
Aku mendengus kesal, ada apa dengan pacar Adsel? Aku mau pulang nih.
Iya, aku dikamar mandi pas mau keluar malah di hadang geng Tasya, pacarnya Adsel.
"Misi Kak, gue mau pulang." tahap satu aku harus sopan dulu, jangan sampe mereka kepancing emosi.
"Lo siapa Adsel?" oke pertanyaan yang sudah ke-20 dari tadi kudengar.
"Sepupu jauh dia Kak." jawab ku.
"Kalau sepupu jauh, kenapa lo nampar Adsel? Dan kenapa ga salah satu aja yang datang? Kenapa pihak sekolah ngundang kedua orang tua kalian?" aku mendengus kesal.
Kaya wawancara banget sih, emang perlunya ama dia apa sih? Tau hubungan aku sama Adsel.
"Ya ga tau Kak, tanyain aja sama Pak Joko atau ga Kak Adsel sendiri." jawab ku kesal, lama-lama emang mancing emosi.
"Setau gue Adsel anak tunggal." aku mendengus kesal.
"Sepupu jauh ningsih bukan adek." ucap ku kesal.
"Gue punya nama." sinisnya yang membuat ku diam.
"Tapi, kenapa lo nampar dia tadi?! Ga sopan banget lo."
"Yaudah si kalau ga tau diam aja!" bentak ku, kalau masalah ini aku jadi sensi.
"Lo kok ngebentak sih?! Lagian dia kan cuma nyuruh lo lepas cadar, ga ada salahnya," aku mendengus kesal ga cowok ga cewek sama aja.
"Lo ga belajar agama apa? Gue make ini nutupin aurat gue! Jadi kalau lo ga tau apa-apa ga usah ngomen sok tau lo!" bentak ku.
"Lo siapa?! Berhak ngatur-ngatur gue?!" lah? aku ga salah apa-apa serius.
"Gue ga siapa-siapa! Lo yang cari masalah. Ga cowok ga cewek sama-sama ga ngerti, pantesan lo ga pernah di ajak kerumah. Kaya gini kelakuan lo!" kemudian aku pergi dari sana menyenggol bahu Kak Tasya.
"Au!" aku menoleh, hei! Dia kenapa?! Keras juga engga di senggol dasar drama queen.
"LO APAIN TASYA?! KURANG KERJAAN BANGET SIH LO!" aku natap Adsel kesal, drama banget sih hidup aku.
Tadi aja drama nya udah ga waras sekarang apa lagi? Makin ga waras?
"Gue apain dia?" tanya ku menatap Adsel, pantesan dia pura-pura jatuh ternyata pacarnya datang.
"Lo udah deh, jangan cari berantem mulu, udah cukup tadi gue kena marah sama Papa!"
Aku menghela nafas jengkel, sama-sama drama semuanya sih.
Aku membelalakkan mata, Hei! Apa masalah hidup orang didepan ku ini.
__ADS_1
Aku spontan menendang dengan kuat tulang kering Adsel dengan keras.
"LO ADA MASALAH HIDUP APA SIH HAH?! LO KALO MAU NGEBELAIN PACAR LO SILAHKAN! CADAR GUE JANGAN LO TARIK B*NGSAT!" aku berteriak kasar, sekali lagi menampar Adsel.
Sekarang aku ga peduli gimana resikonya nanti yang jelas aku benar-benar kecewa sama Adsel.
"Ga cowok ga cewek sama-sama drama lo semua! Gue ga tau kedepannya lo di apain sama Papa, gue ga peduli! Sia-sia gue kasian ama lo!" air mata sudah mengalir dari tadi dari mata ku.
Kemudian aku menarik cadar yang masih ditangan Adsel yang sudah duduk karena kakinya kutendang dengan kuat.
Aku tendang kakinya sekali lagi kemudian menatap teman-teman Adsel yang hanya bisa diam.
"Kalian! Salah punya temen kaya dia. Baru sadar gue ada orang yang agamanya kecil kaya lo!" ucap ku menggebu-gebu.
"Dan lo! Tasya! Kalo hidup lo kaya gini gue jamin lo bakal gue injak-injak terus!" kemudian aku pergi.
Kembali memasang cadar ku, ini semua sudah gila.
Ini calon pilihan Abi sama Umi yang kelak jadi Suami yang bakal bawa aku ke surga.
Aku tersenyum kecil, benar kata orang-orang hidup ini ga jauh dari drama-drama alay yang ga bisa dicerna sama otak.
Bahkan aku bisa ketemu orang bodoh seperti Adsel didunia ini, aku yakin kedepannya hidup dia ga bakal aman.
Dan untuk Tasya, selamat hidup kamu mulai sekarang ga bakal tenang, maaf aku memang sedang hijrah tapi tindakan bodoh mereka tidak bisa dibiarkan.
~~
Hari ini hari kelulusan Adsel, masalah kemaren aku sempat cerita ke Ayah sama Bunda, aku nangis kejang meluk Bunda.
Bunda juga nangis, cuma sama Bunda aku bisa ngomong kaya gitu, besoknya Ayah kesekolah cari Adsel.
Aku benar-benar ga tau, cuma sehari itu aku nginap dirumah Bunda kan jadi Ayah yang nganterin aku.
Ayah masih muda dari Abi, jadi Ayah bisa dijadiin temen dan nyambung kalo bercanda sama Ayah.
Waktu aku turun habis salam sama Ayah, Ayah juga ikutan turun bertepatan dengan Adsel yang turun dengan Tasya.
Aku spontan natap Tasya tajam, Ayah langsung pergi ketempat Adsel, karena aku penasaran aku ikut juga.
Awalnya Adsel salaman sama Ayah, ga lama habis itu Ayah nonjok Adsel yang bikin aku serasa ga ditanah.
Aku natap Adsel yang udah terjerembap ke tanah lalu Ayah cuma bilang.
"Itu hadiah kamu dari saya karena udah berani lepas cadar anak saya."
Semenjak itu ga ada satupun orang yang berani gangguin aku, walaupun sebelumnya juga ga ada.
__ADS_1
Soal hal itu tentu Abi sama Umi ga tau, Bunda tau tapi Bunda ga ngomen apa-apa karena menurut Bunda itu udah bener kalau Ayah nonjok Adsel.
Aku sekarang berdiri didepan Adsel, Umi yang narik aku buat kasih selamat sama Adsel.
Semenjak kejadian Ayah mukul Adsel aku ga pernah ngelihat Adsel lagi, seperti Adsel itu udah ketelen bumi.
"Ayo Adsel foto sama Awa." aku menghela nafas panjang.
"Sekali ya Umi, aku mau istirahat habis itu pulang," ucapku kemudian berfoto dengan Adsel.
Setelah itu aku pulang, aku pulang bukan kerumah tapi ke tempat Ayah sama Bunda.
"Wafaa! Foto yuk." aku diam sebentar, aku pernah lihat dia, setau aku sih temen Adsel.
"Hmm." aku diam, siapa nama dia??
"Oh nama gue Darel Tristan Aldan, panggil aja Darel." aku mengangguk.
"Ayuk Kak." senyum ku kemudian kami berfoto berdua di fotoin teman Kak Darel.
"Darel, ini siapa?" aku tersenyum kemudian menyalimi orang yang kuduga Mama Kak Darel.
"Ini adek kelas Arel Ma." tuhkan bener, aku hanya tersenyum manis menatap Mama Ka Darel.
Deg-degan nih serasa ketemu calon mertua.
"Nama kamu siapa cantik?" aku tersenyum hangat.
"Wafaa tante, panggil aja Awa." ucap ku.
"Tante dari dulu mau coba pake cadar tapi belum sempet, tante jadi minder lihat kamu pake cadar." ucap tante yang membuatku tersenyum.
"Kapan-kapan main ya kerumah, tante pamit dulu."
"Hati-hati taan," ucapku.
"Lo mau kemana?" aa aku baru ingat kalo mau pulang.
"Mau pulang Kak0pp, males disini ga ada kepentingan." ucap ku.
"Gue boleh tanya?" aku mengerjapkan mata sebentar.
"Tanya apa kak?"
"Yang mukulin Adsel waktu itu siapa lo?" jadi Ka Darel tau.
"Itu Suami adik Abi Kak, pas kejadian Adsel narik cadar aku, aku langsung kesana ga pulang, aku ceritain sama Bunda eh taunya Ayah malah nonjok Adsel." jelas ku yang di angguki Darel.
__ADS_1
"Maaf Kak yang kemaren, soalnya gue kesulut emosi sampe bawa-bawa kalian." ucap ku tidak enak namun, Kak Darel cuma tersenyum.