
Gadis muda itu memandang dengan tatapan yang berpendar pada lelaki yang duduk di sampingnya. Ayahnya, Nolan. Di sisi lain, di sudut kaki tempat tidurnya, ada Ramon yang berdiri dengan kepala tertunduk digelayuti perasaan bersalah.
"Maafkan Dina! Daddy!" katanya, "ini semua salah Dina!"
Nolan menghela nafasnya dengan berat, dia melirik kepada Ramon pelayan setianya itu, ada rasa jengkel dan marah luar biasa, kalaulah bukan karena Ramon itu telah lama bekerja untuknya, sudah barang tentu ditendangnya pelayan itu. Bagaimana bisa, orang kepercayaannya itu, secara diam-diam telah bersekongkol dengan putrinya, lalu membiarkan putrinya lepas dari kurungan kamarnya, berkeliaran di luar dan bersenang-senang dengan teman-temannya di klub malam, sampai teler.
Beruntunglah, karena memang tidak terjadi hal buruk apapun kepada anak perempuannya itu, rasa lega melihat putrinya itu telah kembali, itulah yang sedikit membuat Nolan bisa melupakan amarahnya kepada Ramon, pelayannya itu.
"Daddy juga minta maaf, sebenarnya Daddy tidak bermaksud mengekang kebebasanmu, semua ini demi kebaikanmu, tolong mengerti situasi kita saat ini," terang Nolan.
Gadis itu terdiam, merenung penuh sesal dan matanya menatap dengan rasa berdosa pada ayahnya.
"Daddy paham, kamu pasti sangat tertekan dan frustrasi saat ini. Bersabarlah, sampai kepolisian kita bisa menangkap pelaku teror ini, selama itu daddy merasa perlu mengawasimu, walau mungkin caranya memang salah," kesah Nolan, meski iba namun pria ini tak pernah kehilangan sifat tegasnya sedikitpun.
"Sekarang kamu istahat ya!" Nolan mencium kening putrinya itu, dan ia bangkit ingin segera pergi, tapi Dina keburu menangkap tangannya.
"Dad!" panggilnya.
"Ya!"
"Aku cuma ingin tau! Kenapa para polisi itu yang mengantarku pulang? Di mana mereka menemukanku? Terakhir kali yang kuingat, aku sedang bersama David, tadinya dialah yang berniat mengantarku pulang."
"David? David pacarmu?"
"Ya! Aku ingin tau dimana David?" kejar Dina.
"Entahlah, Daddy tidak tau soal itu, polisi itu cuma bilang seseorang telah membawamu ke kantor mereka, meminta tolong supaya kamu diantar pulang."
"Seseorang?" ulang Dina penasaran.
"Yah, mungkin David tak punya keberanian mengantarmu langsung, jadi dia meminta bantuan polisi itu. Sudah! Jangan terlalu dipikirkan, sekarang yang penting kamu harus istirahat."
Dina memanyunkan bibirnya, dia tak puas dengan jawaban itu, sementara ayahnya sudah berlalu meninggalkannya.
Tinggal dia sendiri, mencoba mengingat-ingat apa saja yang bisa diingatnya, terutama David, dia khawatir pada pria itu, ingin sekali dia menelpon pria itu untuk menanyakan keadaannya. Sayang, karena dia tak bisa melakukannya, saat ini semua penggunaan sambungan seluler tidak diijinkan di rumah itu.
***
Nolan kembali ke ruangan bacanya dan menghempaskan tubuhnya dalam empuknya sofa favoritnya, mencoba mencerna peristiwa, waktu mulai beranjak ke subuh, semua terasa sangat tenang.
Di bawah, masih ada beberapa orang personil polisi yang membantu berjaga, sementara para penjaga rumah yang memang cuma sekedar pingsan itu sebagian telah sadar, tidak ada yang menderita luka serius.
Nolan mengambil selembar kertas yang tergeletak di mejanya, surat lamaran kerja misterius itu, ia membacanya lagi mencari sesuatu, sederet angka yang tentu saja merupakan nomor kontak si pelamar, itulah yang dibutuhkannya, perlahan ia memejamkan mata, dan rasa lelah telah merenggutnya ke alam tidur di sofa itu.
***
__ADS_1
April 6, 2017.
Besok paginya, setelah menyelesaikan sarapan pagi, Nolan kembali ke ruangannya dan memanggil Ramon, pelayan itu dengan cepat pula telah hadir di sana.
"Bagaimana? Sudah kaucoba hubungi dia?" tanya Nolan.
"Ya Tuan! Dia bersedia, Jam sembilan pagi ini, harusnya sebentar lagi dia datang." Ramon melirik jam tangannya memastikan.
"Kalau dia datang, suruh langsung menemuiku."
Benar saja, tak lama kemudian sebuah sedan hitam tiba di pelataran parkir mansion itu, seorang pria berstelan rapi turun dari mobil, dan langsung disambut oleh Ramon. Dibawanya pria itu menghadap majikannya yang sudah menunggu dengan tak sabar. Di ruang bacanya Nolan menyambut dengan senyuman hangat, Ramon pun agak terheran dibuatnya, karena ia sudah cukup lama tak melihat Tuan besarnya itu tersenyum seramah itu.
Nolan mempersilahkan tamunya itu duduk, tapi pria itu menolaknya, katanya ia lebih nyaman berdiri saja, berdalih bahwa ia merasa segan untuk duduk bersejajar dengan Nolan. Lantas, tak mau terlalu ambil pusing dengan keengganan tamunya itu untuk duduk, Nolan menawarinya sesuatu yang lain. Katanya, "Mau minum apa?"
"Ah, sebenarnya saya tidak ingin merepotkan siapapun, Tuan!"
"Ayolah! Tidak baik menampik tuan rumah dua kali, setidaknya segelas kopi tak ada salahnya. Ya kan! Kau suka kopi tentunya? Ya, aku yakin kau ini pasti seorang peminum kopi." Nolan melirik Ramon, kepala pelayan itu paham dan segera berlalu.
"Jadi, bagaimana dengan lamaran kerja saya? Anda sudah memutuskannya?" tembak pria itu dengan lugas dan suara lantang, bahkan Ramon yang belum juga melewati garis pintu, dibuat menoleh.
Nolan langsung terkekeh, "Haha! Kau ini, benar-benar tak bisa basa-basi ya, kau bahkan belum memperkenalkan dirimu."
"Apa itu perlu?"
"Tidak juga! Toh aku sudah tau siapa dirimu."
"Oke! Jadi begini ya, aku sama sekali tidak meragukan kemampuanmu, tapi rasanya tak adil kalau aku mengambil keputusan ini secara sepihak, karena ini semua, nantinya akan berhubungan langsung dengan putriku sendiri, karena balik lagi, dialah yang akan menjalani ini semua. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku tidak yakin dia masih mau berurusan dengan sistem private bodyguard ini," papar Nolan, lalu memandang pria asing itu dengan masygul.
"Kau mungkin perlu mengambil hatinya sendiri," lanjut nolan sambil tersenyum, saat ada seorang gadis masih dengan mengenakan piyama tidurnya, menerobos masuk ke ruangan itu, diiringi Ramon, dan seorang pelayan lagi yang membawa talam pengalas kopi, lalu menaruhnya di meja, tak berlama-lama, Ramon dan pelayan pengantar kopi itu pergi lagi.
Suasana langsung berubah meriah dengan kehadiran gadis itu, ia datang membawa rengekan manjanya pada sang ayah.
"Daddy! Please! Sebentar aja! Aku butuh Handphone-ku! Aku mau telpon David, boleh ya? Ayolah!"
Dia tak sungkan bersimpuh di kaki ayahnya dan mengguncangnya, tak ubahnya seperti pohon Jambu berbuah lebat, gadis itu tak peduli sedikitpun pada orang ketiga yang menonton drama kecil keluarga itu, dengan semua tingkah kekanakannya itu yang terlihat sangat menggemaskan, barangkali.
"Ya Tuhan! Dina! Kamu ini pagi-pagi sudah ribut Handphone, nanti dulu deh, Daddy mau kenalin kamu sama ...." Nolan tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena gadis itu keburu menoleh sendiri pada orang yang dimaksud sang ayah, seorang pria yang sedari tadi, memang sengaja tak diacuhkan. Lalu, mereka pun saling bertukar pandang, sejenak.
"Again! No! Daddy kumohon! Aku merasa ini sudah cukup."
Dina bangkit dari kaki ayahnya dengan merajuk, entah kenapa pikirannya mendadak kacau dan berantakan, lalu dia mencecar, "Kenapa Daddy tega melakukan ini lagi? Daddy gak kapok? Aku udah gak mau lagi berurusan dengan orang-orang seperti mereka."
Dengan urat mukanya yang menegang karena marah, dia mendekat pada pria asing itu.
"Kamu boleh pergi, aku tidak butuh pengawal," ucapnya sadis.
__ADS_1
Diusir begitu, si pria cuma membalasnya dengan segaris senyum tipis, agak bernuansa sinis juga, karena dia tau, itu hanyalah gertakan sambal.
Dalam posisi berhadap-hadapan itu, terjadi sesuatu yang mengherankan, di luar dugaan gadis itu mendadak seperti dihipnotis, aura misterius pria itu seperti pernah dikenalnya, membuat bathinnya terasa diaduk-aduk, kini secara mengesankan pula pria itu telah menyodorkan sesuatu yang sangat menggiurkan padanya.
Dina makin terbungkam, sulit baginya untuk percaya, maka dia memberanikan diri menatap mata pria itu, sekali lagi untuk memastikan, demi menghilangkan tanda tanya besar yang meng-hologram di kepalanya, namun entah mengapa dia tak berani mengulik jawaban dari mata pria itu terlalu lama, perasaannya makin bergejolak, terlebih lagi melihat apa yang disodorkan pria ini, keteguhan hatinya benar-benar diuji.
"Pakai ini saja, ini aman kok, anti sadap," tambah pria itu, meyakinkan.
Tak mau berpikir lebih lama lagi, Dina segera menyambar ponsel itu secepat kilat, berlari meninggalkan ruangan, bahkan parahnya, tak sempat mengucapkan kata terima kasih.
Sepeninggal Dina, ruangan itu kembali tenang.
"Saya rasa Tuan! Saya perlu duduk sebentar?"
"Ya, silahkan."
Pria itu tersenyum sebelum merehatkan tubuhnya di sofa, lalu menggapai secangkir kopi yang telah tersuguh di meja, kemudian ia menyeruputnya dengan tenang dan sopan.
"Putri anda itu, benar-benar gadis yang menarik," selorohnya setelah menaruh kembali cangkir ke meja.
"Justru bagiku, kaulah yang menarik!" balas Nolan.
"Lebih tepatnya anda ingin mengatakan saya ini orang yang tidak konsinten, bukan?"
Nolan terpingkal. "Justru, bagiku kau ini orang yang sangat mengerti situasi."
"Well, apapun pendapat Anda, tidak akan berpengaruh apa-apa lagi, karena itu pula saya memutuskan untuk merubah sikap, lalu duduk di sini."
"Wah! Jangan bilang kau menyerah begitu saja, hanya karena gertakan kecil gadis nakal itu. Ayolah! Aku sangat berharap padamu," kesah Nolan, lantas membuang muka, kecewa.
"Saya rasa, sekarang ini, memang tidak ada lagi yang bisa saya lakukan di sini. Nah, Tuan, terima kasih untuk waktu Anda, dan juga secangkir kopi lezat ini," katanya sebelum ia bangkit dari kursinya, lalu membungkuk hormat.
"Saya permisi!"
"Tunggu!" cegah Nolan.
Pria yang telah pamit membalikkan badan itu, terpaksa menahan langkah.
"Aku bahkan belum sempat berterimakasih."
"Untuk apa?" tanyanya, tanpa menengok.
"Orang yang semalam mengantarkan putriku ke polisi itu, pasti kau, ya kan?"
Pria itu hanya menolehkan separuh wajahnya, memamerkan segurat senyum tipis, namun dia tak menjawab apa-apa, lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Hei, Dina belum mengembalikan ponselmu!" teriak Nolan, membuat pria itu mengurungkan langkahnya, sekali lagi.
"Tidak perlu dipikirkan Tuan, nomor telepon saya masih sama seperti yang tertulis di surat itu, jika Anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan," pungkasnya, sebelum kali ini dia benar-benar berlalu.