menggebrak meja restoran.
"Tenang, gue ga bakal malu akan hal ini. Mau lo sampe guling-guling di lantai gue ga peduli, cuma ngingetin aja. Perkataan gue tempo lalu ga main-main." kemudian aku tersenyum menyambut Kak Darel dan Adsel yang sudah kembali.
__ADS_1
Aku menatap Tasya, memberi ancaman agar tidak memberitahunya kepada Adsel.
Tapi, kalau ular mah yaudah ular aja.
"Ada apa?" tanya Kak Darel ketika Tasya menangis sambil ngadu sama Adsel.
"Cuma sedikit main-main, ga sampe kasar kok." jawab ku santai, sementara Adsel yang sudah menangkap cerita Tasya menatapku tajam.
"Apa?" tanya ku santai, asik bersandar di kursi restoran.
"Lo kalau mau suruh dia minta maaf ga usah ngancam!" tekan Adsel menatapku tajam.
"Gue ga ngancam, gue berkata jujur. Ga ada yang mau gue ancem sama ular kaya dia," jawabku masih santai.
"Masih masalah kemaren?" tanya Kak Darel yang ku angguki.
"Jangan ikut campur kalo mau bela dia Kak," ucapku memperingati Kak Darel.
"Lo kenapa cari musuh terus sih?!" aku hanya mengedik pelan.
"Gue ga pernah cari musuh, lo inget? Dia yang nyamperin gue dulu dan bahkan gue cuma nyenggol dia 0.1 sekon yang bahkan anak balita aja cuma oleng,"
"Gue lupa, lo ga bakal pernah denger apa yang fakta, lo selalu denger yang udah dikarang sama pacar sayang lo," jawab ku.
"Kalian tau, gue bukan seperti orang-orang dicerita yang bakal mau disiksa dan ga ngelawan pas di bully, gue ga bodoh buat ngelawan kalian yang dibawah gue." ucapku tersenyum tipis.
"Gue ga mandang kalian rendah, tapi kalian sendiri yang posisiin diri kalian rendah sehingga gue natap kalian rendah! Jangan pernah main-main sama gue." kemudian aku berdiri lalu pergi.
Meninggalkan keheningan yang terjadi diantara mereka bertiga, maafkan aku Kak Darel jadi ikutan kena imbas.
"Apa lo pegang-pegang?! Lepas ba*gsat!" tekan aku menatap Adsel.
Enak saja main pegang-pegang tangan orang.
"Minta maaf sama Tasya, atau gue ga bakal lepasin sebelum lo balik dan minta maaf ke Tasya." aku tersenyum sebentar.
"Mau gue patahin? Atau gimana? Bisa request kok." aku menatap tangan Adsel yang masih memegang pergelangan tangan ku.
"AARKHH!!" aku tersenyum.
"Cuma terkilir, 1 minggu paling sembuh kalo cepet lo bawa pergi urut. Assalamualaikum gue pamit." setelah itu aku pergi, sedangkan Adsel sudah dibantu oleh Kak Darel beserta Tasya.
__ADS_1
Aku tidak bodoh dalam hal merendahkan orang.