
Tidak terlalu sulit bagi Dina untuk mendapatkan nomor David, ia hapal nomor itu di luar kepala, karena memang, nomor serial cantik itu mudah sekali diingat, dengan membawa ponsel hasil rampasannya tadi menuju jendela kamarnya, mulailah dia bertelewicara dengan seseorang nun jauh di sana, dari speaker ponsel itu terdengar suara seorang laki-laki yang tak lain adalah David.
"Aduh Sayang! Maaf ya, tadi malam aku ga bisa nganter kamu pulang, semalam aku tuh udah kelenger banget."
"Terus yang nganterin aku ke kantor polisi siapa Vid?"
"Polisi? Oh! Hm! Itu ya? Rayhan yang nganterin kamu. Yah, abisnya dia juga pasti bingung, kan? Dia gak berani kalo nganterin kamu langsung ke rumah."
"Rayhan?"
"Iya! Rayhan."
"Mana sini, aku minta nomornya Rayhan!"
Hening, pria di seberang diam sejenak, "Ngg ..." David bergumam dengan suara terputus, lalu katanya, "Handphone si Rayhan hilang, Yang!"
"Hilang? Kok bisa? Aneh-aneh aja."
"Iya beneran, kayaknya jatoh deh, atau mungkin ketinggalan di klub, makanya dia lagi nyariin sekarang, kalo kamu gak percaya, bentar deh abis ini aku kasih, coba aja nanti kamu telpon pasti gak aktif."
Dina yang terdiam kali ini, dengan dahi mengernyit, katanya, "Hmph! Ya udahlah, mau gimana lagi, yang penting kamu gak kenapa-kenapa, kan?"
"Ya! Aku gak kenapa-napa kok, eh-, tapi seriusan, kamu beneran gak ingat apa-apa?"
"Ya seriusanlah, makanya aku nanyain ke kamu. Emang kenapa? Kok kamu malah nanya gitu?"
"Ya, gak apa-apa sih, cuma khawatir aja."
"Oh! Oke deh! Udah dulu ya, Handphone punya orang soalnya."
"Oke! Oke! Kamu jaga diri baik-baik ya, semoga semua masalah ini cepat berlalu, biar semua bisa balik kayak dulu lagi, kamu bisa kuliah lagi, bisa ngumpul bareng lagi, soalnya sepi banget di kampus ga ada kamu."
"Ya! Ya! Ya! Bawel, udah ya, pulsa orang ntar abis!"
"Oke! Bye! Sayang!"
"Bye!"
__ADS_1
Panggilan diputus, memang masih ada banyak hal yang terasa janggal, namun ada kelegaan yang menjalar di hati Dina, setidaknya dia tau bahwa David baik-baik saja.
Tak lama kemudian, ia bergegas kembali ke ruangan ayahnya. Begitu sampai di sana, hanya ada ayahnya saja yang nampak tepekur mengamati layar laptopnya. Kemana perginya? tanyanya dalam hati, sambil melempar pandangan ke seluruh ruangan.
"Orangnya udah pulang!" celetuk Nolan, seolah mampu membaca pikiran putrinya itu.
"Oh!" Dina bersungut, mendekati ayahnya lalu menaruh ponsel di atas meja.
"Jadi gimana sayang? Apa pendapatmu soal calon pengawalmu tadi?" pancing Nolan.
"Biasa aja!" jawab Dina asal, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan buku yang berantakan di atas meja.
"Daddy sangat yakin, dia bisa diandalkan," puji Nolan. Dina bergeming, lalu menyibukkan diri dengan membuka sebuah buku di tangannya.
"Daddy ingin membuat kesepakatan denganmu!"
"Kesepakatan?" Dina menyidik dengan ekor matanya, curiga.
"Ya! Kamu boleh kembali ke kampusmu, dan melakukan semua kegiatanmu seperti biasanya. Daddy tau, kamu pasti sudah kangen suasana kampusmu, kangen teman-temanmu, ya kan?" ungkap Nolan, kali ini Dina menatap ayahnya dengan lebih seksama.
Dina menghela nafas sebal, dia langsung paham maksud ayahnya itu, bahkan pikirannya kembali tertarik mundur pada peristiwa mengerikan di malam itu, sebuah mimpi buruk yang sulit dilupakannya, Dina benar-benar tak habis pikir mengapa ayahnya harus kembali memaksanya menjalani semua hal yang seminggu lalu nyaris menghilangkan nyawanya. Itu sama saja seperti melemparkannya ke kandang Singa yang lapar, mengapa ayahnya itu tak belajar dari kesalahan? Mengapa ia tega?
"Daddy mengerti perasaanmu, dan tau apa yang kamu pikirkan, kamu pasti menganggap Daddy-mu ini jahat, tapi kali ini Daddy yakin tak akan salah lagi, kalaupun seandainya dia berniat jahat, tentulah kamu tidak akan bisa bicara lagi dengan Daddy-mu ini sekarang."
"Maksudnya?" kejar Dina, tak paham.
"Nanti kamu tanya sendiri sama Ramon, apa yang terjadi di rumah ini tadi malam? Daddy yakin kamu akan lebih mudah percaya sama Ramon ketimbang Daddy-mu ini sendiri yang bercerita." sindir Nolan, Dina tersenyum kecut.
Lumrah memang, mengingat Dina itu sangat dekat sekali dengan kepala pelayan kawakan itu, selama ini dari sejak dia kecil, memang Ramonlah yang selalu mengurusi semua keperluan Dina.
"Yah, tapi ini balik lagi sih, terserah kamu mau atau tidak!" pancing Nolan lagi. Dina memandang pada ayahnya itu dengan pesimis.
"Jangan khawatir, Daddy akan berlaku fair di sini, seandainya kamu menerima kesepakatan ini, maka ini hanya berlaku untuk dua hari saja, kalau ternyata dalam dua hari itu cara kerjanya tak cocok denganmu, maka selesai! Itu artinya kesepakatan kita berakhir, dan setelah itu Daddy janji, kamu bebas mau melakukan apa saja di luar sana, tanpa perlu dikawal-kawal lagi."
"Oh Tuhan!" Dina menepuk jidatnya. Kesepakatan. Dua hari. Apanya yang fair? rutuknya dalam hati.
"Terserahlah!" teriaknya gusar.
__ADS_1
"Bersabarlah untuk dua hari saja, demi kebebasanmu," tutup Nolan, dibiarkannya saja gadis itu pergi dengan uring-uringan.
***
March 29, 2017.
Sejenak saja, mari kita memutar waktu mundur kebelakang, atau kira-kira seminggu yang lalu. Di suatu tempat, yang harus kita sepakati dulu, bahwa tempat ini berada di kota yang jauh sekali. Di kota itu menjulang sebuah menara yang dikenal dengan nama Evenergy Tower.
Berita penyerangan Bernardina Alessander putri dari Nolan Alessander, begitu hebohnya sampai mendominasi lini masa hari itu. Di lantai 60 pada gedung pencakar langit itu, nampak seorang pria tambun yang tercenung dengan muka gelisah, pria ini adalah Frederick Moffin. Dialah sang milyalder pemilik Evenergy, sebuah perusahan minyak yang sudah sangat termahsyur di dunia.
Tak lama terlihat orang bersetelan rapi masuk ke ruangan, seorang Assistant pribadinya. Frederick yang masih tertegun memandangi kota di balik kaca gedungnya segera membalikkan badan.
"Bagaimana bisa, rencana kita gagal?" Melotot mata Frederick ketika bertanya.
Asisten pribadi itu diam tak langsung menjawab, mengatur keberanian.
"Hei, Kenapa kau malah diam?" sembur Frederick.
"Sekali lagi, saya minta maaf Tuan, ini benar-benar di luar prediksi, surat ancaman yang kita kirimkan memang sukses menakut-nakuti Nolan, pada akhirnya dia terpaksa menyewa pengawal pribadi untuk melindungi anaknya itu, saya sangat yakin sekali dia tidak menyadari bahwa pengawal yang disewanya itu justru adalah orang-orang kita.
"Sesuai rencana awal, ketika kita berniat menculiknya, sehabis pulang dari acara pesta itu, tapi orang-orang kita malah diserang secara misterius, mereka semua dibunuh." sambung asisten itu.
"Lalu siapa yang melakukannya?" Frederick mendengus gusar.
"Itu yang saya belum tau."
"Bodoh! Itu berarti Nolan sudah curiga mengenai rencana penculikan itu, dan yang menggagalkan semua itu, pasti orang suruhan dia!" teriak Frederick.
"Saya tidak yakin soal itu, karena gadis itu malah ditemukan pingsan di mobilnya oleh polisi."
"Sialan! Kau benar-benar membuatku pusing." Warna muka Frederick makin terbakar merah karena geram.
"Ma-maafkan saya Tuan!" Suara asisten pribadi itu bergetar ketakutan.
"Hubungi Hades, atur pertemuan dengannya, aku rasa sudah waktunya aku bicara dengannya."
"Baik Tuan! Saya permisi!" jawab asisten pribadi itu, buru-buru berlalu meninggalkan Boss-nya yang nampak memijiti kepalanya sendiri.
__ADS_1