Foton Hundred Percent

Foton Hundred Percent
14.Geranium


__ADS_3

Paradigma adalah angin, selalu mempengaruhi sudut pandang, sementara sudut pandang tidaklah ajeg, seperti kincir angin berporos fleksibel, agar baling-baling senantiasa berputar, maka poros harus terus bergerak menyesuaikan arah angin.


Paradigma adalah jalan, selalu mempengaruhi tuas putar kaki-kaki roda, kemanapun jalan berkelok, ke sanalah steering wheel dipelintir, secara maknawi ia koheren pada laku-lampah anak cucu Adam.


Seperti itulah teorema non literatural yang (tidak) termaktub dalam Suluk Jawi manapun, tetapi cukuplah menjadi transisi yang rectovers tentang bagaimana Bernardina yang hari kemarin adalah tenaman perdu Memosa Pudica, cenderung koleris dan menutup diri, maka hari ini dia adalah sekuntum Geranium yang semarak, namun teduh lagi mendamaikan, plegmatis. Maka paradigma adalah hari kemarin.


Gadis itu tak juga menemukan titik jenuh, selalu ingin mencuri-curi pandang seperti ingin membuktikan sesuatu, atau bisa jadi hanya sekedar mengekstraksi nilai-nilai persona yang terpancar begitu cemerlang pada sosok Jo di sisinya, ia mengamati seperti seorang kritikus lukisan mencoba menemukan segurat cela pada sapuan kuas surealis.


Jo bukannya tak tau, meski matanya memandang lurus horisontal, tetapi sesekali ia juga menoleh untuk sekedar menangkap basah, maka serta-merta Dina akan berpaling secara diagonal. Kondisi itu berlangsung cukup lama dan berulang-ulang, tak ada satupun diantara mereka, ada yang memulai pembicaraan, maka Dina yang sudah merasa cukup, untuk semua pengamatannya, memilih untuk berinisiatif.


"Jo! Aku mau cerita!" kata Dina, pria itu menengok sedikit.


"Tau gak? Kalau ingatanku soal wangi parfum sangatlah kuat!" pancing Dina, kali ini Jo menengok agak lama, sepertinya dia tertarik.


"Sambil dengerin aku cerita, tetap fokus nyetir ya!" Dina mendorong wajah Jo dengan telapak tangannya, agar pria itu kembali memandang lurus ke depan. Jo menyengir.


"Malam itu aku masih ingat, karena sudah hampir tengah malam, jalanan sudah sangat sepi, mobilku berjalan beriringan dengan mobil pengawalku yang tiba-tiba menyalip dengan paksa ke depan, dan ketika itu pula tiba-tiba ada sesuatu yang turun sangat cepat seperti kilat dari langit yang gelap, kami secara beruntun mengerem mendadak sampai mobil tergelincir ke tepi jalan, dan sialnya sebelah ban mobilku terperosok ke parit.


"Ia diam, masih di tengah jalan, maksudku sesuatu yang melompat dari langit itu ternyata adalah seorang manusia, lebih tepatnya, pria berstelan serba hitam, dasi hitam, kemeja dalam hitam, sarung tangan hitam, dan yang paling menyeramkan adalah topeng Penguin yang menutupi wajahnya.


"Ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya semula, lalu seorang pengawalku yang badannya paling besar keluar dari mobil, menghampirinya sambil memaki-maki, tetapi aku terkejut ketika mereka telah saling berhadapan, orang misterius itu dengan entengnya mengcengkram leher pengawalku itu, lalu tubuhnya diangkat dengan sebelah tangan saja, cekikan pada leher itu menggantung tubuhnya di udara, hanya kakinya terayun-ayun menyepak-nyepak mencoba melepaskan diri.


"Pengawal-pengawalku yang lain segera berhamburan keluar dari mobil untuk menyelamatkan temannya itu, mereka menodongkan senjata api, tetapi temannya yang sial itu dilemparkan begitu saja ke arah mereka seperti bangkai kucing, dia sudah mati kehabisan nafas.


"Mereka pun menembakinya membabi buta, tapi aku dapat melihat bahwa peluru-peluru itu terpental-pental saat bersentuhan dengan tubuhnya, apakah dia menggunakan rompi anti peluru atau semacamnya aku tidak mengerti, yang jelas dia cuek saja berjalan maju mendekat ke arah pengawalku yang terus menembakinya sambil perlahan mundur menjaga jarak.


"Akhirnya mereka pun kehabisan amunisi, tak ada pilihan lain, mereka memutuskan untuk berkelahi dalam jarak dekat dengan tangan kosong. Ya kau taulah, kalau peluru saja tidak mempan apalagi cuma tangan kosong, sia-sia, yang ada hanya jerit pilu kematian dari pertarungan tak masuk akal itu, mereka tersungkur satu persatu dengan leher yang dipatahkan.


"Semuanya sudah mati, yang tersisa hanyalah aku yang sangat ketakutan, ketika kulihat dia sudah berjalan ke arah mobilku, aku mencoba setengah mati mengeluarkan mobilku yang masih terjebak di parit, tapi ban mobilku malah amblas semakin dalam, semua percuma, karena panik, aku menerjang pintu, dan berlari keluar, tapi dia sudah terlalu dekat, dan dengan mudahnya menangkap tanganku, lalu tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.


"Dia memelukku sangat kuat, aku mencoba meronta tapi sepertinya percuma, semua usahaku seperti tak ada artinya, tak ada yang bisa kulakukan selain menangis sejadi-jadinya, tapi dia tak melakukan apa-apa selain memelukku, aku semakin melemah, kepalaku terasa sangat berat, dan akhirnya aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.


"Ketika aku terbangun, aku menemukan tubuhku terbaring di kursi mobilku, tanpa kurang satu apapun, ban mobilku yang terperosok pun sudah diangkat dari parit entah oleh siapa, tetapi kulihat polisi sudah ramai di sana.


"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia tidak membunuhku saat itu, malah besoknya hasil penelusuran polisi membuatku semakin bingung, ternyata pihak promotor yang menyewakan jasa pengawal pribadi itu, tak mau mengakui bahwa pengawal-pengawal yang mati itu adalah orang-orang mereka, atau singkatnya mereka itu pengawal palsu, dari situlah aku mulai menyadari sesuatu, bahwa mungkinkah malam itu sebenarnya si topeng Penguin yang misterius itu justru sedang menyelamatkanku dari niat tak baik pengawal-pengawal palsu itu?"


Dina menengok pada Jo yang rupanya juga menengok pada Dina secara kompak, tapi pria itu masih seperti biasa, tak mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"Aku memang tak tahu seperti apa wajah di balik topeng Penguin itu, tapi aku masih mengingat aroma parfumnya yang khas saat memelukku waktu itu. Aroma parfum itu adalah aroma yang sama dengan orang yang membawaku ke kantor polisi saat mabuk malam sebelum kemarin, aku bisa merasakannya walau secara samar di bawah pengaruh alkohol, itu kenapa aku tak percaya saat David mengatakan bahwa Rayhanlah yang membawaku.


"Dan aku sangat terkejut, ketika paginya ada seorang pria yang mengajukan dirinya ingin menjadi pengawal pribadiku, padahal orang ini, baru saja menyerang tempat tinggalku di malam harinya, seorang diri melumpuhkan puluhan penjaga di rumahku, itu rasanya tak masuk akal bukan? Tentulah yang paling membuatku terkejut adalah aroma parfum orang ini.


"Maksudku, aku pernah melihat orang yang punya kemampuan tak masuk akal sama seperti itu, dengan aroma parfum yang juga sama persis. Ya, orang bertopeng penguin itu maksudku, tentulah pikiranku langsung mengarah ke sana, parfum yang sama, dan kemampuan tak masuk akal yang sama, maka kalau aku tak salah menebak ...."


Dina tak melanjutkan kalimatnya, dia melapaskan seatbeltnya, agar lebih leluasa merapatkan wajahnya pada Jo, ia mengendus-endus seperti anjing pelacak membaui tanah, terlihat lucu sebenarnya, lalu dia tersenyum.


"Di mana kau membeli parfum ini? Aku suka!" pujinya.


Jo menoleh padanya, ia tau lawan bicaranya itu tengah menyudutkannya, tetapi Jo masih tetap tenang, bahkan wajahnya terlihat datar saja, baginya pertanyaan soal parfum itu bukan sesuatu yang perlu dijawab.


"Aku mendengar bahwa pria-pria dari keluarga terhormat cenderung fanatik pada satu jenis parfum kesukaan mereka, seperti melekat pada keseharian mereka, membentuk indentitas mereka yang unik, bukan begitu Mister Jocelin?" Tembak Dina, tepat pada sisi wajah Jo, lalu dengan manjanya gadis itu menumpukan dagunya pada bahu pria itu.


Mendadak setir diputar ke kiri, dan rem diinjak keras hingga berdecit, gaya tolak akibat penghentian laju mobil secara kasar itu membuat Dina terpaksa memeluk erat lengan Jo, jika tidak pastilah dia sudah terpelanting menghantam dashboard.


Di tepi jalan, mobil itu berhenti seketika itu juga, tak ada yang bergerak, mereka saling berdiam, Jo menoleh ke sisinya, didapatinya Dina masih ngendon menumpukan kepalanya pada bahu, sementara tangannya samakin mengait erat, bisa dibilang gadis itu telah hampir menyeberang dari kursinya sendiri, atau secara faktual nyaris bercampur duduk dengan jok setir yang ditempati Jo, jika saja kaki gadis itu tak terhalang console box yang menyekat di tengah itu, niscaya mereka itu benar-benar sudah membaur bersekursi di areal kemudi yang sempit itu. Kasihan Jo, posisinya benar-benar sudah terpepet mentok ke pintu mobil, ampun deh.


"Oh come on! Kenapa kau jadi canggung begini? Padahal kau sudah pernah memelukku lebih dari ini, dan bukan tak mungkin kau juga sudah berbuat yang tidak-tidak waktu aku pingsan," goda Dina.


"Kau mau membunuhku? Kenapa? Oh, jangan-jangan kau marah karena malam itu aku tak sengaja pipis mengenai sepatumu?"


"Benarkah? Aku bahkan tak menyadarinya!"Jo tersenyum.


"Salahmu sendiri, membuatku ketakukan."


"Ya sudahlah jangan dibahas lagi."


Dina mengangguk setuju dengan gaya kolokan.


"Nah, kalau begitu geserlah sedikit, aku tidak bisa menyetir dengan kondisi seperti ini."


"Kalau aku tidak mau gimana?"


"Itu artinya kita akan terus diam begini, coba perhatikan orang-orang melihat kita dengan curiga di sini, pastilah mereka mengira kita sedang berbuat tak senonoh."


"Biarin!"

__ADS_1


"Ayolah, kalau begini terus, kau akan telat sampai di kampus."


"Gak mau ah!"


"Terus maunya apa?"Jo sudah seperti kehabisan akal membujuknya.


"Jawab dulu pertanyaanku, di mana kau membeli parfum ini?"


"Oh ini, sebenarnya aku tidak membelinya, itu wajar kalau kau belum pernah menemukan aroma parfum seperti ini, tentu juga kau tidak akan menemukannya di toko manapun, karena parfum ini, Briana yang meraciknya khusus untukku?"


"Briana? Siapa Briana?" Suara Dina agak meninggi.


"Temanku, dia salah seorang ahli kimia paling jenius yang ada di dunia ini, dia sama sepertimu punya penciuman yang sangat sensitif, dia bahkan hafal 5000an macam bahan wewangian."


"Oh!!" timpal Dina.


"Kenapa cemberut?"


"Wajahmu terlihat menyebalkan ketika memuji wanita bernama Briana itu, i dont like that," gadis itu membuang muka.


"Yang penting kan pertanyaanmu sudah terjawab" kata Jo sedikit tersenyum.


"Masih belum!"


"Apalagi?"


"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu, waktu aku mabuk, di mana kau menemukanku?"


Jo menghela nafas pelan, lalu membuang pandangan jauh ke ruas jalanan.


"Kau benar-benar ingin tau?"Jo memastikan, Dina mengangguk.


"Baiklah, tapi sekarang biarkan aku jalan dulu."


Dengan berat hati, Dina pun melepaskan kungkungannya, dengan tak bergairah ia beringsut ke tempat duduknya semula, dan mengikhlaskan saja ketika Jo sudah me-nonaktifkan rem tangan, maka perlahan mobil itu kembali bergerak, meninggalkan ketiadaan.


***

__ADS_1


__ADS_2