
April 9, 2017
Bucharest, Romania.
Arzuzile dome, adalah sebuah bangunan tua multiarsitektur dengan gaya abad pertengahan, dapat dilihat dari bentuk kubahnya yang jelas sekali terpengaruh jaman renaissance. Gedung bersejarah ini terletak di tenggara kota Bucharest di tepi sungai Dambovet.
Pada kesehariannya bangunan itu digunakan sebagai museum sejarah dan perpustakaan nasional Romania, tetapi tak banyak yang tahu bahwa di bagian tersembunyi bangunan itu, terdapat padanya sebuah ruangan bawah tanah yang futuristik, jika dikalkulasi luasnya nyaris dua kali lapangan sepak bola, dilengkapi dengan segala macam fasilitas dan sistem keamanannya yang canggih, termasuk ketangguhannya dalam menahan ledakan bom nuklir, dan tempat ini adalah markas besar Calamity Seven.
Disebut sebagai markas, karena memang di tempat itulah secara resmi anggota Calamity Seven sering berkumpul dalam rapat membahas tugas mereka, walaupun pada kenyataannya, mereka tidaklah sedisiplin itu, mereka lebih sering mangkir dan tak begitu kompak bila bicara soal kerjasama tim.
Itu wajar, karena pada dasarnya mereka adalah pribadi-pribadi egois yang sulit untuk dikumpulkan dalam satu meja. Tak peduli ada rapat penting apapun di tempat itu, bisa dipastikan meja selalu kosong. Tak ada anggota yang datang, kecuali Jocelin Albert dan seorang anggota misterius bernama Sakichi.
Bukan tanpa alasan kenapa Sakichi adalah satu-satunya anggota yang tak pernah absen dari rapat, karena orang misterius yang kuat ini, memang secara khusus ditugaskan untuk menjaga markas itu. Di sanalah dia tinggal dan menghabiskan waktunya.
Bila mengingat betapa vitalnya keberadaan markas ini, karena tidak hanya sebagai ruang pertemuan, tetapi juga menjadi tempat menyimpan segala data rahasia dan dokumen penting mereka. Dialah Sakichi orang yang bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian semua itu.
Dia seorang pria yang berasal dari negeri yang jauh di timur, tempat awalnya matahari terbit, umurnya tidak diketahui secara pasti, pembawaannya tenang dan dingin, berpenampilan layaknya seorang ksatria tradisional Nippon, mengenakan Hakama dan terompah kayu (Geta), serta sebuah katana yang selalu menyertainya kemanapun dia pergi.
Dia hampir tidak pernah berbicara dalam rapat apapun, tak ada satupun anggota yang berani mengajaknya bicara, dia hanya diam dan memperhatikan seperti orang asing yang tak pernah dilibatkan sama sekali, tetapi bicara soal kekuatan, pria pendiam serupa wiksu ini tak perlu diragukan, itulah alasan mengapa dia satu-satunya orang yang dipercaya mengemban tugas istimewa ini.
Minggu pagi ini, Jocelin Albert muncul di Arzuzile Dome. Boss Calamity Seven ini langsung masuk menuju ruang rapat, di meja pertemuan sudah ada tiga orang yang duduk menunggu di sana.
Ada Bogdon sang juru bicara sekaligus juga moderator, lalu hadir juga Hopkin sang tactical analysis, kedua orang ini adalah staf utama organisasi, walaupun mereka bukan anggota inti Calamity Seven, tetapi peran serta mereka dalam organisasi tak kalah pentingnya, mereka selalu dibutuhkan dalam rapat, dan orang terakhir yang terlihat hanya mengheningkan cipta pada kursi paling jauh, tentulah tak lain dan tak bukan adalah Sakichi, si orang nomor tiga dalam keanggotaan.
"Maaf mengganggu waktu kalian di hari libur ini," kata Jocelin mengawali pertemuan itu.
"Orang-orang dari United Nation itu berisik sekali tuan, mereka tak pernah berhenti mengoceh sepanjang pagi ini," keluh Bogdon.
"Kita kesampingkan dulu soal itu, biar aku yang nanti berbicara dengan mereka. Nah untuk mempersingkat waktu, langsung saja, apakah ada perkembangan terbaru soal Rimedel?" Jocelin menengok kepada Hopkin, si jenius yang memang sulit sekali terlepas dari perangkat komputer canggihnya.
"Saya sudah mencoba memeriksanya, kita punya sedikit petunjuk, berdasarkan chip GPS Rimedel, ini dia ...." Hopkin segera menampilkan sebuah peta yang menyala pada tiap panel meja rapat yang rupanya berfungsi juga sebagai monitor.
"Ini Venezuela, markas utama partai Kronikel!" simpul Jocelin.
"Benar, ini adalah Venezuela tuan, berdasarkan pancaran GPS Rimedel, di sinilah terakhir kali dia terlacak."
"Menurutmu, mengapa Vileron membawa Rimedel ke sana?"
"Hampir sulit dimengerti alasannya, tapi kita sendiri tau bahwa belakangan ini Venezuela adalah negara yang mengalami konflik politik, kurasa alasannya mungkin ada pada keterlibatan EOD* (singkatan dari Eye Of Darkness) dengan pasukan pemberontak Kronikel ini, mungkin Rimedel disekap di sana, atau bisa jadi Vileron hanya singgah sebentar di markas militer itu, sebelum dia menyadari keberadaan chip itu, lalu dinonaktifkan." Terang Hopkin.
"Memang sejauh ini, kita tidak bisa memastikan apakah Rimedel benar-benar ada di sana atau tidak, mengingat Vileron itu orang yang penuh perhitungan, rasanya memang tidak mungkin, dia akan menitipkan Rimedel di tempat mencolok seperti itu, apalagi dia sudah menyadari keberadaan chip GPS itu."
"Ya tuan, malah inilah yang membuat saya sedikit khawatir, ketika dia menyadari keberadaan chip itu, mereka bisa menggunakannya untuk balik mengetahui keberadaan markas kita."
"Oh, jangan takut soal itu Hopkin, karena Vileron dan orang-orangnya harus berpikir dua kali untuk berani muncul di sini." Jocelin lalu melirik pada sosok Sakichi yang terlihat seperti orang tidur, bersandar santai di kursinya, sambil memeluk katana dengan mata terpejam.
"Ah, saya hampir lupa, ada Tuan Sakichi di sini." Kata Hopkin sedikit tenang.
"Nah, kupikir aku harus ke Venezuela untuk memastikannya sendiri." Jocelin melirik Bogdon.
"Baik! Saya akan mengatur pertemuan anda dengan Presiden Juan Rodhes," kata Bogdon.
"Ok teman, terimakasih, semoga masih ada harapan," pungkas Jocelin, tapi sebelum dia bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Albert-kun!"
Jocelin kembali melirik Sakichi yang secara tiba-tiba memanggilnya. Sesuatu yang tak lazim, mengingat selama ini Sakichi terkenal sebagai pria yang hemat kata.
"Sakichi-San!" balas Jocelin.
"Aku belum mengucapkan selamat untuk pernikahanmu, dan mengapa kita tidak merayakan hari baikmu ini sebentar saja."
"Oh ya Tuhan! Sakichi-San, aku benar-benar minta maaf, aku hampir lupa bahwa aku pernah berjanji menemanimu bermain Shogi."
"Kau sengaja menghindar ya kan? Karena kau selalu kalah."
"Apa? Tidak! Itu sama sekali tidak benar, jangan meremehkanku Sakichi-san. Oke, oke, baiklah, setelah urusan Rimedel ini selesai, kita akan bertanding sampai sore di sini."
"Baik, aku rasa, aku perlu menyiapkan teh terbaik yang kupunya," timpal Sakichi, kini dialah yang tegak dari tempat duduknya dan mendahului Jocelin meninggalkan ruang rapat. Secara tak wajar dia berjalan menembus dinding, membuat semua orang merinding.
***
Setidaknya, dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, situasi politik dan keamanan di Venezuela benar-benar tak kondusif, negara ini seperti memiliki dua presiden yang berkuasa dalam pemerintahan yang berbeda haluan.
Konflik politik ini ditenggarai hasil pemilihan umum yang dianggap penuh konspirasi. Secara de facto sang penantang Leonard Mongulo adalah pemenang pemilu, namun sidang banding mahkamah tingkat tinggi yang diajukan petahana Juan Rhodes, justru memenangkan Juan Rhodes sebagai presiden sah secara de jure. Walhasil membuatnya terpilih kembali untuk melanjutkan estafet pemerintahannya.
Sebenarnya United Nation sudah berkali-kali menjadi penengah ketegangan ini, tetapi belum juga menemui titik terang, konflik makin meruncing, karena Mongulo justru merasa United Nation agak berat sebelah, dia yang didukung penuh oleh partai sosialis Kronikel justru makin berapi-api tekadnya, mengumpulkan segala kekuatan demi mengkudeta Rhodes, dan di sinilah ada kemungkinan bila Eye Of Darkness telah menggunakan tangannya, untuk ikut bermain di air keruh.
Juan Rhodes, memang orang yang kolot dan agak sedikit munafik barangkali, mungkin ada benarnya juga dugaan masyarakat bahwa dia melakukan cara-cara kotor untuk kembali berkuasa, itu terlihat dari gelagatnya yang tak bersahabat saat berbicara soal pemerintahannya yang kacau balau dengan seorang pria bersetelan hitam rapi berwajah tertutup topeng Penguin pagi ini. Di rumah kediamannya yang dipenuhi pasukan khusus itu.
Orang bertopeng Penguin itu berkata, "Seandainya saya dalam posisi Anda, saya akan memilih untuk mundur saja, daripada terus-menerus mengorbankan rakyat yang tak bersalah."
"Kalian orang-orang United Nation tidak tau apa-apa, jangan sok tau mencampuri urusan dapur orang seenaknya, apalagi sampai repot-repot mengirim Calamity Seven ke sini."
"Itu urusan internal kalian, tak ada hubungannya denganku."
"Tentu saja ada, karena lawan politikmu itu telah bekerja sama dengan Eye of Darkness untuk menyingkirkanmu, dalam hal ini secara kebetulan musuh kita adalah sama, itulah hubungannya."
Presiden Juan Rodhes mendadak terdiam.
"Tetapi anda tidak perlu khawatir lagi soal pasukan pemberontak itu, karena pemimpin mereka, orang yang paling dicari di negara ini, Leonard Mongulo. Sudah kutemukan."
"Apa maksudmu?"
"Kira-kira sejam yang lalu, aku baru saja selesai menghancurkan markas mereka di semenanjung Karibia, memang aku sedikit kecewa karena rekanku yang sedang kucari itu tak ada di sana, tapi tentu saja aku tidak mau pulang dengan tangan kosong."
"Kau menyerang markas mereka?"
"Yah, dengan sangat terpaksa, setidaknya aku mendapatkan informasi di mana persembunyian Mongulo, setelah baru saja berbicara denganku sebentar, mungkin tak lama lagi dia akan kembali ke negara ini. Mungkin, inilah solusi dariku Mister Presiden, sepertinya Anda berdua, harus duduk bersama menikmati kopi, membicarakan masa depan negaramu yang sedang terluka ini, dari hati ke hati sebagai sahabat lama. Tetapi, jika kalian sudah berbicara empat mata, dan masih saja tak ada yang mau mengalah, kusarankan kalian untuk saling membunuh saja." Pria bertopeng Penguin itu menaruh pistol di atas meja, sebelum dia berlalu.
***
Beberapa jam yang lalu.
Wilayah timur Venezuela yang merupakan basis pendukung Mongulo, adalah wilayah miskin yang melarat, kesenjangan sosial, dan angka kriminalitas yang tinggi membuat wilayah timur itu seperti neraka, ketidakadilan ini juga menjadi salah satu pemicu kaum pemberontak ingin menggulingkan rezim Rhodes yang telah berkuasa hampir separuh dekade.
Pulau De Coche, di semenanjung laut Karibia, adalah pangkalan militer Partai Sosialis Kronikel yang menjadi markas tentara pemberontak loyalis Mongulo, mereka juga dibantu oleh pasukan bayaran, yang didominasi imigran gelap dari Kuba dan Trinidad Tobago, suatu kontrak politik yang penuh resiko tentunya.
__ADS_1
Suasana De Choce di pagi hari ini, bising dan meranggas, nampak mobil-mobil kargo pengangkut tentara masuk melewati pagar beton tinggi dengan lingkaran kawat berduri, kemudian ketika mobil-mobil itu berhenti, beberapa orang tentara separatis membentak seperti menggebah kuda menyuruh turun puluhan orang dengan kondisi tubuh terikat.
Nampaknya, orang-orang dalam kondisi babak belur dan terikat itu adalah Tentara Nasional Venezuela yang setia pada negara di bawah kepemimpinan Presiden Juan Rhodes, Presiden resmi Venezuela yang berkuasa, sepertinya mereka diculik dari pos-pos pengintaian mereka di semenanjung Karibia.
Tak ubahnya seperti sapi, setelah dipaksa turun dari truk, mereka segera digiring menuju kamp tahanan, nantinya mereka akan diberi waktu untuk memutuskan dua pilihan yang sulit, ikut bergabung bersama Mongulo atau dieksekusi.
Ketika mereka sibuk mengatur barisan tawanan perang itu, tiba-tiba saja, permukaan tanah pada distrik militer itu bergetar secara hebat, disusul suara dentuman keras seperti geluduk, suara itu datang agak terlambat dari yang seharusnya, karena sesuatu yang jatuh dari langit itu kecepatannya seperti kilat menyelisihi kecepatan sonic (suara), seketika itu juga gelombang kejut benturannya membuat pasukan Kronikel terhempas lintang pukang.
Dentuman keras itu membumbungkan debu tebal setinggi pohon kelapa, kemudian secara samar di balik debu itu nampak siluet hitam jengat. Kemudian nampak semakin jelas sosok itu mengenakan suit hitam, sarung tangan hitam, dan Penguin mask yang menyeringai angker, rasanya tidak salah lagi, dialah The Flying Penguin dari Calamity Seven.
Suara sirine segera meraung memanggil bala bantuan, secepat-cepatnya pula seluruh penjuru tempat itu segera ribut dengan derap sepatu tentara. Siap tidak siap, mereka bersegera mengokang senjata, mengepung sumber huru-hara.
Penguin Terbang, sudah berada dalam jarak tembak yang sempurna ketika ratusan senapan mesin membidiknya, tetapi dia tak gentar secuil pun bahkan sengaja menunggu agar lebih banyak lagi serdadu yang datang. Penguin Terbang berkata dengan lantang, "Mana Vileron? Bawa dia kehadapanku, Soldier!"
Sebuah kalimat tantangan bernada jemawa, akibatnya langsung dibalas dengan hujanan proyektil panas, selongsong melenting terbuang berserakan, letupan mesiu berisik memekakkan telinga, tetapi semakin banyak amunisi terbuang semakin rontok pula mental mereka, melihat apa yang mereka tembak itu tetap kokoh berdiri. Jangankan melukai, menggores tubuhnya pun tidak, peluru-peluru itu seperti puntung rokok saja berjatuhan melingkar rapi di bawah kaki Penguin Terbang.
Bukan sulap bukan juga ajian kebal ilmu hitam, Penguin Terbang juga tak memakai baju zirah sekeras intan, tetapi hanya alasan fisika sederhana yang menyebabkan ribuan peluru itu kehilangan tenaga geraknya, saat menyentuh tubuh Penguin Terbang.
Itulah Foton Mechanism, Foton itu partikel rakus yang akan memakan (menyerap) energi apa saja, termasuk energi kinetis, peluru-peluru yang melesat itu tentulah membawa energi kintetis, yang pada akhirnya energi itu terhisap habis ketika bersentuhan dengan tubuh Penguin Terbang, karena alasan istimewa itu pula, bisa dikatakan orang bertopeng Penguin ini tidak akan mungkin dan tidak akan pernah bisa dilukai oleh senjata model apapun.
Melihat senjata api milik mereka tak mempan, seorang diantara tentara itu tiba-tiba menembakkan bazoka penghancur tank, tetapi hulu ledak bazoka yang runcing seperti roket itu hanya ditangkap, lalu diremas seperti buah-buahan busuk, tanpa ledakan apa-apa.
Peluru roket yang dikeremes itu pula yang menjadi akhir dari segala keputusasaan mereka, tak ada yang menyuruh mereka berhenti menembak, para serdadu itu memutuskan untuk berhenti sendiri, keringat dingin melembab di baret kepala, ludah ditelanpun terasa kelat, tak pernah kiranya mereka berhadapan dengan musuh yang muskil seperti ini dalam medan peperangan.
"Well, kalian sudah selesai? Mungkin sekarang, giliranku!" Kata Penguin Terbang, dia terlihat sangat segar setelah bermandikan *****-***** tadi.
Kaki kanannya segera diangkat, lurus setinggi-tingginya kepada angkasa, cukuplah tiga detik baginya memusatkan tenaga pada telapak kaki, lalu dengan ayunan kuat, kaki itu dilesakkan sepenuh hati menghujam bumi, mulanya tak terdengar apa-apa, hening dan senyap, semua orang saling berpandangan, tetapi kira-kira dua hisapan cerutu barulah terdengar suara raungan reptil purba yang memekik seperti terbekap di bawah tanah. Semua nampak tegang mendengar suara mengerikan itu.
"Soldiers, kalian hanya punya waktu sepuluh menit, selamatkanlah diri kalian, karena pulau ini, akan segera tenggelam ke dasar samudra," kata Penguin Terbang.
Semua orang tercengang, dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka tak mengerti apa maksud kata-kata itu?
Rupanya, hentakan kakinya tadi telah mengirimkan signal energi yang disuntikkan ke inti bumi, hingga merangsang gerak seismik pada lempeng tektonik, itulah rupanya asal-muasal suara raungan dinosaurus tadi, rongga-rongga tanah yang jauh di bawah sana pasti saling bergencetan, akibatnya daratan mulai bergetar, retakan-retakan kecil mulai bersemi dipermukaan, tiang-tiang listrik, pepohan kelapa, menara tandon air, mendadak doyong, demikian juga dengan atap-atap gedung, menara-menara pengintai semua ringkih berderit, lalu perlahan-lahan condong.
Bagaikan melihat ancaman hari kiamat di depan mata, barulah mereka berlarian tunggang langgang, kalang kabut tak tentu arah, tak ada lagi lawan dan kawan, mereka saling berkelahi memperebutkan mobil, termasuk juga para tawanan perang yang kini ikut-ikutan bertaruh nyawa mendapatkan tumpangan menuju pelabuhan terdekat yang bisa dicapai, pada saat itulah sifat asli manusia dipertontonkan, sifat yang hanya mementingkan diri masing-masing.
Penguin Terbang dia tetap tenang, seolah tak peduli dengan segala kekacauan yang diperbuatnya, ketika orang-orang sibuk menyelamatkan diri, dia segera bergerak, sekerjapan mata, memeriksa ke setiap ruangan di markas yang sebentar lagi tinggal kenangan, tetapi sayang karena rekannya yang bernama Rimedel itu memang tak ada di sana.
Walapun begitu, setidaknya ada beberapa data dan fakta penting yang masih bisa diperolehnya dari penggeledahan itu, termasuk tempat persembunyian Leonard Mongulo, rupanya pemimpin partai oposisi itu sedang bersuaka di negara tetangga, Meksiko.
Sementara bumi masih terus berguncang, saat ini nyaris mencapai sepuluh menit batas waktu yang diperkirakan, sebagian orang-orang yang telah mencapai kapal-kapal di dermaga hanya kuasa ternganga melihat hilangnya daratan.
Sehektar demi sehektar tanah amblas menyisakan lubang-bubang menganga, kemudian air laut segera menyerbak mengisi lubang-lubang itu. Hingga tiada lagi tanah, semua cepat berganti dengan laut.
Pagi yang bersejarah itu, pulau De Coche benar-benar telah dihapuskan dari peta dunia, kini yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan yang terapung-apung seluas pengamatan, di atas lautan yang bergolak.
Tentulah amblasnya massa tanah sebesar pulau itu akan membuat muka air menjadi tak stabil, akibatnya sudah bisa dipastikan. Dalam beberapa menit lagi, laut akan segera memuntahkan bebannya, menggulung daratan terdekat.
Tsunami, ya itulah bencana yang sesungguhnya akan terjadi, tetapi sebelum peristiwa menakutkan itu terwujud, masih di tengah lautan, lebih tepatnya pada sebuah daun pintu yang mengambang, Penguin terbang sedang berdiri tenang di atasnya.
Dia segera menekuk kedua kakinya, hingga nyaris berposisi jongkok, lalu satu tangannya ditempelkan pada permukaan air, maka laut yang bergejolak marah itu mendadak jinak.
Samudera yang baru akan bersiap menyapu daratan, mendadak kehilangan energinya, hingga nyaris tak bergerak. Tenaga gelombang pada permukaan laut telah terhisap seluruhnya pada telapak tangan Penguin terbang, dengan segala perhitungannya pada sebab akibat, dia yang baru saja melenyapkan pulau, tentu tak menginginkan ada tsunami di pagi itu.
__ADS_1
***