Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
19.Bridal Style


__ADS_3

Malam itu langit yang risau tampak seperti kelir-kelir raksasa yang terbentang penuh konstelasi mencurigakan, agaknya langit jengah pada kelakuan angin yang bertiup hilir mudik mengembalakan sekawanan awan ke arah barat lalu berbalik lagi ke timur, di celah-celah awan yang berarak itu, nampaklah separuh wajah rembulan yang kemerahan mengintai seperti mata batarakala.


Desau angin juga tajam seperti mata peniti yang menusuk pori-pori, dingin dan kelu rasanya, mengucilkan suasana di puncak bukit rada rembang dan sedikit miring itu, tempat di mana vila itu berdiri di kepungan perkebunan teh, begitu terpencil keberadaannya.


Di pelataran parkir vila yang remang oleh lampu taman itu, berbaris tiga unit kendaraan roda empat, salah satunya mobil Ferrari kuning, yang tidak salah lagi rasanya itu adalah mobil si nona jelita Bernardina, tetapi dia tak ada di sana, terus di manakah dia?


Jika kita berdiri di tempat parkir itu, dan menengadah sedikit ke loteng, tengoklah pada lantai dua itu, yang ada padanya semacam balkoni yang menjorok keluar, kita melihat pintu ruangannya terbuka, ruangan itu juga tampak remang.


Di ruangan remang itu ada ranjang dengan seprei yang kusut, di sana meringkuk tubuh tak berdaya seorang Bernardina yang cantik, mulutnya diikat dengan semacam kain yang dipulin lalu disimpul di belakang kepalanya, kedua tangannya tercekal ke belakang dalam kondisi terikat, dan sepasang betisnya yang mulus seperti porselin itu juga terlilit kuat dengan semacam tali kain yang juga dipulin.


Dia sudah kehabisan tenaga, sedari tadi berteriak, meronta-ronta, dan memberontak, walhasil tubuhnya pun diikat secara kejam demi mendiamkannya, kini yang terdengar hanya suara tangisnya mendayu-dayu teredam kain pengikat di mulut.


Lima orang pria berwatak bengis, tertawa mengelilingi ranjang, nyaris tak berkedip menyaksikan keindahan yang langka ini, mata mereka ****** dan nista, asap-asap rokok mengepul dari mulut-mulut mereka yang berbau miras oplosan.


Sebut saja, dua orang di antaranya adalah David dan Rayhan, sementara tiga orang lagi adalah teman-teman bandit anak tongkrongan mereka di klub malam, mereka ini orang-orang yang terbuang, para begundal yang tak punya tujuan hidup.


"Lu pasti dibunuh Nolan, Vid! Kalau sampai dia tau anaknya lu gini-in," kata Rayhan.


"Bodo amat, gua udah siap dengan segala resiko, termasuk mati pun gue udah gak takut, inilah pembalasan yang setimpal buat kebejatan bandot tua itu." Pria bernama David itu balik menantang.


Wanita di ranjang mengerang agak keras, ketika mendengar mereka membicarakan pria bernama Nolan, yang tak lain adalah ayahnya.


David menyeringai, dia mendekat ke tubuh Dina, dipaksanya wanita itu untuk duduk, lalu tangan kirinya cepat menangkap kepala gadis itu, sementara tangan kanannya bergerak gesit melepaskan kain pengikat mulut.


Maka segala macam makian yang tak pantas, langsung berhamburan dari mulut si gadis ketika dia sudah leluasa berbicara.


"Hahaha, wanita kotor, ngoceh aja sepuasnya, selagi lu gue kasih kesempatan buat ngoceh!" David tertawa cengengesan seperti mengejek.


"Jahanam!" teriak Dina, sebelum dia meludahkan air liurnya, membidik tepat ke mata David. Sontak David langsung terpancing emosinya, sebelah tangan kanannya siap berkiblat mencari sasaran, tetapi Rayhan keburu menahannya hingga pipi gadis itu masih terselamatkan.


"Lu bebas mau ngapain aja Vid, tapi nanti setelah lu selesai dengan tujuan utama lu, tentu lu ga mau kan, main ama cewek yang lecet bedarah-darah, apalagi mau direkam kamera, dia tetep harus keliatan cantik," kata Rayhan.


"Cewek setan, kelakuan lu sama aja kayak bapak lu!" David mendengus gusar, sambil membersihkan matanya yang lengket oleh air ludahan.


"*******, lu punya masalah sih apa ama gua, hah?" Dina membentak, lalu menatap David tajam.


David menyeringai, katanya, "Lu gak tau? Atau pura-pura gak tau! Cewek bernama Samantha yang mati gantung diri sebulan yang lalu, padahal dia karyawan di perusahan bokap lu, masak lu gak tau beritanya?"


Dina yang tak paham maksud pria itu hanya terdiam.


David melanjutkan, "Asal lu tau, cewek yang mati gantung diri dengan perut mengandung itu, kakak gue, dan lu tau gak? Hah! Bayi yang dikandung wanita malang itu adalah hasil perbuatan bokap lu."


"Jangan fitnah lo Anjing!" Dina memaki tak mau terima.


David tertawa, lalu tangan kirinya kembali mencengkram rahang Dina, dan mengatupkannya, agar gadis itu tak terus menerus mengoceh.


"Fitnah kata lu? Hah! Oke nanti lu bisa tanya sendiri di akhirat sama arwah kakak gua, setelah lu gue matiin malam ini, wanita ******." Kemudian dibuangnya wajah gadis itu ke samping.


"Jadi lu ngelakuin ini ke gua, cuma buat ngebalasin dendam lu ke bokap gue, dasar pengecut!" balas Dina.


"Bokap lu yang pengecut, lu gak tau berapa lama kakak gue menderita dijadiin budak **** bokap lu, dia cuma wanita lemah yang dimanfaatin, pas dia hamil bokap lu bukannya tanggung jawab malah nyuruh dia ngegugurin bayi hasil perbuatan terkutuk bokap lu." David berhenti sejenak mengatur pernapasan.


Bernardina mendelik tercengang.


Dengan menyeringai David kembali melanjutkan, "Nolan itu licik, setelah tau kakak gue hamil, dan gak mau disuruh aborsi, dia malah bayar orang buat perkosa kakak gue, dia rekam videonya buat dijadiin tameng, kalau-kalau suatu saat kakak gue ngelaporin dia ke polisi, bokap lu bisa berdalih bahwa bayi itu bukan perbuatan dia dengan video perkosaan itu, Samantha yang malang itu, akhirnya mutusin mengakhiri hidupnya sendiri." Semua penuturan David ini diucapkannya dengan suara bergetar penuh kebencian.


Terlepas semua itu benar atau tidak, Dina benar-benar merasa sangat terpukul, sulit dia mempercayai semua cerita kelam itu, tentang ayahnya yang sangat dicintai dan dihormatinya, tak heran bila matanya kembali menganak sungai.


"Sekarang, biarlah anak gadisnya ini membayar semua dosa-dosanya itu, walaupun ini belum setimpal dengan semua penderitaan Samantha, tapi seenggaknya si tua bangka Nolan bakal tau gimana rasanya kehilangan orang yang paling dia sayang." Tutup David, sebelum dia berdiri dari ranjang, dan Dina benar-benar menangis pilu sejadi-jadinya.

__ADS_1


David bergerak ke meja, mengambil handycam, lalu kembali ke ranjang di mana Bernardina berisak tangis.


"Asal lu tau, gue udah lama banget nunggu kesempatan ini, tapi gue akuin lu ini termasuk cewek yang punya hoki bagus, yah tapi kali ini jangan harap lu bisa lolos kayak kemaren," kata David sambil dia menyalakan handycam lalu mengarahkan lensa kamera di tangannya ter-close up pada Bernardina yang duduk terenyuh di tempat tidur.


"Kalian udah siap guys, kalian aja deh yang main, gue udah kagak nafsu." David memberi aba-aba pada anggotanya.


"Beraktinglah yang bagus anak manis! Soalnya video ini mau gue kirim ke Nolan, biar dia tau gimana binalnya anak betinanya ini, hahaha!" David terkekeh, ketika itu pula tiga orang temannya langsung menanggalkan kaos oblong mereka, sementara Rayhan melepaskan ikatan tali di kaki gadis itu, dan memberi kode satu temannya yang lain untuk bersiap menangkap dan merentangkan kaki gadis itu.


Tapi, kelima orang itu mendadak terdiam, Bernardina yang menangis itu tiba-tiba tertawa, iramanya terdengar mencekam seolah-olah sesosok hantu wanita telah mengambil alih kesadarannya.


"Celaka kalian semua, Hik hik hik, kalian benar-benar tidak termaafkan."


Kelima orang itu tertegun saling berpandangan, dan gadis itu masih terus berkata-kata seperti kerasukan.


"Saat dia tiba di sini, kalian akan dihabisi, Tidak! Tidak! Dia pasti sudah ada di sini, aku merasakan keberadaannya. Huh! Sekarang aku jadi kasihan sama kalian," racau Dina.


"Hah! Ngomong apaan lu? Ngigau lu ya?" David tersenyum sinis, walapun sebenarnya dia bingung.


"My Mysterious Bodyguard!" Ucap Dina sambil tersenyum.


"Bodyguard katanya? Haha!" Tawa David langsung pecah, disambut juga tawa anggota kelompoknya.


"Lu naif Vid, masak lu ga ngerasa heran kenapa gue bisa lolos di hotel malam itu, lu bodoh atau gimana? Malah ngulangin lagi ketololan kayak gini, tanpa nyari tau siapa orang yang nolongin gue malam itu? Tapi, ya gue salut sih atas kedunguan lu," Bernardina mengejek dengan entengnya, dan tawa David mendadak hilang, dia lantas memandang Rayhan yang juga mendadak senewen.


"Persetanlah, lu cuma hoki karena ada orang iseng yang ngegangguin rencana kita malam itu, paling juga kerjaan officeboy hotel yang sok-sokan jadi pahlawan?"


"Hahaha ... So stupid, kalo kejadiannya emang kayak gitu, tentu lu udah masuk penjara sekarang, dan gue gak perlu repot-repot nanyain ke lu soal siapa yang nganterin gue ke polisi malam itu! Nah di sinilah letak kebodohan lu yang emang ga ada obatnya."


"Terus apa sekarang? Apa lu mau bilang kalau lu punya pengawal ghaib dari golongan makhluk halus gitu? Jin, Dedemit, Genderuwo apalah itu, Bullshitlah! Mana coba? sekarang gue nanya, mana jin pengawal lu itu?"


"Behind you!" Gumam Dina menyeringai, tiba-tiba udara menjadi terasa dingin.


Kelima orang itu, menengok secara bersamaan ke punggung mereka masing-masing, maka kelengahan mereka itu adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan oleh Bernardina, kakinya yang sudah terlepas itu memberi tenaga lonjakan yang cukup baginya, dia melenting dari tempat tidur, menubruk Rayhan yang tak awas di pinggiran tempat tidur, hingga pria itu terkapar di lantai.


Tetapi balkon hanyalah sekedar balkon yang tak lebih dari sekedar jalan semu yang buntu, pada akhirnya Dina tetap terkepung, tubuhnya benar-benar tersudutkan pada pembatas railing baja pemagar balkon yang berulir bunga-bunga mawar.


"Hahaha! Cewek *****, mau kemana lu? Jangan pikir lu bisa kabur?" David tertawa bercampur geram, dia lantas mendekat, disusul juga keempat temannya yang kini berjalan perlahan di belakangnya.


"*******! Tapi tipuan lu tadi boleh juga," puji Rayhan cengengesan, sambil dia mengelusi dadanya yang sakit tertubruk Dina tadi.


Terdesak begitu, wajah Dina memutih pias, otaknya buntu tak bisa memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang, sesekali dia menengok ke bawah, bukan main tingginya balkon itu, setidaknya enam meter mungkin lebih, nekat melompat ke bawah sana, mungkin tidak akan membuat mati di tempat, tetapi patah tulang atau cedera engkel kaki sudah pasti. Nyali gadis itu langsung runtuh membayangkan akibatnya.


Dina yang sekarat dalam kebingungannya, kian tertekan, sementara kelima bedebah itu terus memangkas jarak, bahkan kini hanya terpaut kurang dari tiga meter saja dengannya, nafasnya mendadak menderu cepat, keringat dingin tak berhenti terbit di dahinya.


David memberi aba-aba agar rekannya segera meringkusnya, di saat-saat krusial itulah, entah kesambet setan apa, Dina menjadi gelap pikirannya, merasa tak ada pilihan lagi baginya, daripada harus digagahi kelima manusia tak berbudi pekerti ini, lebih baik mati mempertahankan kehormatan.


Betapa kagetnya David dan ke empat temannya, melihat kenekatan gadis itu, sesaat mereka ingin mencegah tetapi sudah terlambat, karena dengan tenaga penuh Dina telah melonjakkan kedua kakinya, mengakibatkan punggungnya terbuang condong melewati pagar railing balkon, keseimbangannya langsung hilang, dan ketika itu juga hukum gravitasi Newton segera bekerja merenggut tubuhnya meluncur ke bawah.


Dina memejamkan matanya, kelajuan gaya tarik bumi itu benar-benar membuat nafasnya terhenti seketika itu juga, nyawanya seperti tercerabut dengan paksa, menukik dengan kecepatan penuh, yang terasa hanya desiran angin mengibarkan rambut-rambutnya.


Dengan posisi jatuh yang tidak aerodinamic itu, jelas kepalanya akan lebih dulu menghantam batu marmer alas teras di bawah, semua sudah terlambat kini, tak ada lagi harapan, dunia menjadi gelap, Dina tak bisa merasakan apa-apa lagi selain dinginnya alam kematian.


Tiba-tiba, dari belahan dunia yang jauh di sana, dari kota Hogsburn yang damai dan tentram, dari salah satu titik kecil di peta dunia, yang tak lain adalah Istana Northingham, ada sesuatu yang berkelebat, melesat dengan kecepatan cahaya, melintasi jarak ratusan kilometer hanya dalam waktu kurang dari sedetik saja.


Pluk! Begitulah suara lembut punggung Dina ketika menimpa sesuatu yang entah apa, tiba-tiba sudah menyambut punggungnya di bawah sana.


Sesaat, Bernardina merasakan dirinya mungkin telah berada di surga, bau harum aroma parfum yang memabukkan dan nyamannya tempat jatuhnya ini, membuatnya terlena beberapa detik.


Gadis yang sesaat tadi telah menyerahkan hidupnya pada Al Maut itu, kini mencoba membuka matanya perlahan, dan ia mendapati seorang pria tampan telah menggendongnya layaknya pengantin wanita dalam pose bridal style, pria itu sedang tersenyum manis padanya.

__ADS_1


"Oh my princess, maaf aku datang terlambat," bisik pria itu, terdengar lembut seperti mantra-mantra pelet yang memabukkan.


Segala macam rasa bercampur seperti diaduk-aduk dalam dadanya, senang, bahagia, dan mungkin juga kesal, seandainya saja tangannya tidak dalam posisi terikat ke belakang, pastilah sudah dipukul-pukulnya dada pria ini, pukulan manja kasih sayang.


Ia mengerang keogo-ogoan, seolah-oleh minta diturunkan, dan kepalanya mendongak-dongak, seperti ikan piranha bergigi silet yang tak sabaran ingin menyambar mangsa, dia geregetan ingin menggigit ke wajah pria yang membuatnya kesal ini, gemes karena keterlambatannya, tetapi pria itu malah tertawa geli, bahkan dia sama sekali tak berniat menurunkan gadis cantik itu dari gendongannya.


"Kau pasti marah sekali, tapi nanti saja deh marahnya, setelah aku membereskan orang-orang itu."


Pria itu membujuk, lalu menengok ke atas balkon, di sana David dan keempat temannya telah berdiri di sisi pagar railing, mereka tertunduk terkesima dan benar-benar tak percaya setengah mati, menyaksikan semua di bawah sana, pria yang menggendong Bernardina itu tersenyum mengundang agar mereka turun ke bawah dan menyelesaikan semua ini secara jantan.


Mereka terpancing geram, segera kelimanya memutar arah, kembali ke dalam ruangan, berlarian hingga terdengar langkah-langkah kaki mereka berebutan menyusuri anak tangga, menyerbu ke tempat pria pengacau itu, yang sudah menunggu mereka di bawah sana.


Pria pengacau yang dimaksud ini tentu tak lain dan tak bukan adalah Jocelin Albert, dia segera menurunkan Bernardina yang cemberut dan masih tak mau buka suara, lalu melepaskan ikatan tangannya, maka benar saja kan, gadis itu langsung berbalik memukul-mukul dada Jocelin, melampiaskan semua kekesalannya.


Jocelin tak bisa berbuat apa-apa, selain ikhlas saja menerima semua jab-jab beruntun itu, lagipula tak masalah juga, karena memang tak berasa apa-apa baginya.


Tap! Tap! Jocelin gesit menangkap kedua tangan Bernardina, lama-lama dia tak tega juga melihat gadis itu menyakiti tangannya sendiri, diamankanya tangan gadis itu, malah dengan cerdiknya Jocelin membuat tangan gadis itu kini justru tertarik melingkari pinggangnya, hingga ya, jadinya mereka saling memeluk.


"I hate you!" Gadis itu berteriak dengan nada merajuk, dia mendengus sebal lalu membuang pandangannya, tetapi kepalanya itu masih tetap nyaman saja bersandar di dada Jocelin, pria itu cuma tertawa, lalu menarik diri agak menjauh, dan pelukan mereka benar-benar terpisah.


"Kamu tidak suka kekerasan kan?" tanya Jocelin, Dina yang tak paham hanya melongo, dilihatnya pria itu justru mengambil sesuatu di balik jasnya, sebuah ponsel, dan langsung menancapkan headset.


Brakkk!


Seketika itu juga terdengar suara mengagetkan yang membuat Dina harus menengok sebentar ke belakang, pintu vila yang tak bersalah itu rupanya telah dibenyeng ke dalam, hingga membentur dinding, rupanya kelima sosok calon pemerkosa tadi telah sampai di bawah, mereka telah membawa bermacam-macam pusaka sakti mandraguna andalan anak esemka, samurai stainless murahan, pentungan besbol, ikat pinggang, raket nyamuk dan golok tumpul abah penjaga vila yang berkarat.


"Jo!" Dina mendesis khawatir.


Sebenarnya, Dina bukan khawatir pada dirinya atau Jocelin, tetapi justru khawatir pada nasib kelima orang brandalan itu yang sebentar lagi akan dipites menjadi perkedel.


"Tenang, aku tidak akan berbuat kejam seperti yang kaubayangkan itu, paling cuma bermain-main sebentar, yah mungkin memakai sedikit kekerasan, yang pasti kau tidak akan suka, jadi jangan lihat ke belakang, oke!" kata Jocelin.


Dina mengangguk patuh, lalu dia mencoba tersenyum menghibur diri, saat Jocelin memasangkan sepasang pentul headset pada telinganya, dan irama musik pun mengalun indah, Dina memejamkan matanya dan tak ada lagi yang bisa dilihat dan didengarnya selain hentakan musik menguasai indranya, sebelum Jocelin bergerak melewatinya, menyambut serbuan kolosal pasukan Pandawa Lima itu, ah tetapi lebih cocok disebut Kurawa sih, karena mereka hanya memiliki hawa nafsu perusak.


Belum juga kelar reffrain pertama dari lagu hip-hop itu, Jocelin sudah kembali lagi ke sisinya, tanpa lecet sedikitpun bahkan kini telah membawa sebuah handycam yang tadi sempat merekam beberapa peristiwa penting, Dina membuka matanya saat Jocelin mencabut headset di telinganya, gadis itu tersenyum senang.


Seumpama seorang gadis menyambut kekasihnya yang kembali dari medan perang, kini dia pulang membawa kemenangan, bisa kita bayangkan betapa indahnya roman senyum seorang gadis yang demikian itu, membuat Jocelin tak tahan untuk memujinya.


"You are so beautiful!" Katanya, langsung merona saja pipi Bernardina, tetapi Jocelin belumlah selesai, dia masih melanjutkan maksud sebenarnya dari pujian itu, diutarakannya dengan nyaris berbisik.


"Can I kiss you?"


Mendadak, Bernardina yang sangat terkejut dan belum siap, secara reflek segera memalangkan telapak tangannya menutup mulutnya, Jocelin tertawa merasa lucu, tetapi pria itu tentu tak akan menyerah semudah itu, disentaknya pinggang gadis itu, agar lebih merapat.


Seolah tak peduli pada punggung telapak tangan Dina yang menghalang itu, perlahan demi perlahan Jocelin tetap konsisten mencicil jarak wajah, semakin mendekat pada sasaran, mungkin Jocelin sudah ikhlas jika tak mendapatkan apa-apa, selain mencium punggung tangan saja, nyaris berakhir sia-sia, namun secara tiba-tiba Bernardina menyingkirkan tangannya sendiri, menyambut segala kesukarelaan.


Maka, bibirnya yang telah merekah terbuka itu langsung disergap begitu saja oleh Jocelin, melahapnya penuh gairah, membuat gadis itu terpaksa memejamkan matanya.


Semua mendadak hening, waktu pun seolah berhenti, tak ada apa-apa lagi, hanya ada rembulan yang mengintai di lubang awan, mengintip kepada sepasang insan yang telah berpagut bibir.


Saking dahsyatnya, mereka berdua hampir lupa cara bernafas, seolah tak ada yang mau mengalah, bibir mereka berkelahi saling tarik menarik satu sama lain, lupa diri bahwa tinggi badan mereka berbeda, itu membuat si gadis terpaksa menjinjitkan kakinya agar bibir mereka tak berpisah.


Untungnya, suara sirine mobil polisi India yang datang selalu terlambat ke TKP, menyentak mereka untuk segera menyudahi frenchkiss super lengket itu, kehadiran polisi itu ada bagusnya juga, setidaknya mencegah mereka berbuat lebih jauh dari sekedar berciuman, kini mereka terengah-engah, menatap saling tersipu, lalu berpelukan demi mendinginkan suasana, untuk yang ke sejuta kalinya.


Sebelum akhirnya mereka benar-benar harus berpisah badan menjaga jarak sopan, ketika polisi-polisi mulai ramai membereskan sisa-sisa pertarungan, tubuh kelima aktor figuran itu, secara naas kondisinya sangat mengenaskan.


Ada yang nyungsang di semak penuh semut api, ada juga yang tersangkut di pohon Kersem, ada Rayhan yang tepar di kolam keruh penuh ikan koi, dan dari ke semuanya itu kelihatannya David lah yang paling menyedihkan, dia terikat bergelung pada pohon kelapa gading, kondisinya hampir persis seperti Bernardina yang terikat di kamar tadi.


Seorang perwira polisi India menghampiri mereka, memberi hormat lalu berbincang sebentar, tapi polisi itu tentu tak akan bisa marah pada perbutan Jocelin yang main hakim sendiri, dan mereka hadir di sini juga karena laporan dari Jocelin itu sendiri.

__ADS_1


Mereka tau Jocelin membawa lencana Calamity Seven, pasukan elit dunia yang punya mandat khusus, termasuk dihalalkan juga menghilangkan nyawa penjahat. Menutup penggerebekan itu, Jocelin menyerahkan handycam yang tadi dia ambil di lantai atas sebagai barang bukti, sebelum mereka pun pamit berlalu.


***


__ADS_2