
05:17 PM
Hari mulai menyenjakala, saat mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan (Mall). Di tempat itulah kiranya kedua insan tersebut memutuskan untuk menonton layar lebar.
Sepanjang perjalanan menuju bioskop di lantai empat, Dina mencoba bersikap lebih tenang agar David tak curiga, tetapi sebenarnya matanya sedang menelisik, seperti burung Falcon mengintai mangsa, setiap area yang ia lewati tak pernah lepas dicermatinya, ada seseorang yang mengusik pikirannya, dan entah mengapa ia yakin orang itu ada di sekitaran sana, mungkin.
David langsung mengantre tiket, sementara Dina memilih untuk berdiri saja di tengah lobi, dari titik itu dia bisa dengan leluasa mengawasi semua gerak-gerik pengunjung di sana, termasuk mengamati mereka yang duduk-duduk berselonjor di lorong studio.
Tepat pada waktunya, studio pun dibuka, mereka berjalan beriringan melewati gadis portir, penyobek karcis di pintu. Begitu masuk Dina segera mengedarkan pandangannya ke seisi studio, mata gadis itu bekerja seperti alat pemindai, berpraduga mungkin orang yang dicarinya sedari tadi sudah ada di sini, tetapi nihil. Tak ada satupun diantara mereka.
__ADS_1
Lima menit kemudian, seorang gadis molling (Mobile selling) berkeliaran lalu menawari mereka Popcorn beserta aneka minuman, David langsung beli saja, dua bucket Popcorn, satu cup Capuccino dan satu cup Iced Green Tea.
Selanjutnya, semua orang nampak sudah terlarut ke dalam alur cerita, tetapi tidak dengan Dina, gadis itu malah lebih tertarik mengamati tingkah polah penonton lain di studio itu, anak kecil yang rewel memprotes karena tak suka filmnya, ada juga yang selfa-selfi enggak jelas, atau ketika ia sesekali menoleh ke kursi bagian belakang, tak sengaja mendapati sepasang makhluk mesum yang sedang membarter bibir. "Dasar norak!" cibirnya.
Semua yang dilihatnya itu terasa konyol dan bodoh, apalagi kalau memandang nestapa pada Popcorn di pangkuannya, oh semakin tragis saja rasanya, dari semenjak dibeli, Popcorn itu belum diapa-apain.
Sebenarnya, Dina ingin sekali mencemil jagung berondong itu, aromanya sangat harum dan menggoda, tapi dia tak berani, bahkan untuk sekedar mengicip sebutir jagung pun, muncul delusi sesat di alam bawah sadarnya tentang bagaimana jika seseorang telah menaruh racun di Popcorn itu.
Beberapa kali, ia memandangi ponsel miliknya, berharap ada pesan ajaib, yang kira-kira berbunyi It's ok to eat. Seperti saat makan siang tadi di Verge, atau ketika Dina melihat langsung orang itu mencobai Buble tea sebelum ia membeli, seolah memberi tahu Dina bahwa itu aman untuknya.
__ADS_1
Dina butuh seseorang dalam tanda kutip yang sekiranya memang bisa memastikan bahwa Popcorn miliknya itu benar-benar aman disantap, walaupun setelah semua kejadian tak masuk akal yang dialaminya hari ini, dia mesti mengesampingkan fakta bahwa mungkin orang itu cukup gila ketika melakukan semua itu seolah-olah bisa menebak masa depan, itu sangat tidak logis.
Itulah sebenarnya yang membuat Dina terus bersikap waskita sedari tadi, berusaha membuktikan eksistensi orang itu, karena dia sangat yakin orang itu berada di dekatnya, tak heranlah mengapa dia sering celinguk sana sini, tapi semua itu hanya seperti omong kosong, angan cuma sekedar angan, sosok itu tak pernah menjelma seperti harapannya.
Di tengah kegamangan itu, raut wajah Dina tiba-tiba menegang seperti karet yang direnggangkan, "Apa ini?" desisnya, tatkala ia merasakan ada sesuatu yang merayap ke balik bajunya, menari-nari nakal di atas kulit perutnya yang mulus itu, tak puas sekedar itu, kini jari-jemari jahil bin bahlul itu sedang berupaya turun lebih jauh melewati batas pinggangnya. Gawat, jika itu tidak segera dihentikan niscaya detik berikutnya tangan kotor itu sudah berkemah di lembah terlarang tempat harta karunnya yang paling berharga itu disembunyikan.
Byar! Ratusan berondong jagung dihamburkan tepat menghantam muka si mesum.
"Lu pikir gue cewek apaan!" makinya, sebelum ia meraih tasnya lalu berdiri, dan tak ada kompromi lagi, dengan amarah membara ia segera berlalu meninggalkan lelaki kurang ajar itu, tak dihiraukannya bahwa insiden itu telah memantik kegaduhan, tak pelak orang satu studio itu kini menyoroti mereka, bahkan sebagian menyoraki seperti sorakan Lutung.
__ADS_1
Tinggallah David di kursinya, dengan tubuh berserakan jagung di sana-sini, menahan malu dan hasrat batiniahnya yang urung tersalurkan, dia mungkin sudah kepalang tanggung, terlanjur basah ya sudah lanjut nonton lagi, tak juga ada niatan ingin mengejar Dina yang sudah ngibrit entah kemana meninggalkannya.
***