Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Maaf dan Roti


__ADS_3

"Pagi Bunda, Ayah!" Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, tapi gadis kecil ini sudah sampai dirumah sakit dengan barang bawaannya.


"Husna?" Dahinya menyerit, "Kenapa datang sepagi ini? Kamu kan gak boleh sering-sering keluar dari pondok pesantren!" Ujar Bunda Sulis bertanya, pasalnya sudah 2 malam gadis itu menemaninya.


"Husna keluar dari pondok saja Bun, Mau merawat Bunda." Ujarnya, tangan kecil itu menata semangkuk bubur hangat dan beberapa roti di meja kecil ruang rawat.


"Tapi, kan...." Ucap Bunda Sulis terbata.


"Ilmu agama bisa dipelajari kapan saja dan dimana saja Bunda, tak apa-apa. Nanti pasti ada rezekinya kembali kalau memang takdirnya Husna. Yang penting sekarang adalah kesehatan Bunda." Ujarnya menjelaskan alasan, "Bunda fokus pada operasi nanti sore saja!" Lanjut Husna


"Ayah ini........" Ujar Bunda Sulis kepada sang suami.


"Mau gimana? Ayah mengikuti apa saja kemauan Husna asalkan itu baik dan tidak melanggar norma agama."


"Tapi........"


"Jangan menyalahkan Ayah, Bunda. Husna gakpapa." Jawabnya santai. "Ini Husna bawakan sarapan dan cemilan untuk Ayah dan Bunda ya, dimakan!" Ujarnya kembali.


"Ayo Ayah antarkan kesekolah."


"Husna bisa sendiri, gakpapa ayah! Nanti naik taksi saja, Ayah disini jagain Bunda saja." Tolaknya secara halus.


"Biarkan Ayah mengatarmu Husna, ini perintah Bunda!"


"Baiklah....." Jawabnya pasrah.


...*****************************...


"Cari siapa lo kesini pagi-pagi?" Ujar Rama dengan ketus kala melihat Husna berdiri tak jauh dari ruang kelasnya.


"Temennya Kak Bagas kan?" Bertanya memastikan.


"Kalau iya kenapa? Mau apa lo? Mau buat Bagas berantem lagi cuman gara-gara lo." Sinis Rama


"Maaf untuk itu aku......."


"Apa-apaan sih lu...." Bagas datang dengan tergesa-gesa. "Dia cewek, kalau lu masih kesel ke gue, jangan lampiasin ke dia, cupu banget." Ujar Bagas menegur.


"Belain terus aja." Sinis Rama.

__ADS_1


"Kak Bagas, inget yang aku katakan kemarin!" Ujar Husna setengah berbisik.


"Huhhh.... iya ya ya..." Jawab Bagas lirih, "Gue minta maaf ke elu kalau kemarin gue sempet emosi!" Tangan Bagas terkulur meminta maaf.


"Otak lu kepentok apa?" Dahi rama menyerit, "Lo tadi makan nasi kan sarapannya? gak makan....." Ujar Rama kembali dengan rasa curiga.


"Lu emang sialan banget si, gue udah minta maaf baik-baik tapi........"


"Oke, oke... gue maafin!" Jawab Rama menjabat tangan sohibnya.


"Pagi-pagi gini ngapain sih tulang rusuk cariin aku?" Ujar Bagas, nadanya sudah berubah kala bertanya pada Husna.


"Geli gue dengernya, udah gue masuk aja kekelas." Rama menjawab dengan sindiran.


"Ini buat Kak Rama." Ujar Husna malah memberikan sebungkus roti kepada Rama terlebih dahulu.


"Eh gue....?" Ujar Rama kaget, ragu-ragu menerimanya. Jangan bayangkan wajah masam Bagas yang bertanya sebabnya Husna mencari dirinya sepagi ini namun Rama yang lebih dahulu mendapatkan roti itu.


"Ini buat Kak Bagas." Ujarnya Husna baru memberikan roti.


"Muka lu biasa aja kali bro!" Ujar Rama menyenggol lengan Bagas. "Btw Thanks ya, lu baik ternyata. Gue masuk dulu ya cantik!" Ujar Rama menekan kata cantik, tak lupa kedipan mata dilayangkan pada Husna dan segera masuk kedalam kelas.


"Tadi Kak Rama bilang mau masuk duluan, ya aku kasih lebih dulu!" Jawabnya sederhana.


"Kan lu bisa nitip ke gue ealah, kan harusnya gue jadi yang pertama lu kasih roti ini!" Ujarnya masih tak mau kalah.


"Ada perbedaan nya toh? Padahal aku ngasih rotinya sama kok!" Ujarnya Husna masih tak mengerti.


"Ealah, udah udah! Ngapain kamu cariin aku sepagi ini?" Tanya Bagas.


"Mau minta maaf, dan lain kali jangan menyelesaikan apapun dengan terbawa emosi kak!"


"Yayaya."


"Oh ini, lupa!" Ujar Husna memberikan dua botol susu ke arah Bagas.


"Kok dua?" Tanya Bagas menerimanya dengan senang, tentu dong.


"Buat Kakak satu, Buat Kak Rama satu."

__ADS_1


"Rama kok kebagian mulu sih!" Sinisnya dengan aura tak enak.


"Ungkapan terimakasih karena Kak Rama juga membantu melerai saat kakak berkelahi,sudah dulu ya kak. Assalamualaikum." Pamit Husna bergegas kembali kedalam kelasnya.


"Kebetulan lu udah masuk, seret nih. Si Husna ngasih roti juga kagak ngasih minum." Memang sohib tak tau diri sekali, pantas keduanya bersahabat.


"Nih, dari Husna buat lu!" Menyerahkan kotak susu dengan setengah hati.


"Baek juga, mana cantik lagi."


"Awas lu sampai suka apalagi nikung gue!" Ujar Bagas tak suka, "Gue gantung lu di ring basket sekolah."


"Eh buset, santai bro..... santai.... serem amat lu jadi sohib." Ujar Rama, sangat jarang Bagas bisa digoda hanya perihal perempuan.


...*************************...


Setelah melakukan observasi selama 2 hari, operasi pengangkatan kista dalam rahim Bunda Sulis hari ini akan dilakukan, sudah 2 jam lamanya Husna dan Ayah Hardi menunggu dengan harap-harap cemas.


"Bagaimana dok?" Ujarnya kala melihat dokter keluar dari ruang operasi.


"Semua berjalan dengan baik pak, Nyonya Sulis akan dipindahkan ke ruang rawat untuk masa pemulihan!" Ujarnya kembali.


"Terimakaasih dok?" Jawabnya, Tak lama brankar Nyonya Sulis keluar dari ruangan operasi, Ayah Hardi dan Husna senantiasa menemaninya.


"Ayah, makan dan sholat dulu! Biar Husna yang menjaga Bunda disini, Ayah sudah menjaganya dari tadi pagi!" Ujar Husna memberi saran.


"Baiklah, kamu tunggu disini ya! Ayah sholat sebentar di masjid, sekalian membeli makanan untuk kita makan malam!" Titah Ayah Hardi untuk Husna tetap diruangan jangan kemana-mana.


"Iya ayah!" Jawabnya, Tak selang beberapa lama, Bunda Sulis mulai sadar pasca operasi tersebut.


"Bunda mau apa?"


"Air..."Lemasnya meminta minum.


"Oke, pelan-pelan ya Bunda!" Ujar Husna dengan sabar mengarahkan sedotan itu supaya Bunda Sulis lebih mudah untuk meminum.


...*************...


...HAPPY READING!!!!!...

__ADS_1


__ADS_2