Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
6.Inconsistent


__ADS_3

04:12 PM


Setelah menuntaskan tetekbengek administratif pembelian mobil tadi, David mengajak Dina bertandang ke bagian selatan hall, di sana dihelat Food Truck Festival, semacam pameran makanan yang menyajikan langsung dari mobil-mobil yang disulap jadi stan.


Mereka berniat menyari kudapan ringan setelah letih berkeliling pameran, namun dalam perjalanan menuju Food Truck Festival itu, di dekat ATM Centre, ada kegaduhan entah apa, banyak manusia berkerumun. Dari semua orang di sana, agaknya yang paling menjadi pusat perhatian adalah seorang ibu yang sibuk menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, sambil juga ia mencontohkan dengan beberapa gerakan tangan, David dan Dina pun dipaksa berhenti, untuk menonton.


"Ada apa ya mas?" tanya David pada seorang pria di sana.


"Katanya sih, hipnotis." jawab orang itu.


"Waduh!" seru David kaget, pikirannya cepat menduga bahwa ibu yang menarik perhatian itu pastilah si korban.


"Tapi udah ketangkap sih pelakunya, barusan banget diangkut ama polisi." tambah orang itu.


"Oh! Syukur deh kalo gitu," tandas David lega, berarti apa yang sekarang mereka saksikan ini, tak lebih dari sekedar reka ulang peristiwa, lalu dia menarik lengan Dina menjauh dari kerumunan orang di ATM itu, tak ada lagi yang menarik untuk ditonton. Mereka pun melanjutkan perjalanan.


Setibanya mereka di festival makanan itu, mereka jadi bingung sendiri, terlalu banyak pilihan, makanan berat, makanan ringan yang remeh temeh pun banyak.


"Kamu mau apa, Yang?" Tanya David, namun Dina cuma menggeleng tak pasti.


"Kebab? Crust Egg? Din sum? Ice Cream? Panini? Fried Tapioca? " David menyebutkan semua apa saja yang terlihat di sana, tapi lagi-lagi gadis itu cuma menggeleng.

__ADS_1


"Kalau Buble Tea, mau gak?" David menunjuk sebuah stan penjual aneka minuman dingin yang posisinya agak terhalang pohon Angsana yang rindang.


Untuk kali ini Dina diam tak merespon, sikapnya berubah mencolok, ketika di stan penjual minuman itu, Dina melihat seseorang yang menurutnya dia kenal.


"Kesana yuk!" David menarik tangannya, menurut David, sikap diamnya itu adalah bentuk persetujuan, dan mungkin itu benar karena gadis itu seperti tak punya kuasa untuk menolak.


Tertatih, langkah kakinya berat, berjalan seperti diseret-seret, Dina sungguh tak mengerti mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup cepat, ketika dia semakin dekat dan merapat pada stan aneka minuman segar itu, apa yang dilihatnya memang nyata, seorang pria ber-Suit formal nampak gagah, dengan tubuhnya yang tinggi menjulang seperti pohon Pinus. Pria itu memang dia.


Nampaknya dia juga sedang memesan Buble Tea, entah semua itu hanya kebetulan atau tidak, tapi dari sikapnya yang masabodo itu, agaknya pertemuan ini memang tak disengaja, dia sama sekali cuek pada kehadiran Dina. Ketika mendapat apa yang telah dipesannya, dua gelas Buble Tea , dia langsung mencicip salah satunya.


"Well, This is oke!" ucapnya kemudian, entah apa maksudnya, tidak jelas juga ditujukan untuk siapa kata-kata itu.


Dia melangkah pergi begitu saja setelah menyerahkan selembar uang untuk membayar, tanpa sekalipun menolehkan pandangannya pada Dina, seolah-olah dia tak tau ada Dina di dekatnya, atau memang pura-pura tidak tau, entahlah.


Kira-kira baru lima meter, pria itu melangkah meninggalkan keduanya, datang pula seorang wanita paruh baya menghampirinya. David dan Dina masih ingat siapa wanita itu, dia adalah wanita korban hopnotis yang tadi mereka lihat di ATM Centre, kedua sejoli itu mendadak senewen, tanda tanya bermunculan dalam kepala mereka.


"Eh, Ibu cariin, gak taunya di sini."


"Ahaha, saya cuma beli minum bentar." kata pria itu sambil menyerahkan segelas lagi Buble Tea kepada wanita tersebut. Sekilas, adegan ini membuat Dina terpaksa memajukan bibirnya.


"Makasih banget ya Mas, udah bantuin nangkap penipu tadi, kalo gak ada Mas, udah ludes semua uang Ibu."

__ADS_1


"Well, never mind about that." ucap pria itu mengelak, sambil tertawa kecil.


"Ibu traktir makan yuk, anggap aja sebagai ucapan terimakasih."


"Boleh!" jawabnya tak menampik.


Mereka terus mengobrol hangat seperti itu, sambil perlahan berjalan menjauh, tinggallah David dan Dina yang membisu, tercengang mendengar pembicaraan kedua orang tersebut, lalu menyimpulkan sendiri di pikiran mereka masing-masing.


Mereka membawa Buble tea, dan duduk di bangku di bawah pohon Angsana, Dina menyedot minuman itu sementara matanya hanya terpusat memandangi ujung sepatunya.


"Kamu kan pengawal aku, kamu dibayar buat jagain aku, kok bisa-bisanya kamu bersikap kayak gitu, seolah-olah aku ga ada, sekarang kamu malah enak-enakan makan ama orang, How dare you?" racaunya dengan gigi yang bergemerutuk geram, suaranya itu terdengar menggumam seperti dengungan Lebah.


"Ngomong apaan sih kamu? Ga jelas benget!" David protes.


"Eh, Enggak kok," Dina tersentak, lalu mengelus pipi David, menenangkan.


"Kita pulang yuk, aku udah capek banget." Dina memohon.


"Pulang? Kagak deh, aku gak mau!" David memasang muka cemberut, lalu katanya, "aku belum puas jalan sama kamu, lagian dari tadi kamu tuh nyuekin aku terus."


"Ya udah deh, maaf, jangan marah gitu dong, terserah kamu deh, mau kemana, aku ikut aja." Dina membujuk.

__ADS_1


David menghela nafas sejenak, sambil berpikir.


"Kita nonton aja yuk." ucap David kemudian. Gadis itu tak berpikir lama untuk menyetujui.


__ADS_2