Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
15.Blackout


__ADS_3

Bulan April adalah bulan bunga, begitulah mereka yang tinggal di negara subtropis menyebutnya, setelah musim dingin terlupakan, kini waktunya bersemi, kuncup-kuncup kembang, tunas-tunas muda, hewan-hewan pengerat yang hibernasi di bawah tanah, semua kembali mengeliat bernyawa.


Ceritanya akan berbeda lagi untuk mereka yang hidup di negara tropis, bulan April adalah bulan yang skeptis, cuaca seolah berkepribadian ganda, siang gerah berkeringat, tiba-tiba sore hujan datang bak kawanan bromocorah menyerbu dusun, mengobrak-abrik semua tatanan.


Bulan April tak melulu semembosankan itu, karena bulan April punya ceritanya sendiri, seperti saat itu, ketika matahari sudah lungsur dari singgasananya di pucuk zenit, tetapi atmospir masih kaya raya dengan kandungan Ultraviolet level maksimum, maka teriknya masih beracun, wajar bila Air Conditioner di mobil disetel agak berlebihan, demi melawan panas yang berkebangetan.


Dina termangu, melipat tangannya di dada, dia merasa sangat dongkol pada Jo yang diam saja sibuk mengemudi, padahal sedari tadi dia menunggu pria itu bercerita, tapi dia ingkar janji, dan memilih bungkam, Dina tak bisa untuk bersabar lagi, kembali seatbelt dilepas, dia sudah siap merangsek lagi ke kursi kemudi, untuk mengganggu Jo.


"Kenapa kamu tidak bertanya sendiri pada pacarmu?" kata Jo dengan ketus, mencegah agar Dina tak masuk kembali ke zona setir.


Akibatnya Dina jadi terdiam, malah menjadi takut melihat Jo yang tiba-tiba berubah gelagatnya, penuh ancaman.


"Buat apa? Kamu sendiri pasti tau dia akan berbohong!" Dina menyolot. Jo kembali diam tak menanggapi.


Tak jauh di depan mereka ada rest area, dan entah mengapa pria itu tiba-tiba membelokkan mobilnya, masuk ke dalam rest area tersebut, untuk kedua kalinya mobil itu kembali berhenti, di rest area di dekat minimarket.


"Aku merasa cuaca hari ini panas sekali." Jo melepaskan suit jacketnya (Jas) dengan kasar, lalu menaruh suit itu begitu saja di jok, sebelum ia keluar dari mobil.


"Sebentar ya, aku mau beli minum!" katanya.

__ADS_1


Dina mengangguk, setelah pria itu berlalu, ia secara naluriah memungut suit jacket Jo yang teronggok kusut di kursi, lalu merapikannya karena ringsek setelah dilepas asal-asalan tadi.


Baginya suit jacket itu terasa agak berat, Dina penasaran, secara iseng merogoh-rogoh kantong, termasuk kantong tersembunyi di bagian dalam, ia menemukan banyak benda menakjubkan, ada buku catatan kecil, pulpen antik, kotak cerutu, zippo.


Dina terkesima, dia baru tahu ternyata Jo itu seorang perokok, walau dia tak pernah melihatnya, dan sebuah ponsel yang ditemuinya di balik jas itu membuatnya jauh lebih terkesima.


"Kalo gak salah, inikan Handphone Rayhan, kenapa ada di sini?" gumamnya terheran.


Dina penasaran tapi sedikit ragu, sementara Jo lama tak kunjung datang, akhirnya Dina memberanikan diri, ponsel itu memang sudah mati dari tiga hari yang lalu, ketika dinyalakan, maka puluhan pesan masuk secara beruntun, termasuk puluhan notifikasi panggilan tak terjawab. Dia langsung membuka Whatsapp, memeriksa histori percakapan antara Rayhan dan David.


Saat itulah darah Dina terasa mendidih, membaca bagaimana jahatnya percakapan dua sekawan itu. Rencana kriminal mereka, tentang adegan persetubuhan di sebuah hotel, perekaman vidio, yang nantinya semua itu akan berujung pada pemerasan.


Dina rasanya mau gila, melihat bagaimana seorang gadis di dalam video itu, yang tak lain adalah dirinya sendiri, berada dalam situasi genting, karena hanya terlindungi pakaian dalam saja, tubuhnya yang sintal itu sudah tergolek seperti secawan nektar manis mengundang cumbuan Kumbang nakal, dia sudah pasrah menunggu dijagal


Dina sangat benci melihat dirinya sendiri, bagaimana bisa dia sepilon itu, apakah itu karena pengaruh samacam obat perangsang, atau murni karena memang sudah Blackout, suatu kondisi di mana ketika kadar alkohol telah melebihi 14% dalam tubuh, maka otak akan kehilangan memori jangka pendeknya, itu seperti orang gila yang masih dapat beraktifitas normal seperti makan, menyetir, berhubungan ****, dan segala macamnya, tetapi dia tidak bisa mengingat apapun yang dilakukannya. Itulah mengapa mabuk alkohol sangat berbahaya.


Video itu kini memperlihatkan David anak muda yang penuh vitalitas itu, dia sudah bergairah parah, tubuhnya benar-benar tak berbenang lagi, dia terlihat memasang penutup wajah seperti perampok, dan tentu saja David tak sendiri, ada seorang lagi, si perekam video tak bermoral itu, tak lain dialah Rayhan, "Cepetan nanti keburu sadar, entar gue gak kebagian!" katanya.


Untunglah, David tak keburu menunaikan birahinya yang sudah bergolak, karena dia langsung terjengkang ke lantai, ada sesuatu yang tak terlihat menyambarnya, Rayhan tak sempat bertanya 'mengapa?' pada temannya yang sudah kolaps itu, peristiwa itu terlalu cepat, malah handphone di tangannya tiba-tiba jatuh ke lantai, menyusul David, ia pun roboh diserang sesuatu yang ghaib, layar menjadi gelap, dan semuanya berakhir, karena dimatikan oleh seseorang.

__ADS_1


Bagi Bernardina, ini sangat sulit, bagaimana menjelaskan betapa rusaknya perasaannya saat itu, wajahnya terlihat seperti lukisan Scream dalam karya Edward Munch yang legendaris itu, kosong tapi penuh kemurkaan, tubuhnya gemetaran, ada sesuatu yang tak kuasa merembes dari sudut matanya yang memerah.


Dia ingin sekali membanting ponsel laknat itu, tetapi belum sempat benda itu melayang, ia tersentak, karena pintu dari sebelah kiri telah dibuka, Jo langsung masuk memepetnya, menarik dengan kuat, hingga kepalanya terbenam di dada pria itu. Di sanalah, tangis Bernardina ambrol tak terbendung lagi.


"Well, jadinya malah begini, kan!" kata Jo, membuat Dina makin terenyuh.


"Udah! Udah! Udah!" bujuknya, tapi raungan gadis itu makin membahana.


"Melihatmu begini, rasanya ingin kucongkel kedua mata mahkluk-mahkluk rendahan itu, sebagai ganti rugi untuk air matamu yang sangat berharga ini."


Dina menarik kepalanya menjauh dengan serta merta, "No! Jangan kotori tanganmu, aku tidak mau lagi melihatmu melakukan kekejaman seperti itu." Kata-katanya bercampur baur dengan isak tangisnya, membuat Jo serba salah.


"Makanya, jangan nangis!" bujuknya sambil menyerahkan botol air mineral.


Dina meminumnya dengan terburu sampai meleber, lalu termenung sambil sesenggukan, wajahnya terlihat cemong karena air mata itu telah melelehkan Eyeliner dan maskara-nya.


Jo tersenyum memandang Dina yang camerok, tetapi didiamkannya saja tetap begitu, gadis itu perlu waktu untuk menenangkan diri mengumpulkan ketegaran, ketika dirasa dia benar-benar sudah tenang, barulah Jo keluar dari sana, memutar lewat depan, masuk kembali ke ruang kemudi, sebelum mobil itu menyingkir, meninggalkan rest area.


***

__ADS_1


__ADS_2