
Just a prologue.
Populasi manusia terus bertambah, tak ayal, kebutuhan akan energi sebagai penunjang kehidupan tentu juga semakin bertambah. Parahnya, hampir 70% kebutuhan energi dunia bersumber dari pemanfaatan energi fosil, padahal ketersediaannya di bumi ini sangatlah terbatas, tentu saja suatu saat akan habis.
Sebagai penggerak utama roda transportasi, ketergantungan akan energi fosil itu sudah berada pada level yang memprihatinkan. Alasan inilah yang kemudian mengilhami sekelompok pengusaha kaya untuk sepakat mendanai sebuah project penelitian, mereka bekerja sama dengan sekelompok ilmuwan genius, demi menemukan solusi alternatif transportasi masa depan. Idenya sederhana, jika manusia dapat bepergian dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, tentu mobilisasi menjadi lebih mudah.
Apa yang mereka teliti? Sebuah partikel murni penyusun cahaya bernama Foton, partikel unik yang tak memiliki massa, karena itulah mengapa Foton adalah satu-satunya partikel di alam semesta yang mampu bergerak dengan kecepatan cahaya, itulah yang mereka coba temukan, sebuah formula yang membuat sel-sel manusia berkerja seperti partikel Foton. Tetapi ....
Pada prakteknya itu tidak terjadi seindah yang dibayangkan, ada banyak hal yang harus dikorbankan, bisa dikatakan penelitian ini adalah penelitian paling keji dan jahat sepanjang sejarah manusia, itulah mengapa keberadaannya sangat dirahasiakan. Bagaimana tidak, ratusan bayi diculik, dan mati sia-sia sebagai kelinci percobaan.
Para ilmuwan itu sudah putus asa, ingin berhenti saja, tetapi donatur mereka menolak, dan meminta penelitian ini tetap dilanjutkan, sudah terlanjur banyak dana yang dihabiskan demi ambisi ini, mau tak mau harus membuahkan hasil.
Meski dirahasiakan, lama-kelamaan dunia mulai curiga, Intelijen Internasional berhasil melacak sebuah aktivitas mencurigakan di zona lingkar Arctic, maka dikirimlah pasukan khusus untuk menyerbu laboratorium penelitian mereka di sana, pada malam berdarah itu, para ilmuwan yang terdesak memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri dengan meledakkan seluruh tempat itu, dan menghilangkan semua bukti penelitian mereka.
Sayangnya, meski data tentang para ilmuwan yang terlibat berhasil diungkap, tetapi tentang siapa saja milyarder yang mendanai riset hitam tersebut, sampai hari inipun masih menjadi misteri, atau mungkin sebenarnya pihak Intelijen sudah mengetahui identitas mereka, hanya saja karena mereka ini adalah orang-orang yang sangat berpengaruh di dunia, kebenaran itu pun sengaja disembunyikan, dan dikubur dalam-dalam, hingga terlupakan oleh waktu.
***
25 tahun kemudian.
Dalam satu bulan terakhir, sedang ramai kasus pembunuhan terhadap anggota keluarga milyarder dunia, setidaknya sudah terjadi sepuluh pembunuhan yang menimpa empat keluarga milyarder yang berbeda, peristiwa itu terjadi hampir beruntun, pihak kepolisian antar negara menduga bahwa kejadian ini mungkin saling berkaitan, diduga dilakukan oleh pelaku yang sama, entah itu pelaku tunggal atau bisa saja sebuah organisasi, tetapi tak ada petunjuk dan bukti yang cukup bagi kepolisian dalam menentukan siapa dan apa motif pembunuhan ini, hanya berupa asumsi bahwa, mungkin peristiwa ini terkait dengan persaingan bisnis yang tidak sehat di antara mereka.
Kini, teror itu tertuju pada keluarga Mr. Nolan Alessander, seorang milyarder yang cukup disegani dan punya nama besar khususnya di bidang farmasi dan industri bahan kimia, lewat sebuah surat misterius yang diterimanya, si pengirim surat mengancam akan menghabisi putri semata wayangnya, Dina.
Mengantisipasi hal tersebut, Nolan lantas memperketat pengamanan pada putrinya itu, ia membayar beberapa orang bodyguard profesional demi mengawal putrinya, tetapi rupanya itu tidak serta merta menghentikan niat si pelaku. Malam itu, sehabis menghadiri pesta di rumah temannya, ketika dalam perjalanan pulang, mobil yang membawa Dina diserang secara brutal, empat orang pengawal Dina mati terbunuh, ajaibnya entah bagaimana rupanya gadis itu selamat, polisi menemukannya hanya tertidur pulas di mobilnya, tanpa luka sedikitpun.
Setelah peristiwa itu, Nolan tak pernah lagi mengijinkan anak gadisnya itu keluar dari rumah, atau lebih tepatnya Dina dikurung di dalam kamarnya, tak hanya itu, penjaga rumah pun kini dipekerjakan lima kali lipat lebih banyak dari hari-hari biasanya, mereka selalu bersiaga 24 jam, tentu tak akan ada penjahat yang mampu menembus rumah itu dengan mudah, sampailah pada hari itu ....
***
Tepatnya seminggu semenjak percobaan pembunuhan putri Nolan.
5 April, 2017.
Malam nyaris menyentuh pukul dua belas. Saat itu, Tuan Nolan masih duduk di sofa besar di ruangan kerjanya, sesekali menjilati ujung jarinya ketika menyingkap helai demi helai buku bacaannya, hari-hari belakangan ini dia telah kehilangan semangat hidupnya, dia lebih banyak mengurung diri dalam mansion-nya, membatasi semua ruang geraknya, bahkan seluruh kegiatan bisnisnya pun telah diserahkan pada orang-orang kepercayaannya saja.
Sementara itu demi membunuh waktu, ia suka membaca berjilid-jilid buku di sana, memang selain sebagai ruangan kerja, tempat itu juga bisa disebut sebagai perpustakaan pribadinya.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya masuk. Nolan tak acuh saja seolah tak terganggu, itu adalah Ramon pelayan setianya.
"Tuan! Maaf mengganggu!"
"Ada apa?" dengus Nolan malas.
"Di depan ada seorang pria yang ingin bertemu anda."
Nolan menutup bukunya, tubuhnya tertegak dari sandaran sofanya, sementara bola matanya membesar, terheran.
"Hah! Tengah malam begini?" serunya.
"Penjaga sudah memeriksanya, bisa dipastikan dia tidak membawa senjata apapun yang membahayakan," sambung Ramon, Nolan menimbang-nimbang sejenak.
"Ya sudah suruh dia masuk, tapi aku minta tetap dikawal," kata Nolan.
"Baik tuan!" seru Ramon, lalu membungkuk hormat sebelum berbalik badan, namun ia terperanjat, rupanya pria yang mereka bicarakan itu sudah berdiri di muka pintu, sontak pelayan itu terjajar mundur beberapa langkah.
Nolan yang menyaksikan itupun kaget dan terlonjak dari sofanya.
"Maaf sudah lancang mengganggu waktu istirahat anda," ucapnya dingin, saat ia sudah berdiri di hadapan Nolan yang wajahnya mendadak pucat.
"Ba-bagaimana kau bisa masuk ke sini?" Nolan terbata, tak habis pikir, sebab masion itu dijaga puluhan orang terlatih dan bersenjata lengkap, mereka tentu tak akan membiarkan siapapun bisa masuk seenaknya.
"Penjagaan di rumah ini sangat payah," ucapnya dengan sunggingan senyum tipis.
"Maksudmu? Jangan-jangan kau ...."
"Ah! Tidak perlu panik tuan, mereka baik-baik saja. Yah, paling cuma pingsan," terang pria itu santai.
Nolan mendadak lemas, dan terduduk kembali di sofanya.
"Jadi begitu ya? Mungkin waktunya memang sudah tiba, aku tau cepat atau lambat suatu saat kalian pasti akan datang," lirihnya, lalu memandang kembali orang asing yang berdiri tegak di hadapannya, cukup lama mereka berpandangan, pria itu tidak mengiyakan juga tidak menidakkan.
Nolan dapat merasakan intimidasi yang kuat dari sosok dingin yang berdiri kokoh di hadapannya. Lama Nolan terdiam, jutaan memori berkelebat dalam pikirannya, lalu menghela nafas berat, ia seperti sudah pasrah. Orang ini mampu merubuhkan puluhan penjaga rumahnya dengan mudah, lalu apa yang bisa diharapkan dari tubuh ringkihnya itu? Dia tau, tak ada lagi yang bisa dilakukannya saat itu.
"Sebelum kau membunuhku, aku punya satu permintaan terakhir."
__ADS_1
Pria asing itu diam, tapi menyimak dengan serius.
"Tolong! Aku mohon, biarkan putriku tetap hidup, semua kesalahan keluarga ini di masa lalu, biar aku saja yang menanggung semuanya," pinta Nolan dangan nada mengiba. Hening, pria asing itu masih membisu, tetapi tiba-tiba ia mengulas senyum aneh di wajahnya.
"Ya! Tentu saja!" ucap pria asing itu memecah keheningan, lantas merogoh cepat ke balik jasnya. Nolan mendadak dingin dan kaku, sudah terbayang olehnya pria itu akan meraih pistol dan meledakkan kepalanya, tetapi bukan, rupanya sebuah amplop surat berwarna coklat yang disodorkan padanya.
"Apa ini?" Nolan bertanya terheran, tapi pria asing itu tak menjawab.
Nolan membukanya, lalu membaca dengan cermat. Ah ini! Cuma surat lamaran kerja! Katanya dalam hati.
Surat itu terlalu sederhana, tak ada lampiran data pelengkap lainnya, kesannya memang seperti dibuat asal-asalan, dengan tulisan tangan yang tidak terlalu rapi namun masih bisa terbaca, tak ada yang istimewa kecuali nama si pelamar dan sebuah stempel organisasi yang menguatkannya, hanya dua hal itu yang membuat Nolan bisa sedikit tersenyum, ini sungguh di luar dugaannya.
"Anda tidak perlu repot-repot memikirkan gaji saya, seandainya saya diterima untuk pekerjaan ini."
"Hahaha!" Nolan terbahak, katanya lagi, "kau ini aneh, bagaimana aku bisa mempercayakan keselamatan putriku pada orang asing, yang datang tengah malam, masuk tanpa permisi setelah baru saja menghajar pengawal-pengawalku di luar."
"Ya! Itu benar! Dalam situasi sekarang, sudah seharusnya anda tidak mudah percaya pada orang lain," timpal pria itu sambil tersenyum, dia sedikit melirik kepada Ramon si pelayan yang rupanya masih berdiri terkesima di pintu.
"Nah, sebelum saya pergi, ijinkan saya mengatakan sesuatu Tuan!"
Nolan menatap tajam. Menunggu.
"Mengurung putri anda dalam kamarnya, bukanlah cara yang pintar untuk melindungi keselamatannya. Sampai jumpa!" tutup pria itu dengan senyum yang sekilas terlihat menyeramkan. Nolan tersentak dari sofanya.
"Hei! Apa maksudmu?" teriak Nolan, tapi pria asing itu tak peduli dan dingin saja berlalu, meninggalkan mereka. Nolan dengan tergopoh berusaha mengejarnya.
"Kenapa kau diam saja?" seraya membentak Ramon yang seolah baru tersadar, tapi mereka cuma bisa saling berpandangan, saat melongok keluar dari pintu ruang baca itu, mereka tak lagi menemukan apa-apa, pria asing itu lenyap bagai hantu.
"Periksa kamar Dina!" teriak Nolan panik, tak mau ambil pusing atas raibnya orang misterius itu.
Mereka bergegas ke lantai atas, pintu kamar masih tertutup rapat, tetapi ketika mereka cek ke dalam, hanya ruangan kosong, Dina tak ada di sana, Nolan makin kacau, sementara Ramon, ah raut wajahnya sukar dijelaskan.
"Cepat telpon polisi!"
Kemudian setelah itu, mereka berlomba dengan waktu mencari di segala tempat di rumah itu, namun tak menemukan apa-apa, kecuali puluhan tubuh penjaga yang sudah bergelimpangan di seantero rumah. Nolan tak peduli, yang terpikir di kepalanya hanyalah nasib putrinya, di tengah kekalutan itu, dari kejauhan nampak dua unit mobil polisi yang lalu masuk melalui gerbang utama, pintu gerbang itu memang sudah terbuka sejak kedatangan orang asing tadi.
Saat mobil polisi itu berhenti di hadapannya, seorang perwira turun menghampiri Nolan, polisi itu memberi hormat lalu menyalami, Nolan belum sempat bertanya atau menjelaskan apa-apa, karena dari pintu belakang mobil itu, ia melihat ada seorang perwira lain tengah bersusah payah, menurunkan seorang wanita muda yang cantik, wanita yang sangat dikenal Nolan, wanita itu sempoyangan di bawah pengaruh alkohol, dia mabuk berat, wanita itu adalah Dina, putri kesayangannya.
__ADS_1