
Kurgers.
Tempat antah berantah ini adalah tempat yang jauh terasing dari nalar manusia, terletak semu di kolong angkasa mayapada, di malam keramat tanpa gemintang ini, yang nampak hanyalah masuknya mobil-mobil mahal ke dalam pagar tinggi pada sebuah bangunan bergaya zaman Grece Parthenon, mewah tapi beraura horor.
Orang-orang yang turun dari mobil kemudian cepat-cepat bergabung, menuju ruangan ritual, ada altar di sebuah lantai berpunden, tepat di bawah kangkangan seekor berhala raksasa bernama Omethir, patung iblis bermata satu dengan lidah terjulur di antara seringai taring-taring panjangnya, suasana nampak mengkelam dengan hanya kobaran api yang menyala beringas dari corong obor yang terdapat hampir di sudut ruangan itu.
Sebuah perkumpulan rahasia nan tertutup, di mana setiap tamu yang datang diharuskan menutup tubuh mereka menggunakan jubah kain hitam, menudungi kepala yang tersembunyi di balik topeng tengkorak serupa setan, hingga masing-masing di antara mereka tak ada yang saling tahu siapa saja yang berkumpul di sana ketika itu.
Kecuali, seorang pria yang berdiri di depan altar, hanya dialah yang memang sudah dikenal orang-orang di ruangan itu, seorang Dimpsith agung yang selalu memimpin ritual, dia memanjatkan doa dengan keras, puja-puji yang diraung-raungkan dengan sakral, dihadapan berhala iblis bermata satu yang melotot menyaksikan segala ibadat pagan mereka.
Seonggok tubuh wanita perawan, dengan balutan gaun putih bak pengantin, menelentang tak sadarkan diri di atas altar batu di puncak dolmen, Dimpsith agung yang telah berada di penutupan doanya, lekas mencabut sebilah belati dari pinggangnya.
Senjata itu dihunuskan tiba-tiba kepada patung Omethir, lalu dia bergerak bagai penjagal mendekati wanita persembahan, mula-mula tangan kirinya terentang meraupi badan wanita tak berdaya itu, dari ujung kaki hingga mencapai kepalanya, sementara tangan kanannya yang menggenggam belati itu, segera ditodongkan ke batang leher sang wanita, bersiap menoreh mata belati di sana.
Namun belum juga sempat sang Dimpsith menyembelih wanita persembahan itu, pisau belati terlepas dari tangan, dan tubuhnya terhuyung sekarat, ia memegangi dadanya sempoyongan, ketika ia menengok tangannya sendiri, ia memekik histeris, rupanya tangan itu telah berlumuran darah, cairan merah itu terkucur dari dadanya yang berlubang, iapun terjatuh di samping altar, diam tak bernyawa lagi.
Kematian Dimpsith agung membuat jamaat ribut kelabakan, dan kerumunan tiba-tiba bergerak simultan menjauhi seorang pria berpenampilan juga sama persis seperti mereka. Agaknya dia seorang penyusup, dia masih kedapatan dengan posisi tangan terjurus mengarah altar, pastilah dia yang telah membunuh Dimpsith di altar, tetapi tidak diketahui trik apa yang digunakannya, karena tangannya hanya terjurus kosong tanpa senjata apapun, tapi dari sisa stance jemarinya, agaknya ada sesuatu yang telah diselentiknya, mungkin batu kerikil.
Di antara puluhan manusia di sana, tak seorangpun ada yang berani mendekatinya, bahkan ketika dia telah maju menuju altar, sekedar menghampiri tubuh perawan persembahan itu, orang-orang itu hanya berteriak seperti melarang, tetapi tak ada nyali berbuat lebih.
"Apa yang dilakukan orang-orang bodoh ini, pada wanita malang ini." makinya, memandang kasihan pada perawan yang hampir saja tersembelih tadi, tanpa mau berlama-lama, segera diangkatnya wanita itu dari altar, ketika dia berniat memanggulnya. Tiba-tiba ....
"Luar biasa!"
Seseorang terdengar memujinya, lalu disusul pula oleh suara tepuk tangan menggema, semua orang saling tengok mencari sumber suara, termasuk pria di altar yang menoleh sesaat ke belakang, dan ia terkejut ketika memandang langit-langit, telah ada seseorang yang secara ganjil berdiri terbalik di sana.
Penampilan orang itu sama persis seperti jemaat lain, dia juga berjubah hitam, bertopeng tengkorak, namun yang aneh adalah kakinya secara tak masuk akal menempel pada langit-langit, menggelantung seperti Kelelawar.
"Tidak kusangka ada Calamity Seven yang menyusup ke sini," kata orang di langit-langit.
"Siapa kau tukang sirkus? Turunlah dari sana, kau sama sekali tak terlihat keren berdiri seperti itu!" seru pria di altar, sambil membaringkan kembali tubuh wanita tadi ke altar.
"Siapa aku? Entahlah, aku sendiri pun tak mengerti mengapa kalian mencari-cariku selama ini."
"Oh, jadi kau orangnya, kau pasti Vileron, kebetulan sekali kau ada di sini."
"Hahaha, kalau kulihat caramu tadi membunuh Dimpsith tua itu, kau pastilah Rimedel The Death Finger, orang nomor lima dari Calamity seven, ya kan! Salam kenal sobat."
"Cihh, berhentilah menyebutkan urutan nomor seperti itu, asal kau tau, nomor-nomor itu tak menggambarkan ururan kekuatan sama sekali, kecuali hanya penanda siapa yang lebih dulu bergabung dalam kelompok kami."
"Menarik, kau percaya diri sekali kelihatannya."
"Turunlah kemari, mau sampai kapan kau bergelantungan seperti itu."
"Ohh kawan, aku sama sekali tidak sedang bergelantungan di atas sini, kalau tidak percaya naiklah ke sini."
Pria di atas langit-langit menjentikkan jarinya, lalu secara aneh dimensi seperti diputar balik, puluhan orang-orang jemaat termasuk pria bernama Rimedel itu tiba-tiba melayang terhisap ke langit-langit, (lebih tepatnya jatuh ke atas melawan hukum alam) entah apa yang sebenarnya terjadi.
Seperti sihir saja, yang tadinya adalah lantai kini telah dibalik menjadi langit-langit, begitupun sebaliknya yang tadinya langit-langit kini telah berubah menjadi lantai.
"Damn you Vileron!" Rimedel memaki, sambil dia berusaha bangkit setelah jatuh berdebam menghantam langit-langit, dilihatnya puluhan orang jamaat yang tadi juga menimpa langit-langit kini terkapar mengalami cedera, dan betapa terkejutnya Rimedel, ketika mendongak ke atas, patung berhala, meja altar, corong obor, dan semua lukisan di dinding, kini berada dalam posisi terbalik, menggantung di atas lantai yang kini telah menjadi langit-langit.
"Nah, sudah jelas kan bahwa aku tidak sedang bergelantungan di sini, Death Finger."
"Pertunjukan sirkus murahan ini sama sekali tidak membuatku terkesan, keparat!" Rimedel segera merangkum kekuatan penuh pada ujung jari-jarinya, bersiap menjentikkan sesuatu.
Tutss!
Sesuatu itu berderu cepat, diselentikkan terarah kepada target, tetapi ketika benda seperti bola logam seukuran kelereng itu menembus tubuh Vileron, secara aneh Rimedel menjerit kesakitan, bola logam itu secara antiklimaks menembus tubuhnya sendiri.
"Argghh!" Dia meringis memegangi dadanya, persis seperti Dimpsith yang tadi mati tertembus bola besi yang dijentikkannya.
__ADS_1
"Ha, permainan kelerengmu itu sangat menarik, Death Finger."
Rimedel dengan amarah, kembali menghimpun seluruh tenaganya, kali ini bersiap melepaskan empat butir bola logam yang terselip di tiap celah jari-jarinya. Sekaligus dalam satu gerakan.
"Hentikan! Itu percuma, kecuali kau ingin melubangi tubuhmu sendiri dengan kelerengmu itu."
Rimedel yang telah terinjak harga dirinya jelas tak mau peduli, empat butir bola logam dijentikkan sekaligus mengarah Vileron, namun bukannya menghindar, dia tidak bergerak sesenti pun, Vileron seperti membiarkan saja bola-bola logam mematikan itu menembusi tubuhnya.
Dan yang terjadi sama persis seperti tadi, Rimedel lagi-lagi menjerit tersungkur, dan sebelum menimpa lantai ia bisa menyaksikan bola-bola logam itu berjatuhan dari sekujur tubuhnya, bola-bola itu menggelinding berlumuran darahnya sendiri.
"Ya ampun! Sayang sekali kan, kalau saja tadi, kau menuruti nasihatku." Vileron menyesalkan.
"Bedebah! Sebenarnya tipuan apa yang kau lakukan?" Rimedel memaki.
Dengan tubuh berlubang, dalam perspektif normal ia terlihat menelungkup seperti cicak di langit-langit, pandangannya terasa mulai memudar, dan dilihatnya Vileron telah melangkah mendekatinya, lalu berhenti saat ujung sepatu Vileron berada persis di samping wajahnya.
"Jangan mati dulu kawan, karena pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai."
Itulah kalimat terakhir yang didengar Rimedel, sebelum pandangan matanya menggelap sempurna, akibat kesadarannya telah menyerah melawan rasa sakit yang dideranya.
***
Minggu, 9 April 2017.
08:24 Pagi, The Jasmine Blossom Resort.
Bernardina mengulet beberapa kali, sebelum turun dari tempat tidurnya di pagi hari yang penuh warna ini, lalu menuju kamar mandi untuk menuntaskan segala hajat pagi secara manusiawi. Selesainya, dia segera menuju kamar Jocelin yang bersebelahan dengan kamarnya, dia berharap bisa menggoda suaminya itu barangkali, tetapi kamar itu kosong, bahkan tak ada tanda-tanda bahwa kamar itu pernah ditempati manusia.
Melihat ruang televisi yang juga kosong, dia memutuskan untuk keluar dari pondok, di luar suasana cukup ramai, di pondok-pondok tetangga yang berjejer rapi di sebelah pondoknya, wisatawan yang juga berlibur di resort itu nampak bahagia menikmati waktu berkualitas mereka, ada yang jogging, ada yang sarapan di beranda bersama pasangan mereka, dan segala macamnya.
Sementara itu, dia hanya bersandar galau pada tiang kayu di ujung tangga beranda berpanggung kayu, memandangi semua aktivitas tetangganya itu, terkadang matanya risau menyaksikan buih-buih air kali yang beriak di depan pondoknya, perasaannya tak tentu arah memikirkan Jocelin, sekedar syak wasangka, jangan-jangan dari semalam dia memang sudah ditinggalkan tidur sendirian di pondok kayu ini.
Sambil menunggu tanpa juntrungan, ia memutuskan duduk saja, di atas bale-bale kayu di beranda, tatapan matanya terepisentris kepada ujung jalan, berharap Jocelin muncul dari sana membawa ramuan pengobat nestapa, dan ia melonjak berdiri dengan senyum bermekaran, ketika benar bahwa Jocelin nampak nyata di ujung jalan sana, berjalan santai membawa seperti dua paper bag isi belanjaan, satu dijinjing dan satu dipeluk. Dia lekas turun dari beranda panggung kayu, demi menyongsong suaminya itu.
"Dari mana?"
"Dari hotel, menemani Ayah Mertua minum kopi sebentar, terus beli ini." kata Jocelin sambil menunjukkan semua barang bawaannya, beberapa pakaian ganti, dan bahan makanan untuk sarapan.
"Kok gak ngajak aku!"
"Tidurmu terlalu pulas, aku tak tega membangunkanmu."
"Tapi kan, aku juga mau jalan-jalan pagi."
"Ya sudah, selesai kita sarapan, kita jalan-jalan. Nah, omong-omong, apakah istriku ini bisa masak?"
"Aku akan berusaha." Dengan rasa percaya diri yang meluap-luap, Dina mengambil alih paperbag yang berisi roti dan sayur-sayuran.
"Bagus!" Jocelin segera meraih tangannya, menggandeng masuk menuju dapur.
Sambil memanaskan wajan dengan minyak, Bernardina juga mencuci selada, tomat dan mentimun, sementara Jocelin membantunya memotong roti, tetapi suara ponsel di saku membuatnya terpaksa meletakkan pisau sejenak.
Panggilan itu sangat rahasia agaknya, karena demi mengangkatnya saja Jocelin haruslah memastikan Dina di dapur tak bisa mendengar percakapannya, barulah ketika telah berada di beranda, ponsel itu ditempelkan pada telinga.
"Hey Nic! Bagaimana perjalananmu? Matahari hangat di pulau tropis sangat menyehatkan bukan?"
"Nanti saja membahas itu, ada hal lain yang tak kalah penting untuk dibahas."
"Kenapa sobatku, kau gugup sekali sepertinya?"
"Kau belum menerima pesan dari Bogdon?"
__ADS_1
"Oh tentu, karena aku memang tak mau, aku mengatakan bahwa dia tak boleh menggangguku dulu, setidaknya dua hari ini."
"Ya pantas saja!"
"Apa gerangan yang membuat Bogdon mengusikmu pagi-pagi begini."
"Soal Rimedel."
"Oh kenapa dengan pemuda urakan itu?"
"Kau tau apa yang dilakukannya di Kurgers?"
"Ya, dia di sana untuk menyelidiki hilangnya beberapa wanita di wilayah itu belakangan ini, sepertinya terkait dengan aktivitas sekte sesat bernama Ernesis di sana."
"Tapi kau tau kalau Vileron juga ada di sana?"
"Vileron?" Jocelin mendadak terdiam.
"Ya Vileron, dia ada di sana, dan si Rimedel bodoh itu dengan gegabahnya menantangnya sendiran."
"What the hell!"
"Dan sekarang kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati."
"Ya Tuhan, sembrono sekali, Aku sangat menyesal Nic, telah mengirimnya ke sana."
"Lalu apa rencanamu sekarang? Kalau kau mau, Aku tidak keberatan menunda liburanku."
"Tidak Sobatku, Vileron sangat berbahaya, percayalah, berurusan dengannya akan membuatmu kerepotan, jadi biar aku saja yang menyelesaikan ini, semoga belum terlambat."
"Kau yakin tak perlu bantuan?"
"Untuk sekarang tidak Nic, nikmati saja liburanmu, tunggu kabar dariku selanjutnya."
"Oh ya sudah."
Panggilan telepon international itu segera dimatikan, dan ketika dia membalik badan, di muka pintu ia mendapati Bernardina memandanginya dengan muka gamang, agaknya istrinya itu memang sudah lama berdiri di sana, mendengar semua pembicaraan Jocelin tadi, ketika dia hendak menegurnya, wanita itu malah melongos begitu saja ke dalam.
Dia masuk ke kamar, Jocelin yang tak keruan perasaannya lantas mengikutinya, namun di dalam kamar Jocelin tersenyum, tersentuh hatinya melihat Bernardina tengah menyiapkan segala pakaian formal yang telah menjadi seragam hariannya.
Jocelin diam saja ketika istrinya itu juga terlibat membantunya memakaikan suit formal itu, hingga ketika Bernardina mengeratkan simpulan dasi, barulah Jocelin membuka suara.
"Maaf Sayang! Ada urusan mendesak yang membuatku harus pergi, mungkin agak lama, sementara ini, kamu pulang dengan Papa dan Ramon saja ya, aku akan segera mengabari mereka di hotel."
Seperti tak mau peduli dengan titah Jocelin, Dina malah melirihkan kekhawatirannya, dia berkata, "Orang bernama Vileron ini, apakah dia sangat berbahaya? kenapa perasaanku tak enak."
Jocelin terdiam, pertanyaan itu memaksanya mengehela nafas berat.
"Vileron? Hmm! Dia hanyalah orang iseng yang kurang kerjaan, aku akan memberinya pelajaran," selorohnya kemudian.
Bernardina yang tau bahwa Jocelin hanya sekedar mengenakkan suasana hatinya, malah semakin cemas, "Pulang jam berapa?" tanyanya.
"Mungkin agak malam, tunggulah di rumah kita, jangan lupa siapkan makan malam yang enak untuk suamimu ini."
"Rumah kita?"
"Well, nanti Tuan Willian akan membawa kalian ke suatu tempat, biar dia saja yang menjelaskan."
Dina yang tak mengerti cuma menghela nafas berat, lalu dia menjauh dari Jocelin, "Hati-hati!" bisiknya tak rela.
Jocelin menariknya kembali mendekat, mendongkrak dagunya naik, lalu tanpa aba-aba segera mendaratkan sebuah kecupan, wanita itu terpejam saja, dan ketika ia membuka matanya kembali, Jocelin sudah tak ada lagi di hadapannya.
__ADS_1
"Pergi begitu saja, meninggalkan sarapan!" gerutunya denagn kesal.
***