Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
4.First Impression


__ADS_3

Present time


April 7, 2017


Ketika itu, saat matahari mulai menanjak tinggi meninggalkan peraduannya, di lantai bawah, di ruang tamu, Nolan terlihat duduk tenang berbicara dengan seorang pria yang berdiri tegap di sampingnya.


"Terlepas daripada misi yang telah diembankan pada kalian, khususnya padamu, jujur, aku masih tak mengerti mengapa orang sepertimu, mau melakukan pekerjaan merepotkan ini." ujar Nolan pada pria itu.


"Jangan salah paham Tuan, mereka tak pernah meminta saya mengurusi pembunuhan keluarga elit korporasi dunia ini, tetapi memang, saya sendirilah yang menginginkannya."


"Boleh aku tau apa alasannya? Maksudku, ini sulit bahkan sekedar membayangkan orang sepertimu yang berada di puncak rantai makanan, mau berkerja sebagai pengawal pribadi dari anak seorang pengusaha miskin sepertiku ini, bukankah ini tak masuk logika."


"Well, saya sendiri pun tak mengerti, mengapa saya mau melakukan ini, jadi kalau Anda bertanya apa alasannya? Saya tak punya alasan apa-apa." jawab pria itu santai, lalu dia tersenyum dan hanya dia yang tau apa maknanya.


"Oke! Baiklah, anggap saja bahwa saat ini kau sedang bosan, karena aku tau reputasimu, itulah kenapa aku tak ragu mempercayakan putriku padamu."


"Omong-omong Tuan, soal dua hari kesepakatan yang saya tulis dalam surat lamaran itu, apakah sudah Anda sampaikan pada putri Anda?"


"Ya, dia sepertinya tak ada masalah dengan hal itu, walaupun aku sendiri tidak mengerti apa maksudmu mengajukan syarat seperti itu."


"Oh masalah itu, nanti Anda akan tau sendiri."


"Baiklah, aku bisa sedikit bernafas lega sekarang."


Pembicaraan mereka terhenti ketika perhatian mereka tercuri oleh seorang gadis yang menuruni tangga, lalu menghampiri ke dua pria itu. Nolan tersenyum padanya.


"Sayang! Perkenalkan ini Jo, selama dua hari ke depan dia akan bertugas menjadi pengawalmu." Nolan membuka perkenalan, sekedar basa-basi, Dina cuma mengangguk pelan, Dia sudah tau, toh mereka sudah bertemu kemarin, gadis itu agak memalingkan wajah.


"Nah, Jo! Ini Bernardina putriku, kupercayakan dia padamu, tolong jaga dia baik-baik."


"Saya akan berusaha sebaik mungkin, mohon kerja samanya, Nona!" ucap pria bernama Jo itu, dia melempar senyum seramah mungkin kepada Dina, sementara gadis itu, entah kenapa lagi-lagi membuang muka.


"Daddy! Aku sudah terlambat, boleh kan, aku jalan sekarang?" tanya Dina, sekedar mencari alasan, ingin secepatnya mengakhiri acara perkenalan yang menurutnya tak penting ini.


"Ah! Ya sudah sana, hati-hati ya!" tutup Nolan, dan membiarkan anak gadisnya itu mencium pipi kanannya. "Love you dad!" bisiknya sebelum berlalu.


Nolan tersenyum geli, merasa lucu melihat tingkah Dina dan pengawal barunya itu, gadis itu berjalan seperti tergesa menjaga jarak, sementara Jo mengkutinya dengan santai.


Sesampainya di tempat parkir, Ramon sudah menunggu di sana, mereka menuju ke mobil sedan berwarna hitam yang telah dipersiapkan, Jo sigap membukakan pintu untuk gadis itu, bukannya lantas masuk, Dina justru diam tak merespon, setelah itu ia malah melongos berlalu ke satu mobil lain di samping sedan hitan itu, sebuah mobil sport berwarna kuning, mobil kesayangannya yang sudah lama menganggur, dia masuk dan langsung duduk saja di kursi kemudi.


"Aku bisa nyetir sendiri!" katanya ketus, sebelum menutup kaca, dan mobil sport kuning itu berderu pergi, meninggalkan Jo yang cuma diam memandangnya tanpa ekspresi.


"Waduh, bagaimana ini?" tanya Ramon panik, memandang Jo.


"It's fine! semua akan baik-baik saja." katanya menenangkan Ramon, ia pun masuk ke dalam sedan hitam itu dan berlalu meninggalkan Ramon.


***

__ADS_1


Dina menginjak pedal gasnya lebih dalam, dari kaca spionnya ia sadar, ada sedan hitam yang menguntitnya.


"Gila! Cepat juga dia!" dengus Dina, membuatnya makin tertantang, dengan sedikit menyeringai jahat, dipacunya mobil itu lebih kencang dan makin kencang.


"Oh Boy! Biar kuberi tau kau, siapa aku ini!" gumamnya kecil, dengan lincahnya mobil sport kuning itu menyelap-nyelip di antara kendaraan lain di jalan tol yang lumayan padat itu, menit demi menit terus berlalu, Dina memantau kaca spionnya tanpa pernah sedikitpun mengurangi kecepatannya.


"Tak ada!" desisnya memastikan.


Memang benar, rupanya sedan hitam itu tidak terlihat lagi, dia sedikit memelankan laju kendaraan, dengan segaris senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya, saat itu dia cukup yakin kalau sedan hitam itu benar-benar tertinggal jauh, hingga kehilangan jejak.


Lama-kelamaan karena terbawa penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, diam mengamati kaca spionnya nyaris tak berkedip, tak terasa sudah hampir lima menit berlalu, dia masih menunggu, tapi sedan hitam itu benar-benar tak tampak lagi.


"Dasar payah! Ga ada harapan." gumamnya.


Lagian, kenapa juga aku harus peduli? gerutunya dalam hati, dan segera berlalu dari situ.


***


Di belahan dunia yang lain.


Di suatu wilayah, atau tepatnya di sebuah laboratorium tersembunyi. Di sana ada seorang wanita berumur sekitar 28 tahun, yang tampak asyik bergelut dengan aksi reaksi dari labu-labu kimianya, wajahnya cantik, dihiasi kacamata yang bertengger indah di pangkal hidungnya, sementara rambutnya yang panjang itu hanya digulung dengan gaya cepol asal-asalan, tampak ia sesekali membubuhkan catatan kecil dalam tabel pada clipboard di tangannya, wanita ini adalah Briana.


Dia terkesiap, ketika menyadari ada orang lain yang hadir tiba-tiba seperti hantu, entah muncul dari mana, tetapi karena telah terbiasa dengan kehadiran tak terduga orang ini, Briana nampak tenang.


"Baru hari pertama kerja, sudah bolos ya, kamu!"celetuk Briana, tanpa menoleh.


"Enggak kok, aku sedang bertugas, Yah, hanya iseng saja mampir ke sini." sangkalnya.


"Tidak perlu mengkhawatirkannya, dia akan baik-baik saja." jawab orang itu mantap.


"Ya memang benar, karena sebenarnya, yang aku khawatirkan itu kamu." Briana meliriknya kemudian, di balik kacamatanya samar terlihat bola mata wanita itu memancarkan rasa prihatin yang mendalam.


"Kamu tau kan, soal kondisimu, Foton di tubuhmu itu adalah racun yang tanpa kamu sadari sedang menggerogoti sel-sel humanoid-mu. Saranku, kurangilah menggunakan kekuatanmu untuk hal yang tidak perlu, termasuk terlalu sering bepergian jauh dengan cara senyap seperti barusan, atau kamu mau tubuhmu melebur menjadi cahaya seutuhnya, kamu akan hilang dan ...."


Briana malas melanjutkan, lantas mengambil sebuah tube vacutainer berisi cairan biru pekat dari sebuah cooler box di meja eksperimennya, ia menyerahkannya pada pria itu.


"Serum ini hanya membantu tubuhmu selama mungkin untuk mempertahankan wujud humanoid-nya, tetapi tidaklah benar-benar menghentikan peluruhannya." terang Briana.


"Terimakasih, aku mengerti, jadi tidak usah terlalu mencemasku." ucapnya sembari menerima serum itu.


"Berdoa saja, semoga hal itu tidak pernah terjadi. Yah, tentu saja aku akan terus berusaha semampuku membantumu," kata Briana, pria itu membalasnya dengan senyum.


"Sebenarnya, aku ke sini karena ada sesuatu yang mau kubicarakan, tapi nanti saja deh, aku akan menemuimu lagi kalau kamu sudah tidak sibuk, sampai jumpa!" tutup pria itu, nyaris berbisik halus di telinganya, dan sedetik kemudian ketika Briana menoleh, sudah tak ada siapa-siapa lagi. Pria itu kembali lenyap bagai hantu.


"Dasar!" gumamnya, sambil menggeleng-geleng kecil.


***

__ADS_1


Dina telah tiba di kampusnya, ada sedikit rasa kesal menggumpal di hatinya.


"Kemana ya perginya?" Gumamnya tak habis pikir, ini membingungkan memang, di satu sisi Dina senang Jo berhenti mengikutinya, tapi di sisi lain dia sedikit kecewa, karena pengawalnya itu tidak segigih yang diharapkannya.


"Ah, masa bodolah!" katanya tak peduli.


Dia turun dari mobilnya, dan bergegas menuju ruang kelas, kehadirannya langsung mencuri perhatian teman-temannya, mereka menyambutnya dengan bermacam-macam kesan.


Meski terkadang angkuh, bagi sebagian temannya Dina itu gadis yang menyenangkan, pun dia bukan tipe orang pemilih dalam berteman, meski terkadang menjaga jarak namun bukan orang yang sulit untuk berbaur, dia tipikal orang yang tak suka didikte, senang mendobrak norma, secara sosial dia sama saja seperti gadis-gadis dari keluarga kaya lainnya, senang barang mahal, penyuka pesta, penggila salon dan segala macamnya.


Dina berbincang dengan berberapa teman yang mengerubunginya, isi pembicaraan itu hanya berkisar seputar kabarnya dan keluarganya, serta gosip-gosip hangat yang menyelimuti keluarga Nolan belakangan ini.


Tak berapa lama Pak Dosen datang, kelas pun dimulai, berjalan membosankan seperti biasanya, ketika Dosen menjelaskan, Dina tak begitu fokus memperhatikan, karena pikirannya memang ada di tempat lain, tau-taunya eh-, mata kuliah itu sudah berakhir, kelas pun bubar.


Ketika Dina masih sibuk merapikan alat tulisnya, seorang mahasiswa masuk, dia anak fakultas hukum, wajahnya tampan, outfit-nya sangat fashionable, milenialis, seorang penggombal ulung, Indeks kumulatifnya lumayan, ah pokoknya dia memenuhi semua kriteria cowok idaman yang ada dalam pikiranmu. Dina tersenyum menyambutnya. "David!" ucapnya pelan.


Sebenarnya bagaimana simbiosis mutualisme antara kedua makhluk ciptaan Tuhan ini? Jadi begini, pada dasarnya Bernardina itu adalah cewek normal pada umumnya, ya dia senang-senang saja ketika ada cowok keren seperti David itu mendekatinya, lalu mengutarakan perasaan padanya, main terima begitu saja.


Padahal, Dina bukannya tak tau bagaimana perangai buruk David yang acapkali bergonta-ganti pacar hampir setiap bulan. Maka, bila kita menyelam jauh ke relung hatinya yang terdalam, kita hanya akan menemukan sekat abu-abu, apakah ada cinta buat David? Oh, Dina belum mau berhitung sejauh itu, apalagi di usia pacaran mereka yang baru seumur kecambah toge ini, bagi Dina cinta adalah enigma, maha rumit, berkelindan, dan unexplained phenomena.


Sejauh ini, yang terjadi hanyalah, dia tetap berusaha untuk simple minded, jalani saja, selama itu masih asyik buat dijalani, begitulah kira-kira.


David menarik sebuah kursi dan duduk sedekat mungkin dengan Dina.


"Senang melihatmu kembali, Honey!" ucapnya kemudian.


Dina mengulum senyumnya, membuat David gemas, lalu mencubit sebelah pipi gadis itu.


"Au! Sakit tau."


"Habisnya, aku kangen banget sama kamu."


"Masak?"


"Emang kamu gak kangen sama aku?" David balas menyerang.


"Mmm! Gimana ya?" Dina menggantung.


"Jahat banget!" David cemberut, Dina tertawa.


"Eh, omong-omong, kamu masih ada kelas lagi ga?" tanya David, Dina menggeleng.


"Kita jalan yuk?"


"Emang mau jalan kemana?"


"Kemana aja, nanti dipikirin, tapi mending kita cari tempat makan dulu deh, aku tau tempat yang bagus."

__ADS_1


"Oh! Oke deh!"


Tak berlama-lama, merekapun lekas meninggalkan ruang kelas itu, karena lebih praktis, mereka akhirnya memutuskan berangkat menggunakan satu mobil saja, kemudian mobil Davidlah yang dipilih, sementara mobil Dina dititipkan saja di parkiran kampus.


__ADS_2