Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
25.Prince Fenedia


__ADS_3

Syahdan! Alkisah pada masa yang lampau, di wilayah Tanzilvenia kuno, menjulang sebuah gunung keramat bernama Samorath. Konon, menurut desas-desus, gunung yang penuh misteri itu adalah tempat tinggal bangsa Wingsy yang legendaris, diceritakan bahwa mereka adalah bangsa perkasa yang memiliki sayap dan mampu membelah angkasa seperti Rajawali, selama berabad-abad keberadaan mereka telah menjadi folklor, dongeng tua yang diwariskan dari generasi ke generasi, namun tak pernah tertulis dalam buku cerita.


Tidak banyak manusia yang pernah melihat wujud mereka, bahkan mungkin juga tidak ada, begitulah kenyataannya, bisa jadi karena keberadaan tempat tinggal mereka yang sulit dicapai, gunung Samorath dikelilingi hutan Elfocs yang dianggap hutan larangan, hutan itulah yang selama ini seolah menjadi pemisah dua kehidupan, bangsa manusia dan bangsa Wingsy yang mistis, siapapun saja yang berani masuk ke hutan itu mereka tidak akan pernah kembali lagi.


Pada masa itu juga, di wilayah Eropa berdiri sebuah kerajaan adidaya bernama Arcadia, pada masa itu Arcadia adalah kerajaan besar yang menguasai separuh daratan Eropa hingga Afrika, Arcadian (sebutan untuk orang Arcadia) sangat terkenal sebagai bangsa penakluk yang gila perang, bangsa yang paling ditakuti pada zaman itu.


Pada puncak kejayaannya Arcadia dipimpin oleh seorang Raja agung bernama Yuzord, dia tak hanya kondang sebagai pemimpin perang yang tak terkalahkan, namanya juga tersohor sebagai penakluk wanita yang ulung, tak heran bila dia memiliki banyak istri, selir dan gundik. Wajar, dengan segala kekuasaannya wanita secantik apapun mampu dibuatnya bertekuk lutut, dan kisah ini bermula saat kabar kecantikan Putri Amfimetes dari negeri kecil di timur bernama Crondithus tersiar ke telinganya.


Demi membuktikan kebenaran tersebut, Yozurd segera berangkat bersama rombongannya, setelah menempuh perjalanan panjang berhari-hari, mereka pun tiba di Crondithus, selayaknya tamu agung mereka langsung disambut dengan ramah, sebuah pesta resmi kerajaan pun digelar, saat itulah ketika Raja Derodes pemimpin Crondithus memperkenalkan anggota keluarganya, termasuk juga Putri Amfimetes, kecantikannya langsung membuat Yuzord terpikat, tak ada alasan lagi baginya, untuk tidak bersegera mengutarakan maksud lawatannya, yakni mengambil Amfimetes sebagai istri kelima-nya.


Amfimetes tentu tak akan bersedia, dia berusaha menolaknya secara halus, namun sebagaimana tabiat Raja Yuzord yang tak pernah sudi menerima apapun bentuk penolakan, terpaksa pulang dengan patah hati, namun sudah dapat ditebak, bahwa pastilah dia akan kembali lagi dengan membawa seluruh pasukan Arcadia, itulah awal malapetaka. Raja Derodes ketika itu dilamun gundah, dia dihadapkan pada dua keputusan yang sulit, menyerahkan anaknya secara paksa atau negeri Crondithus akan dilumatkan oleh tentara Arcadia.


Di tengah kegalauannya, Raja Derodes sempat mengirimkan surat kepada sahabat baiknya di tenggara, Raja Darius dari bumi Persia. Pada masa itu kerajaan Persia juga ditakuti sebagai salah satu kerajaan besar yang memiliki pasukan kuat dan sangat diperhitungkan, Derodes berharap, siapa tau sahabatnya itu bisa memberikan pertolongan, surat balasan segera diterimanya, Raja Darius menyarankan mereka untuk segera mengungsi ke Persia sementara waktu.


Pada suatu waktu yang telah ditentukan, akhirnya Raja Derodes dan keluarganya segera berangkat, dalam rombongan itu ikut pula wanita, anak-anak, dan orang-orang tua yang lemah, rombongan mereka hanya dikawal oleh sepasukan kecil prajurit istana yang terpilih, sementara sebagian besar pasukan kerajaan, beserta pria-pria muda yang kuat tetap tinggal di Crondithus, untuk mempertahankan tanah air.


Mereka berangkat di waktu malam, agar tak menarik perhatian, mereka pun sengaja memilih jalur yang tak biasa, penuh marabahaya, melewati hutan dan meniti bibir jurang terjal, tanpa mereka sadari rencana pengungsian itu sebenarnya telah diketahui, rupanya Yuzord telah menempatkan begitu banyak telik sandi di kalangan istana Crondithus, diam-diam mereka diikuti.


Sampailah pada suatu pagi yang berkabut, saat rombongan Crondithus melintasi wilayah Tanzilvenia, mereka yang sudah kelelahan, berhenti sejenak di tepi sungai Libron, mereka mendirikan tenda-tenda peristirahatan, mengambil air untuk bekal persediaan, sekalian juga memasak dan memberi minum kuda-kuda yang letih. Mereka tak pernah menyangka bahwa berkompi-kompi pasukan Arcadia telah semakin dekat.


Tak lama kemudian, dengan mudahnya mereka dapat ditemukan, tak ada perundingan apapun, perkemahan mereka langsung diserbu, terjadilah bentrokan yang tak seimbang, rombongan yang didominasi wanita, anak-anak dan orang tua itu jelas bukan lawan berarti bagi tentara Arcadia yang unggul segala-galanya dalam perang.


Mereka hanya bisa mempertahankan diri sebisanya, pasukan terpilih pengawal Raja Derodes yang jumlahnya juga tak seberapa dengan cepat pula dapat dilumpuhkan, tak ada ampun pasukan Arcadia yang beringas itu menyerang membabi buta, membantai wanita, anak-anak, dan orang tua, malangnya Raja Derodes dan sang Ratu ikut terbunuh dalam serangan mendadak itu.


Ketika perperangan berat sebelah itu hampir berakhir dengan kekalahan telak dari pihak Crondithus, seseorang dari pasukan Arcadia melihat ada sosok berbalut kain kelabu menudungi kepalanya, telah menaiki kuda menyeberangi sungai Libron yang deras, lalu menghilang ke dalam hutan di seberang, mereka geram karena terlambat menyadari, bahwa orang berkerudung yang melarikan diri itu adalah Amfimetes, putri yang mereka cari.


Tak mau kehilangan mangsa, mereka segera menarik kekang, air mengeruh saat ratusan kuda pasukan Arcadia berhamburan membelah arus sungai Libron, suaranya mengerung-ngerung ketika melintang jeram, dalam sekejap saja mereka telah sampai di seberang, tetapi mereka mendadak berhenti, komandan mereka yang berada di bagian paling depan tiba-tiba mengangkat tangannya, dia yang sudah berpengalaman tentu sangat mengenal medan, menyadari bahwa hutan tua berpohon besar yang kini menghadang di depan, adalah tempat segala pantangan, itulah hutan Elfocs yang terlarang.


Awalnya mereka hendak berbalik arah, tetapi komandan mereka tau bahwa jika pulang dengan tangan kosong, itu sama saja mencari mati, tak ada tawar menawar bila menyangkut perintah Yuzord, akhirnya dipilihlah beberapa orang yang paling kuat dan paling berani, untuk menemani sang komandan, sebagian lagi diminta untuk tetap menunggu di tepi hutan, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Tak mau membuang waktu, karena takut target yang mereka kejar semakin jauh dan makin sulit ditemukan, merekapun memberanikan diri menerobos hutan, melanggar larangan kuno leluhur, mereka berderu mengejar hanya bermodalkan jejak-jejak ladam kuda Amfimetes yang tercetak di tanah.


Rasanya benar, selama berabad-abad lamanya hutan itu mungkin tak pernah dimasuki manusia, suasananya terasa asing, gelap dan pengap, banyak suara aneh yang tak pernah mereka dengar sebelumnya, suara-suara itu sekilas malah terdengar seperti menertawakan kenekatan mereka, ditambah pula aroma busuk dari lumpur rawa yang dipenuhi tetumbuhan yang mati.


Laju kuda mereka terhambat, karena jarak pandang mereka terbatas, di semua sisi hutan dipenuhi kabut tipis mengganggu, asap putih itu bergerak-gerak tertiup angin lembah Samorath yang dingin, membuat mereka berimajinasi membayangkan sosok hantu wanita bergaun yang gentayangan, walaupun tak ada yang saling berbicara di antara mereka, tapi masing-masing mereka merasakan hal yang sama, dalam hati mereka sadar bahwa ada sesuatu yang jahat sedang mengintai penuh ancaman, namun tak terlihat wujudnya.


Pasukan pengejar yang berjumlah lima belas kuda itu, mendadak berhenti ketika terdengar suara pekikan seorang wanita, nyaring menggema terpantul di celah pepohonan, mereka saling berpandangan dan menelan ludah, tak lama kemudian terdengar pula suara bergemerusuk, seperti semak yang diterobos dengan rusuh, sesuatu yang berlari ini menuju ke arah mereka, langsung saja pedang-pedang mereka terloloskan dari pinggang, bersiaga.


Mereka terkejut bukan main, saat seekor kuda putih melompat dari semak, rupanya itulah sumber suara berisik yang mereka waspadai, kuda itu berlari ketakutan entah dikejar apa, mereka langsung tau bahwa itu kuda Amfimetes, tetapi pelananya kosong, putri itu tak ada, maka secepat itu pula mereka menyimpulkan bahwa suara pekikan wanita tadi pastilah suara Amfimetes.


Dalam situasi mencekam itu, sang Komandan harus segera membuat keputusan yang berisiko, apapun alasannya Amfimetes harus ditemukan, walaupun mungkin hanya seujung jarinya saja yang masih tersisa setelah disantap binatang buas, tetap harus ada yang dibawa pulang, maka dia segera meminta bawahannya untuk ikut menerobos semak bersamanya, menuju sumber suara jeritan tadi, tempat asal kuda Amfimetes berlari ketakutan.


Benar saja tak jauh dari sana, tepatnya di bawah sebuah pohon Edenwood raksasa, mereka menemukan wanita itu, dia telah terduduk di tanah, tubuhnya tersudut di akar, sebelah kakinya menolak-nolak tanah berusaha ingin bangkit tapi kurang tenaga, sementara sebelah kakinya lagi terlihat kaku, ada cidera yang didapatnya mungkin saat dia terjatuh dari kuda, wajahnya pucat meringis, giginya gemerutukan bagai kedinginan, seolah baru saja melihat hantu.


Dengan penuh kewaspadaan, pasukan Arcadia berlompatan turun dari kuda, mereka melangkah perlahan melingkarinya di pokok akar, sesaat mereka terkagum memandang wanita itu, meski Amfimetes dilanda ketakutan, namun sama sekali tak menghilangkan kecantikan di wajahnya, seandainya saja ada sayembara adu tanding satu lawan satu demi memperebutkan wanita ini, pastilah masing-masing pribadi prajurit itu akan ikut serta bertarung dengan suka rela, tidak peduli Yuzord sekalipun akan mereka lawan.


Tetapi dari gelagat Amfimetes yang tak biasa, membuat mereka sadar, bahwa sebenarnya bukan kehadiran merekalah yang membuat wanita itu ketakutan, Amfimetes malah terlihat tak peduli pada pasukan Arcadia yang mengepungnya itu, dia lebih tampak seperti orang kesurupan, matanya yang melotot bergerak ke segala arah, seperti mengawasi marabahaya yang sedang mendekat, pastilah ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sesuatu yang tadi membuatnya menjerit, terlempar dari kudanya yang telah duluan kabur.


Ketakutan sang putri seolah menular pada mereka, itu terasa saat kuda-kuda mereka mulai bertingkah gelisah, meringkik liar dengan kaki depan yang kadang terangkat. Amfimetes tiba-tiba menunjuk ke atas pepohonan, membuat mereka serta-merta mendongak ke atas.


Itulah puncak dari segala rasa ketakutan, yang membuat semuanya terkesima, di atas dahan-dahan pohon yang tinggi, dengan dedaunan tebal terselimuti kabut yang menghalangi matahari, sesuatu yang ditunjuk Amfimetes itu, samar terlihat sisiknya yang hitam, melapisi lingkar badannya yang sebesar pohon Sagu, badannya itu tak hanya besar tapi panjang sekali karena terlihat berselang-seling, melilit-lilit dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain, dan entah di mana ujung ekornya tak diketahui, tak terbayangkan sama sekali sepanjang apa jika tubuh mahkluk di atas itu dibentangkan.


Kepala binatang itu kini mulai terjulur perlahan ke bawah, lidahnya yang bercabang menimbulkan suara berdesis, di sekitaran lehernya ada selaput yang tiba-tiba bermekaran seperti kipas, mulutnya menganga menampilkan taring-taring yang basah dengan liurnya yang menetes, sontak membuat kuda-kuda pasukan Arcadia berhamburan ke segala arah, meninggalkan tuannya.


Prajurit Arcadia yang terkenal pemberani kini bagai pecundang, mereka tertatih mundur dengan kaki yang mendadak sulit digerakkan. Demi tuhan, belum pernah mereka bertemu makhluk melata sebesar itu, sang Komandan yang pucat refleks meloloskan pedangnya dari pinggang, diikuti juga rekannya yang lain.


Mereka menjerit, karena tak menduga dalam satu gerakan yang lebih cepat, ular itu telah mencomot tubuh Komandan mereka, sambil menelan sang Komandan, dari arah yang tak terduga ular itu kini menyabetkan ekornya seperti cambuk, meratakan formasi mereka, hingga tubuh puluhan tentara Arcadia itu terlempar, menghantam batang lalu terjungkal di akar, kebanyakan mereka langsung mati karena tulang-belulang mereka remuk, dan ada beberapa orang yang masih berusaha berdiri, terseok-seok, tapi itu hanya sementara, karena kepala ular itu cepat kembali menyergap mereka, hutan terasa mencekam dipenuhi lolongan kematian, hingga suara mereka hilang satu persatu, diam tak bernyawa lagi.


Hanya Amfimetes yang tersisa, dia masih bersimpuh di akar pohon di tempatnya semula, mengatup mulutnya menahan tangis, menyaksikan satu persatu tentara Arcadia itu terbunuh di hadapannya, gawatnya kepala ular itu kini telah menoleh kepadanya. Sungguh celaka, dengan sebelah kakinya yang cedera, jangankan lari, rasanya berdiripun sulit.


Kepala ular itu makin mendekat kepadanya, lidahnya yang bercabang, keluar-masuk dari mulutnya yang meneteskan lendir beracun, suaranya berdesis membuat tengkuk bergidik, hanya tinggal beberapa meter saja, lidah bercabang itu terjulur-julur ingin menjilatinya, kini ular itu telah menegakkan leher setinggi-tingginya, dengan mulut yang terbuka bersiap melahap sang putri.


Amfimetes yang sudah tak berdaya itu, tak ada lagi yang bisa dilakukannya, dengan air mata yang berlinang dan nafas terputus-putus, dia memejamkan mata pasrah menunggu ajal, pandangannya kontan menjadi gelap, tapi tiba-tiba ia mendengar suara berdebum yang keras seperti pohon tumbang, ketika dia sedikit memicingkan mata didapatinya kepala ular itu telah terbanting jauh darinya, rupanya ada sesuatu yang menerjang kepala ular.


Ketika Amfimetes membuka mata sepenuhnya, ia terbelalak memandang sosok asing yang sudah berdiri di dekatnya, seorang pria bertubuh jangkung, berpenampilan selayaknya suku primitif pedalaman, dia memakai semacam bulu-bulu dari burung yang dirajut berjumbai-jumbai menutupi pinggangnya hingga nyaris ke lutut. Di pinggangnya yang bersabuk akar pohon itu terselip sebilah senjata seperti pedang pendek, lebih mirip belati, sementara gagangnya dibuat dari tulang hewan yang diukir.

__ADS_1


Hanya pinggangnya saja yang tertutupi, sementara ia bertelanjang dada, memperlihatkan kulitnya yang berkilat kecoklatan terbakar matahari, otot-otot di lengan, perut dan dadanya tercetak keras, menandakan pemiliknya adalah laki-laki yang kuat, tubuh kekar tak berbaju itu dipenuhi tato bermotif mosaik kuno, tato itu juga menyebar ke leher hingga ke separuh wajah bagian kiri, pada telinga kiri itu menggantung anting dari taring **** hutan yang melengkung.


Gaya rambut pria ini juga aneh, kepalanya dipapas hampir botak di bagian kedua telinga, hanya menyisakan rambut di bagian atas kepalanya saja, jambul itu memanjang dari dahinya terus ke belakang, saking panjangnya, rambut itu dikepang mengekor sampai pinggang, penampilan yang eksentrik tapi penuh daya magis.


Matanya setajam sembilu, apalagi ketika ia menyorot Amfimetes, bernuansa sinis tapi juga mengandung kecemasan, membuat putri dari Crondithus itu canggung sekaligus takut, tapi dari separuh wajahnya yang bersih tak bertato, Amfimetes menyadari bahwa pria ini sejujurnya sangat ganteng, seperti anak kepala suku yang diperebutkan gadis-gadis dari klan mereka. Amfimetes juga menyadari bahwa pria inilah yang tadi telah menghajar kepala ular yang nyaris menelannya, dan ia berani menyimpulkan, pria ini mungkin bukan orang jahat.


Hanya itu sedikit kesan yang bisa ditangkap Amfimetes dari pertemuan pertama mereka, namun pemuda suku pedalaman itu jelas tak peduli pada apapun penilaian Amfimetes terhadapnya, dia lekas bersimpuh di hadapan Amfimetes, meraih tungkai kaki gadis itu yang cedera, dia mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya, sebotol ramuan penghilang rasa sakit, dia mengoleskannya tepat pada bagian kaki Amfimetes yang terluka.


Anehnya Amfimetes tak kuasa sedikitpun melawan, dia membiarkan saja kakinya itu dijamah sang pria suku pedalaman, malah dia sangat berterima kasih dalam hatinya, karena rasa ngilu yang sedari tadi menyiksanya itu kini berangsur hilang, tapi gadis itu tiba-tiba kembali mengerang ketakutan, rupanya ular besar itu telah bangkit dan berbalik lagi ke arah mereka dengan kemarahan, kepala ular itu tegak menganga tepat di punggung pemuda pedalaman yang masih bersimpuh di kakinya.


Pria itu sadar bahwa ada sesuatu yang mengancam di belakangnya, tapi hebatnya ia tetap bersikap tenang, bahkan ketika ular itu telah mengambil sedikit ancang-ancang untuk mencaplok, pria itu cuma berdiri tanpa membalikkan badan, namun secara mengejutkan dari punggungnya tiba-tiba merentang sepasang sayap berwarna merah, diiringi suaranya berdenting-denting seperti ratusan logam yang digesek bersamaan.


Tak hanya Amfimetes yang terkejut dengan kemunculan sayap itu, namun ular itu pun rupanya demikian, sikap ular itu berubah drastis, seperti kucing melihat sapu ijuk di tangan emak kita, tanpa ada perlawanan lagi kepala binatang bersisik hitam itu langsung berbelok arah, lalu merayap menjauh, hanya terdengar suara gemerusuk tetumbuhan seperti ditiup topan, saat tubuhnya yang panjang itu meliuk-liuk di sela pepohonan, hingga lenyap tak terdengar lagi, kini benar-benar hening, yang tersisa hanya Amfimetes dan pemuda suku pedalaman itu, mereka saling berpandangan.


***


Prince Fenedia, demikianlah namanya, dia memang seorang pangeran, karena dia merupakan salah satu dari putra Raja Boria pemimpin bangsa Wingsy, bangsa bersayap yang legendaris namun misterius, selama ini mereka sengaja bersembunyi, menghindari kontak dengan manusia, membangun peradaban mereka sendiri di dalam perut gunung Samorath.


Fenedia adalah pengeran malang yang tak pernah diharapkan, sejak kecil dia sudah dikucilkan dan dijauhi bangsanya sendiri, karena terlahir tanpa sayap di punggungnya, itu bukanlah hal yang biasa dan bisa diterima, umumnya bangsa Wingsy memiliki dua warna sayap, bulu hitam untuk pria dan bulu putih untuk wanita, sayap itu permanen dan akan terus melekat sejak lahir sampai mereka mati, itulah kebanggaan mereka.


Fenedia tidak seperti mereka, dia sudah dianggap cacat sejak lahir, tak ada apa-apa di punggungnya, masa kecilnya dilalui dengan perundungan, bahkan ibunya sendiri seperti menyesal telah melahirkannya. Sepanjang waktu dia hanya menjadi bahan olokan anak sebayanya, bahkan saudara-saudara kandungnya sendiri pun ikut menjahatinya.


Ketika berumur sepuluh tahun, dia sudah terusir dari istana karena dianggap aib yang diramalkan akan mendatangkan kesialan bagi kehidupan istana, Raja Boria hanya membuatkannya sebuah gubuk sederhana yang terletak jauh di luar kota Mynca, hanya seorang pelayan wanita yang dipekerjakan untuk mengurus makannya, hidupnya tak ubah seperti binatang ternak. Dia bebas melakukan apa saja di gubuk itu, kecuali satu hal yang dilarang, yaitu mendekati kota Mynca, itu saja.


Setiap hari Fenedia hanya termenung di jendela gubuknya yang reot, menatap kota Mynca dari kejauhan, kota Mynca selalu ramai dengan aktivitas harian bangsa Wingsy, mereka terbang hilir mudik memenuhi angkasa, terlihat anggun seperti peri. Kota Mynca sebenarnya hanyalah sebutan untuk sebuah bangunan bersusun raksasa yang terletak di rongga perut gunung Samorath, pada keyataannya itu lebih layak disebut sarang, bayangkan saja seperti sarang tawon.


Sarang itu menempel pada salah satu tebing batu, yang dipenuhi lubang-lubang yang berfungsi sebagai pintu, itulah rumah-rumah bangsa Wingsy yang bertumpuk seperti rusun, makin ke atas makin tinggi pula derajatnya, hingga yang paling tinggi adalah istana raja mereka.


Mynca adalah kota tanpa jalan raya, itulah kenapa Fenedia memang tak akan bisa tinggal di sana, setiap pagi dari jendela gubuknya dengan kepolosan kanak-kanak, Fenedia selalu berkhayal bisa terbang seperti kaumnya, tapi dia sadar, itu mustahil, dia hanyalah Wingsy cacat yang terbuang, tak ada yang menyayanginya, tidak ada keluarga apalagi teman.


Hanya Noziya satu-satunya bangsa Wingsy yang mungkin peduli padanya, pelayan wanita bersayap itu adalah Wingsy pengasuhnya di gubuk, dia datang setiap pagi dan sore membawakannya makan, Noziya juga melakukan banyak hal untuknya, mengajarinya tulis baca, terkadang ia merajut bulu untuk pakaiannya, merapikan rambutnya, merajamkan tato di tubuhnya, semua dilakukan wanita itu, agar penampilan Fenedia tetap gagah seperti Wingsy yang lain, walau ia tak bersayap.


Jika Noziya sudah pulang, tinggallah dia sendiri di gubuknya yang sepi, maka demi mengusir jenuh, dia akan berjalan menuju pintu Bolmor. Itu sebutan untuk mulut gua yang merupakan satu-satunya akses normal yang dapat digunakan keluar masuk dari atau ke perut gunung Samorath, hanya Fenedia yang menggunakan lobang batu itu, karena dia tak bersayap, dia hanya bisa berjalan terseruk-seruk di celah gua yang sempit, sementara kalau saja dia bersayap seperti bangsa Wingsy yang lain, tentu dia akan memilih jalur yang lebih terhormat, yaitu melalui gerbang Metmiroz Peaks di puncak Samorath yang indah.


Tak ada yang menggunakan pintu Bolmor, hingga hanya sesekali saja, satu atau dua Wingsy Rangers berjaga dengan malas-malasan, tetapi sama seperti bangsa Wingsy yang lain, penjaga pintu itu juga tak pernah mempedulikan Fenedia, anak kecil cacat tak bersayap itu dibiarkan saja keluar masuk, bahkan kalau dia sudah keluar mereka berharap bocah itu tak akan kembali lagi, para penjaga itu selalu berharap dia mati diterkam Harimau di hutan Elfocs, tetapi dia selalu kembali setiap sore.


Di luar perut Samorath itu pula, dia akan tahu ternyata ada banyak sekali mahkluk-makhluk yang terlahir juga tak bersayap, Kelinci, Mongose, Kancil, dan semua hewan mamalia yang ditemuinya yang dia sendiripun tak tahu apa namanya, semua penemuannya itu membuat dia merasa bahwa dia tak sendiri.


Seiring berjalannya waktu, bahwa kehidupannya yang keras di alam liar telah mencetaknya menjadi pemuda yang gagah dan ulet, dengan sepasang kakinya yang jauh lebih kuat, karena dia sudah terbiasa berlari naik turun gunung memakai kakinya, tidak seperti bangsa Wingsy lainnya yang lebih banyak menggunakan sayap mereka untuk bergerak.


Tangannya juga jauh lebih kuat karena hampir setiap hari pula digunakan menebang lalu membelah kayu untuk api memasak, memecah batu membuat saluran demi mengalirkan air dari anak sungai Libron agar ladangnya di lereng Samorath tak kering saat kemarau, tangan kuat itu juga yang digunakannya untuk berburu, terkadang harus bertarung melawan bermacam-macam binatang buas berwujud aneh yang tak akan ditemukan di hutan manapun selain di Elfocs.


Demikianlah selama bertahun-tahun ia menjalani hidupnya, tanpa mengeluh, tanpa sedikitpun membenci bangsanya yang selama ini telah memperlakukannya dengan semena-mena.


***


Hari itu, tak biasanya pagi-pagi sekali Noziya datang ke gubuknya dengan bermuka sedih, dia membawa kabar dari istana bahwa ibunya Ratu Behdethia sedang sakit keras, semua tabib istana telah berusaha keras, namun mereka angkat tangan, sakit itu bukan sakit biasa, melainkan tenung hitam yang hanya bisa diobati oleh pengirimnya sendiri. Nenek Molgonora, demikianlah nama penyihir yang diduga telah mengirimkan penyakit itu.


Noziya mengatakan, di sisi barat gunung Samorath, di tepi air terjun Westermoth, di sanalah Wingsy tua bernama Molgonora itu dipercaya tinggal, selama tiga hari ini seluruh Wingsy Rangers telah dikerahkan untuk mencarinya, tetapi tak ada seorang pun yang berhasil menemukannya. Noziya menyarankan tak ada salahnya juga bila Fenedia ikut membantu mencari nenek sihir itu, siapa tau dia lebih beruntung.


Mendengar semua cerita itu, tak berpikir panjang Fenedia bergegas meninggalkan gubuknya, melewati lorong Bolmor, keluar dari perut Samorath, dengan langkah cepat bahkan setengah berlari memutari gunung, menuju Westermoth. Air terjun itu sangat indah tapi juga mematikan, airnya menyeruak dari lekukan dua buah tebing yang berhimpitan, tingginya tak kurang dari 2000 meter, kemudian tanpa ada tingkat-tingkatan lagi air itu langsung jatuh bebas menembus awan yang menghiasi jurang. Inilah hulu dari sungai Libron.


Ketika Fenedia sampai di sana, dia agak kebingungan karena tak menemukan adanya tanda kehidupan di tempat itu, kecuali sebuah lubang goa di dekat badan air yang jatuh berembun dipecah angin, hanya rongga kecil itulah yang menarik perhatiannya, mungkin itulah tempat tinggal Molgonora yang dimaksud Noziya.


Seandainya saja ia bersayap tentu mencapai celah batu itu bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi dia hanya punya tangan dan kaki, maka tak ada pilihan, Fenedia segera merayap-rayap menuruni tebing yang licin berlumut, terkadang kakinya menginjak batu yang rapuh, longsoran batu yang jatuh itu segera hilang ditelan dalamnya jurang, tapi dia sama sekali tak gentar, semua demi ibunya, jurang Westermoth yang berbahaya itu bukanlah masalah.


Dengan bersusah payah, akhirnya dia berhasil mencapai celah batu itu, ada sedikit tempat yang lebar untuk berpijak, hingga dia bisa berdiri di sana dengan agak leluasa, secara hati-hati ia mengintip ke dalam celah itu, ternyata memang ada ruangan cukup besar di dalam sana seperti lorong yang panjang entah kemana ujungnya, tak kelihatan karena kondisinya benar-benar gelap.


Menurut cerita Noziya tadi pagi di gubuknya, seluruh Wingsy Rangers paling tidak sudah tiga hari mencari penyihir itu di kawasan air terjun ini, tentu mereka juga sudah memeriksa celah batu ini, tapi faktanya mereka tak menemukan apa-apa, pemikiran inilah yang mulanya membuatnya ragu untuk masuk ke dalam celah batu, namun kembali terlintas di benaknya wajah Ratu Behdethia, ibunya yang sedang terbaring kepayahan, inilah yang kemudian membulatkan tekadnya.


Hal pertama yang dilakukannya adalah adalah memanggil dari pintu batu, dan dia terkejut begitu saja pada suara misterius yang menjawabnya, suara itu menanyakan maksud kedatangannya, Fenedia mengatakan secara singkat bahwa ia ingin bertemu Molgonora, suara itupun kemudian menyuruhnya masuk.


Baru selangkah saja kakinya masuk, tiba-tiba rongga batu yang gelap itu menyala terang, cahaya dari lampu minyak yang menyala secara tiba-tiba di dinding goa, cukup untuk menampakkan seluruh isi ruangan, banyak perabotan seperti tembikar yang tersusun rapi.


Di sebuah dipan yang terbuat dari batu, duduklah wanita tua bersayap dengan jubah bulunya yang berumbai, wajahnya cekung penuh kerutan, hidungnya bengkung seperti paruh Betet, dia memegang tongkat kayunya dengan jemari tangannya yang kurus seperti ranting, sementara sepasang sayapnya terkulai lemah di punggungnya, warna bulunya yang putih nyaris berubah kelabu pertanda Nenek Wingsy ini umurnya memang sudah sangat tua. Kemudian mereka pun segera terlibat percakapan dalam bahasa mereka, yang jika diartikan beginilah artinya,

__ADS_1


"Akulah Molgonora, mengapa kau mencariku Pangeran muda?"


"Engkau pasti sudah tau Nek, bahwa ibuku sedang sakit, demi kesembuhannya, Aku datang padamu untuk meminta tolong, sudilah kiranya engkau bermurah hati memaafkan kesalahannya, dan memberikan obatnya padaku."


"Lebih baik, kau pulang saja Pangeran, aku tak bersedia memberikan obatnya, itu pembalasan yang setimpal dariku untuk Ratu yang jahat itu. Tempo hari Ibumu menghukum wanita yang dituduh mencuri giwangnya, wanita muda yang tak bersalah itu dipotong sebelah sayapnya hingga cacat seumur hidup, rusak sudah masa depannya, dia tak bisa terbang lagi, tak akan ada pria yang mau mengawininya, dan wanita malang itu adalah cucuku."


Fenedia terdiam beberapa lama, dengan bermacam pikiran yang berkecamuk, namun tak lama kemudian dia bersimpuh di hadapan Molgonora.


"Nek, seandainya saja aku punya sayap, aku tak keberatan memotongnya untuk menebus kemalangan cucumu itu, tapi hanya tanganku ini yang kupunya, kalau yang kanan ini tak cukup aku tak keberatan menyerahkan tanganku yang sebelah kiri." Fenedia menyodorkan kedua kanannya.


Molgonora terkikik, dan ia memandang sinis, lalu katanya,


"Mengapa kau peduli pada Ratu yang jahat itu, bukankah Ibumu itu sudah menelantarkanmu sejak kau lahir? Bahkan dia menyesal pernah mengandungmu di perutnya, harusnya kau senang melihat dia menderita dengan penyakitnya itu."


"Aku menyayanginya, kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, bahkan semua rakyat di negeri ini, tak peduli seperti apa mereka memperlakukanku selama ini, aku menyayangi mereka. Ini! Ambillah tanganku, tapi mohon berikan obatnya padaku." Sambil menyorongkan tangan kanannya, tangan kirinya telah bergerak pula mencabut belati dari pinggangnya.


Molgonora terpingkal, tubuhnya yang renta itu bergoncang karena tawa, katanya lagi,


"Aku tak butuh tanganmu, buat apa juga, itu tak akan mengembalikan sayap cucuku yang telah hilang, cuma yah, aku sedikit terkesan dengan kutulusanmu." Molgonora mengeluarkan sesuatu dari balik jubah bulunya, sebuah botol kecil seukuran putik labu, berisi cairan berwarna merah.


"Seandainya aku menginginkan nyawamu untuk ditukar air tirta ini, apakah kau mau memberikan nyawamu itu?"


Fenedia terdiam berpikir keras, tak lama dia pun menjawab,


"Ya, aku tak keberatan, tapi kalau aku mati sekarang, siapa yang nantinya akan menyerahkan obat itu ke istana? Jadi biarkan aku membawanya terlebih dahulu, setelah itu aku akan kembali ke sini, untuk menyerahkan nyawaku."


Molgonora tertawa lagi. Katanya,


"Pengeran yang pintar, tapi bagaimana aku tahu kalau kau tidak membohongiku?"


"Untuk apa aku membohongimu Nek? Di wilayah Samorath yang terkurung hutan Elfocs ini, aku tak akan bisa lari ke mana-mana, dan tak ada juga tempat persembunyian untukku, kau pasti bisa dengan mudahnya menemukanku, percayalah tidak akan ada yang mempermasalahkan hilangnya diriku seandainya aku mati di jurang ini, karena seluruh bangsa bersayap ini memang tidak pernah menganggapku ada."


Molgonora tersenyum, "Baiklah kalau memang itu maumu, sekarang ikut aku!" katanya, lalu dia bangun dari dipan batunya, tangannya yang kurus itu memegang tongkatnya dengan gemetaran sebagai penahan tubuhnya yang bongkok, dia berjalan dengan berat seperti menggusur kakinya di lantai.


Molgonora membawa Fenedia keluar dari celah batu, keduanya kini telah berhadapan dengan mulut jurang di samping air terjun Westermoth yang bergemuruh, lalu katanya, "Kalau kau jatuh ke sana, kemungkinan besar kau pasti akan mati."


"Ya, kecil sekali kemungkinannya aku hidup."


"Nah, ini ambillah obatnya, kau sudah tidak perlu lagi kembali kemari untuk mengantar nyawamu yang tak berharga itu, tapi silahkan kaucoba sendiri keberuntunganmu." Selesai menyerahkan botol itu Molgonora kemudian menyodokkan ujung tongkatnya, Pangeran muda itu tak sempat berkelit sama sekali. Aneh, tenaga dorongan tongkat penyihir tua itu kuatnya tak masuk akal, membuat Fenedia hilang keseimbangan, lalu terjerumus ke dalam jurang.


Tubuhnya langsung terjun bebas, bersalto-salto tak terkendali, meluncur dengan cepat menembusi awan-awan tipis yang basah, berlomba dengan air terjun Westermoth yang jatuh bergemuruh, sayup-sayup telinganya masih dapat mendengar suara tawa Molgonora, "Semoga kau tidak mati pangeran!" Begitulah teriakannya terdengar bergema menyelingi tawanya yang bernada melecehkan.


Jelas kata-kata penyihir itu sama sekali tidak artinya, karena Fenedia tau dia akan segera mati, tak lama lagi saat tubuhnya menghantam cadas di dasar air terjun ini, dagingnya akan tercabik, dan tulangnya copot dari persendian. Semakin ke bawah semakin terlihat pula olehnya dasar dari jurang itu, genangan air sungai Libron yang dangkal dipenuhi batu-batu yang lancip. Sial, karena dia justru tak meluncur menuju genangan air, tapi malah ke arah seonggok batu yang besar dan pipih pula ujungnya.


Begitulah ia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir. Tapi secara tak diduga, terjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya selama ini, sebelum nyaris beberapa meter saja badannya terbelah oleh batu yang tajam itu, Fenedia merasakan gerak jatuhnya melambat, lalu terhenti begitu saja di udara, sensasi aneh itu serentak munculnya dengan rasa sakit yang luar biasa dari punggungnya yang terasa dikoyak, tetapi koyakan itu menyeruak dari dalam tubuhnya sendiri, saat logam-logam berwarna merah laksana ribuan pedang berdenting-denting bersusun rapi membentuk sayap yang indah, rentangan sayap itulah yang mengehentikan laju jatuhnya. Hingga ia mampu mengambang di udara.


***


Fenedia, mengamati bayangan tubuhnya sendiri yang terpantul di muka air, dia sangat terpesona pada ribuan pedang yang bersusun seperti bulu-bulu sayap yang tumbuh di kiri dan kanan punggungnya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang dari mana asalnya sayap ajaib berwarna merah itu. Jangan-jangan selama ini sayap itu sebenarnya sudah ada, namun bersembunyi dalam tubuhnya tanpa sepengetahuan, lalu hari ini muncul secara menakjubkan demi menyelamatkannya dari kematian.


Dia pun mencoba naik kembali ke puncak Westermoth, menggunakan sayap merah di punggungnya, dengan bersusah payah bahkan harus menubruk-nubruk tebing, dan terjatuh beberapa kali. Sewajarnya orang baru belajar, ia sangat kesulitan mengendalikan sayap itu, walau pada akhirnya Fenedia mampu sampai di atas, dengan penuh kebanggaan pada dirinya sendiri.


Sesampainya di puncak Westermoth, ia dibuat terheran, goa tempat tinggal Molgonora itu sudah tak ada, lenyap tak berbekas kecuali hanya dinding batu saja, tak ada lubang apa-apa di sana, dan secara aneh pula sayap merah itu menciut masuk kembali bersembunyi ke dalam punggungnya.


Dia benar-benar tidak mengerti dengan semua kejadian yang baru saja dialaminya, semuanya terasa bagai mimpi, Molgonara dan goanya yang hilang tiba-tiba, lalu sayap merah yang dia sendiri tidak tau bagaimana cara mengeluarkannya lagi, sempat terpikir olehnya untuk melompat kembali ke dasar Westermoth, tapi dia takut mati konyol. Akhirnya dia pulang dengan membawa sejuta pertanyaan yang tak ada jawabannya, sambil mendongkol tentunya.


Di gubuk, sepanjang malam ia dilanda kegelisahan yang luar biasa, melewatkan malam yang panjang itu tanpa bisa terlelap, memikirkan ibunya yang sakit, dia tak bisa menyerahkan obat itu karena dia dilarang mendekati kota Mynca, larangan itu masih berlaku bahkan setelah empat belas tahun dia terkucil di gubuk butut ini, tak sabar rasanya ingin menunggu pagi, berharap besok Noziya datang menyambanginya.


Keesokan hari, pagi-pagi sekali Noziya sudah datang dengan membawa keranjang makanan, wajahnya sangat cerah, tidak seperti pagi kemarin, Fenedia yang terheran segera bertanya soal kondisi kesehatan ibunya, tapi dia terkejut, ketika pelayan wanita itu mengatakan bahwa Ratu Behdetia sudah sembuh.


Fenedia yang terheran-heran lekas memeriksa botol yang didapatkannya kemarin dari Molgonora, tapi botol obat itu masih ada, lalu bagaimana ceritanya sang Ratu bisa sembuh, dan apa pula kegunaan obat itu kini, bukankah sudah tak ada artinya lagi. Setelah berpikir keras akhirnya Fenedia menitipkan obat itu kepada Noziya, agar diberikan kepada wanita muda yang dihukum dengan dipotong sayapnya. Barangkali obat itu berguna untuknya.


Demikianlah pagi yang cerah itu diakhiri dengan kisah luar biasa dari Fenedia, soal pengalaman spiritualnya bertemu dengan Molgonora yang ghaib, hanya cerita kemunculan sayap merah itu saja yang tetap dirahasiakannya dari Noziya, namun itu sudah cukup untuk membuat pelayan itu pulang membawa keceriaan yang meluap-luap. Ia punya bahan yang menarik yang akan disampaikannya kepada Ratu Behdetia.


Setelah kepulangan Noziya, Fenedia bergegas kembali menuju Westermoth, ia sampai di sana menjelang tengah hari, di tepi jurang yang menganga berkabut itu, ada bianglala yang indah, spektrum tujuh warna itu pastilah tercipta dari cahaya matahari yang terbiaskan oleh embun air terjun, keelokannya seolah memberinya keyakinan, maka dengan penuh kebulatan tekad ia tak ragu lagi untuk molompat. Mencoba mengenali siapa dirinya, mengungkap rahasia yang terpendam sekian lama, dan sayap merah yang fantastis itu lekas berkembang membawanya terbang.

__ADS_1


***


__ADS_2