Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
12.Smilodon


__ADS_3

Present time. April 8, 2017


Rusia, St.Petersburg


Simbio Energy.Ltd


Frederick memang tipikal orang yang temperamental, sangat berangasan, amarahnya selalu cepat meledak jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan postulatnya, jika sudah marah maka sosoknya akan menjelma menjadi Smilodon, matanya melotot dan taring panjang bermunculan di mulutnya, dia akan menerkam siapa saja orang-orang yang tak kuat mental, ia sangat wingid, sosoknya penuh metafor dan selalu diindetikkan dengan binatang buas, tak heran semua orang ngeri bila sudah berurusan dengannya, seperti semua staf yang tertunduk menciut pagi itu, ketika ia berkunjung secara mendadak ke Simbio Energy.Ltd, anak perusahaan Evenergy.


Para staf itu sadar bahwa boss mereka Mr.Jocelin Albert Moffin putra dari Frederick belum hadir di sana, berabenya lagi Frederick langsung main terabas begitu saja menuju ruang kerja sang Direktur, Frederick memang selalu begitu, dia tak akan pernah memberi kabar jika ingin berkunjung menengok anaknya itu. Aduh ini gawat.


Cklek! Pintu dibuka oleh Frederick.


"Father!" sapa seorang laki-laki dari meja kerjanya, wajahnya terkejut, mungkin tak menduga bahwa ayahnya itu akan datang.


Frederick tersenyum, "Son!" balasnya hangat.


Lelaki itu bangkit dari duduknya demi menyambut sang Ayah, lalu ada lagi seorang wanita cantik yang masuk menyusul Frederick ke ruangan itu.


"Hallo Brother!" sapa wanita berambut cokelat itu.


"Chloe!" sebutnya kaget, tak menyangka bahwa Adik perempuannya itu juga datang bersama sang Ayah, mereka saling melempar senyum.


Para staf pun ikut tersenyum, semuanya lega, walaupun mereka tak mengerti bagaimana ceritanya Mr.Jocelin sudah ada di ruangan kerjanya, tapi mereka tak mau ambil pusing, segera bubar jalan.


Ruang kerja Jocelin itu memang classy, dilengkapi set sofa penyambut tamu yang mewah, lalu ada pantri mini yang lengkap juga dengan lemari pendingin yang besar, Frederick dan Chloe langsung duduk begitu saja di sofa, keduanya memandang kepada Jocelin yang tengah menjerang teh dan dedaunan herbal ke dalam sebuah poci dari tanah liat, di dapur minimalisnya itu.


Kemudian dia menghidangkan sendiri teh hangat itu dengan menuangkannya ke cangkir ayah dan adiknya yang sedari tadi cuma diam menontonnya, tak lupa juga menaruh beberapa iris kue Modevik kesukaan Frederick.


Jocelin sudah selesai dengan suguhan alakadarnya itu, lalu dia duduk menyamping di lengan sofa di sebelah Chloe.


"Bagaimana kabarmu,Nak?" tanya Frederick sambil menyesap teh hangat.


"Aku sehat Father!"


"Jo! Sudah berapa lama kamu tidak pulang? Mommy selalu menanyakan kabarmu?" sela Chloe.


"Hm! Yah, aku minta maaf soal itu, aku memang banyak kerjaan akhir-akhir ini, aku akan pulang kalau sudah tidak terlalu sibuk!"


"Kapan?" tanya Chloe sambil menoleh.

__ADS_1


"Mungkin minggu depan!" jawab Jocelin asal.


"Tch!" Chloe berdecih sinis, lalu memandang tajam kepada ayahnya.


"Dad! Ayolah, segera nikahkan kami, dan berhentilah memaksa aku menerima pertunanganku dengan Gerard yang bodoh dan manja itu," celoteh Chloe, lalu ia mengaitkan tangannya pada Jocelin.


"Jangan gila! Berapa kali harus kubilang kalau dia Abangmu, kegilaanmu inilah yang membuat dia tak pernah betah tinggal di rumah." hardik Frederick.


"Memangnya kenapa sih kalau dia Abangku? Aku mencintainya, dan aku cuma mau dia!" balas Chloe, semakin menguatkan kaitan tangannya, membuat Jocelin kian gelisah dan serba salah.


Frederick mengusap dan meremas wajahnya hingga merah padam, mencoba meredam amarah.


"Oke! Oke! Terserah, lakukan saja sesukamu, aku sudah tidak peduli, aku sudah malas berdebat denganmu, tapi sekarang tolong, bisakah kau tinggalkan kami? Aku ingin bicara berdua saja dengan Abangmu." mohon Frederick dengan suaranya yang bergetar.


Chloe melepaskan kaitan tangannya, dia lantas berdiri, menatap tajam pada kedua lelaki itu, terutama pada Jocelin yang malah tertunduk memandangi lantai, gadis itu kesal, dibetotnya dasi pria itu, menarik wajah mereka untuk saling merapat, terlalu dekat, sampai-sampai dengus nafas mereka terdengar saling beradu.


"Kau tidak akan bisa terus menerus lari dariku, Brother!" ancam gadis itu dengan berbisik, sambil perlahan memantapkan kordinat bibirnya dan bibir pria itu.


"Chloe!" Frederick berteriak.


Sial, untuk sesaat, pertemuan bibir mereka tertunda, gadis itu melirik pada ayahnya, didapatinya Frederick nampak tersengal menguruti dadanya, tak pelak gadis itu terpaksa menarik wajahnya menjauh, tetapi tangannya masih belum ridho melepas kekangannya dari dasi Jocelin, dia cuma berharap pria itu membalas tatapannya, walau sebentar saja, tetapi Jocelin masih membuang pandangannya ke dimensi yang lain.


Semakin liar saja ketika tangannya yang sedari tadi membelit pada dasi, kini telah beralih menjelajah pangkal leher sang kakak, menahan agar Jocelin tak berusaha menjauhkan kepalanya, bahkan dengan erotisnya gadis itu memberikan sedikit remasan pada rambut di pangkal kepala kakaknya.


Damn it! Jocelin memaki dalam hatinya, kesal karena tak ada yang bisa dilakukannya, selain merelakan saja daun telinganya menjadi bulan-bulanan si Adik nakal.


"Astaga, Chloe berhentilah mengganggunya!" pekik Frederick.


Syukurlah, lengkingan keras sang Ayah sukses membuat si gadis melepaskan gigitannya, dia tersenyum puas karena berhasil membuat wajah si kakak merona magenta-genta.


"Oke! I'm done!" katanya, lalu memisahkan diri dari kelengketan itu, sempat memandang sepele pada Ayahnya yang benar-benar telah menjadi Smilodon, tapi Chloe tidak takut sedikitpun. Dia berlalu dengan santainya meninggalkan dua pria itu.


"Lain waktu aku tidak akan melepaskanmu, Brother!" ancam Chloe dengan senyum psikopatriatnya, lalu memakai kacamata Oakley-nya yang branded itu, sebelum keluar dengan membanting pintu.


Tinggallah kedua pria itu di sana, Jocelin mengatur nafas, sambil mengendurkan simpulan dasinya.


"I'm so sorry Father!" katanya sambil memandang tak enak pada Frederick.


"Its oke!" timpal Frederick yang kini menyandarkan seluruh punggungnya pada sofa, dia tampak lelah.

__ADS_1


Melihat ayahnya yang berantakan itu, Jocelin lantas beranjak ke belakang pria itu, kedua tangannya kini telah bertengger di kedua bahu Ayahnya itu, lalu memijit pelan. Frederick terpejam menikmati pijatan itu. Sesaat dia merasa sangat rileks.


"Father! Kau terlihat sangat kacau belakangan ini, coba ceritakan padaku, mungkin aku bisa mengurangi bebanmu!"


Frederick menghelakan nafasnya dengan keras.


"Yah, kau benar nak, aku sendiripun tidak tau harus mulai dari mana, tapi kau sendiri pasti sedikit banyak sudah tau kondisi kita saat ini, harga minyak dunia semakin hancur setelah Midle East membombardir pasar dengan ekspor gila-gilaan dan harga mereka yang murah membuat banyak klien kita berpaling, sementara kita sendiri nyaris kesulitan menutupi biaya operasional yang sangat besar, mau tak mau kita mesti mengkaji ulang soal beberapa kilang minyak kita yang tidak produktif lagi, tentu saja kita juga harus memikirkan nasib ribuan karyawan kita seandainya aku menutup beberapa kilang minyak kita yang sudah tidak menghasilkan benefit lagi."


"Ya aku mengerti, itulah kenapa dari jauh-jauh hari kita sudah memikirkan soal energi alternatif bukan, lagi pula respon pasar soal mesin Sterling kita lumayan positif, memang masih belum bisa diterima di sebagian kalangan, jadi kita belum bisa memproduksi mesin ini dalam jumlah yang banyak, tetapi aku yakin, suatu saat orang-orang akan melirik pemanfaatan Bioenergi sebagai salah satu pilihan yang menjanjikan," papar Jocelin.


"Aku tak tau harus berkata apa nak, saat ini memang kaulah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan, terimakasih saja tentu tak cukup atas semua yang telah kaulakukan untuk perusahaan ini."


"Kenapa kau bicara begitu father? Seolah-olah aku mengharapkan sesuatu di balik semua ini?"


"Bukan, bukan begitu maksudku, aku hanya terlalu bahagia, bahwa Tuhan telah memberikanku anak yang hebat sepertimu."


"Terbalik, Akulah yang paling bahagia, karena Tuhan telah memberikanku seorang ayah yang luar biasa."


Mereka saling memuji dan tersenyum.


"Kau ada waktu lusa?" tanya Frederick. Jocelin menghentikan pijatannya, dia berpikir sejenak.


"Selalu ada waktu untukmu," jawabnya.


Frederick tersenyum, katanya, "Temani aku ke Palmerston Island."


"Palmerston? Oh! Pasti soal Dark Matter itu ya, omong-omong sudah sejauh mana progresnya?" selidik Jocelin.


"Yah, Hades bilang dia telah menyempurnakan penelitiannya, kita bisa menyaksikannya langsung di sana, tapi aku punya firasat yang tak baik soal ini, untuk itulah aku minta kau menemaniku."


"Baik! Aku akan menemanimu."


"Terimakasih, Nak!" Frederick menyentuh pelan tangan Jocelin di pundaknya, bahwa dia sudah merasa cukup dengan semua pijatan itu, Jocelin paham dia pun menarik tangannya dari pundak sang ayah.


"Maaf sudah merepotkanmu Nak, aku tidak mau berlama-lama di sini, mengganggu waktu kerjamu," Frederick bangkit dari sofa, lalu memandang penuh keniscayaan pada putranya itu, gantian kini dia yang menyentuh pundak Jocelin.


"Chloe benar, kau memang sudah terlalu lama tidak pulang ke rumah, aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita makan malam bersama, nanti malam kau harus pulang, sekalian kita akan membahas soal pernikahanmu," pungkas Frederick tersenyum penuh komitmen, sementara Jocelin terpaksa membalas dengan ukiran senyum yang abstraksional, senyum yang sulit diuraikan maknanya.


Frederick pun undur diri, sementara Jocelin berjalan mengiringinya di belakang, mengantar Ayahnya itu ke mobil, namun tak sepatah katapun terucap dari mulutnya setelah itu.

__ADS_1


***


__ADS_2