Fiance

Fiance
Wafaa


__ADS_3

Hai, ini bukan pembukaan kok gaes serasa apa sih, nama aku tentu kalian sudah tau.


Adsel? Tentu kalian juga tau dia, entahlah aku sudah lebih 1 bulan ga ketemu dia eh bukan ga ketemu lebih tepatnya ga saling sapa.


Alhamdulillah Umi, Abi, Mama sama Papa ga ada yang nanyain soal hubungan kami di sekolah dan itu bikin aku ga risih sebaliknya Adsel juga.


Rasanya sekolah biasa-biasa aja sih, ga ada yang istimewa selama ini, jalanin semuanya dengan santai dan nyaman.


Aku juga udah jarang main sama Kak Rara, iya Kak Rara udah mau kelas 3 dan aku juga udah mau kelas 2.


Waktu cepat berlalu, aku memutuskan untuk bercadar, selama ini tidak ada yang komen tentang cadar ku.


Malahan banyak yang respect sama aku, alhamdulillah ga ada yang julid.


"Wa." aku langsung menoleh, aku masih di sekolah tepatnya di taman sekolah.


Duduk di taman menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.


"Ngapain? Tumben lo." aku menatap Adsel, iya dia Adsel yang manggil aku tadi.


"Mama nyuruh kerumah nanti, pulangnya sama gue," aku cuma ngangguk, nggak berani lama-lama ngomong sama Adsel.


Denger-denger pacar Adsel yang sekarang tukang bully, walaupun aku ga takut lebih baik menghindari pertengkaran.


"Cadar lo ga bisa copot? Risih gue lihatnya," aku spontan berdiri menatap Adsel tidak percaya.


Plak!


Aku menampar Adsel tanpa pikir panjang, apa yang terjadi dengan orang didepan ku ini. Kurasa terakhir bertemu dia tidak sebejat ini.


"Maksud lo apa b*ngst? Apa hak lo?" aku menatap dia berapi, ribuan orang yang ada di SMA ini cuma dia yang dengan seenak hatinya berkata seperti itu.


"MAKSUD LO APA? NAMPAR GUE?!" aku tersentak, dia gila? Bukankah dia yang memulai?


"Apa!! Lo mau nampar gue balik? Tampar! Ayo tampar! Cuma lo orang bodoh yang ngomen tentang cadar gue! Seribu lebih orang disekolah ini! Cuma lo yang bodohnya sampai DNA! Tau ga sih lo!" aku menatap dia nyalang.


Seberapa malunya Mama punya anak kaya dia, bahkan saat aku nelfon sama Mama, Mama sempet bilang dia juga mau pake cadar.


"Lo sadar ga sih! Seberapa malunya Mama punya anak kaya lo! Siapa yang bikin lo kaya gini ha?!! Nyesel gue ngomong sama Mama!" teriak ku memaki-maki Adsel yang sudah diam.


Ku akui tamparan aku sangat keras, ujung bibir Adsel berdarah dan itu berkat aku.

__ADS_1


"WAFA! ADSEL! Apa-apaan kalian?! Ikut saya?!" aku mendengus kesal, Pak Joko guru kedisiplinan.


~~


"Kamu ngapain nampar Adsel Wafaa?" aku diam, kami dari tadi sudah di dalam ruangan Pak Joko.


Pak Joko juga sudah nelfon Umi, Abi, Mama maupun Papa.


"Saya ga bakal nampar dia kalo mulut sampah dia ga ngomong Pak." jawab ku menatap Pak Joko.


"Perhatikan kata-kata kamu," aku menghela nafas kasar.


Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah. Tangan ku dengan lepasnya menampar Adsel.


"Dia bilang 'Cadar lo ga bisa copot? Risih gue liatnya' dia bilang itu Pak," ucap ku.


"Apa benar itu Adsel?" aku menatap Adsel kalau sempat dia mengelak detik itu juga akan ku tonjok dia.


"Iya Pak, tapi saya ga salah Pak. Dia sendiri yang make cadar di Sekolah ini," jelas Adsel yang ingin ku tonjok sekali lagi.


"Kamu tau Adsel, menutup aurat itu wajib bagi semua wanita? Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu, bahkan kalau bisa saya ingin melihat semua perempuan di Sekolah ini memakai hijab kecuali yang tidak islam," aku hanya diam.


Itu memang benar, apa yang di katakan Pak Joko tidak ada yang salah.


Aku berdiri dan menyalimi Umi, Abi, Mama dan tentunya Papa.


"Kenapa sayang?" itu bukan Umi, itu Mama menatap ku heran.


"Ga apa-apa kok Ma, duduk Ma." aku berdiri diikuti Adsel membiarkan semua orang duduk.


"Ada apa Pak dengan anak-anak saya?" aku menatap Abi yang sudah penasaran setengah mati.


"Jadi sebelumnya perkenalkan saya Pak Joko guru kedisiplinan sekolah. Tadi saya mendapat laporan dari anak-anak kalau ada keributan di taman sekolah, saya langsung kesana melihat Wafaa yang membentak Adsel." jelas Pak Joko yang ku angguki.


Memang aku membentak Adsel, tidak ada yang salah.


"Jadi kronologinya bagaimana Pak?" tanya Papa menatap Pak Joko.


"Jadi yang saya dengar dari saksi yang memang ada disana, Adsel sempat mendatangi Wafaa kemudian mengatakan sesuatu yang memang tidak terdengar, lalu setelah itu Wafaa menampar Adsel sampai-sampai bibir Adsel berdarah dan mereka saling membentak," spontan semua orang yang ada di ruangan menatap ke arah aku dan Adsel.


"Kamu kenapa Wa?" tanya Umi menatap ku.

__ADS_1


"Tanya sendiri sama Adsel, aku ga akan ngomong," ucapku menatap Adsel.


"Ada apa Adsel?" tanya Papa menatap Adsel.


"Adsel cuma bilang 'Lo ga bisa copot cadar lo? Risih gue lihatnya' cuma itu Pa," aku spontan berdiri didepan Adsel.


"Jangan Paa!" teriak ku menghalangi Papa yang ingin menampar Adsel.


"Awas Wa, Papa mau kasih pelajaran sama dia. Berani sekali dia!" aku tertegun sebentar.


"Jangan Pa, biar aku yang ngomong sama Kak Adsel Pa, ini bakal selesai kok." aku tersenyum hangat menatap Papa.


"Sel, Papa kecewa sama kamu." aku cuma bisa diam, tetap berdiri didepan Adsel, takut Papa akan kembali menampar Adsel.


"Makasih Pak Joko, Awa sama keluarga pamit dulu." aku mendorong Umi, Abi, Mama, Papa keluar.


"Mama, Papa, Umi sama Abi pulang aja, biar Awa yang ngomong baik-baik sama Kak Adsel. Awa ga papa kok," aku tersenyum manis ke semua orang.


"Maafin Adsel ya sayang, Mama sama Papa ga tau dia kenapa tapi akhir-akhir ini dia emang berubah parah." ucap Mama yang membuatku tersenyum.


"Ga papa Ma, ayo Awa sama Kak Adsel antar ke parkiran," aku menarik Adsel agar berjalan.


Umi sama Abi dari tadi cuma diam, tapi satu yang aku tau Abi cukup kecewa dengan perilaku Adsel.


Sampai di parkiran kita cukup dapat perhatian apa lagi aku yang dekat sama Mama dan Papa.


Aku tersenyum menatap Abi kemudian memeluk Abi.


"Awa ga papa, Abi jangan mikir yang engga-engga ya. Awa sayang Abi." aku tersenyum melepas pelukan Abi.


"Umi, Awa ga papa. Buat Mama sama Papa jangan marahin Kak Adsel mungkin Kak Adsel cuma salah ngomong doang." aku tersenyum kemudian memeluk mereka satu persatu.


Diikuti Adsel bersalaman sekaligus meminta maaf.


Setelah Mama, Papa, Umi, sama Abi pulang aku berjalan beriringan dengan Adsel, dia masih diam.


"Lo ga papa? Mau gue obatin ga?" tanya ku menatap Adsel, sepertinya sakit tamparan ku tadi.


"Lo maunya apa sih?" aku diam sebentar, udah untung orang selamatin tadi.


"Lo nanya gue mau apa? Gue ga mau apa-apa dan lo perlu tau seharusnya lo bilang makasih sama gue karena udah gue jauhin dari kemarahan Papa sama Abi," ucap ku kesal.

__ADS_1


"Banyakin baca soal agama!" bentak ku kemudian pergi dengan perasaan dongkol.


__ADS_2