Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
5.Hermes


__ADS_3

Resto Cafe & Lounge, Verge. 11:46 AM


Tempat makan itu sendiri terdiri dari dua lantai, mereka memutuskan untuk makan di lantai atas, kondisi tak begitu ramai siang itu, jadi tak begitu sulit mendapatkan meja, kecuali di akhir pekan, mungkin perlu reservasi khusus agar kebagian meja.


Dina mengamati sekeliling, pencahayaan di ruangan itu sepertinya sengaja dibuat temaram, agar terkesan romantis, banyak meja yang kosong, dan ada juga sebagian yang sudah terisi, orang-orang di ruangan itu asyik masyuk dengan hajatnya masing-masing, tak ada yang peduli dengan kehadiran sepasang kekasih ini.


Tak lama seorang waitress datang ke meja mereka, kehadiran waitress itu membuat Dina terkesima, aroma wangi parfum waitress itu sangat lembut dan elegan.


Hermes 24th faubourg, simpul Dina dalam hati.


Dari aromanya dia langsung tau brand parfum itu. Jelas, bagaimana tidak, itu adalah salah satu minyak wangi favoritnya, minyak wangi edisi terbatas yang kalau ditanya harganya akan membuatmu terjangkit sawan, wajar kalau Dina berprasangka macam-macam dalam hatinya, bahkan terkesan menyepelekan, Kok bisa, seorang waitress beli parfum semahal itu, eh-tapi kan sekarang banyak KW-nya, kekanakan sekali ya!


"Mau makan apa?" tanya David memecah lamunan gadis itu, sambil membuka katalog menu.


"Apa aja deh, kamu yang pilihin." Dina tak mau ambil pusing, rupanya persoalan wangi parfum itu telah mengacaukan mood-nya.


"Ya udah, samain aja ya!" simpul David.


Gadis itu cuma menggerakkan alisnya tanda sepakat. Kemudian dia tersenyum mendengar David menyebutkan nama-nama aneh dish yang mereka pesan, baginya itu cukup lucu, setidaknya membuatnya lupa soal wangi parfum tadi. Waitress itu hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil mencatat, lalu dia permisi mengantar coretan order ke kitchen.


Lima menit kemudian, waitress itu datang lagi, dia menaruh dua mangkuk salad buah, sebagai cold appetizer, santapan pemancing sebelum main course datang. Dina tergoda dengan segarnya salad itu, lantas menusuk seiris kecil buah Prem dengan ujung garpunya, baru saja mau digigitnya Prem itu, tiba-tiba, Drrdd! Ponselnya bergetar, rupanya ada pesan masuk, diletakkannya kembali garpunya, cepat diraihnya ponsel, ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


Aku sudah memeriksanya, semuanya aman, selamat makan, Jo.


Raut muka gadis itu berubah seperti kesambet, dia lantas mengedarkan pandangangannya ke seluruh ruangan, mengira, mungkin si pengirim pesan misterius juga ada di ruangan itu, tapi tidak, orang itu tidak ada di sana.


"Kamu kenapa?" tanya David yang keheranan.


"Enggak, gak kenapa-napa." jawab Dina gelagapan, dan buru-buru dihapusnya pesan itu, kemudian dia melihat ke arah waitress tadi yang sedang berdiri di area standby-nya di dekat bar minuman yang juga terhubung ke kitchen.


"Mmm, Vid! Aku ke toilet bentar ya." Dina berdiri dari kursinya, berjalan ke arah bar, jelas waitress itu agak terkejut disamperin begitu, biasanya ketika ada pelanggan complain merekalah yang dipanggil ke meja.


"Mbak! Aku mau nanya," ungkap Dina terang-terangan, walau volume suaranya sedikit dipelankan.


"Iya! Ada yang bisa saya bantu?" balas waitress itu gugup.

__ADS_1


"Tadi ada gak? Orang kesini pake setelan rapi, badannya tinggi, kulitnya bersih, rambutnya rapi, mukanya hmmm ...." Dina berhenti sebentar, membayangkan, "ganteng sih, cuma ya gitu ngeselin."


Harus diakui bahwa Dina memang benci ketika mengakatakan kalimat terakhirnya itu. Waitress itu mengernyitkan jidat, ikut membayangkan, mencoba mengingat-ingat.


"Oh! Tadi emang ada sih, cowok keren yang rada aneh gitu, tapi ga tau deh itu orangnya atau bukan."


Dina tersenyum, ia mendapatkan sepenggal clue yang mencerahkan.


"Barusan banget atau udah lama?" tanyanya lagi.


"Sejam yang lalu kayaknya?"


Dina kembali tercenung, keningnya berkerut-kerut, dia makin tak mengerti, tangan kanannya mengoles dagu, berlagak seolah-olah memikirkan jawaban teka-teki yang rumit.


"Oh, Terus dia ngapain?" gali Dina lebih jauh.


"Gak ngapain-ngapain, cuma pesen kopi, terus pergi lagi."


"Cuma gitu doang, terus anehnya dimana?"


"Sebenarnya bukan aneh sih, tapi gimana ya, mungkin kelewat baik kali ya." tutur waitress itu, dia malah tersipu sendiri membayangkan maksud kalimatnya.


"Iya, saya juga gak mgerti kenapa saya dikasih parfum."


"Hahhh!" Bibir Dina terbuka saking kagetnya.


"Jadi? Oh oke! Saya ngerti, tapi kok bisa ya?" imbuhnya lagi.


"Iya, katanya 'ketika melayani tamu, saya dituntut untuk selalu tampil menarik, dan harus selalu dalam kondisi wangi' terus, ya saya dikasih parfum." tutur waitress itu, kedengarannya memang seperti mengada-ngada.


Dina mengangguk-angguk mencoba menerima pembenaran dari waitress itu, tapi tetap saja baginya itu aneh. Ia tak mau berlama-lama lagi, karena dilihatnya dari arah meja, David memperhatikan mereka dengan ekspresi tak suka.


"Ya udah deh mbak, makasih ya." pungkas Dina sebelum ia berlalu ke toilet, sekedar pengalih perhatian saja, agar David tak berpikir macam-macam.


***

__ADS_1


02:31 PM


On the way to International Otomotif Exhibition 2017


Selepas makan siang di Verge tadi, David mengajak Dina menemaninya main ke pameran mobil terbesar tahun ini. Pria itu memang ada rencana ganti mobil, karena mobilnya yang sekarang dianggapnya sudah kuno.


"Kamu kenapa dari tadi kok diem aja?" tanya David, sontak membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Hah! Enggak, gak kenapa-napa kok." kilah Dina, lalu memaksa sedikit tersenyum.


"Masak! Dari tadi aku perhatiin, kamu kayak yang beda gitu."


"Enggak kok, cuma perasaan kamu aja." elak Dina, lalu gadis itu kembali betopang dagu, memandang jauh ke sisi luar dari kaca mobil di sampingnya. Semua yang terlihat hanya sekelebatan, membawa pikirannya melayang entah kemana.


Dikacangin begitu, David cuma geleng-geleng tak habis pikir, tapi dia pun malas memperpanjang perkara, dibiarkannya saja gadis itu asyik berkubang dalam lamunannya, David mengalah dan memilih fokus mengemudi saja.


Dalam pada itu, wajar, bila David menggugat, pria itu memang tidak salah, karena sejak di restoran tadi Dina sudah terlihat ganjil, diajak bicara tak nyambung, makanan pun cuma diaduk-aduk macam pakan kucing, terlihat jelas bahwa gadis itu sama sekali tak bisa menikmatinya, seumpama orang sakit yang hilang nafsu makan, begitulah Dina.


Waktu demi waktu pun menguap tak bermakna, Dina memilih memejamkan kelopak matanya, hanya sesekali David menengok padanya, tapi tak berani mengusiknya.


Pada akhirnya sampai jua mereka di IICE Expo, di tempat ini pameran otomotif tahunan itu digelar, di pelataran tampak beberapa orang petugas sibuk mengatur kendaraan mengisi kantong-kantong parkir, memang pengunjung cukup ramai waktu itu, bahkan David sempat berputar-putar sebelum akhirnya dapat satu slot kosong yang strategis, karena tidak terlalu jauh dengan pintu hall.


Saat turun dari mobil, David buru-buru menggamit tangan Dina, meski gadis itu nampak ogah-ogahan, tapi dia cuma manut saja, keduanya melenggang masuk setelah membeli karcis di loket.


Di dalam hall, nampak manusia menyemut, berkerumun di satu booth pindah ke booth yang lain, menjajal bermacam brand mobil kenamaan yang memasang display terbaik mereka.


Di setiap booth kamu bisa melihat satu unit display dijaga oleh seorang atau dua orang Sales Promotion Girl dan beberapa Salesman berpakaian necis yang tak letih-letihnya menyebarkan browsur atau sekedar mengajakmu singgah ke booth mereka untuk cek spek mobil.


Setelah beberapa kali mampir di pelbagai booth brand ini-itu, akhirnya David kecantol pada sebuah mobil bergaya hatchback, berwarna keperakan, David coba masuk untuk cek interior, seorang salesman mendampinginya, mengecapinya dengan bumbu-bumbu product knowledge.


Di samping mobil, Dina berdiri melipat kedua tangannya, dia tak tergugah, tak peduli juga, malah sajian live music di samping booth itu lebih menarik minatnya daripada mencoba- coba bagian dalam mobil yang ditaksir David ini.


"Sayang! Ini bagus ya?" kicau David minta pendapat. Dina cuma mengangguk walaupun sebenarnya Dina tak begitu sreg dengan desain mobil ini, bahkan Dina tak berusaha sedikitpun mencegah ketika David telah diseret ke dealing table oleh Salesman tadi.


Dina masih berdiri di samping mobil keperakan itu, sedikit berjoget kecil terbawa alunan musik, dan bibirnya terlihat berkamit merapal lirik yang cukup dihapalnya, tak lama David menghampirinya dengan gelagat mencurigakan, seperti ada maunya.

__ADS_1


"Mmm, Yang! Aku bisa minta tolong ga? Pinjem transferan dong buat DP, saldo aku kurang nih, besok aku ganti deh." ungkap David malu-malu, lalu menggosok tengkuknya. Dina tergelak.


"Rekening!" pinta gadis itu, setelah tangannya cepat membuka aplikasi mobile banking, David menyebutkannya dengan sumringah, dan cuma butuh satu action dari jempol saja untuk menekan tombol kirim, maka perkara itu selesai sudah.


__ADS_2