Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
8.Popcorn


__ADS_3

Dina melangkahkan kakinya dengan cepat, nyaris setengah berlari, ia benar-benar tak sudi bila David mengejarnya saat itu, perasaannya remuk redam tak keruan, rasanya sakit tak terperi, ia ingin secepatnya enyah sejauh mungkin dari pusat perbelanjaan itu.


Saat melewati sebuah toko elektronik di lantai dua, yang mana biasa memajang satu atau dua televisi yang disengajakan menghadap ke pengunjung mall yang lalu lalang demi memancing perhatian, banyak orang berkerumun di sana, yang mana pula kerumunan itu yang membuat langkah kaki Dina tertahan sebentar, ada Breaking News ditayangkan di layar televisi itu.


Isi beritanya soal kebakaran hebat di Hotel Nielson, hotel itu letaknya tak begitu jauh dari mall ini, tayangan di layar televisi mempertontonkan puluhan pemadam kebakaran yang tengah berjibaku sekuat tenaga memadamkan api, celakanya diperkirakan masih ada orang yang terjebak di dalam gedung yang tengah dijilati kobaran api tersebut.


Reportase singkat itu rupanya juga meng-highlight sebuah tangkapan video amatir dari saksi mata di sana, video itu dengan cukup jelas memperlihatkan suatu adegan berbahaya dari sebuah jendela di lantai tiga, secara tiba-tiba jendela keca itu dipecahkan dari dalam, lalu seseorang melompat dari sana dengan menggendong seorang balita beserta sang ibu, walhasil kedua anak-beranak itu dipastikan selamat, dengan luka bakar ringan, dan ketika adegan mendebarkan itu berakhir, semua orang di sana nampak bersorak-sorai, merayakan keberhasilan orang yang telah menyelamatkan ibu dan anak tersebut.


Sebagai bonus, rupanya video amatir itu sukses menangkap sedikit wajah dari sosok heroik itu, walau cuma selewatan, namun cukuplah kiranya untuk membuat Dina tertegun, dia kenal wajah itu, "Jo!" ucapnya nyaris tak percaya.


Saat itu pula, Dina merasa bahwa seluruh tumpukan kekesalannya menguap sirna, seuntai senyum manis menggaris di bibirnya, ada semacam energi baru yang menyiraminya, memberinya kekuatan untuk mengayuh langkah, sehingga ayunan kakinya yang berikut dan berikutnya lagi terasa ringan dan semakin ringan.


Keluar dari mall, ada halte di depan sana, Dina duduk sebentar sambil dia menimang-nimang kendaraan apa yang akan ditumpanginya untuk kembali ke kampus, di mana mobilnya masih terparkir di sana, awalnya dia ingin naik taksi saja, namun membayangkan dirinya sendiri yang cantik harus menumpangi taksi sendirian, dia terlalu penakut untuk melakukan itu, akhirnya dia memutuskan untuk naik bus saja. Untungnya, hampir semua bus yang singgah di halte itu, rata-rata memang trayeknya akan melewati kampus.

__ADS_1


Sambil menunggu bus datang, Dina berkali-kali harus me-reject panggilan dari David yang rupanya sudah eling dari kekhilafan, dia sedang kelimpungan mencari-cari dirinya di dalam mall, sebelum pada akhirnya ponsel itu benar-benar di-shutdown, "Berisik banget deh!" katanya ketus.


Pada akhirnya, ketika ada bus jurusan antah berantah singgah, Dina langsung naik saja, dia tak mau kalau tiba-tiba David menemukannya di halte itu, yang terpenting adalah mengamankan diri terlebih dahulu, perkara nanti ini bus mau jalan kemana, pikirkan saja belakangan, paling-paling kalau sudah pusing, ya tinggal telepon Ramon, biar dijemput, begitu pikir Dina.


Bus itupun merambat perlahan meninggalkan halte yang kian mengecil tertinggal di belakang, Dina cukup beruntung karena kondisi bus tidak terlalu penuh, masih banyak kursi kosong yang bisa dipilihnya, akhirnya dia memutuskan duduk di satu baris kursi di dekat pintu belakang tempat dia naik tadi, lalu merapatkan diri ke jendela, semuanya kini berlalu menyisakan hening, hanya bola matanya yang sesekali mengerjap memandangi lampu-lampu perkotaan yang juga nampak mengerjap-erjap, dia jatuh cinta pada gemerlap kota di permulaan malam yang cerah itu.


"Maaf, sudah membuat Anda berada dalam kesulitan ini." Sebuah suara tiba-tiba mengusik lamunannya.


"Tadi ada sedikit kekacauan kecil, yang harus dibereskan, sekali lagi saya mohon maaf karena telah melalaikan tugas saya," lanjut pria itu dengan penuh sesal.


Dina masih terbius, bibirnya tekatup rapat, tak ada sepatah katapun yang bisa diucapkannya, kelopak matanya nyaris tak berkedip memandang ketampanan pria di hadapannya itu, masih sulit baginya untuk percaya pada apa yang dilihatnya saat itu.


"Want some Popcorn?" tanya pria itu ketika menyodorkan cemilan harum dari bijian bertih jagung, beserta segelas Iced Green Tea kepadanya.

__ADS_1


Dina tak bisa menjawabnya, malah memalingkan pandangan ke luar kaca, sungguh dia tak kuasa menyembunyikan senyumnya, cukup lama dia asyik mesam-mesem sendiri memandangi kaca, ketika dia menengok lagi didapatinya pria itu masih bersikukuh menunggunya menerima Popcorn itu, lalu detik berikutnya antara sadar dan tak sadar Popcorn dan minuman dingin itu sudah berpindah ke tangannya.


"Saya duduk di depan, kalau Anda butuh sesuatu, jangan sungkan!" terang pria itu tersenyum, ia tak mau mengganggu gadis itu berlama-lama, tetapi Dina keburu manahan tangannya, lalu menyemberutkan wajahnya, tak sesenti pun pria itu diijinkan menjauh.


"Don't go anywhere!" bisiknya pelan, lalu menengok pada satu sisi bangkunya yang masih kosong, cukuplah sebagai isyarat bahwa pria itu telah diperkenankan untuk mengisinya.


Pria itu menatap ragu-ragu pada awalnya, tapi Dina semakin kuat menjerat tangannya, seperti tak memberi pilihan lain.


"Well, Oke!" ucapnya dengan nada yang terdengar sekali bahwa ia terpaksa harus melakukan ini, sebelum pada akhirnya mereka benar-benar telah bersanding tanpa jarak di bangku yang berendeng itu.


Canggung, bisa jadi, dan mungkin hanya itulah kesan yang bisa ditangkap Dina dari gestur pria yang duduk di sampingnya, dia terlihat kaku dengan hanya bersedekap di dada, sementara satu kakinya disilang menumpang pada kaki yang lain, dia tak duduk bersandar, tidak juga membungkuk, apalagi menundukkan kepala, badannya tegak lurus sejajar dangan pandangan matanya, seperti Harimau yang selalu waspada, tak ada obrolan apa-apa diantara mereka, tapi Dina sangat menikmati kebisuan itu, kesenyapan itu memberinya ruang untuk berimajinasi sebebas-bebasnya, membuatnya lebih sering memandangi bayangan wajahnya di kaca, saat tersenyum dengan pipi menggembung karena mulutnya telah dijejali Jagung. Oh kenapa Popcorn ini rasanya lebih manis dari biasanya?


Kemana bus itu akan membawa mereka? Entahlah, hanya Tuhan yang tau, Dina pun tak peduli, pun pengawalnya itu tak juga pernah bertanya soal kemana tujuannya, rasa nyaman karena ada seseorang yang menjaga dan melindungi, membuat Dina lupa segala-galanya.

__ADS_1


__ADS_2