Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
17.The Syzygium Gank


__ADS_3

8 April 2017, 03:20 PM


Mata kuliah Statistika di hari Sabtu sore adalah anomali, tanggung dan kagok, seperti noktah merah yang menodai agenda kencan indahmu di akhir pekan, padahal telah disusun matang jauh-jauh hari, perihal ini memang terjadi di luar kebiasaan, sedikit ilegal karena jadwalnya digeser dari hari yang seharusnya, sebab Kamis kemarin Dosen berhalangan.


Untungnya Bernardina tak sendirian melewati sabtu yang kacau ini, setidaknya dia ditemani empat mitranya, Gillian, Amber, Sofie dan Hera. Lima sekawan Geng Lilly Pilly yang individualistik.


Tak ada yang istimewa di balik hubungan mereka, mereka tak pernah peduli lebih dari sekedar teman kecuali ada maunya, komunitas kecil yang penuh pengkhianatan, senang membuka aib teman di belakang, tetapi unik karena mereka tak pernah saling bertikai, meski sudah tau kebusukan masing-masing.


Mereka tak pernah memproklamirkan kelompok mereka dengan nama konyol itu, tetapi mayoritas populasilah yang membaiat mereka, itu disesuaikan dengan kebiasaan tak berfaedah mereka yang senang berlama-lama berceloteh di kantin, tepatnya di sebuah meja terpojok yang berdekatan dengan pohon Jambu Lonceng Lilly pilly (Syzygium smithii) yang mandul karena tak pernah berbuah.


Hari sabtu mendiskusikan teori-teori akademik dengan kelompok ini adalah anekdot. Bagi Gillian membahas persilangan Dashcund dan Pudel lebih menggemaskan, atau bagi Amber Wang gadis kuning langsat berdarah Tibet ini, menceritakan perselingkuhannya dengan Stephen tunangan kakaknya jauh lebih menantang.


Sofie cukup miris, dia sedang pusing dengan keuangannya, setelah credit cardnya dibekukan bapaknya, habisnya dia selalu kebablasan sih, gaya hidup hedon itu berdampak pada tagihan bulanan bapaknya yang selalu membengkak.


Sementara Hera si ceriwis yang rempong, dan mungkin paling dibenci komunitas, mahasiswi yang aktif sebagai anggota Multi Level Marketing ini, bicaranya tak pernah membumi, selalu tentang mimpi-mimpi yang luhur, bagus sih memang, tapi bila ujung-ujungnya cuma untuk prospekting, wah itu yang bikin keki, tapi salut karena dia tak pernah menyerah memprovokasi teman-temannya untuk joining, walaupun selalu ditolak.


Terakhir adalah Bernardina, dialah Brand Ambassador group ini, mungkin karena paling cantik dan tajir dibandingkan yang lain, dalam oligarki pergaulan mereka, Bernardina adalah putri kedaton yang sesungguhnya, sementara empat temannya yang lain hanyalah dayang-dayang peramai keputren, wajar bila sifatnya agak congkak, terkesan jaga wibawa, tetapi dia adalah pendengar yang baik, seorang konsultan yang hebat.


Sedikit sifat buruk tentangnya adalah ketidak konsistenannya, atau mungkin cara pandangnya yang antipati, misalnya dia sangat menyukai kebebasan berekspresi tetapi di waktu tertentu dia berubah menjadi gadis puritan yang normatif, demikianlah sedikit data tidak lengkap tentang profil anggota geng serabutan ini.


Setelah bubar kuliah statistik, mereka asyik berkelakar ngalor ngidul di bangku panjang di selasar gedung Fakultas Ekonomi, tempat nongkrong darurat sebenarnya, mereka mengungsi ke sana karena kantin tutup hari sabtu, seperti biasa obrolan mereka akan mengelantur kemana-mana, termasuk menggosipkan darimana asal jas keren yang dipakai Bernardina.


Kicauan mereka terhenti ketika Amber menunjuk dengan moncongnya pada seorang pria yang dari jauh, terlihat berjalan mendekat ke arah mereka.


"Cowok lu noh!" katanya.


Dina menoleh, dia mendapati kakanda David sang Don Juan, berjalan dengan riang gembira menuju tim rumpi mereka, tak lupa sambil bersiul.


"Ngapain ya? Tuh orang hari Sabtu ke kampus?" gumam Dina.


"Mana gue tau, lukan ceweknya." balas Amber.


"Ngajak jalan kali Bernard!" celetuk Gillian.


"Tau ah, malesin banget!"


"Wah, kalian lagi marahan ya?" sela Sofie.


"Enggaklah, mana ada orang marahan pecicilan begitu," tukas Dina mengomentari pembawaan David yang bersiul-siul dengan menjentikan jari secara ritmik, seperti menggoda Murai Batu.


Sesaat kemudian David telah sampai pada kerumunan gadis urban itu, tak ada tegur sapa karena dia memang tak peduli dengan yang lain, kecuali hanya Dina. Pria itu tersenyum hanya untuk gadis itu.


Dina berusaha bersikap tenang dan teratur, wajahnya dibuat serileks mungkin, walaupun dalam hatinya, dia ingin sekali melepaskan uppercut ke wajah pria itu.


"Yang! Kamu masih marah ya?"

__ADS_1


"Enggak, marah kenapa?"


"Gara-gara semalam di bioskop ...." David tak melanjutkan kalimatnya, dia malah memandang satu persatu wajah keempat teman Dina, sorot mata mereka yang memandang jijik, sangat resisten, jelas sekali bahwa David tak diinginkan kehadirannya, banyak faktor sebenarnya mengapa interaksi David dengan keempat orang ini tak bagus, tetapi bukan hal yang penting juga untuk diceritakan.


"Tapi kok nomor aku diblokir?" sambung David.


"Mana ada diblokir, jangan ngada-ngada deh kamu! Oh, atau kamu sengaja mau ngejelek-jelekin aku di depan temen-temen aku?"


"Ee-enggak kok, bukan gitu maksudnya, ya maaf deh kalo gitu." David melengoskan pandangannya sesaat, kemudian mengulas jambul klimisnya, katanya, "terus sekarang ada acara ga?"


Dina menggeleng.


"Ke rumah aku yuk, kita barbeque-an, mumpung orang tua aku lagi keluar kota." katanya.


Dina diam sejenak merenungkan, lalu dia tersenyum. "Oke!" jawabnya enteng tanpa pertimbangan apapun.


Sementara temen-temannya yang lain tetap diam tak mau ikut campur, tak ada satupun di antara mereka ada yang protes.


"Gengs! Aku pinjam dulu ya teman kalian!" ucap David ketika dia menarik tangan Dina keluar dari kerumunan itu, mereka berempat dingin tak menanggapi.


"Girls! Sorry, gue duluan ya, love you all!" Dina pamit, sementara David menuntunnya makin jauh, barulah keempat temannya yang tersisa itu mau merespon, cukup melambaikan tangan secara kompak, sebelum merekapun bubar meninggalkan kampus.


***


Di sofa beludru itu, Miss Ophel mengeliat sesaat, kepalanya menengadah ketika mendengar sirene mobil polisi mengiuk, persis di depan rumahnya, sebelum Nic kembali membenamkan kepala wanita itu pada dada miliknya yang bidang.


Setelah Nic menggempurnya dalam beberapa babak kamasutera yang menguras tenaga tadi, tubuhnya kelelahan, dia lemas menelungkup habis-habisan menindih Nic yang mengalas di bawahnya, kulit-kulit mereka menempel tanpa penghalang di atas sofa beludru yang sesak, saling menghangatkan di balik selimut yang menutupi ketelanjangan tubuh dewasa mereka, adalah keputusan yang paling baik di pagi hari yang dingin ini.


"Buruan tidur! Dari semalam kau ini belum tidur." Nic mengelus-elus lembut punggung polos wanita itu.


"Tapi Nic! Polisi itu!"


"Biarkan saja, mereka sedang melakukan tugas mereka memulung mayat-mayat di depan, kujamin mereka tidak akan mengusik kita."


"Entahlah, terkadang aku tak habis pikir, kenapa rasanya semua ini seperti tidak ada habisnya." Briana mencecar.


"Kau terlalu lama mengerami gelas-gelas kimiamu di laboratorium, wajar kalau kau tak tahu banyak soal masalah ini."


"Ya, kalau begitu, coba jelaskan jangan berbelit-belit."


"Baiklah, sambil mengelonimu, aku akan mendongeng biar kau bisa tidur, akan kuceritakan sedikit tentang rahasia gelap dunia ini."


"Hmmm!" Briana menggumam.


"Dunia yang terlihat damai ini, sebenarnya hanyalah permukaan gunung es yang penuh kepalsuan, sementara di bawah permukaan ada kekuatan besar yang tak terlihat mengendalikan segalanya, kekuatan ini kita sebut sebagai Eye Of Darkness, mata kegelapan yang memerintah segalanya.

__ADS_1


"Kekuatan sistematik ini telah mencengkram ke dalam hampir semua tatanan kehidupan manusia di muka bumi ini, politik, ekonomi, temuan medis, tekhnologi canggih, jaringan internet, media masa, bahkan dunia hiburan, apapun aspeknya pasti selalu ada campur tangan mereka di sana, dengan kekuatan seperti itu mereka dengan mudahnya dapat memanipulasi berita, informasi, dan sejarah apapun semau mereka, bahkan mereka dapat membangkrutkan satu negara dalam waktu semalam saja.


"Eye Of Darkness itu seperti Gurita pemerintahan raksasa yang mengontrol dunia dari kedalaman, mereka diliputi misteri, bergerak tanpa terendus, padahal tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah sering berinteraksi dengan mereka, mereka itu bisa saja seorang Presiden, seorang Perdana Menteri, Pemuka Agama, Artis atau orang-orang yang memiliki pengaruh dalam masyarakat.


"Jumlah mereka banyak, sulit dihitung, tetapi bisa dibilang mereka itu hanyalah sekedar bidak catur yang digerakkan sesuka hati oleh Eye Of Darkness, atau seperti ranting-ranting rapuh yang sebenarnya tak punya kekuatan apa-apa, berurusan dengan mereka memang hanya buang-buang tenaga, sebab jika ada satu ranting yang patah maka akan muncul ranting baru yang menggantikan, itulah yang tadi kau sebut dengan 'Tak ada habisnya'.


"Karena sejatinya core dari Eye Of Darkness itu sendiri benar-benar jauh tersembunyi di dalam laut yang gelap, inilah kesulitan terbesar kita selama ini. Albert sadar, dia tak bisa menghadapi mereka sendirian, itulah kenapa dia membutuhkan bantuan kita.


"Aku jadi kepikiran, mungkinkah sebenarnya Albert itu sendiripun, tadinya hanyalah bagian kecil dari project rahasia mereka?" Sela Briana.


"Bisa jadi, karena mungkin penelitian Foton itu adalah riset yang memang sengaja menciptakan pasukan tempur manusia super yang telah dinetralkan pikirannya, hingga nantinya mereka dapat kendalikan sesuka hati."


"Benar-benar kejam!"


"Lebih tepatnya menghalalkan segala cara, mungkin."


"Aku jadi sedikit paham sekarang!"


"Yah, sebagai salah satu kelompok yang bersinggungan langsung melawan semua aktivitas gelap mereka, wajar bila akhirnya kita memiliki banyak musuh, bahwa bukan tak mungkin seluruh dunia inipun sebenarnya memusuhi kita, dan diantara kita bertujuh, kau inilah yang paling rentan Ophel dan yang selalu menjadi target mereka.


"Sementara Albert itu, ya kau taulah terlalu banyak urusannya, selain mengurusi perusahaan Ayahnya yang sedang bermasalah keuangannya, dia juga harus menutupi borok Ayahnya yang terlibat banyak sekali skandal, yang masih berkaitan juga dengan keluarga Alessander, pokoknya tak sedikit beban yang dipikulnya, sejujurnya aku ingin sekali membantu mengurangi bebannya.


"Dan itulah kenapa kau ada di sini bukan?" simpul Briana menyenyum.


Nic membalas tersenyum, senyuman yang mengundang, hingga memaksa wanita itu menggeser tubuhnya sedikit ke atas, agar wajah mereka bersejajar, lalu senyum itupun hilang karena bibir mereka saling melenyapkan satu sama lain.


Suasana benar-benar hening, hanya terdengar suara lembut ******* bibir mereka, basah penuh air liur beraroma fermentasi Anggur.


"Well, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat!" Sebuah suara lancang sekali mengganggu keintiman mereka.


Mendadak, kedua orang itu terpaksa melepaskan kuncian mulut mereka dan sama-sama menoleh ke sumber suara, di sana di dekat jendela besar yang tertutup tirai, pria jangkung misterius itu telah berdiri di sana, dengan ciri khasnya yang selalu mengenakan suit rapi, seorang Big Boss. Dialah Si Penguin Terbang, orang nomor satu dari Calamity Seven, The Leader.


"Maaf mengganggu sebentar ya!" katanya, lalu dia menyibak sedikit tirai hingga sinar matahari menyelinap memberi penerangan, dia mengintip ke bawah mengamati Polisi forensik yang menandu mayat-mayat di rumah seberang.


"Tempat ini, benar-benar sudah tidak aman." simpulnya, tanpa menoleh sedikitpun kepada sepasang makhluk yang masih bertindihan di sofa, sementara mereka yang di sana itu hanya bisa memandang gugup, penuh takzim.


"Well, Ophel! Sepertinya kau perlu mencari tempat tinggal yang baru, tapi nanti saja kita pikirkan. Sekarang ini, alangkah baiknya jika kalian berdua mengambil liburan, kalian bekerja terlalu keras dalam sebulan ini, aku merekomendasikan sebuah pulau tropis yang hangat," katanya.


Lalu meraih sesuatu di balik jasnya, sepaket dokumen persyaratan perjalanan untuk dua orang itu, dia menaruhnya pada bangku penopang jambangan bunga di dekat jendela itu.


"Dan kau Nic, kuperingatkan kau jangan membuatnya terlalu kelelahan," lanjutnya kemudian, sebelum ia menutup kembali tirai, dan tubuhnya langsung lenyap tak berbekas dari penglihatan, dalam suasana ruangan yang kembali menggelap.


Mereka berdua yang telah ditinggalkan oleh pemimpin mereka itu, kini hanya saling berpandangan penuh tanda tanya, lalu saling tersenyum geli, sebelum kembali melanjutkan percumbuan mereka yang sempat terhenti.


***

__ADS_1


__ADS_2