
Waktu kian menanjak pada pertengahan malam, mobil kuning itu kini merayap perlahan meninggalkan vila terpencil itu di belakang, bergemerutuk suara roda ketika menggiling jalanan sempit berbatu, yang terjepit di tengah hadangan perkebunan teh milik jawatan usaha warisan kolonial.
Jalanan itu merintis di lengan bukit berkontur agak miring, riskan memang, tetapi syahdunya bukan main. Dari ketinggian itu, jika melihat ke bawah sana, dari lereng bukit kerdil ini nampaklah kerlap-kerlip lampu pemukiman di lembah sana, berselang-seling juga dengan liukan sungai berbatu yang membentuk ngarai, airnya dwiwarna, dominan hitam agak keemasan.
Tak lama jalan kerikil berlanskap syurgawi itupun akhirnya bermuara kepada jalan raya utama beraspal hotmik yang halus, maka tak ada ampun lagi, di jalan raya mulus itulah mobil pun segera dikebut menapaki jalan pulang.
Agaknya dalam perjalanan kali ini, suasana tidaklah seperti berangkat tadi siang, Bernardina si Geranium yang periang itu, kini tak lebih dari sekedar pohon Beringin angker yang senang bermuram durja, Jocelin yang sedari tadi memperhatikannya, tak tahan melihatnya terus begitu tanpa semangat.
"Hei cantik, kamu lagi mikirin apa?" tanya Jocelin, sontak mengagetkan gadis itu.
"Entahlah, rasanya aku masih sulit untuk mempercayai ini,"jawab Dina lesu.
"Ohh, pasti kau sedang memikirkan Ayahmu?" tebak Jocelin.
Dina mengangguk lunglai, "Sebagai Putrinya, sulit bagiku menerima semua cerita itu," katanya.
"Well, sebenarnya menurutku itu wajar saja, Ayahmu itu pria normal, dia sudah lama menduda setelah kematian ibumu saat kau masih kecil, jadi tak ada yang salah bila suatu hari dia jatuh cinta pada seorang gadis muda yang sangat menarik perhatiannya, setelah sekian lama ia hidup sendiri."
"Ya, mungkin aku bisa sedikit menerima alasan seperti itu, tapi aku merasa serba salah, kepada siapa aku harus memihak, di satu sisi aku bisa mengerti perasaan David, mendendam karena kehilangan kakaknya yang bernama Samantha itu, wanita yang hidupnya dirundung malang, jujur mungkin akupun akan bunuh diri jika hidupku sepahit itu," tutur Dina, dan matanya berkaca-kaca.
"Sebenarnya secara tidak langsung aku lebih suka mengatakan bahwa Samantha itu dibunuh!" timpal Jocelin.
Mendadak Dina terbelalak.
"Maksudmu, daddyku membunuhnya?"
Jocelin menggeleng, lalu tersenyum.
"Pacarmu itulah yang membuatnya bunuh diri!" jawabnya kemudian.
"Hah? David! David membunuh kakaknya?"
"Well! Kakak, mungkin bukan kakak dalam artian yang sebenarnya."
Dina memicingkan matanya, dia makin tak paham.
"Ya, mungkin karena Samantha itu usianya sedikit lebih tua beberapa tahun, jadi wajar bila David pacarmu itu memanggil atau menganggapnya sebagai kakak, padahal tak ada hubungan persaudaraan apapun di antara mereka, kecuali mereka pacaran."
"Gila!" gumam Dina.
"Nah, dengarkan aku Nona Bernard! Aku sama sekali tidak bermaksud mengungkit-ungkit aib orang ini, dia sudah berpulang menghadap sang pencipta, semoga dia tenang di sana, jadi anggap saja cerita versiku ini sebagai bahan perbandingan, setelah tadi kau mendengar cerita versi David yang mungkin agak berbeda dengan versiku, nantinya kau harus menyimpulkan sendiri tanpa harus menghakimi siapapun."
"Pertama-tama, aku harus minta maaf kalau kukatakan bahwa, wanita bernama Samantha itu mungkin wanita yang sedikit licik, hanya sekedar memanfaatkan Ayahmu."
Bukan main terkejutnya Dina.
"Seperti yang kukatakan padamu di awal tadi, Ayahmu jatuh cinta pada seorang pegawainya sendiri, yaitu wanita muda bernama Samantha ini, seiring berjalannya waktu, akhirnya Ayahmu menikahinya secara diam-diam."
"Apa? Jadi Samantha ...."
"Ya! Betul, Samantha itu tak lain dan tak bukan adalah ibu tirimu."
Dina terhenyak, nafasnya tersendat di tenggorokan.
"Samantha tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dari pernikahan itulah dia meraup banyak keuntungan, uang, mobil, rumah dan segala kemewahan hidup yang diberikan Ayahmu, padahal di belakang Ayahmu, Samantha diam-diam menjalin cinta dengan David.
"Tentu saja, bahwa sebenarnya orang yang paling diuntungkan dari pernikahan rahasia Ayahmu dan Samantha itu, ya, tak lain adalah David itu sendiri, dialah sebenarnya yang menikmati semua uang Samantha. Nah, sialnya pada suatu hari hubungan mereka diketahui Ayahmu, tentu bisa kau tebak apa yang terjadi selanjutnya."
"Ayahmu yang kecewa segera menceraikannya, bagi Samantha itu adalah musibah, dia terbuang dalam kondisi berbadan dua, situasi jelas tak menguntungkan, sementara David si parasit itu, dia tak peduli dan terus menghambur-hamburkan sisa kekayaan Samantha yang ditinggalkan Ayahmu, pertengkaran di antara mereka tak dapat dihindarkan, karena depresi, dan mungkin juga malu, yah akhirnya dia gelap mata."
"Ya tuhan, kenapa rasanya aku ingin marah." Dina menggeram.
"Nah kan, padahal aku sudah mewanti di awal tadi, ambil kesimpulan tapi jangan menghakimi, karena semua yang terlibat punya andil kesalahan yang sama, termasuk Ayahmu, tapi karena cerita ini sudah berakhir, sebaiknya kita cukup tahu saja, tak perlu menyalahkan siapa-siapa." simpul Jocelin mengakhiri kisahnya, dan gadis itu mengangguk paham.
Tak ada lagi pembicaraan penting yang terjadi antara keduanya, kecuali tingkah-tingkah manja Bernardina yang mengusili Jocelin mengemudi, dan gadis itu mendadak gugup ketika mobil itu secara mendadak, dibelokkan memasuki sebuah kawasan hotel yang cukup mewah di daerah wisata pegunungan itu.
"Jo! Kok kita ke sini, mau ngapain hayo?" Dina bertanya, dia sedikit agak ngeri.
Jocelin diam saja, barulah ketika mobil itu benar-benar berhenti tepat di petak parkir dia membuka suara.
__ADS_1
"Jangan dulu berpikiran macam-macam, sebaiknya kamu ikut saja, karena aku punya kejutan untukmu, yuk!" katanya.
Kemudian tanpa banyak protes, Bernardina pun berjalan mengiringi Jocelin, dengan dada berdagdigdug, memang rasanya mendebarkan sekali, apalagi tangan Jocelin yang menuntunnya saat itu dirasanya menggenggam terlalu kuat, seolah-olah tak membolehkannya lari, tetapi genggaman tangan itu menularkan rasa hangat begitu menentramkan.
Mereka terus berjalan hingga sampailah pada sebuah ruangan, lebih tepatnya ruang pertemuan pribadi yang disediakan hotel, bukan main terkejutnya Dina melihat ruangan itu sudah dipenuhi oleh orang-orang yang luar biasa.
Ada Ramon di sana, ada Tuan Imam, ada seorang pria berkumis yang nampaknya seorang pegawai pemerintah, mungkin bekerja di bidang pencatatan sipil karena dia membawa sebuah map besar, terus ada lagi seorang pria yang berpakaian rapi yang tidak dikenal Bernardina, mungkin dia seorang kenalan Jocelin (Nantinya Dina akan tahu bahwa nama orang itu adalah William, dia seorang Pengacara kepercayaan Jocelin), dan orang terakhir yang paling membuat Dina tercengang adalah Ayahnya tuan Nolan Alessander juga ada di ruangan itu.
Dengan rasa terheran-heran Bernardina segera menghambur kepada Ayahnya, dan setelah menyalami sopan, Nolan segera menyuruh Dina untuk duduk di dekatnya, ketika Dina bertanya tentang apa gerangan yang membuat mereka semua berkumpul seperti itu, Nolan malah menegakkan telunjuk di bibirnya, untuk memintanya diam dan tenang.
Meja marmer segi empat itu menjadi penengah bagi mereka yang duduk melingkar dengan khidmat di ruangan itu, menunggu tak sabar dan gelisah, setelah situasi aman terkendali, Jocelin yang mewakili dirinya sendiri langsung tampil mengambil panggung.
"Tuan-Tuan, untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita mulai saja, pertama-tama saya ucapkan terimakasih karena sudah berkenan hadir jauh-jauh ke tempat ini, di malam yang bahagia ini, terutama Tuan Nolan Alessander, ijinkan saya mengutarakan beberapa hal."
Nolan mempersilahkan.
"Tepat seperti perjanjian kita kemarin, setelah dua hari, maka di hari terakhir ini, saya menyatakan bahwa saya mengundurkan diri sebagai pengawal putri Anda." ucap Jocelin, lalu menunduk hormat.
Nolan menggangguk-angguk walaupun dia bermuka masam, kelihatan jelas dia tak dapat menyembunyikan ketidaksukaannya, terutama anak gadisnya yang duduk di sebelahnya itu. Si Nona Bernardina yang bibirnya langsung menguncup tajam, dan pandangan matanya yang menyalak protes.
Ruangan bergeming, sebagian mereka yang tidak paham dan tak tahu apa-apa soal kesepakatan kerja ini hanya membisu, tetapi kerikuhan itu tak berlangsung lama karena Jocelin segera melanjutkan.
"Jika Anda sudah menerima pengunduran diri saya, itu artinya kita sudah tidak saling terikat lagi sebagai atasan dan bawahan, maka tak ada lagi beban saya untuk menyampaikan maksud saya yang sebenarnya."
"Oke!" Nolan menimpali.
Jocelin tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah marun, dia membukanya dan menaruhnya begitu saja di atas meja, kotak yang menganga itu membuat semua hadirin terpukau, sebuah cincin cantik bermata intan mahal kebiruan nampak berkilatan menyilaukan mata.
Semua orang mendadak menahan napas, terutama Bernardina yang entah mengapa anggota tubuhnya lumpuh total, darahnya mendesir dingin membuat keram. Sesaat, suasana benar-benar menjadi sepi, sebelum semuanya kembali harus memusatkan perhatian pada Jocelin.
Dengan suara lantang pria itu berkata,
"Tuan Nolan, Malam ini, saya Jocelin Albert putra dari Frederick Moffin, ingin melamar putri Anda, Nona Bernardina Alessander."
Seperti terguncang oleh hantaman meteorit raksasa yang menyasar ke bumi, impact kejut kalimat itulah yang segera melenyapkan akal sehat para hadirin, sementara Bernardina, dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
***
Berbeda dengan Jocelin dan Bernardina, seolah tak ingin diganggu, keduanya justru pamit memisahkan diri, melipir ke sebuah resort mewah berfasilitas sauna yang sebenarnya terletak hanya beberapa ratus meter saja dari hotel Parodia, di resort itu mereka menyewa sebuah pondok berbahan serba kayu alam, lokasinya sangat presisi karena menghadap langsung kepada jeram sungai yang jernih pertiwi.
Pondok itu mungil wujudnya, hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur sederhana, ruang bersantai dengan televisi, dan beranda depan dengan kursi-kursi kayu, yang nampaknya juga berfungsi sebagai ruang tamu terbuka, bersahaja sekali bukan? Tetapi cukuplah untuk sekedar beristirahat melepaskan penat, hanya mereka berdua saja. Ehem.
Setelah Bernardina selesai mandi membersihkan badan, ia mendapati pakaian ganti telah ditaruh Jocelin di tempat tidurnya, ada sesuatu hal yang membuatnya sedikit tercengang, atau tersipu malu, ternyata Jocelin telah menyiapkan semuanya lengkap juga dengan (maaf) pakaian dalam.
Memang, saat menyuruh Dina mandi tadi, Jocelin mengatakan bahwa dia akan segera menyiapkan pakaian ganti untuknya, tetapi tak dinyana hingga sedetail ini pula dikerjakannya, padahal sebelum mandi tadi, Dina sendiri tak ada kepikiran sama sekali. Mandi ya mandi saja.
Dina tak keberatan sebenarnya, dalam situasi liburan serba mendadak yang tanpa persiapan ini, tentu dia memang sangat membutuhkan pakaian ganti, termasuk pelindung bagian terdalam itu, tetapi dia tak dapat menguasai diri untuk merutuki selera fesyen Jocelin yang menurutnya agak nakal, barangkali. Pakaian dalam bertali tipis berajut bunga penuh celah tembus pandang itu jelas membuatnya bergidik ngeri.
Nampaknya, persoalan pakaian dalam ini tak hanya terletak pada modelnya yang terlalu berani, tetapi juga pada ukurannya yang memang cocok sekali dengan size Bernardina, membuat dia tak habis pikir, sampai sejauh itukah Jocelin telah mengetahui seluk beluk angka rahasia ukuran tubuhnya.
Jika sudah begini, tentulah dia tak bisa berdiam diri saja, ini harus diselidiki, maka setelah selesai dia berpakaian seadanya, cukuplah mengenakan kimono tidur lembut berbahan satin, lekas dicarinya Jocelin, untuk segera menuntut keadilan.
Di ruang bersantai, televisi menyala, Dina mendapati Jocelin sedang duduk di sofa, dia berjalan perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara ketika mendekati punggung pria itu, Dilihatnya asap beterbangan, rupanya Jocelin tengah asyik menghisap cerutunya.
Tepat ketika dia sudah berdiri di belakang pria itu, dilihatnya sambil menghirup asap cerutu rupanya Jocelin juga tengah sibuk dengan tabletnya, lebih tepatnya memeriksa puluhan email penting perusahan.
Dina telah mengambil ancang-ancang untuk mengagetkannya, dia mulai berhitung mundur, tiga dua satu ...
"Kenapa kamu belum tidur?" Tiba-tiba pria itu menegurnya, rupanya Jocelin sudah menyadari kehadirannya, tentulah Dina sendiri yang dibuat kaget.
"Ishhh!" Dina mendesis, sudah kadung kepergok, segera ditangkapnya kepala Jocelin, dibuatnya menengadah, dengan posisi kepala yang saling sungsang berlawanan arah, sebuah kecupan kilat segera ditandaskan ke kening pria itu.
"Hei kamu! Lelaki nakal, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum kamu menjawab beberapa pertanyaanku."
"Oh aku tau, pasti soal itu ya, jangan salah paham dulu, aku tidak terlalu mengerti soal model pakaian dalam wanita, jadi itu tadi cuma asal beli kok, ya kalau ukurannya memang cocok, pastilah itu cuma kebetulan." Jocelin berkelit dengan enteng, seolah bisa menerawang pikiran Dina.
"Apa katamu? Cuma kebetulan! Oh aku tidak sebodoh itu tuan!" Dina sesumbar, giginya menggertak geram, malah sebelah tangannya sudah siap menjuruskan totokan bangau, Jocelin tertawa kecil, lalu ditangkapnya tangan gadis itu.
"Sini!" katanya.
__ADS_1
Satu kata yang sederhana, tetapi cukup membuat Dina sesaat lupa pada persoalan set pakaian dalam seksi bermodel Thong tadi, malah dia terpaksa memutari sofa lalu duduk di sebelah Jocelin.
Dina terpikat sesaat melihat pria itu, baginya aneh juga melihat Jocelin yang saat itu hanya mengenakan mantel tidur saja, karena selama ini dia hanya tau pria itu sudah paten dengan suit formalnya.
"Ngeliatin apa sih?" Jocelin menyentil hidungnya, kemudian dia menepuk pahanya sendiri meminta Dina merehatkan kepalanya di sana.
Dengan berlagak seolah-olah dipaksa, diapun menyerahkan kepalanya begitu saja, lalu berbaring nyaman memandangi televisi, sementara Jocelin memain-mainkan helaian rambutnya.
"Jangan marah, soal model atau ukurannya itu aku hanya menyesuaikan saja kok, berdasarkan dari apa yang pernah kulihat secara tidak sengaja di hotel malam itu.
Dina termenung sesaat, dia teringat peristiwa di hotel malam itu, penuturan Jocelin cukup masuk akal baginya, karena memang ketika diselamatkan malam itu dia sendiri nyaris telanjang, tentu Jocelin memang sudah melihat semuanya.
"Aku gak marah kok, malah aku suka modelnya!"
"Wah, jadi kau benar-benar memakainya?"
"Mmm!" Dina cuma menggumam, lengkap dengan senyum nakal, tercetak di wajahnya.
"Wahh aku jadi penasaran."
Dina mengeliat, "Eitss! Gak boleh ya! Tadi kamu udah janji kan, pokoknya enggak malam ini." Protesnya.
"Apa iya? Tadi aku bikin janji kayak gitu? Perasaan gak pernah." Jocelin berlagak bodo.
"Dengar ya Sayang! Pokoknya, sebelum besok aku pergi ke bidan, Don't do that! Aku belum siap hamil, setidaknya biarkan aku membereskan kuliahku dulu!" Dina mewanti-wanti.
"Oh, suntik hormon progestin ya, kira-kira berapa lama hormon itu mulai bekerja setelah disuntikkan?"
"Paling aman seminggu."
"Jadi aku tidak boleh menyentuhmu selama seminggu."
Dina mengangguk, lalu mengacungkan jari kelingking yang ditekuk.
"Astaga selama itukah, yah okelah, I agree!" Jocelin tersenyum, segera balas menautkan kelingkingnya ke kelingking Dina, saat jari mereka telah berkaitan itu, nampak olehnya sebuah logam mulia bermata safir itu melingkar teguh padi jari manis wanita itu.
"Omong-omong, kamu suka cincinnya, Nyonya Albert?"
"Suka sekali, walau aku sendiripun masih tidak percaya, kenapa cincin ini bisa melingkar di jariku." Jawab Bernardina tersipu.
"Yah aku minta maaf!"
"kenapa minta maaf?"
"Maaf, karena semuanya serba mendadak, aku pikir tadinya kau pasti akan menolak."
"Menolak kenapa?"
"Kupikir setiap wanita pastilah menginginkan pernikahan mereka dilaksanakan dengan resepsi mewah yang megah, tapi kau justru mau menerimanya begitu saja."
"I don't care, lagipula aku bisa mengerti alasanmu."
"Yah, terimakasih, menjadi istri orang sepertiku ini, memang pilihan beresiko, aku punya banyak musuh yang berbahaya, walaupun mereka tak bisa menyentuhku, tetapi aku punya kelemahan, yang bisa saja mereka manfaatkan."
"Apa kelemahanmu?"
"You!" Bisik Jocelin.
Pipi Bernardina merona merah, katanya, "Kau pintar menggombal."
"Well, gombal atau bukan, kusarankan kamu sebaiknya kembali ke kamarmu, sebelum kamu semakin terlena dengan rayuanku, dan aku berubah pikiran, karena aku merasa mulai sulit mengendalikan diri." Jocelin menyeringai. Mengerikan.
Refleks, Dina segara menegakkan tubuh terbaringnya, serta merta bangkit dari sofa, mengencangkan ikatan kimono, dan lari terbirit-birit ke kamar. Jocelin terpingkal, dan tawanya berangsur reda ketika di dengarnya pintu kamar berderit, pastilah istrinya itu telah mengamankan dirinya masuk kamar, tapi.
"Sayang lihat sini!" terdengar Dina memekik dari pintu kamarnya, Jocelin menengok saja ke belakang, dan Jocelin terpaksa memaki dalam hati, sambil menelan ludah barangkali.
Di celah pintu yang tinggal terkuak sedikit itu, Bernardina dengan senyum genitnya melepaskan pita kimononya, lalu menyingkapkan bukaan kimono selebar-lebarnya, hingga terpamerlah segala kemolekan tubuhnya, yang terbungkus indah oleh pakaian dalam seksi tadi, tak lupa juga dia melayangkan sebuah
ciuman jarak jauh beralaskan telapak tangan. "Mmmwwwhhh!" kecupnya pada angin, sebelum pintu kayu itu ditutup perlahan kepada kusen, hingga semuanya menghilang sudah.
__ADS_1
Tinggallah di ruang televisi itu, Jocelin yang cuma bisa gigit jari, mencoba menenangkan pikiran yang mendadak kalut, ditemani asap-asap cerutu, maka sungguh wartaberita dini hari yang sedang bersiar di tivi, tak meringankan apa-apa, selain menambah beban penderitaan saja karena wajah penyiar beritanya yang terlihat sudah ngantuk dan lelah.
***