
Setelah balik dari rumah Kak Darel kemaren aku dapet Line dari Adsel bilang jangan macem-macem lagi.
Aku cuma read aja, orang ga penting kaya gitu mau ditanggepin.
Hari ini aku bawain cookies buat genk terong-terongan karena udah janji juga kemaren mau buatin.
"Wah wah, adik manis bawa apa itu?" aku menatap Kak Mark jengkel.
"Lo udah nyobain dulu nih cookies?" tanya Kak Lucas menatapku serius.
"Belum, kalau ada racun kalian duluan yang mati," jawabku seenaknya.
Kemaren aku buat cookiesnya banyak karena Umi sama Abi juga suka sama cookies yang aku bikin.
"Makan dulu, baru kita makan." aku menatap Kak Lucas kesal.
"Yaudah kalo kalian ga mau, gue bisa kasih orang lain!" jawabku kemudian menarik kembali kotak cookiesnya dan segera pergi.
Aku lagi sensi aja efek pms kayanya.
"Loh Wafaa, bawa apa?" aku tersenyum kemudian menggeser dudukku agak dekat dengan Ana.
"Mau cobain?" tanyaku menatap Ana.
"Boleh-boleh!" aku kemudian membukakan kotak dan Ana mengambil satu cookies.
"Enak banget! Kamu belajar masak dari siapa?" aku menatap Ana tersenyum.
"Belajar dari Umi, yuk kapan-kapan belajar sama-sama!" ajak ku semangat.
"Btw, handphone kamu dering dari tadi mana banyak banget lagi." aku menoleh kearah handphone ku yang memang aku taruh diatas meja.
"Biarin aja." jawabku.
Aku tau itu yang pada spam chat sama nelfon rombongan terong-terongan.
"Halo?" aku mengangkat telfon dari Kak Dylan karena dia yang baru sekali nelfon.
"Dimana?"
"Kepo!" jawabku kemudian menutup telfon.
"Itu Kak Dylan?" aku mengangguk.
"Pada nelfon semua, ngapain?"
"Oh ga ada, cuma ada sedikit problem aja," jawabku santai, kelas dimulai 20 menit lagi.
"Wa maafin dong, cuma becanda." aku terkejut menatap mereka berlima sudah berdiri disampingku namun tetap jaga jarak.
Kehadiran mereka sontak buat satu kelas heboh, ya kali engga, orang faomus kampus semua.
"Wa, dipanggilin tu." aku menatap Ana, mengkode agar pura-pura ga tau aja.
"Eh gaes, gue bawa cookies ni siapa yang mau?" tanyaku menatap gerombolan yang dekat denganku.
"Wah bo- ga jadi deh," aku menatap Kak Mark kesal.
"Serius Wa itu cuma becanda ga serius kok." aku hanya bodoamat, tidak mendengarkan perkataan dari Kak Lucas.
"Keluar lo pada, gue mau belajar," ucapku menatap mereka satu persatu.
__ADS_1
"Padahal gue mau nurutin semua permintaan lo." aku menatap Kak Darel.
"Yaudah gue maafin, sekarang keluar." jawabku santai.
"Wa," aku menatap Kak Dylan, kenapa sih Kak Dylan dapet banget feel Abi!! Kan jadi takut.
"Aku cuma kesel Kak, ga marah beneran kok." jawabku akhirnya.
"Maaf dulu." aku menatap Kak Lucas tajam, kalau ga ada Kak Dylan udah aku bunuh.
"Maaf!" ucapku singkat.
"Nah udah, cookiesnya mana?" aku menggeleng.
"Cookiesnya ada racun, ga boleh makan," jawabku asal.
"Wafaa." aku meletakkan kotak cookiesnya didepan Kak Dylan, ya Allah kenapa patuh banget sih aku sama Kak Dylan!
Jadi ga bisa ngapa-ngapain kalo diginiin.
"Nah udah, siapa yang ngerasa bersalah sama Wafaa cepet minta maaf." aku cuma diam, ini malah kelas diam lagi menikmati drama anak TK.
Ini beneran kaya anak TK, dan Kak Dylan jadi gurunya.
"Maafin ya Wa!" hanya Kak Lucas, iyalah kan dia yang cari gara-gara.
"Wafaa." aku mengangguk, kemudian menyuruh mereka pergi, cari malu aja.
~~
Jadwal aku udah siap, aku mau ke cafe kata Fakhra ada sesuatu, kapan lagi kan? Dia dateng.
"Ga usah kepo kalian," jawabku kemudian pergi.
Kak Dylan call...
"Iya kenapa?"
"Pergi kemana?"
"Ke cafe ketemu temen,"
"Hati-hati,"
"Iya."
Sebenarnya keuntungan bagi aku ada sosok Kak Dyla, Kak Darel, Kak Riko, Kak Mark, dan Kak Lucas.
Mereka berbeda-beda dalam jaga aku tapi itu semua yang bikin nyaman, aku ga marah sama Kak Lucas, ini efek pms aja.
"Lo sama- KARREL!!" aku memeluk Karrel exited, ya Allah akhirnya ketemu Karrel.
"Ihh Wafaa udah pake cadarr!!" ku tertawa senang, akhirnya setelah lama ga ketemu.
"Kuliah dimana?" tanyaku menatap Karrel.
"ITB mah kalau gue," aku mengangguk mengerti.
"Gue kaget banget lo Karrel loh Ra." ucapku menatap Fakhra yang asik minum.
"Gue tiba-tiba di chat sama dia, katanya pengen ketemu lo," wahh nggak nyangka ngumpul bertiga lagi.
__ADS_1
Kami bener-bener ngabisin waktu cerita-cerita masa SMA dan ya tentu Karrel dan Fakhra sedang dekat dengan cowok.
"Btw, itu handphone lo ada yang nelfon." aku menatap ke layar handphone ku, Kak Dylan lagi?
"Iya, kenapa Kak?"
"Pulang sama siapa? Udah mau pulang?"
"Gocar, belum. Emang kenapa??"
"Darel katanya mau jemput, gue ga bisa,"
"Ga usah, gue bisa pulang sama temen."
"Yaudah hati-hati."
"Iya."
Setelah itu sambungan terputus, Karrel dan Fakhra menatap ku heran.
"Siapa?"
"Itu, temenny Kak Darel, gue sekarang dijagain banyak cowok." ucapku sambil tertawa.
"Wah-wah ga asik lo," aku tertawa senang.
"Mau lihat fotonya?" tanyaku menatap mereka.
"Boleh." aku kemudian memperlihatkan foto yang sempat diambil dirumah Kak Darel kemaren.
Kebetulan mau diajak foto semua.
"Wah wah, Wafaa jadi fakgirl!!" aku kembali tertawa.
"Seneng tau main sama mereka, humble semua sama gue." ucapku.
"Kok bisa ganteng semua sih, ga ngerti lagi gue sama lo." aku mengibaskan tangan bangga.
"Awalnya kan gue cuma deket sama Kak Darel, tapi genk dia open banget sama gue makanya bisa deket," jawabku.
"Tapi ini beneran bikin iri banget tau, ditanyain dimana, mau dijemput lagi haduuh gue iri,"
"Lagian ya gue pikir-pikir siapa sih cowo yang ga mau jaga lo, orang lo kaya gini. Bikin semua orang segan sama lo," aku mengangguk setuju karena ucapan Karrel.
"Gue sama Fakhra aja yang make gamis kemana-mana belum pake cadar orang-orang ga jelalatan matanya," itu juga sih keuntungan kita nutup aurat.
Setidaknya kalo belum bisa make cadar ataupun gamis, hijab harus belajar pelan-pelan.
Aku dulu dari kecil sampe kelas 6 ga pake jilbab kalo pergi main, semenjak masuk tsanawiyah jadi pake.
Kelas 1 juga masih sering pake celana, dan naik kelas 2 udah mulai sadar buat make gamis dan sekarang malah make cadar.
Intinya kita harus ada kemauan, buat make cadar itu bukan hal yang mudah, kita bener-bener harus tawakkal.
"Apa cuma gue yang nyadar dari tadi ada yang merhatiin kita?" aku menatap Karrel.
"Dimana?" tanyaku menatap Karrel heran.
"Dibelakang gue." aku menatap orang dibelakang Karrel kemudian aku tertawa.
"Itu body gard gue." ucapku tertawa.
__ADS_1