
Present time, April 8, 2017
Still at the same day.
Bernardina, tak pernah bersolek seserius itu, bahkan bila harus menghadiri pesta atau acara formil seperti apapun, tak pernah ia setekun itu berkutat dengan meja riasnya yang sudah mengkapal pecah oleh alat make up yang tumpang tindih, ini terlalu berlebihan untuk sekedar acara berangkat ke kampus.
Terlihat jengkel ketika berkali-kali menyingkirkan pulasan lipstik di bibir yang menurutnya tiada kesan flawless, koleksi lipstiknya yang sekebon itu telah dirunutnya, tetapi tak ada yang serasi menurutnya, sebenarnya dengan tone kulit wajah seperti Dina itu, lipstik warna apa saja bisa matching, tetapi dia sendiri tak mengerti mengapa kali ini ihwal gincu saja lebih pelik daripada perseteruan Presidential Election negara plus enam dua.
Tuk! Tuk! Tuk! Pintu diketuk, Dina mengiyakan, lalu kepala Ramon nongol di kuakan pintu.
"Maaf Nona, Tuan besar menyuruh saya memeriksa Anda, apakah Nona baik-baik saja?" tanya Ramon, ini adalah konsekuensi yang wajar setelah Dina terlalu lama tak kunjung turun dari kamarnya.
"Apakah dia sudah datang?" Dina malah balik bertanya.
"Siapa Nona?"
"Jo, apakah dia sudah datang?"
__ADS_1
"Oh! Pengawal Nona, ya! Dia sudah menunggu Nona dari setengah jam yang lalu."
"Oke! Oke! Wait! Aku akan segera selesai!" kata Dina terburu, sebelum ia menyeleksi lipstik secara random, dan warna nude peach adalah pulasan pamungkasnya.
Ramon meninggalkannya yang tengah asyik merapikan shade lipstick, pelayan itu tak mau menerka berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan sang Nona demi mengentaskan polemik merias diri ini.
Sebelum Dina menyudahi ini semua, dia mesti memutar tubuhnya beberapa kali di hadapan cermin, ia merasa cukup berpuas diri dengan pilihan fashion yang netral seperti yang disandangnya saat itu, blus putih berlengan tiga perempat, dengan model round neck, makin manis dengan hiasan pita pada bagian perutnya, sementara untuk bawahannya ia mengenakan rok bergenre floral skirt tiga perempat yang makin mengkulminasi sosoknya pada imej yang kasual dan feminin.
Dina menuruni tangga dengan langkah matematis yang konstan seperti benda langit asing yang meluncur pada ruang unreal penuh dystopia, maka Jo yang menunggunya di ujung anak tangga terakhir adalah pengamat pasif yang tak bisa menentukan berapa pengaruh si objek terhadap pemuaian ruang dan waktu, hingga ketika hukum relativitas klasik tak lagi absah di sini, dan panjang anak tangga bukanlah kerangka acuan lembam, maka perspektif yang kontras ini telah mencipta kenisbian tersendiri.
Maksudku, antara mereka berdua sama-sama tak dapat menentukan siapa sebenarnya yang bergerak mendekati siapa, apakah sebenarnya tangga itu bergerak sendiri seperti konveyor menghantarkannya pada Jo yang memandanginya seperti Ares memendam rindu berat pada Afrodet yang sudah terlalu lama dipingit Zeus di puncak gunung Olympus.
"Jangan melihatku seperti itu, kau membuatku takut" kata Dina, dia tersipu. Jo tersenyum karena menyadari ada yang tak beres dengan sang Nona, sebelum Dina secara dramatis bermanuver monolak punggung Jo dengan pelan, titah agar pria itu berjalan duluan, barulah gadis itu berjalan membebek di belakangnya.
Ketika Dina menyerahkan remote Ferrari Spider 488-nya, Jo secara tidak peka langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Nona-nya yang cantik itu untuk mengisi kursi kemudi, dengan sangat fatal dan sok tau, pastilah dia menebak bahwa gadis itu hendak menyetir sendiri, seperti hari kemarin.
Melihat misinterpretasi yang sangat tidak humanis itu, wajar bila Dina secara terang-terangan menolak dengan tak menggubris, "Tunggu sebentar!" katanya dengan penuh keengganan, entah menunggu apa?
__ADS_1
Serius, apakah Jo sudah kehilangan kemampuannya menebak masa depan? Tidak, rasanya itu sama seperti hari kemarin ketika ia membukakan pintu mobil, Jo mungkin sudah bisa menebak dan tak peduli apapun juga hasilnya, tetapi membukakan pintu kendaraan untuk Nona cantik adalah protokoler yang tak dapat ditinggalkan seorang pengawal.
Ramon yang sedari tadi tak kelihatan batang hidungnya kini telah hadir di sana, bak pahlawan kesiangan rupanya dia membawakan semacam lunchbox, lalu menyerahkannya pada Dina. Rupanya itulah yang ditunggunya.
Setelah mendapatkan bekal, barulah Dina dengan langkah yang luwes mendekat pada Ferrari, tetapi bukan kabin setir (kanan) yang di tuju, melainkan ke kursi di sebelah sana (kiri), ia masuk secara mandiri dan langsung duduk manis menunggu dengan tertib, sekiranya ia memang sudah rela diangkut ke manapun sang driver asmara mau membawanya. Jo terpancang diam dilematis.
"Kau tega, membiarkan aku yang sudah berdandan cantik ini menyetir sendiri?" teriak Dina sebal melihat Jo yang masih mematung di luar mobil.
Jo tentunya tak akan bisa menjawab pertanyaan retoris demikian, hanya kuasa mendehahkan sedikit napas demi mengenyahkan keragu-raguan, lalu mau tak mau bertindak sebagai gentleman mengambil alih ruang kemudi. Ya begitulah seharusnya, kiranya memang seperti itulah yang diharapkan alam semesta.
"Gak apa-apa kan?"Tanya Dina, lagi-lagi pertanyaan retoris, selain tak perlu dijawab, pertanyaan itu juga tidak intristik, sebenarnya apanya yang 'Gak apa-apa', maka sudah benar sekali bila Jo menanggapi itu cukup dengan senyum terbaiknya.
Lalu, "Sorry!" ucapnya kemudian.
Manakala ia menyondongkan tubuhnya secara sengaja ke arah gadis itu, mendadak Dina menjadi kaku, menahan napas, dan jantungnya berdebur seperti ombak menampar karang, saat wajah-wajah mereka menjadi terlalu dekat, oleh suatu aktivitas yang padahal bukan apa-apa, tentu tidak akan juga menubuwatkan satu kecupan istimewa, kecuali hanya tangan Jo yang bekerja sangat gesit membelit dan melilitkan, maka adegan klise itu harus tamat setelah terdengar bunyi click, dari seatbelt Dina yang sudah terkunci.
"Thanks!" bisik gadis itu antara senang dan tak senang, menata napas kembang kempis, saat wajah mereka telah berjauhan.
__ADS_1
Tak ada lagi yang perlu diintisarikan, cukuplah lambaian tangan Ramon menjadi penutup yang spektakuler mengiringi kepergian Ferrari berwarna kuning itu, seolah-olah mereka akan pergi mudik, jauh dan lama kembali, kediaman tertinggal lamat-lamat di belakang, kini waktunya menindas jalanan.
***