Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
18.Banquet


__ADS_3

05:43 PM


Ferrari kuning itu melesat begitu elegan di sore yang kemuning Sabtu ini, David cukup terampil mengemudikannya, meski sesekali kecepatan harus berkurang karena macet yang merambat, tetapi itu tak masalah baginya, karena dia sedang bahagia, senyum kepuasan selalu bermekaran di wajahnya, saat menengok pada gadis di sebelahnya yang tertidur. Tidak, itu bukan tidur, lebih cocok disebut pingsan.


Dina mengalami ngantuk berat setelah meneguk air mineral yang telah dicampur Flunitrazepam oleh David, obat insomnia berefek kuat ini memang berbahaya, selain larut air, obat ini juga tak memiliki warna dan rasa, hingga sulit mengetahuinya jika sudah tercampur air minum.


Pintar sekali David itu, agar tak merusak segel kemasan, obat itu dimasukkan dengan menggunakan spuit (alat suntik), kemudian dia menutup kembali lubang tersebut dengan Sealex, sejenis lem bening yang bersifat waterproof, cukup satu toelan kecil maka lubang itu rapat kembali, seperti tak berbekas, jika kurang teliti.


Dia mesti bekerja sama dengan seorang pedagang kaki lima, agar trik ini makin sempurna, memang di luar pagar kampus itu banyak sekali pedagang seperti itu yang memiliki lemari pendingin minuman, maka David hanya perlu datang lebih awal, kemudian menitipkan botol itu untuk didinginkan di sana.


Pedagang kaki lima itu tak perlulah harus tau untuk apa botol yang dititipkan itu, selembar uang biru akan menyumpal mulutnya, tugasnya hanya satu yaitu menjaga agar botol itu tak diambil orang lain ketika membeli.


Nantinya, Dia hanya perlu berpura-pura membeli minuman, kemudian mengambil botol yang sudah dia tandai itu, uap-uap air yang ditimbulkan suhu dingin akan semakin mengaburkan bekas tambalan, dan itu akan menimbulkan kesan bahwa botol itu hanyalah botol normal seperti botol yang lain.


Dina sebenarnya sudah muak sekali, dan perasaannya sedikit tak enak ketika tau David rupanya datang tak membawa mobil, dia mengaku ke kampus menebeng mobil temannya, sementara mobilnya sendiri sudah dijual tadi pagi untuk menambah pembayaran mobil baru yang kemarin dia pesan di pameran otomotif. Ternyata unitnya inden dan baru bisa dikirim paling cepat satu minggu.


Kurang lebih begitulah cerita yang dikarang David pada Dina, yang pada akhirnya membuat Dina mau tak mau merelakan DavidĀ  menjadi sopir di mobilnya, maka mobil itu pun berjalan mulus secara perlahan berlalu dari kampus.


Permainan baru saja dimulai ketika mobil itu berhenti tepat di pedagang kaki lima yang tadi itu, tak perlu menanyakan Dina mau minum apa dan segala macamnya, cukup beli saja dua botol air mineral yang dingin, wanita yang sedang jengkel itu tentunya tak akan mau repot-repot ikut turun dari mobil lalu mengecek ke dalam lemari pendingin, dia akan memilih diam menunggu saja di mobilnya. Setelah David kembali ke mobil, dia akan membuka satu untuk diminum sendiri, lalu satu botol khusus itu ditaruh saja di dekat Dina.


David hanya perlu memainkan sedikit efek psikologis di sini, bahwa dia tak perlu harus terang-terangan meminta Dina meminum langsung air di botol itu, biarkan dia yang sedang jengkel itu kehausan di sore yang gerah itu, tentunya embun-embun air di botol yang dingin itu akan menarik perhatiannya, biarkan lima menit sepuluh menit tunggu saja, dan semua kesabarannya berbuah manis ketika Dina benar-benar merobek segel di tutup botol, lalu meminumnya tanpa curiga, tanpa perlu mengatakan tatap mata saya, maka gadis itu sudah tertidur sendiri.


Siang sudah bertukar dengan malam, begitu cepatnya mengiringi Ferrari yang terus melaju, melewati jalan yang kian menjauhi perkotaan, David menyetel musik dengan keras, sementara Dina yang malang masih tertidur seperti orang mati, seandainya dia terbangun pun ini sudah percuma, mereka sudah terlalu jauh dari peradaban, tak akan ada juga yang menolong.


David yang jahat dan seperti tak ada kapoknya itu, bisa saja menyembelihnya kapan pun dia mau, lalu membuang jasadnya ke jurang gelap tak berdasar di sepanjang perjalanan, tentu tak akan ada juga yang tau, dan perjalan itu masih berlanjut tak tau entah kemana.


***


St.Petersburg, Rusia.


Crown Grand Hotel, Suite Room.


Sore itu, Jocelin Albert menyalami tangan Tuan Prakash Rajrendhi dengan genggaman yang kuat, setelah pembicaraan terbatas keduanya yang berjalan santai tapi serius. Dalam kunjungan bisnisnya selama tiga hari ke Rusia, orang kaya dari negeri Hindiland itu akhirnya sepakat dengan kerja sama mereka tentang pembangkit energi geothermal di Corvatin Mount.


Jocelin melirik pergelangan tangannya, sebelum berpamitan pada Tuan Prakash yang malam minggu ini akan bermalam di Crown, malam terakhirnya di Rusia sebelum besok dia akan bertolak pulang ke negaranya.


Jocelin masih ada beberapa pekerjaan kecil lain yang mesti diselesaikannya, sebelum pulang ke Northingham Palace di Hogsburn Valley, rumah kediaman keluarga Moffin, perjamuan makan keluarga besar ini akan dimulai jam tujuh nanti malam.


Untungnya jalanan kota Petersburg tidaklah semrawut seperti kota New Batavia tempat tinggal Bernardina di negeri tropis yang sangat jauh itu, masyarakat di Petersburg lebih senang berdiam diri saja di rumah bila akhir pekan, maka tanpa hambatan kemacetan yang berarti tepat pada pukul 04:46 Post Meredian, Jocelin telah tiba di Northingham Palace.


Istana kediaman konglomerat Moffin, berdiri megah di areal tanah pekarangan seluas lima belas hektar, seperti lumrahnya istana dalam dongeng, pada saat masuk melewati gerbang utama, maka pepohonan Oak (Eik) merah akan menyambut memagar betis di sepanjang bahu jalan. Saat musim gugur tiba, daun-daun Oak yang merah menyala itu akan rontok menimbun jalanan selayaknya aliran sungai darah nan eksotis.


Setelah melewati pokok-pokok hutan Oak, mata akan kembali tersirep kepada eloknya danau buatan berair jernih kebiruan, di sana mengambang kolom-kolom Waterlily berbunga jingga permai, penuh bangau liar yang gendut dan perahu-perahu kano yang ramping, tertambat pada jerambah kayu yang menjorok jauh ke tengah danau.


Setelah melewati danau buatan itu, barulah di balik pucuk-pucuk pohon Palma yang mengemas terpapar spektrum matahari sore, mencuat pilar-pilar jangkung berkilatan menopang serambi bangunan utama bergaya Byzantium.


Tidak main-main gilanya istana itu, di dalam bangunan beraura aristokrat itu, tinggal setidaknya 3 orang kepala pelayan utama, 20 orang pelayan umum, 20 orang tukang kebun, 10 orang juru masak, 10 orang sopir pribadi, 5 orang perawat ternak terutama Macan dan Kuda-Kuda kesayangan Frederick, 2 orang mantri kesehatan, dan 2 orang pegawai serba bisa yang biasanya mengurusi instalasi listrik dan air ledeng, itu tidak termasuk sekuriti penjaga keamanan, jumlah mereka tak dapat dipastikan selalu berubah, bergantung pada situasi.


Tentu juga kita harus memperhitungkan anggota keluarga inti yang bersemayam di sana, Frederick Moffin si Tuan Besar, beserta Nyonya Terracotta istrinya yang skandinavian asli, dia wanita yang tegas sebab gen legendaris bangsa Viking mengalir dalam pembuluh darahnya.

__ADS_1


Dalam daftar resmi keluarga ini, ada si anak sulung Frederick bernama Annelis Verland beserta suaminya Christopher, juga dua anak mereka Ted dan Sonia, lalu putri nomor dua Frederick yang masih melajang Chloe Riberia Moffin si rambut coklat yang penuh sensasi, dan terakhir si bontot Perperone Guilette, gadis pendiam yang relijius.


Kita tidak perlulah memasukkan Jocelin Albert, sebab si jantan liar ini, memang tak pernah bermukim di sana secara permanen, dia seorang outsider yang penuh petualang, melanglang jagad, seperti Penguin Russel yang nomad.


Begitu Jocelin tiba, baru juga turun dari mobil, tiba-tiba dua orang kemenakannya Ted dan Sonia langsung menghambur kepadanya, Anne sang ibu melepaskan anak mereka itu seperti Anjing galak yang sudah tak sabaran menerkam maling.


Kedua bocah bandel itu kegirangan sekali bertemu Paman mereka yang sudah hampir empat bulan ini menghilang, lebih tepatnya belum pulang ke Northingham, rindu sekali mereka lama tak bermain dengan Jocelin, mereka dikepak di sisi kiri dan kanan.


"Bagaimana kabar kalian Anne? Mana Chris?" tanya Jocelin berentet pada saudara sulungnya itu, karena memang usia Anne lebih tua setahun daripada Jocelin.


"Kami sehat, dia sedang keluar menemani Ayah, menemui Walikota Scot, juga Elder Gryffin, mungkin sebentar lagi pulang!"


"Elder?" ulang Jocelin, bahkan sesaat langkah kakinya sempat terhenti ketika mengatakannya.


"Ya, banyak sekali orang yang akan diajak makan bersama kita nanti malam."


"Mendadak sekali ya?"


"Yah, begitulah."


Sambil berjalan masuk, mereka terus bercengkrama akrab, sebelum Jocelin pada akhirnya terpaksa menurunkan kedua kemenakan liarnya itu dari gendongan, karena harus menunduk demi menyalami Ibunda Ratu, Nyonya Terracotta yang sedang betakhta anggun di sofa kebesarannya di ruang santai keluarga, sementara di dekatnya juga ada Perperone Guilette yang sedang khusyuk mengulik tuts grand piano.


"Oh Pero lihat siapa ini? Inikah bujangku? Albert yang sombong itu?" Terracotta menampar-nampar pelan pipi Jocelin, seperti menyindir penuh geram di hadapan Anne dan Perperone yang masih khidmat menatap partiture.


"Bagaimana kabarmu Mother?" Jocelin bertanya sopan, sebisanya mengenakkan suasana.


"Aku benar-benar minta maaf!" ucap Jocelin tertunduk.


"Ya sudahlah sana, pergilah mandi, kau sangat kusam dan tidak terurus sekali, aku hampir tak bisa membedakan bentukmu dengan Simon si tukang kebun yang dekil itu," Terracotta terus mengomel, dan Jocelin memanfaatkan perintah Terracotta sebagai kesempatan, ia cepat naik ke kamarnya, menanggalkan pakaian lalu mandi membersihkan badan.


Pada dasarnya, dia memang sedikit merindukan suasana rumah ini, rumah yang penuh kenangan masa kecil hingga remaja, orang-orang di rumah itu memperlakukannya dengan sangat baik. Terlalu baik malah, sampai ia pun merasa segan, dan tak enak sendiri berada di tengah kehangatan keluarga ini.


Semua kenangan manis itu tentu tak mungkin bisa dilupakannya, bahkan curahan air dari shower yang dibuka sederas-derasnya tak mampu menghanyutkan butir-butir memori indah itu di kepalanya.


***


06:31 PM


Hogsburn Valley, sebuah kota kecil di Rusia yang terletak di bawah kaki bukit Roskova, kota yang dulunya disebut juga sebagai Kampung Inggris, setelah melewati sejarah yang panjang hingga akhirnya kampung yang didiami komunitas imigran Inggris itu berkembang menjadi kota makmur dengan kebudayaan mereka sendiri, dengan adat istiadat yang masih kental akan pengaruh nenek moyang mereka dari periode Anglo Saxon. Itulah kenapa kebanyakan nama penduduk di kota itu atau juga bahasa sehari-hari mereka masih kentara sekali nuansa British-nya.


Tuan Scot datang lebih awal, dia seorang Walikota berpembawaan kalem tapi disiplin, karakternya sama persis seperti kota Hogsburn yang dipimpinnya, sempat mengobrol sebentar di ruang tamu bersama Frederick, sebelum Elder Jorge Gryffin datang, seorang pemimpin kuil suci Astharian di Hogsburn, tokoh tetua keagamaan yang penuh kebijaksanaan.


Setelah itu, satu demi satu kerabat dan kolega keluarga berdatangan, diantaranya ada Major General Tompson pensiunan militer yang disegani masyarakat Hogsburn, Sir Melgord sang pemilik tivi lokal, dan Nyonya Seryllian pemilik sekolah Burschref tempat anak-anak Frederick bersekolah dulu, dan lain-lainnya, maka ketika dirasa semua orang telah berkumpul barulah mereka beranjak menuju ruang perjamuan.


Mereka langsung menyerbu meja panjang, di mana di setiap titik yang mudah terjangkau tangan sudah penuh dengan nampan-nampan berisi **** panggang, Turkey, buah-buahan, lusinan botol Anggur, ceret teh, roti-roti gandum yang gemuk, kue-kue krim dengan madu, dan labu-labu besar yang dipenuhi sup Kinoa.


Masing-masing mereka telah menempati kursinya, Frederick membuka sambutan kecil-kecilan dari kursi kerhormatan tuan rumah, sebelum Elder Jorge Gryffin memimpin doa, makan malam yang sakral pun dimulai.


Penuh semangat keakraban masyarakat kota kecil yang masih kental ajaran leluhur, tentunya tak ada ponsel yang tergeletak di samping piring, seperti kelakuan orang-orang inlander di negeri tropis yang tiada kenal table manner itu, di sini makan sambil mengotak-atik ponsel adalah perbuatan tak tahu adab.

__ADS_1


Tentunya sudah menjadi tradisi masyakrat Hogsburn juga, bahwa makan malam bukan hanya sekedar mengisi perut dengan ****-**** berlumuran mentega, tetapi makan malam adalah khasanah ilmu, tempat bertukar informasi, terkadang lumrah saja bila ada yang terceplos rahasia pribadi, tak heran juga terkadang sengketa-sengketa yang tak bisa diselesaikan di meja sidang, dapat ditemukan solusinya di meja makan.


Mereka membahas perkebunan Anggur, ladang Jelai, panen Raspberry, lalu sedikit ngawur menyerempet isu korupsi di pemerintahan, pada akhirnya obrolan bebas itu pastilah harus dikerucutkan Frederick pada persoalan mengapa orang-orang ini dikumpulkan dalam satu meja seperti saat ini.


"Nah, saya rasa Tuan-Tuan, semuanya tentu sudah tak sabar mendengar kejutan yang saya maksud tadi," kata Frederick, maka perhatian hadirin terpusat padanya. Dia melanjutkan, "Ini memang terkesan sangat mendadak, ketika tiba-tiba saya harus mengumumkan berita ini."


"Kalau kulihat gelagatmu, sepertinya itu tak akan jauh-jauh dari pernikahan Anak gadismu Fred," sela pak Walikota.


"Hampir benar Scot, tapi lebih tepatnya pernikahan Putra kami," kata Frederick bangga, membuat sebahagian mulut hadirin langsung membentuk O.


"Terpujilah Tuhan, apa yang kaumaksud ini Ananda Albert?" sela Elder.


"Benar Tuan Jorge, siapa lagi?" Sesaat Frederick menengok pada Jocelin, anak muda tampan itu hanya terpaku tanpa ekspresi.


"Lalu, siapa gadis beruntung ini?" tanya Mayor Tompson.


"Yah Sir, sebenarnya saya sudah lama tau, bahwa Putraku ini telah menjadi bahan gosip gadis-gadis di kota kecil kita ini, dari gadis pemetik bunga Krisan sampai perempuan nakal di rumah persundalan pun menggosipkannya, dia sangat populer bahkan melebihi diriku sendiri."


Hadirin tergelak.


"Tetapi, tidak seorangpun di antara mereka, maksud saya, bahwa saya tak akan menyerahkan Putra kebanggaan keluarga kami ini pada orang jauh, kecuali ...." Frederick menggantung sambil memandang hadirin yang menunggu penasaran, "Putriku sendiri, Miss Riberia." katanya, memandang pada Chloe yang tersipu malu di sebelah Jocelin.


Seketika itu juga hadirin mendadak gaduh, sebagian saling berbisik, dan sebagian lagi terbelalak tanpa kata.


"Tuhan Maha Besar!" ucap Elder.


"Saya tau, ini memang di luar kebiasaan masyarakat kita, itulah kenapa saya mengundang para pembesar-pembesar sekalian, agar semua terang dan tak terjadi kesalah pahaman nantinya. Nah, yang ingin saya tanyakan, apakah pernikahan dua saudara ini menyalahi aturan, Tuan Jorge?" tanya Frederick.


"Oh! Pertanyaan ini memang sulit, dan saya katakan memang keluar dari adat istiadat kita, walaupun kita semua sudah tau pada dasarnya persaudaraan mereka tidaklah terikat secara bilogis, tentu tak jadi soal secara genetika, malah ini baik sekali terutama untuk Ananda Albert, mengangkatnya sebagai menantu adalah keputusan yang paling baik untuk menaikkan derajatnya dalam keluarga Moffin, jadi yah, kalau kedua belah pihak memang sudah saling mencinta, dan sebagai orang tua, Tuan dan Nyonya Moffin sudah merestui, saya pikir tak ada masalah." terang Elder, dan semua hadirin mengangguk mahfum.


"Syukurlah! Saya gembira sekali mendengarnya, terimakasih Tuan Jorge?" kata Frederick, tetapi ketika dia melirik Jocelin, kebahagiaannya itu sirna. Anak muda kesayangannya itu masih berdiam diri, kaku seperti mayat hidup.


"Nak, aku perhatikan dari tadi kau keliatan tak bersemangat, apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" Pertanyaan Frederick ini langsung membuat ruangan menjadi hening.


Jocelin mengatur nafas sesaat, dipandanginya wajah Ayahnya itu dengan tatapan yang dalam, lalu tatapannya berpindah pula kepada Nyonya Terracotta. Semua orang menunggu padanya.


"Father, Mother, juga Saudari-Saudariku dan semua Tetua yang sangat kuhormati dalam pertemuan ini, sebelumnya maafkan atas kebodohanku ini ...." katanya, kemudian dia melanjutkan, "sejujurnya aku tau bahwa mungkin kau akan membenciku setelah keterus teranganku ini Father, tetap pada dasarnya aku akan selalu berusaha menuruti semua yang kau perintahkan, termasuk pernikahan ini.


"Tapi, jika aku ditanya apakah aku keberatan dengan pernikahan ini? Aku jawab, ya! Aku keberatan, namun seperti yang kukatakan di awal tadi, aku pun tak bisa menolaknya, itulah bentuk pengabdianku pada dirimu yang menyayangiku selama ini, yang tentunya tidak bisa kubalas sampai mati." Jocelin memandang pada Frederick, dia melihat pria itu terdiam dalam kegamangan.


"Father, aku sama sekali tak berniat membuatmu malu, dihadapan tamu-tamu mulia kita yang telah berkenan hadir malam ini, tapi kau selalu mengajariku untuk selalu bersikap jujur tak peduli sepahit apapun," katanya, dan Frederick masih mendengarkan tanpa protes.


"Aku akan berterus terang tentang rasa keberatanku ini. Pertama, Chloe adalah Adikku, sampai kapan pun aku akan selalu menganggapnya demikian. Kedua, ini yang paling sulit, bahwa aku telah mencintai gadis lain di hatiku ...." Jocelin berhenti, seluruh hadirin terperangah. Jocelin memandang kepada Chloe, gadis itu diam tapi matanya resah, terlihat jelas dia sedang berusaha memendam kekecewaan.


"Sekali lagi maafkan atas kebodohanku ini, aku tentu akan sangat menyesal pada diriku sendiri, malam ini seorang anak yang durhaka telah melukai perasaan orang tuanya, aku yang tak tau diri ini. Apapun keputusanmu setelah ini Father, seratus persen akan kuterima," tandasnya sebelum dia berdiri dari kursinya lalu dengan sopan memberi hormat kepada kedua orang tuanya, dan juga semua hadirin.


"Maaf, bila aku meninggalkan perjamuan lebih dulu, selamat malam!" tutupnya, sebelum menarik diri dari meja, dan semuanya mendadak menjadi aktor pantomim, yang tak bisa berkata-kata lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2