Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
16.Dietary


__ADS_3

Masih melanjutkan perjalanan mereka ke kampus yang entah mengapa rasanya tak kunjung sampai, mungkin kita memang tak dapat menyangkalinya, bahwa hidup hanyalah perjalanan, perjalanan sarat akan cerita, maka hidup adalah jalinan cerita-cerita sepanjang perjalanan, penuh lakon dan penokohan yang terkadang ambivalen, hampir seperti tokoh utama kita Jocelin yang kali ini menyetir hanya mengenakan kemeja hem-nya saja.


Jo begitu karena suit jacketnya yang hitam dan berkelas itu dipakai Bernardina, gadis itu mengatakan dia suka jas itu dan tak mau mengembalikannya.


Bernardina sudah tak sedih lagi, dia juga telah membersihkan semua make-up yang tercemar airmatanya tadi, kini wajahnya hanya polosan dan natural, walau matanya masih sembab, tetapi kecantikan yang kontradiktif itu membuat Jo sering melirik padanya, apalagi melihat gadis itu kini dengan tenang menikmati bekal makan siang dari Pak Ramon. Semuanya terasa menentramkan.


Apa sebenarnya isi lunchbox dari Ramon tersebut, itu hanyalah ransum diet yang diolah dengan dikukus saja, Telur, Kentang, dada Ayam, Asparagus, Brocoli, Jagung manis, dan aneka sesayuran lainnya.


"Aaa'...." Dina menirukan suara seorang ibu menyuapi anaknya ketika mengumpankan sumpit bermuatan dada Ayam kepada Jocelin, maka pria itu menyambarnya begitu saja.


Sesaat makanan hambar yang miskin rempah itu mengingatkannya kembali pada daging ikan mentah di pulau Bjornova, makanan kesukaan teman-temannya, komplotan penguin bengal itu.


"Mau lagi?" tanya Dina bersiap memberinya suapan berikutnya, Jo menggeleng keberatan. Dina tertawa, lalu dia menutup lunchboxnya, dan menyimpannya kembali ke dalam laci dashboard.


"Kenapa gak diabisin?"


"Kenyang."


"Yakin makan segitu kenyang?"


"Kenyang kok beneran!"


Jo mengulum senyum sinis.


"Kenapa tiba-tiba pengen diet?"


Dina mencubit pipinya sendiri lalu menariknya sampai mentok, memamerkan kegemilan pipinya tersebut, Jo helakan nafas ringan sesaat, dia tau gadis itu sedang mengada-ngada, mungkin Jo bisa sedikit mengerti, kalau gadis itu mungkin sedang terjangkit demam Kpop yang memang sedang ganas-ganasnya mewabah pada gadis-gadis di negeri itu, seperti munculnya mitos bahwa wanita cantik itu haruslah berwajah tirus.


"Kalo diet itu, jangan mikirin mau kurusnya, tapi pikirin manfaat sehatnya, kurus itu hanya bonus dari pola hidup yang sehat, makan-makanan bernutrisi, olahraga teratur, enggak begadang, apalagi minum bir di klub.!" Sindir Jo.


"Ih Kamu, aku jarang kok klubbing, itupun gak pernah sampai mabok, aku biasanya cuma duduk diem dengerin musiknya, cuma kemaren lagi suntuk aja, abisnya dicekokin minum terus ama David."


"Oh!" Jo mencibir tak yakin.


"Beneran!"


"Yah whatever-lah, yang penting kamu harus konsisten, kurasa bagian itulah yang sulit!"


Dina mengangguk setuju kali ini.


"Nah kalo gitu abisin makannya, diet itu beda ceritanya dengan menyiksa diri karena kelaparan," kata Jo, Dina masih terpaku.


"Menu sehat itu terkadang emang gak enak, tapi jangan tiap hari juga, sisakan satu hari di mana kamu membebaskan diri untuk makan makanan yang kamu suka." Jocelin terus berkhotbah, Dina makin terpikat.


Dengan semangat terbarukan, Dina kembali meraih lunchbox-nya, dan pada akhirnya dia benar-benar memaksa dirinya untuk menelan makanan bercita rasa monoton itu, yang memang dibumbui seminim mungkin.


"Oke, kita sudah sampai." Kata Jo, saat mobil mereka telah memasuki areal universitas swasta yang maha mentereng, mobil pun berhenti di bawah payungan pohon-pohon Ketapang sepuh, peneduh parkir.


Hari tepat menunjukkan pukul 13:18 siang, masih ada waktu tersisa 12 menit sebelum mata kuliah Statistik dimulai.


"Jo!"


Dina memanggil pelan ketika ia melepaskan sabuk pengaman, suaranya terdengar seperti orang yang meminta diberi dopping sebelum bergumul dengan kenyataan, sementara pria itu terlihat memasukkan ponsel Rayhan ke kantong kemejanya.


"Jangan salah paham, aku menyimpan benda ini semata-mata karena suatu saat, ini pasti berguna seandainya kita berniat menghukum mereka dengan cara baik-baik." katanya, sementara Dina menatapnya tajam.


"Perkiraanku mungkin dia akan menemuimu nanti, tapi saranku untuk sekarang, jalani saja seperti biasa, bersikaplah normal, seolah-olah tak terjadi apa-apa."


"Tapi ...." Dina ragu-ragu.


"Well, tidak perlu takut Nona manis, karena aku tidak pernah berhenti sedikitpun mengawasimu, walaupun mungkin kau tidak tahu," kata Jo diplomatis.


Dina tersenyum, pipinya merona, tapi senyum itu kembali bertukar dengan mimik keraguan, ketika Jocelin menyerahkan remote Ferrari kepadanya.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


"Aku ada urusan yang tak bisa kutinggalkan, dan sejujurnya mungkin agak lama, aku tidak mau kau menungguku, jadi pulanglah lebih dulu," terang Jo, tapi itu spontan membuat Dina bertambah cemas.


"Sudah kubilang jangan takut, kamu harus percaya padaku!" imbuh Jocelin, Dina mengangguk mengerti, walau bibirnya meruncing.


"Nah, sekarang apakah kau mau mengambalikan Jas-ku itu?"


"Enggak mau, dengan memakai ini, setidaknya aku tetap merasa bahwa kau selalu ada di dekatku,"


"Tapi itu sangat kebesaran untukmu."


Dina menggeleng keras kepala.


"Ya terserahlah!" Timpal Jo mengalah,

__ADS_1


sambil dia melirik arloji di tangannya, isyarat non verbal bahwa Dina benar-benar harus cepat bergegas ke kelasnya, atau dia akan terlambat.


"Kunci saja dari luar, dan jangan liat ke sini!" perintah Jo, ketika Dina sudah menapakkan sepatunya di ubin parkir, Dina menurut saja, walapun dia tau Jocelin masih terkurung di dalam.


"See you again!"


Dina masih dapat mendengar pria itu menutup kebersamaan mereka, suaranya bercampur juga dengan suara beep tiga kali, indikasi bahwa mobil itu sudah benar-benar terkunci.


Kemudian, dia pun melangkah dengan apatis, tetapi gadis yang bandel ini tetaplah seorang Bernardina yang penuh rasa keingin-tahuan, maka ketika dia menoleh ke ruang kemudi pada mobilnya yang terkunci mati itu, ia mendapati bahwa pria tampan itu sudah benar-benar tak ada di sana, kecepatan cahaya telah mentransfer wujud ragawinya tersubstitusi ke dimensi lain, ke tempat yang jauh entah di mana.


Meski kejadian muskil ini sesaat membuat Dina bagai tersihir, tetapi ia merasa itu bukanlah sesuatu yang non-sense lagi, baginya Jocelin memang tidak manusiawi, janggal dan di luar nalar, dan semua ketidaklogisan itu sudah seperti santapan rohani yang nikmat baginya, maka pria luar biasa itu benar-benar telah membuatnya jatuh cinta. Setengah mati.


***


8 April 2017


Lexington. 04:33 AM


Dini hari, di tanggal yang sama, tetapi jam berselisih, karena bumi berotasi, ketika itu terdengar langkah kaki yang berjalan tegas di bawah remangan lampu, dia menyusuri trotoar, sedikit ada genangan di beberapa sisi, hingga terdengar keciprat becekan air sisa hujan malam tadi, tak lama dia sudah berhenti di hadapan pintu, di sisinya bertuliskan Blok 2 Nomor 17, pada pelat logam di dinding bata merah yang penuh sulur-sulur tenaman Ivy English, ia mengamati sekitarnya, sebelum menekan bel listrik.


Terbilang gila memang, menekan bel rumah orang di pagi buta begitu, wajar apabila lama tak ada reaksi, ditekannya bel sekali lagi, tetapi kali ini dia memanggil, "Ophel! Ini aku Nic, buka pintumu sayang!" katanya.


Engsel pintu kayu Rosewood berderik ketika digeser dari dalam, tampil wajah seorang wanita yang jelas sekali mencirikan ia baru lepas dari tidurnya, setidaknya kimono tidurnya yang kusut itu berbicara demikian.


"Wah sepertinya kau habis bergadang ya?" tebaknya mengamati wajah wanita itu nampak kuyu.


"Ya ampun Nic! Apa-apaan kau pagi-pagi begini, padahal aku baru saja terlelap."


Meski sedikit kesal wanita itu tetap membukakan pintu selebar-lebarnya, mempersilahkan pria itu masuk, selesai mengunci pintu, mereka menaiki tangga menuju lantai dua, tepatnya di ruang televisi.


Wanita itu langsung melompat ke sofa panjangnya, menarik kembali selimutnya sebelum berbaring memunggungi, sepertinya hidup wanita itu sedikit morat-marit, seperti tabiatnya yang suka tidur di sembarang tempat jika kelelahan, tak terkecuali juga sofa panjang beludru itu.


"Wah, Ophel! Sepertinya ruangan ini harus didekor ulang!" Kata pria itu mengomentari wallpaper di dinding yang di beberapa sudut nampak sudah mengelupas.


"Memang rencananya begitu, tapi aku belum sempat." sahut wanita itu dengan mata yang mulai kembali terpejam, berharap bisa tidur kembali.


Pria itu tak menanggapi, ia berjalan menghampiri jendela rendeng berkisi-kisi, menyibak sedikit tirai, hingga cincin-cincin gordyn itu bergemerincing, lalu mengamati ke luar, pada bangunan-bangunan asimetris berdempet-dempetan di seberang, suasana masih gelap, karena matahari masih premature di ufuk timur.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau ada ada di kota ini? Nic!" tanya wanita itu, sepertinya dia memang telah kehilangan treknya untuk kembali ke alam tidur, kini dia malah menengadah mengamati Nic, di jendela.


"Kemarin atau lebih tepatnya tadi malam, aku menyewa hotel di dekat sini." jawabnya tanpa balas menengok.


Wanita yang dipanggil Ophel, atau bernama lengkap Briana Ophelie itu kini sudah berubah posisi di sofanya, dia sudah duduk memeluk lutut, dan kepalanya terteleng mematri ke puncak lututnya.


"Itu sama sekali tak bisa disebut tugas, karena memang tidak menantang, kartel-kartel narkoba itu, mainan basi yang sangat membosankan, ujung-ujungnya aku malah terlibat cinta lokasi dengan Putri Mayor Andes."


"Hah? Terus apa yang akan dilakukan orang nomor dua di Calamity Seven dalam rumahku sekarang?" tanya Briana.


"Yah, sejujurnya aku juga belum tau pastinya, kenapa Albert menyuruhku ke sini, dia itu benar-benar pria yang merepotkan!"


"Wah padahal kemarin dia muncul di lab-ku."


"Benarkah, lalu apa katanya?"


Briana angkat bahu, "Dia tidak mengatakan sesuatu apapun," tambahnya.


"Aneh sekali kan dia itu? Albert pria yang pintar tetapi terkadang ***** juga, yah mungkin, terlalu naif lebih tepatnya." kata Nic.


"Memangnya kenapa?"


"Yah kautaulah, dia itu selalu merasa bisa melakukan segalanya, sampai-sampai terlalu banyak yang ingin dilindunginya, pada akhirnya dia terjebak sendiri dengan prinsip hidupnya yang aneh, terkadang aku merasa kasihan padanya."


"Walah, kau sudah pintar menggunjing orang ya sekarang?"


"Oh, aku ini tidak sedang menggunjing Sayang, tapi sekedar pandanganku saja, karena aku mulai mengerti mengapa dia menyuruhku ke mari, dia sekarang sedang sibuk mengurusi keluarga Alessander itu, ya kan?"


Briana mengangguk.


"Secara tidak langsung dia telah mendaulatku sebagai pelindungmu sekarang, karena waktunya tercurah habis-habisan kepada anak gadis Nolan itu, memang payah sekali kan."


"Ya, benar-benar gadis yang malang!" timpal Briana lesu.


"Siapa?"


"Ya anak Nolan itulah, siapa lagi!"


"Kau tau dia?"


"Tidak, tapi mungkin aku bisa membaca perasaannya, Albert itu tipe pria yang dapat membuatmu jatuh hati dalam semalam, dia pria yang baik, tampan, dan sikap perhatiannya yang luar biasa itulah yang nantinya akan menipumu."

__ADS_1


"Oiya! Kenapa? Apa menurutmu Albert bermaksud jahat pada gadis ini?"


"Bukan, aku yakin Albert tak punya niatan apa-apa, karena tidak ada juga untungnya baginya, tapi Nic, wanita itu pada umumnya mudah sekali tertipu dengan sikap manis seorang pria, apalagi orang seperti Albert ini, mereka akan salah menangkap semua bentuk perhatian berlebih ini sebagai bentuk rasa cinta atau semacamnya, tetapi Albert tidak begitu."


"Apa maksudmu Albert hanya ingin bersenang-senang sesaat lalu kemudian mencampakkannya."


"Tidak Nic, maksudku bukan begitu, tapi semua kebaikan Albert akan dipahami secara salah oleh gadis itu, padahal Albert tidak melakukan semua ini atas dasar rasa suka atau cinta kepada gadis itu, tapi lebih tepatnya hanya sekedar kasihan, dan itulah yang menyakitkan."


"Rasa kasihan?" ulang Nic.


"Ya kurang lebih begitu, Albert itu berbeda dengan kita, bisa dibilang dia hampir tidak mungkin jatuh cinta kepada wanita, tak peduli secantik apapun, karena Foton di tubuhnya itu telah menghilangkan segala hormon pemicu cinta atau apapun yang sifatnya romantisme, tetapi menggantinya dengan sifat superior yang selalu merasa bahwa mereka yang lemah terutama kaum wanita adalah makhluk inferior yang harus dilindungi, begitulah Albert itu."


"Hem! Aku merasa bahwa kau sedang menceritakan dirimu sendiri," simpul Nic tersenyum sinis.


"Ya mungkin, tapi sekarang aku benar-benar sudah tidak peduli dengan semua kelakuannya." Kata Briana sebelum ia menelentang di sofanya.


"Tapi semua teorimu itu, bisa saja salah, kan?" tukas Nic.


"Ya aku berharap semoga saja aku salah kali ini, karena jujur sekali aku benar-benar ingin melihat Albert merasakan apa itu sedih, kecewa, cemburu atau merasakan rindu dan segala macam pahit manis cinta yang tak pernah dirasakannya," terang Briana, kali ini dia sudah berbaring miring.


Mereka pun lama terdiam, dan Nic masih mengintip ke luar jendela.


"Omong-ngomong Ophel, apa kau kenal dengan orang-orang yang tinggal di rumah depan ini?" tanya Nic tiba-tiba.


"Yang mana?"


"Rumah sebelah kiri yang jendelanya bergaya Mediteran."


"Oh, tidak terlalu kenal, tapi aku cukup tau, keluarga itu baru pindah sehari yang lalu."


"Keluarga? Kau yakin?"


"Ya, sepasang anak muda, mereka mengaku begitu, mungkin baru menikah."


"Nah ini menarik."


"Memangnya kenapa Nic?"


"Aku sebenarnya sudah berkeliling tempat ini dari jam tiga, rumah Mediteran itu menarik perhatianku, sepertinya mereka itu punya niat tertentu, kupikir ada bagusnya juga kau begadang tadi, karena aku jadi tau bahwa mereka pun rupanya tidak tidur, sama sepertimu."


"Mata-mata ya?" tanggap Briana.


"Lebih tepatnya Stalker." simpul Nic.


"Oh! Ya Tuhan! Kenapa sih, selalu ada orang berniat jahat padaku."


"Banyak faktor, salah satunya karena kecerdasanmu itu, jelas ada pihak-pihak yang tak menyukainya."


"Hm, hidup memang serba salah ya?" kesah Briana, Nic menyengir setuju.


"Oh iya! Apa kau punya sedikit peralatan sayang?" tanya Nic.


"Ada!"


"Boleh pinjam?"


Briana mengambil kacamatanya di meja, lalu berdiri dari sofa, melangkah menuju sebuah lukisan bertema tetris di dinding, hebatnya dia langsung menyusun tetris-tetris itu membentuk pola tertentu, maka dinding itu tiba-tiba terbelah seperti sungai Nile, yang kemudian memampangkan macam-macam persenjataan bermutu yang tersusun rapi pada rak-rak besi di dalamnya.


"Wah, luar biasa!" Puji Nic, ketika pria itu sudah berdiri di depan barak senjata yang canggih itu.


"Oh, kamu tentu tak lupa bahwa aku juga anggota Calamity Seven, yah walaupun fungsiku hanya sebatas member support, karena aku memang tidak bisa berkelahi di garis depan seperti kalian." Briana memuji dirinya sendiri sambil tersenyum.


"Ophel-ku yang cantik kamu memang yang terbaik, bagiku ini sudah lebih dari cukup." Puji Nic sebelum ia memilih sebuah Handgun semi-otomatis, berikut magazen-nya.


Dinding geser ajaib itu kembali menutup setelah Nic mengambil apa yang dia perlukan.


"Kuharap kaupunya sedikit Anggur yang berkualitas untukku setelah aku selesai bermain-main dengan cecunguk di depan ini." kata Nic.


"Aku akan memberikanmu lebih dari sekedar Anggur." balas Briana.


Sebelum jejemarian lentiknya melonggarkan ikatan kimononya, maka pakaian tidur itu terloloskan hingga melorot ke mata kaki, adapun onggokan kimono pengganggu itu kini disepaknya secara sembarangan hingga terbuang jauh ke luar galaksi Bima sakti.


Briana langsung polos, rupanya dia tak memakai pelindung apapun di balik kimono itu, selain menyisakan kulit mulus manusianya membungkus paket-paket indah bergerinjel padat, di hamparan tubuhnya yang molek, secara spontan tersaji hangat-hangat begitu aduhai, terlampau nudis dan sangat bulat.


Wanita berkacamata itu sudah merdeka dari belenggu penutup aurat, kini tanpa sehelai benang pun, berjalan tiada risih menuju ruang pemeraman botol-botol Wine, yang letaknya hanya beberapa depa saja dari ruangan ini, malah agaknya dia sengaja memberikan aksen genit dengan melenggak-lenggokkan pinggul mandolinnya secara tak wajar, sungguh suatu pertunjukan yang sangat dewasa dan penuh daya hidup lagi menghidupkan.


Terbilang cepat, karena dia sudah kembali lagi masih dengan raga terbuka apa adanya, dia manja sekali kelihatannya, bagai anak kecil memomong boneka, demikianlah Briana memperlakukan botol Wine yang umurnya lebih uzur dari umurnya sendiri, botol Wine itu dipeluk di dada, sampai terjepit pada celah bukit super kenyal kebanggaannya, benar-benar botol tua bangka yang sangat terberkati.


"Go! Jangan terlalu lama membuat aku kedinginan," perintahnya, tak lupa juga mengerling nakal kepada Nic yang sumpah masih terpana menikmati mahakarya sedap mata ini.

__ADS_1


Maka Nic yang/atau nama tempurnya adalah Nichterides Si Langit Merah, dia yang diakui sebagai orang nomor dua dalam kelompok Calamity Seven, segera meloncat seperti Tupai melalui jendela, dengan semangat berkobar, bagai kavaleri melancarkan serangan fajar, menerobos musuh di depan, lumayanlah sebagai foreplay kecil-kecilan, sebelum serangan fajar yang sesungguhnya nanti, yang rasa-rasanya tak akan jauh-jauh dari sofa beludru itu.


***


__ADS_2