
Rumah tradisional Jepang itu terletak di markas Calamity Seven, tersembunyi di bawah naungan Arzuzile Dome, rumah berbahan serba kayu ini sengaja disediakan khusus untuk Sakichi sang pendekar.
Di sana, di atas meja beralaskan tikar Tatami, pada ruangan Washitsu yang dikelilingi pintu-pintu kertas geser, dengan dinding yang bergambar gunung dan pepohonan, Jocelin Albert sekali lagi harus menggerutu gusar, ketika raja miliknya terkena checkmate, dalam permainan Shogi (Catur Jepang) melawan Sakichi siang ini.
"Sudah, hentikan Albert-Kun, kau sedang tidak fokus," tolak Sakichi ketika Jocelin mulai menyusun kembali Pawn pada papan Shogi.
"Ayoklah sekali lagi, aku hampir mengalahkanmu tadi, kalau saja menteriku tidak salah langkah."
"Ini percuma, sama sekali tak menarik melawan orang yang memang tidak berniat menang." Sakichi segera menyingkirkan papan permainan dari meja. Jocelin yang sudah tak berkutik hanya mengalihkan perhatian dengan meneguk teh yang mulai dingin pada gelasnya.
"Kau ini aneh Albert-Kun, padahal kau punya kesempatan menang lebih besar, tapi tak mau menggunakannya."
"Kesempatan? Aku justru tak punya kesempatan, Sakichi-San."
"Kau tidak bisa membodohiku, selama ini kau sengaja mengalah, ya kan?"
"Aku sengaja mengalah? Wah tidakkah kau lihat tadi, aku bermain sangat serius."
"Serius atau tidak, kenyataannya kau adalah cahaya, yang selalu bergerak lebih cepat dari apapun, saking cepatnya terkadang membuatmu melewati waktu di mana belum seharusnya kau berada, itulah pandangan masa depan, dan kau sengaja tidak menggunakannya dalam permainan shogi melawanku, padahal harusnya kau bisa mengantisipasi semua gerakanku."
"Well, Sakichi-San! Membicarakan masa depan, tidaklah sesederhana itu, mungkin kau benar bahwa terkadang aku berlari terlalu jauh, hingga melewati waktu yang sebenarnya, tetapi apa yang kulihat sekilas pada perselisihan waktu itu hanyalah gambaran akhirnya saja, sementara begitu banyak detail peristiwa yang terlewatkan begitu saja.
"Inilah sulitnya, aku sama sekali tidak selalu bisa mengubah apa yang akan terjadi di waktu selanjutnya, karena aku tak tahu detail peristiwa yang telah terlewatkan, contohnya ketika bertanding Shogi denganmu, apa yang kulihat adalah kemenanganmu di akhir pertandingan, tidak peduli seberapa kerasnya aku mengotak-ngatik jalan anak catur ini, aku akan selalu kalah, alasannya sederhana, karena kau memang lebih mahir dariku.
"Strategi, pengalaman, segala perhitungan kau jelas lebih unggul, Itulah yang kumaksud dengan detail peristiwa yang terlewatkan, detail-detail penting ini adalah misteri yang dirahasiakan Tuhan, sengaja disembunyikan agar manusia memutuskan sendiri, dan menentukan seperti apa masa depannya."
"Ceritamu itu mengingatkanku pada guruku sendiri, Hideyoshi Sensei. Dia seorang ahli pedang yang hebat, punya intuisi dan mata bathin yang sangat tajam, selalu bisa membaca gerakan musuh, tetapi anehnya dia tak bisa menghindari kematiannya yang tragis, ketika diracun oleh mantan saudara seperguruannya."
"Memang, pada akhirnya ketajaman naluri manusia akan selalu dihadapkan pada situasi seperti itu. Kematian adalah takdir, sedangkan takdir adalah masa depan yang sangat gelap. Seperti pandanganku tentang Vileron, semuanya begitu gelap, seolah-olah aku berhadapan dengan sesuatu yang tidak boleh kuketahui, yaitu kematianku sendiri," timpal Jocelin.
"Albert-Kun, aku tau, dari tadi kau sedang berusaha menyembunyikan kegelisahanmu, karena kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri atas persoalan Rimedel, yah aku mengerti sebagai pemimpin kau pasti merasa paling bertanggung jawab atas semua anggotamu, tetapi jangan sampai persoalan ini membuatmu kehilangan ketenangan, karena itulah yang diharapkan musuhmu."
"Jika mereka menginginkan peperangan secara terbuka, terus terang aku akan dengan senang hati menghadapinya, tetapi selama ini Vileron hanya bermain kucing-kucingan dengan kita, musuh semacam ini adalah tipikal musuh yang paling kubenci."
"Kurasa tujuan Vileron memang ingin merusak konsentrasimu, lihatlah bagaimana kau dengan tanpa basi-basi menghancurkan markas Kronikel hanya karena seorang rekan kita yang hilang, dari peristiwa ini setidaknya Vileron telah mengetahui kelemahanmu, kau mudah terpancing dan sulit mengendalikan diri, jika orang-orang terdekatmu disakiti."
"Kau benar Sakichi-San, kupikir aku memang terlalu berlebihan."
"Yang terjadi biarlah terjadi Albert-Kun, setidaknya kau harus siap menerima kenyataan bahwa, mungkin saja Rimedel memang sudah mati, tapi jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua anggota yang bergabung dalam kelompok ini, dari awal harusnya sudah tau resiko terburuk dari pekerjaan mereka, nyawa mereka bisa saja hilang sewaktu-waktu, kita sedang menghadapi musuh berbahaya yang tak terhitung banyaknya, tidak hanya Vileron, tetapi dunia dan segala kejahatannya."
"Yah, aku akan menyusun kembali rencana kita ke depan, setidaknya rekan-rekan kita yang tersebar di penjuru dunia mesti diingatkan lagi."
"Nah, itu awal yang baik Albert-Kun, kurasa Bogdon pastilah sedang bekerja keras menghubungi mereka sekarang."
"Baiklah, senang sekali rasanya bisa menemanimu bermain hari ini, Sakichi-San. lain kali, aku akan mengalahkanmu," kata Jocelin sebelum dia membungkuk memberi hormat.
***
Polinesia Zone, Pacific Ocean.
Setelah menempuh perjalanan udara hampir 13 jam dari Lexington, Kentucky. Nic dan Nona Ophelie mendarat di Honolulu, ibukota negara bagian Hawaii, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali menempuh jalur laut menuju pulau Conowa, pulau inilah tujuan mereka sebenarnya. Meski terpisah jauh, namun pulau tropis yang eksotis ini masih anggota keluarga dari gugus kepulauan Hawaii.
Pulau Conowa bagaikan sekeping pecahan porselen surga yang terlempar jatuh ke bumi, hamparan pasir putihnya yang berkilau di bawah terik matahari, begitu kontras dengan hijaunya nyiur yang rapi berbaris, panorama makin teduh dengan hadangan kanopi raksasa hutan hujan tropik, yang tumbuh mengeroyok bukit.
Meski keindahannya bernilai jual tinggi, mirisnya pulau itu tak lebih dari sekedar pulau hantu yang jarang dijamah, selain minimnya akomodasi, badai ganas yang sering mengamuk di wilayah itu membuat turis berpikir dua kali untuk menjejakkan kaki di Conowa.
Satu-satunya akses menuju ke sana hanyalah menumpang kapal logistik, itupun hanya dibatasi sepuluh orang saja, kapal itu bersauh tiga hari sekali membawa kebutuhan pokok untuk sekurang-kurangnya tiga puluh kepala keluarga Suku Rongs, penduduk asli yang menetap di sana, mereka tinggal di pondok-pondok panggung kayu beratap nipah, berderet rapi melingkari teluk.
Ada cottage kecil di sana yang dikelola swadaya oleh masyarakat setempat, untuk pengunjung terbatas, penginapan asri itu tanpa listrik dan barang elektronik apapun, penerangan saat malam hanya dibantu lampu-lampu minyak. Secara keseluruhan pulau itu benar-benar masih sangat alami, tanpa jaringan seluler dan internet, memang di sanalah letak kenikmatannya, ketika hidup benar-benar terpisah dari perbudakan gadget, waktu akan lebih terfokus hanya untuk pasangan saja.
Menjelang sore, Nic mengajak nona Ophel keluar dari kamar, setelah wanita itu hanya tidur-tiduran saja, mabuk laut. Ophel masih merasa pusing setelah berjam-jam di atas kapal diombang-ambing gelombang, agaknya mencari angin sebentar memang tak ada salahnya.
Dengan hanya memakai hotpan dan kaos longgar, tentu tak ketinggalan juga topi vendora dan sendal teplak, maka dia merelakan saja ketika Nic menggandeng tangannya meninggalkan penginapan, sementara Nic sendiri, berpakaian anti pantai layaknya seorang hipster gunung, sepatu boot, celana jeans, dan kemeja denim yang dikeluarkan.
Nic membawanya menyusuri bibir pantai yang berpasir, mengabadikan beberapa momen dengan jepretan kamera digital, secara natural dibiarkannya saja Ophelie asyik berlari-larian menggoda ombak. "Tempat ini seperti syurga!" serunya.
"Tentu, dan kau adalah bidadarinya," timpal Nic sambil terus memotret. Ophel berlari menghampirinya, untuk sekedar menengok hasil foto, lalu mentertawakan pose konyolnya sendiri.
"Kau sudah segar kembali kan, Sayang?"
"Ya, rasanya semua penatku benar-benar hilang, terbayar lunas!"
__ADS_1
"Nah, kalau begitu kembalilah ke kamarmu, ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih tertutup."
"Lho! Kenapa?" Ophel terheran.
"Karena kita akan naik ke sana." Nic menunjuk pada bukit utama yang menjulang di tengah pulau, bukan main, membayangkan perjalanannya saja membuat kaki Ophel gemetaran, rute ke atas sana benar-benar menantang, karena harus mengoyak belukar dan membelah rapatnya pepohonan raksasa hutan hujan tropis.
Mulanya Ophel menggeleng takut, pastilah terbayang olehnya hutan itu dipenuhi ular dan bermacam serangga aneh. "Kita akan tahu semua rahasia pulau ini dari atas sana." Nic mencoba meyakinkannya, Ophel masih tak mau. "Aku akan menggendongmu, kalau kau malas jalan." bujuk Nic lagi.
Ophel tetap tak mau, sebelum Nic berkata, "Ya sudah, berarti kau akan tinggal di penginapan sendirian, aku mungkin baru turun malam." barulah Ophel menyerah.
"Aku tunggu di sini." teriak Nic ketika melepasnya kembali ke penginapan.
Selama dia menunggu, mata Nic tak pernah berhenti mengamati keadaan sekitar, sedari tadi sebenarnya dia memang sedang menyelidiki, sejak awal kedatangan mereka ke pulau di tengah samudera pasifik ini, sekelumit kisah yang menyelubungi Conowa sudah membangkitkan jiwa petualangannya
Nic tau, dalam beberapa tahun ini, jumlah turis yang berkunjung ke pulau ini kian berkurang, bahkan dalam dua bulan belakangan ini, tidak ada seorang pun pengunjung yang datang ke Conowa, ada desas-desus beredar bahwa mereka yang sampai ke sana, tidak akan pernah kembali lagi kecuali tinggal nama, mereka hilang dan tak pernah ditemukan lagi.
Ada yang menyebut bahwa mereka hanyut terbawa ombak ketika snorkeling, ada yang menduga mereka kesasar di hutan, lalu diterkam Macan gunung, ada lagi yang bilang mereka ditelan hidup-hidup oleh ular Phyton raksasa yang konon bersarang di bukit batu yang berdiri kokoh di belakang penginapan, isu yang lebih menyeramkan lagi menyebut bahwa penduduk asli pulau Conowa yang berjumlah tidak lebih dari seratus orang itu adalah suku kanibal, para turis yang hilang itu mungkin telah mereka jadikan satai.
Nic mendapatkan semua cerita menarik itu dari seorang anak buah kapal logistik sebelum mereka berlabuh beberapa jam yang lalu, tanpa memberitahu Ophel tentunya, kalau tidak, wah, bisa semaput wanita itu, ABK itu malah sempat menyarankannya untuk ikut pulang kalau memang ragu-ragu, bukannya takut atau kesal pada Jocelin yang kemarin merekomendasikan pulau mematikan ini, Nic malah makin bersemangat, memang liburan seperti inilah yang akan membuatnya terkesan. Akhirnya ABK itu hanya mengucapkan "Hati-hati, sampai ketemu tiga hari lagi, semoga kalian masih hidup."
Sekiranya dua puluh menit kemudian, Ophel telah muncul kembali dengan pakaian selayaknya seorang backpacker, lengkap dengan ransel dan botol air minum, Nic segera menuntunnya menerabas pepohonan kelapa, mengikuti jalan setapak pencari kayu bakar, melewati pemakaman kuno suku Rongs yang terbengkalai, terus mendaki menyibak rapatnya resam, pakis dan tumbuhan gulma.
Jalur pencari kayu bakar itu, makin lama makin pudar bentuknya, tak tercetak lagi di tanah, kecuali sudah tertimbun dedaunan dan ranting yang mengompos, suasana makin gelap ketika keduanya makin jauh menusuk jantung rimba, berjalan di lantai hutan di sela-sela kaki pepohonan berusia ratusan tahun, penuh akar-akar bergelantungan, berisik dengan suara anak Monyet dan pekik burung Rangkong yang membuat tengkuk bergidik, belum lagi nyamuknya yang bukan main mengerubuti seperti lebah.
Mereka berhenti sebentar, karena Ophel memintanya, sambil duduk di akar pohon Nic mengamati Ophel yang sedang asyik mengoleksi spesimen pelbagai vegetasi tumbuhan, dia tak segan menggunakan pisaunya untuk membeset kulit pohon, lalu menyuling getah berwarna kemerahan ke dalam tabung kaca kimianya yang mungil, "Kau sedang apa, Sayang?" tanya Nic iseng.
"Lihat Nic, kalau getah pohon ini dioles pada mata panah, cukup untuk melumpuhkan **** jantan." teriaknya antusias.
"Oh racun ya, hati-hati jangan sampai kau terkena pisaumu sendiri." Nic mengingatkan, tapi dia tak mau melarang, dia tau hutan ini adalah laboratorium raksasa bagi Ophel, bahkan sepanjang perjalanan tadi mereka seringkali berhenti karena Ophel tertarik memetik jamur-jamur yang sepertinya juga beracun, entah buat apa.
"Kau sudah selesai?" tanya Nic ketika melihat Ophel telah memasukkan peralatannya kembali ke dalam ransel, dia mengangguk.
Nic berseru, "Ayo sedikit lagi, kita akan sampai di puncak, sebelum matahari terbenam, mungkin kita bisa melihat sunset yang indah di sana."
Ophel menyetujui, dan mereka bergerak lagi.
Perjalanan makin berat, karena harus malawan berat badan sendiri ketika menanjak di medan miring 45 derajat, semakin mendekati puncak, udara semakin lembab, karena matahari terus melemah di barat, dengan kerapatan pepohanan yang kian berkurang berganti bebatuan curam, sejauh itu mereka telah berhasil mencapai puncak, tepatnya di bawah pohon Eukaliptus, mereka berhenti di sana.
"Setidaknya, kalau mau melompat seperti itu beritahu dulu dong, kau membuatku jantungan!" Ophel mengomel.
Seolah tak peduli, Nic malah berkata sambil menunjuk lembah, "Lihat Sayang, inilah yang kumaksud tadi rahasia pulau Conowa."
Mata Ophel langsung terbelalak, "Apa-apaan ini?" desisnya tak percaya.
Karakteristik pohon Eukaliptus, pohon itu langsing menjulang dan berkanopi tinggi, dahan tempat mereka itu paling tidak tingginya 25 meter dari tanah, dari dahan Eukaliptus itu, mereka kini adalah sepasang pengintai, mengamati jauh ke bawah sana, menyaksikan sendiri sisi gelap pulau Conowa, rahasia yang tersembunyi di balik bukit ini.
Hutan-hutan di lereng sudah rusak berganti dengan bedeng-bedeng semi permanen beratap seng, alat-alat berat pengeruk tanah terparkir hampir di sembarang tempat, ada kapal tongkang besar yang bersemedi di ceruk tebing, dump truck meraung-raung membawa muatan, nampak juga orang-orang sebesar semut berjalan hilir mudik, sebagian adalah pekerja kasar, dan sebagian lagi adalah tentara pengawas yang berpatroli menimang senjata.
"Pertambangan ilegal, kira-kira apa yang mereka keruk di bawah sana?"
"Kita akan segera mengetahuinya, tapi setidaknya pertanyaanku sudah terjawab, soal turis-turis yang hilang di pulau ini, kemungkinan mereka dibunuh karena tidak sengaja mengetahui adanya aktivitas ilegal ini."
"Hah? Kenapa aku tidak tahu ada cerita seperti itu, kau sengaja merahasiakannya dariku?"
"Yah, mau gimana lagi? Aku tak mau membuatmu cemas."
"Astaga! Kau ini!" Ophel mendengus, kemudian memutuskan untuk duduk saja di dahan dengan kaki menjuntai, terayun-ayun, melampiaskan emosinya menikmati keripik kentang yang dibawanya dalam ransel, lalu dia berseloroh, "Kau dan Albert! Jadi ini yang selalu kalian sebut liburan."
Nic terpingkal, kemudian katanya, "Yah, aku sih tidak terlalu heran."
"Kau harus tau Nic, atau setidaknya mengertilah sedikit, ini kan pertama kalinya bagiku, selama ini aku hanya tau urusan di lab."
"Iya deh, maaf, tapi sejujurnya Sayang, liburan seperti inilah yang cocok untuk orang seperti kita."
"Cocok untukmu barangkali, sekarang mau apa coba? Kita tidak membawa persenjataan yang memadai."
"Kita? Memangnya kau mau ikut aku turun ke sana!" Nic menggodanya, Ophel menggeleng enggan, lalu menyeringai innocent. "Terus apa rencanamu sekarang?" tanya Ophel kemudian.
"Pertama-tama mari kita berikan sambutan kecil-kecilan, pada tamu kita."
"Tamu?" seru Ophel terkejut, bahkan nyaris terjatuh ketika terlonjak, jika saja Nic tak cekatan, menanahan goncangan tubuhnya, lalu membantunya berdiri, menyeimbangkan badan di dahan Eukaliptus.
__ADS_1
Dan seketika itu pula terdengar suara semak belukar dikuak, ranting-ranting terinjak oleh sepatu-sepatu, Ophel lantas memandang ke bawah pohon Eukaliptus, puluhan orang berwajah angker, berseragam cokelat, telah memicingkan mata di balik scope senjata api mereka yang teracung ke atas dahan Eukaliptus tempat mereka bertengger, seperti membidik burung.
"Astaga! Sejak kapan?" Ophel bertanya kecut.
"Dari tadi, mereka memang sudah mengintai kita," jawab Nic enteng, tak acuh pada gerilyawan di bawah sana yang berteriak menyuruh mereka turun. Nic menghela nafas sejenak, katanya lagi, "Apa boleh buat, kalau sudah begini."
Ophel membalas dengan nada datar, "Maaf aku tidak bisa membantu."
"Yah memang, yang perlu kau lakukan cukup diam saja di sini," kata Nic, sebelum muncul suara berdenting laksana lempengan logam yang bergesekan, suara itu timbul mengiringi sepasang sayap merah yang tiba-tiba bermekaran pada punggung Nichterides, terentang penuh seperti Rajawali.
"Ga... Garuda!" Ophel terbata dengan mulut ternganga, sebelum Nic segera menariknya ke dalam pelukan, lalu sayap merahnya menutupi tubuh mereka berdua. Sayap merah itu istimewa, karena bulu-bulu yang terbuat dari lempengan logam itu bisa diubah ukurannya sesuka hati.
Melindungi Ophel dari gerilyawan yang kini memberondongi dengan sengit, terdengar suara berdenting ketika peluru musuh beradu dengan sayap itu, untuk beberapa lama kemudian, tembakan mereka berhenti. Mereka mengisi ulang magazen sambil berjalan mundur perlahan.
Kesempatan itu tak disia-sikan oleh Nichterides, dia membuka tangkupan sayapnya, Ophel tak terluka sedikitpun, hanya tampak meringkuk terpejam ketakutan, Ophel tak sempat membuka mata, Nic telah menukik turun, dengan kecepatan penuh, menyergap musuh di bawah, terbang rendah sambil berputar, sayapnya tak hanya kuat sebagai perisai tapi juga tajam dan mematikan, itulah senjatanya. Sekali kepakan dapat membuat lima orang tersungkur.
Dalam sekejap mata, sebagian tentara itu telah bergeletakan, sebagian ada yang sempat berlari menuruni lereng landai penuh ilalang, mereka menjerit-jerit ketakutan, tetapi itu percuma, mereka tak ubahnya Antelop yang terpisah dari kawanan, Nic telah berpusing mengincar mereka, pedang-pedang berwarna merah melesat dari sayapnya seperti anak panah, menikam mereka, hingga mati tersungkur ke dalam ilalang.
Setelah memberangus musuh yang melarikan diri, Nic segera melesat vertikal menyongsong angkasa, lalu hilang di balik awan. Ophel masih tercengang di dahan Eukaliptus, dia menatap angkasa, dan matanya membesar, melihat buntalan awan kelabu tempat Nic menyelinap tadi, perlahan-lahan awan itu menjadi kemerahan.
Tak hanya Ophel, fenomena awan merah itu jelas telah membuat orang-orang di lembah bukit tambang menjadi terpana, dengan mulut terbuka selebar-selebarnya, dari balik awan sesekali mereka dapat melihat sosok bersayap terbang berputar-putar.
Awan merah itu menggelegak, berderak-derak, suaranya bagai logam-logam yang bergesekan, menyilukan pendengaran, membuat orang-orang menahan suara mereka yang tercekat di tenggorokan, kemudian secara perlahan awan berubah bentuk menjadi sepasang sayap raksasa berwarna merah, langit menjadi begitu pekat, hingga mencetak bayangan sayap raksasa meneduhi lembah.
Bagai hujan, demikianlah kiranya ketika sayap raksasa di langit tiba-tiba menjatuhkan muatannya, berdesing-desing, menderu berguguran mencabik-cabik apa saja yang ada di lembah. Sungguh pemandangan yang mengerikan, menyaksikan ribuan pedang berguguran menikami lembah.
Udara mejadi merah, ledakan terjadi di sana-sini, bedeng-bedeng, alat-alat berat, kapal tongkang, truck pasir, pedang-pedang itu seperti koloni Lebah yang menyerbu digerakkan penuh kendali, mereka merusak segala fasilitas tetapi tak ada satupun yang melukai manusia, seolah mereka dibiarkan saja berlarian pontang-panting menyelamatkan diri.
Langit kembali menjadi terang, ketika semua pedang telah habis dijatuhkan, lalu pedang-pedang yang manancap dipermukaan berubah menjadi debu, menyelubungi daratan dengan kabut merah, saat itulah Nic yang masih bersemayam di angkasa, segera menukik turun ke lembah, menembus kabut, dan tak terlihat lagi apa yang terjadi.
Ophel hanya memandangi semua itu dengan tubuh kaku dan gemetaran, dia bergumam tanpa sadar, "Kenapa aku harus berurusan dengan monster-monster ini! Rasanya mau gila saja."
"Wah, siapa yang kau maksud monster itu, Ophel?"
Wanita itu menoleh ke sisi, ternyata di dahan Eukaliptus telah hadir seorang lagi yang membuatnya kaget tak alang kepalang, Jocelin Albert telah berdiri angkuh menemaninya menonton di sana, entah sejak kapan.
"Ten... tentu saja kalian, Calamity Seven! kalian orang-orang gila." serunya.
Jocelin tersenyum, "Kenyataannya kau juga bagian dari kami. Memang, beginilah cara kerja kita."
"Omong-omong, kenapa kau juga datang ke sini? Bukankah aku sudah bilang, jangan berpergian jauh kalau memang tidak perlu."
"Semua kecemasanmu itu tidak berarti lagi sekarang, kita tidak perlu menahan diri lagi, tak ada gunanya terus bersembunyi. Bukan tanpa alasan aku meminta Nic mengajakmu kemari, tentu agar kau terbiasa, Ophel! Suka tidak suka, peperangan dan pertumpahan darah adalah realita yang tak dapat dihindarkan dari jalan yang kita pilih ini, rasanya kita semakin dekat dengan Vileron dan pasukannya, aku bisa melihatnya, akhir dari semua ini."
"Rimedel? Bagaimana dia?"
"Aku tidak tahu, mungkin dia sudah mati. Selama ini Vileron tak pernah bertindak secara terang-terangan? Tapi setelah kasus Rimedel, menandakan mereka telah menabuh genderang perang. Peperangan secara terbuka."
"Apakah kemenangan akan berpihak pada kita? Albert!"
"Semoga saja! Nah, kurasa sebentar lagi Nic akan kembali ke sini, aku akan menunggu kalian di penginapan, ada hal penting yang akan kita bicarakan."
Tubuh Jocelin kemudian lenyap dihembus angin, memang benar karena tak lama kemudian Ophel dapat melihat sesosok tubuh bersayap melesat dari lembah, berderu ke arahnya di dahan Eukaliptus, lalu hinggap secara akurat di sisinya.
"Apa yang kau dapatkan di bawah sana, Manusia Garuda?"
"Buruk, ini buruk sekali," ujar Nic, setelah dia menyembunyukan kembali sayapnya, "Menurutmu ini apa?" lanjutnya kemudian, seraya menyerahkan sebongkah batu yang diambilnya dari lembah.
Ophel menerima dan mengamatinya sebentar, lalu katanya, "Batu ini sepertinya tidak berasal dari planet ini, aku akan mengeceknya dengan peralatan yang lebih memadai ketika pulang nanti."
"Ada berton-ton di bawah sana, kurasa kau perlu memeriksanya sendiri, tapi besok saja, sekarang sudah sore, yuk kita pulang."
"Tapi aku malas jalan."
"Oh, jadi kau mau cara yang tak biasa? Baik!" Nic tak mau membuang waktu, sayapnya kembali direntangkan, lalu memeluk Ophel.
"Kenapa waktu berangkat, tidak begini saja?" oceh Ophel.
"Apa kau tidak tidak pernah dengar pepatah, bersusah dahulu bersenang kemudian?" timpal Nic, sebelum keduanya melesat menuju angkasa, dan menjadi titik kecil di langit.
***
__ADS_1