
September 03, 1999
Dua tahun berlalu, kini dia telah berumur tujuh tahun, dia tetap tinggal di pulau itu sendirian, jika tak ada yang bisa dikerjakannya, dia akan menghabiskan waktunya dengan tidur. Setiap bulan Juni hingga September, di musim kawin kawanan Penguin Russel akan datang mengunjunginya, mereka sudah berteman dengan baik, Penguin-Penguin itu mengajarinya berenang, menyelam mencari ikan, dan menyantap ikan mentah, walaupun dia tidak suka makanan menjijikkan itu.
Suatu hari, ketertarikannya pada sekawanan paus putih Beluga salah satu mamalia laut penguasa Arktik, telah membuatnya berenang terlalu jauh meninggalkan pulau Bjornova, ia tersesat di tengah samudera dan tak tau kemana arah pulang, tak sadar bahwa arus laut terus menghanyutkannya jauh ke selatan, mendekati kepulauan Svalbard, pulau yang kini telah secara resmi masuk dalam teritorial kerajaan Norwey.
Di hari yang lain, di bagian tenggara kepulauan Svalbard, tampak ST.Petroleumus, kapal ekspedisi minyak dari perusahaan Evenergy sedang berlayar dalam misi meneliti kandungan minyak bumi yang kabarnya tersimpan milyaran barel di bawah laut Arktik, ekspedisi ini dipimpin sendiri oleh seorang pemuda gagah bernama Frederick Moffin putra dari Jakob Moffin sang Empu-nya Evenergy.
__ADS_1
Frederick yang saat itu tengah menikmati kopinya di dek utama, terusik karena kebisingan yang ditimbulkan oleh anak buahnya di buritan kapal, mereka seperti berteriak-teriak panik. Frederick yang penasaran bergegas menuju sumber keributan.
Bukan main terkejutnya Frederick ketika tau apa yang menjadi musabab kegaduhan ini, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang anak laki-laki berenang timbul tenggelam mengikuti riak air dari propeller kapal mereka, serta merta segera diperintahnya beberapa orang anak buahnya untuk menolong bocah malang itu.
Anak kecil berumur tujuh tahun itu telah berhasil mereka selamatkan, mereka membalut tubuh telanjangnya itu dengan selimut tebal, seorang dokter kapal memeriksa kondisinya, dia sehat dan tak ada gejala hipotermia, mereka mengira mungkin anak ini telah hanyut dari kepulauan Svalbard yang memang dekat dengan posisi kapal mereka saat itu.
Frederick Moffin langsung jatuh hati pada anak lelaki yang tak mengerti bahasa manusia ini, dia memang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak laki-laki. Bukannya dia tidak bersyukur, bahwa setelah delapan tahun pernikahanannya, Tuhan mengaruniainya dengan tiga orang putri yang cantik dan lucu, tetapi kehadiran seorang anak lelaki dalam keluarga adalah harapannya sejak dulu.
__ADS_1
Frederick makin senang, ketika kapal mereka berlabuh sebentar di teluk Ros, di pesisir Svalbard, sekedar mengabarkan soal temuan anak hanyut ini kepada sekumpulan kecil orang Nordik yang kini mendiami pulau itu, tak ada satupun di antara mereka mengaku kehilangan anak, kesempatan itu tak disia-siakan oleh Frederick.
Anak itu kemudian dibawa pulang bersamanya, tanpa sedikitpun ia pernah peduli asal-usulnya, ia dengan suka rela merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, ia tak pernah membedakannya dengan ketiga putri kandungnya yang lain, ia mencintainya seperti anaknya sendiri.
Waktu demi waktu pun berlalu, seperti harapan Frederick anak itu terus tumbuh menjadi pemuda yang sangat membanggakan, selalu bisa diandalkan, cerdas, cakap, cekatan, dan rajin menabung. Begitu besar rasa cinta Frederick kepadanya, membuatnya tak keberatan mengganjar anak angkatnya itu dengan nama besar keluarganya, Jocelin Albert Moffin, itulah nama kehormatan yang disematkan Frederick pada anak lelakinya ini.
***
__ADS_1