Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
23.The Inverted


__ADS_3

Jocelin menuju Meksiko, untuk bertemu Leonard Mongulo di tempat persembunyiannya, demi menanyakan Rimedel yang dibawa Vileron, tetapi pemimpin pemberontak itu justru tak tahu apa-apa, dia bahkan tak tahu bila Vileron sempat mempir ke De Coche.


Dari bahasa tubuhnya, Jocelin bisa membaca bahwa politikus paruh baya itu tidaklah berbohong, malah sepertinya orang bernama Mongulo ini mungkin tak pernah menyadari, bahwa Eye Of Darkness terlibat memotori pemberontakan. Memang begitulah cara Mata Kegelapan bekerja, begitu rapi nyaris tak terdeteksi, semuanya akan menjadi sangat gelap, dan sulit dijelaskan, jika membicarakan segala sesuatu terkait Eye Of Darkness.


Alih-alih berujung sia-sia, pertemuan itu malah menjadi ajang curahan hati Mongulo soal kondisi bangsanya, tentang segala cita-citanya yang belum terwujud, keinginannya menaikkan harkat derajat Venezuela di mata dunia. Jocelin hanya menyarankan untuk berbicara langsung secara empat mata dengan Juan Rodhes.


Sesudah itu, Jocelin akhirnya kembali ke Caracas, ibu kota Venezuela, untuk bertemu Presiden Juan Rodhes, mengabarinya tentang hal penting apa saja yang telah terjadi di Venezuela pagi itu, sebelum dia akhirnya harus pulang ke Northingham karena mendapat kabar bahwa ayahnya, Frederick Moffin tiba-tiba jatuh sakit.


Setelah perjamuan makan malam bersama orang-orang penting kota Hogsburn tadi malam, setelah Jocelin meninggalkan meja makan, suasana menjadi rikuh dan dingin, semalaman itu pula Frederick tak dapat tidur, dia gelisah, akhirnya menelan pil antidepresan terlalu berlebihan, yang malah membuat kondisinya makin memburuk, dia lemas, dan hanya bisa terbaring seharian.


Katakan saja bahwa memang, Frederick itu pria yang aneh, dia temperamental dan bisa meluapkan amarahnya kapan saja pada siapa saja, tetapi tidak pada Jocelin Albert, anak hanyut yang ditemukannya 18 tahun yang lalu itu, adalah manifestasi terbesar dalam hidupnya. Parahnya, bisa dikatakan bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Jocelin. Anak muda itulah yang selama ini menjadi andalannya.


Hari minggu, mulai mendekati tengah hari, Frederick membuka matanya perlahan, dia mendapati Jocelin sedang duduk di samping ranjangnya, sambil mengirisi apel yang telah dikupasnya.


"Son!" sapanya dengan sumringah.


"Father! Kau jadi terbangun, sepertinya aku mengganggu tidurmu?" Jocelin menaruh apel dan pisaunya ke piring.


Frederick menggeleng, "Dari mana saja kau Nak?" tanyanya kemudian.


Jocelin tercenung, menguruti alisnya, berat sekali rasanya menjawab pertanyaan itu.


"Father, aku benar-benar minta maaf." Jocelin malah tertunduk.


"Kenapa minta maaf?"


"Semua ini karena kebodohanku, aku pastilah tak akan bisa memaafkan diriku sendiri seandainya sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Ah, kupikir akulah yang bodoh, terlalu terburu-buru, memutuskan sesuatu tanpa meminta pendapatmu." Dia berusaha untuk duduk, dan segera melarang Jocelin yang nampak bangkit bersiap membantunya, "Aku masih kuat!" tampiknya sambil terbatuk.


"Jangan terlalu memaksakan diri," kata Jocelin khawatir, sebelum kembali duduk di kursinya.


"Apel!" gumam Frederick.


Jocelin menyerahkan piring kecil berisi potongan apel, hasil kerjanya tadi.


"Aku baik-baik saja, jangan terlalu berlebihan memperlakukanku seperti orang jompo yang mau mati saja!" semburnya sambil mengunyah apel.


Jocelin tersenyum masam, mendengar Frederick yang runsing itu, mungkin benar bahwa dia telah pulih seperti sediakala.


"Omong-omong tanggal berapa sekarang?" tanya Frederick, sambil dia mengelap bibirnya yang basah.


"Tanggal sembilan, hari Minggu!"


"Wah, tidak terasa ya? Berarti aku harus pulih secepatnya. Besok aku harus ke Palmerston menemui Hades."


"Ya Tuhan! Father! Kau masih memikirkan soal Dark Matter itu dengan kondisimu seperti ini? Santailah barang sehari saja, toh masih ada aku di sini, lagipula kemarin kan aku sudah berjanji untuk menemanimu."


"Nak, kau tahu bahwa Dark Matter ini adalah energi masa depan yang akan menyelamatkan kita, seandainya perusahaan ini tak mampu lagi bersaing, jadi bukan karena aku terlalu ambisius atau bagaimana, tetapi ada ribuan karyawan kita yang nasibnya sedang kuperjuangkan, itulah mengapa segala cara akan kulakukan."


"Ya, aku tau, kau bekerja terlalu keras dalam hal ini, aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, jadi kalau memang tidak memungkinkan, aku saja sebenarnya sudah cukup untuk mewakilimu menemui Profesor Hades."


"Tidak memungkinkan bagaimana? Yang ada sebenarnya aku tak punya pilihan sama sekali. Di masa tuaku ini, aku hanya memiliki tiga orang putri yang manja dan payah, mereka itu ... ah, dari kecil taunya bersenang-senang, tak pernah merasakan sulitnya mencari uang, selama ini kaulah yang selalu kuandalkan, tetapi pada akhirnya aku sadar bahwa aku tak bisa terus menerus bergantung padamu, kau punya hidupmu sendiri, apalagi setelah kau menikah nanti ...."

__ADS_1


"Astaga, kenapa kau malah bicara begitu? Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu." Jocelun memotong.


"Yah, seandainya saja kau mau menikahi Chloe, tentu aku tak akan cemas, akan ditinggalkan olehmu."


Keterus terangan Frederick terasa menohok membuat kepala Jocelin berdenyar, masalah Rimedel masih kusut di kepalanya, kini ada lagi Frederick yang mengungkit-ungkit perjodohan keluarga Moffin yang memusingkan kepala ini.


"Father, aku sudah bilang kan! Apapun keputusanmu akan kuterima, tetapi rasanya sekarang bukan waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini." tandas Jocelin, lalu dia berdiri dari kursinya.


"Nak, Maaf, bukan maksudku ...." Wajah Frederick membersitkan ketakutan, kalau-kalau ia membuat putranya itu tersinggung.


"Tidak, jangan memikirkan hal yang berat-berat, sekarang beristirahatlah." tutup Jocelian kemudian.


Frederick yang biasanya akan balik menyalak, tak biasanya langsung patuh. Pembicaraan agaknya tak berlanjut lagi, karena Frederick telah didorong paksa merebahkan badannya, dan Jocelin menarikkan selimut sebelum meninggalkannya.


***


Tidak hanya Jocelin Albert, pria yang akan kita bicarakan kali ini adalah pria yang tak kalah istimewanya, walau dia tidak lahir ke dunia sebagai manusia super yang tercipta dari lab eksperimen, atau sebagai mutan yang mengalami mutasi genetika, atau terkontaminasi oleh radiasi benda kosmik, dia juga bukan seorang penyihir dengan rapalan mantra-mantra yang rumit, tapi segala sesuatu yang berhubungan dengan pria ini selalu tidak masuk akal.


Tidak ada alasan apa-apa di balik kehebatannya, kecuali bahwa Tuhan telah memberkatinya dengan segumpal otak yang jenius luar biasa, bisa dikatakan di antara manusia-manusia yang pernah hidup selama ini, dia satu-satunya orang yang mampu memahami esensi sebenarnya dari proses berpikir.


Orang luar biasa ini, telah mencapai tingkatan tersulit dari sistematika berpikir yang disebut dengan 'The Awakened Mind', kemampuan berpikir tingkat tertinggi yang memberinya kekuatan tiada tara, hampir menyaingi mukjizat kenabian, dan orang yang kita bicarakan ini adalah Vileron The Inverted.


Dia orang yang selalu disinggung-singgung secara implisit dalam semua catatan kriminal sebagai pemimpin tertinggi dari Eye Of Darkness, orang yang dipercaya mengendalikan dunia dari ketiadaan yang belum bisa dibuktikan secara terus terang.


Pada kenyataannya, dia hanyalah seorang pengelana yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyebarkan ajarannya layaknya seorang Nabi, tentu saja seorang Nabi palsu yang penuh tipu daya, menghasut di sana-sini hingga menimbulkan kekacauan, lalu dia akan bersantai menikmati segala kekacauan itu, mengasingkan diri di rumah pertaniannya, di lahan yang subur lagi terpencil, sambil bercocok tanam serealia, dan menernak unggas.


Vileron memang pria yang diliputi teka-teki, termasuk satu hal yang sangat khas padanya, yaitu kebiasaan berpikirnya yang aneh, dia cenderung menyukai segala sesuatu yang terbalik, itulah mengapa oleh pengikut-pengikutnya, dia dijuluki sebagai The Inverted, yang terbalik atau yang membalik.


Muridnya yang masuk itu hanya menaruh segelas air minum, tepat di atas meja bundar di samping kursi tempatnya duduk. Muridnya itu sama sekali tak menyapihnya saat menyadari koran yang dibaca gurunya itu berposisi terbalik, dia tentu sudah bermahfum diri dengan segala keganjilan gurunya itu.


"Hari ini telah terjadi peristiwa luar biasa. Hei Nadya! Lihat ini, berita yang ditulis koran ini, pasti akan mengejutkanmu?"


"Tuan, yang Anda baca itu koran hari kemarin," Nadya mengingatkan.


"Ah, masak? Tapi berita yang ditulis di sini, jelas berita hari ini kan?" Vileron menunjukkan tanggal di korannya.


Nadya menghela nafas.


"Memangnya ada berita apa sih? Heboh sekali kelihatannya."


"Flying Penguin mengamuk di Venezuela, menenggelamkan markas Kronikel, benar-benar pria yang menakutkan."


"Oh berita itu, ya tentu, saya sudah membacanya di Google, dan sempat menjadi tranding di twitty."


"Kira-kira apa yang membuatnya naik pitam, hingga melampiaskan kekesalannya pada group pemberontak Venezuela ini?"


"Tentu saja, karena Anda menyandera salah satu anggotanya."


"Oh ya? Ya, aku ingat, mungkin karena chip kecil itu, aku tidak sengaja, aku benar-benar menyesal membawanya ke sana."


"Ah, Anda pasti sengaja! Sebenarnya Anda sendirilah yang kesal pada Kronikel, Anda sudah menyadarinya, bahwa pemimpin mereka itu, Leonard Mongulo, sudah kehilangan semangatnya, dan sebenarnya dia telah berencana untuk berdamai dengan Rodhes, Anda menganggap mereka sudah tidak lagi berguna, maka Anda ingin menghancurkan mereka, secara tidak langsung menggunakan tangan The Flying Penguin."


"Oh, Nad! Mengapa kau selalu lebih banyak tau dariku, ini terbalik, benar-benar terbalik, harusnya aku lebih tau darimu soal ini."

__ADS_1


"Astaga! Tentu saja saya tau, karena pagi tadi Anda sendiri yang menceritakannya pada saya."


"Wah, benarkah? Aku tidak percaya bahwa aku pernah mengatakan hal yang menyeramkan seperti itu."


Nadya, dibuatnya kembali menghela nafas.


"Seperti malaikat saja ya!" gumam gurunya itu, tak memperdulikan Nadya yang kesal bersidekap di dada.


"Siapa?" seru gadis itu tak paham.


"Flying penguin ini, kekuatannya nyaris seperti malaikat, mengingatkanku ketika Gabriel menghancurkan Sodom dan Gomora," terang Vileron.


Nadya menguruti dagunya sambil mengangguk.


Vileron mengambil cerutu favoritnya di meja, lalu katanya, "Memang, itu wajar! Bila kita mengingat lagi bahwa Malaikat dan Penguin Terbang mereka sama-sama tercipta dari unsur cahaya. Maksudku Foton, Nad! Kau paham kan?"


Nadya manggut-manggut.


Kemudian dia mencelupkan ujung cerutunya itu pada air di gelas yang dibawa Nadya tadi, aneh karena ketika diangkat dari permukaan air, ujung cerutu itu malah terbakar membara.


Setelah dia menjepitkan cerutu yang telah menyala itu pada bibirnya, kini air di gelas langsung disiramkan pada kolong perapian, dan lagi-lagi aneh, muncul api yang menyala hebat membakar arang-arang hitam di sana.


Vileron menyerahkan gelas kosong itu kepada Nadya, wanita yang sudah lama menjadi pengikutnya itu agaknya memang sudah paham, dia segera berjongkok di muka perapian, menggunakan gelas itu layaknya gayung untuk menciduk kobaran api. Ajaib, karena gelas itu kini telah dipenuhi lidah api yang menari-nari.


Tak ada rasa panas sama sekali ketika gelas berkobar itu diserahkan kembali pada Vileron, dan pria itu bagai orang haus yang sudah lama tak minum, segera meneguknya hingga tandas kering kerontang.


"Segar sekali airnya." pujinya kemudian.


"Terbalik Tuan, yang barusan Anda minum itu api!" Nadya mengingatkan.


"Hah? Astaga! Ya ampun! Apa salahku Tuhan? Mengapa kau mengutukku dengan semua kegilaan ini," Veleron berlagak, merutuki hidupnya.


Nadya kembali lagi harus menghela nafas.


"Nad! Tolong suruh Dominik menyiapkan kendaraanku!" perintahnya kemudian.


Apa yang disebutnya sebagai kendaraan ini janganlah dibayangkan wujudnya seperti mobil sport mewah keluaran Lamborghini, bukan juga berbentuk pesawat jet supersonic yang mampu menghilang sekedip mata, tetapi kendaraan yang dimaksudnya itu hanyalah sebuah gerobak kayu dalam artian sebenarnya.


Gerobak itu ditarik sepasang Keledai jantan dan betina yang letoi dan lambat pula jalannya, tak hanya lambat sepasang Keledai itu jalannya juga aneh, mundur ke belakang, tetapi itulah Vileron, apa yang dianggap orang lambat, baginya cepat, apa yang dianggap orang mundur, baginya maju. Gerobak ajaib berjalan mundur ke belakang itu nantinya akan dinaiki dengan cara yang aneh pula oleh Vileron.


Dia akan duduk menghadap ke belakang atau membelakangi Keledai, jadi secara hakiki sebenarnya gerobak itu di dorong mundur oleh pantat keledai, gerobak sinting itulah yang selama ini mengantarnya bepergian mengelilingi dunia dengan kecepatan yang tak masuk akal, melintasi lautan, menembus awan, melangkahi benua demi benua.


"Oh, Anda mau pergi lagi, kemana?" tanya Nadya.


"Palmerston!" kata Vileron ceria.


"Oh, Palmerston. Eh-tapi Tuan."


"Kenapa Nad? Kau mau ikut?"


"Bukan, tapi cerutu Anda terbalik." Nadya lagi-lagi mengingatkan.


Vileron langsung tersentak, sambil mendengus gusar, rupanya memang sedari tadi yang dihisapnya di mulut itu adalah ujung cerutu yang terbakar api.

__ADS_1


__ADS_2