
"Fokus goblok!" Senggol Rama pada pundak Bagas diikuti dengan bisikan tak luput tatapan yang begitu tajam.
"Iyaya!" Keluh Bagas dengan terpaksa, momen terakhir sebelum dirinya melepaskan jabatan ketua osis.
Aula merupakan tempat favorite yang dipergunakan untuk keberlangsungan acara sosialasisasi pengenalan terhadap lingkungan disekolah.
"Pembacaan ayat suci alquran, untuk saudara Husna dipersilahkan maju kedepan." Pembaca acara mengintruksi.
"Subhanallah calon istri yang gue cari!" Ujar Bagas dengan rasa terkejut dan kekagumannya.
"Mana ada penghuni surga kayak dia bersatu sama bentukan setan kayak elu!" Ejek Rama begitu menohok.
"Anj*ng. bisa gak si elu tu kagak usah protes, ganggu khayalan gue aja!" Sinis Bagas begitu tak terima.
"Lha itu emang fakta, mulut lo aja kayak ubin sekolahan. kotor dan berdebu!" Remeh Rama dengan sinisnya.
Husna? Cukup menarik? Dizaman seperti ini masih ada gadis yang begitu mumpuni dibidang agama!
Penerimaan siswa baru di SMA internasional dimulai. Pertama sambutan dari kepala sekolah guna membuka acara perkenalan lingkungan sekolah oleh siswa baru yang akan berlangsung 3 hari kedepan merupakan hal wajib yang patut kita dengarkan. Lalu diserahkannya pada Bagas selaku ketua Osis untuk mengisinya dengan kegiatan selanjutnya.
"Buruan maju sono, kasih sambutan yang bener!" Ujar Rama memperingati sebelum temannya ini benar-benar memberi sambutannya.
"Terimakasih, selamat datang di sekolah tercinta dan selamat mengikuti kegiatan ini dengan gembira." Ujarnya mengakhiri pidatonya.
ACARA DIMULAI..... Beberapa panita terlihat didepan menyampaikannya informasi terkait lingkuangan sekolah melalui media presentasi. didengar dan dicatat oleh para siswa baru.
"Lo ngapain si celingak celinguk gitu?" Tanya Rama aneh melihat tingkah sahabatnya.
"Gue mau cari tulang rusuk gue!"
"Tulang rusuk?" Dahi Rama menyerit tak mengerti.
"Si Husna." Jawab Bagas dengan singkat. "Ealah lu gak peka banget si jadi manusia!" Ujar Bagas kembali kala Rama tak mengerti atas maksud yang dirinya katakan.
"Lha elu ngomong gak jelas? Apaan?" Sewot Rama tak mau kalah.
"Udah gue mau kekantin beli minum, lu handle acara ini dulu lah!" Ujarnya tanpa peduli dengan layangan protes yang diberikan Rama.
__ADS_1
Kakinya melangkah pelan, masih mencari tulang rusuk, katanya. Kekantin hanyalah sebuah alibi belaka, ayolah Bagas fokus fokus.
"Itu dia? tapi ngapain ya?" Kakinya melangkah mengendap-endap mengikuti sosok gadis yang katanya tulang rusuk.
"Ini gue yang goblok atau gimana ya? perasaan dhuhur masih lama deh. itu ngapa sholat? cuman 2 rakaat lagi? apa bisa ya dhuhur disingkat!" Dahinya masih menerka atas setiap tindakan sholat yang Husna lakukan.
"Eh buset elu gue cariin..........." Ujar Rama tertahan kala bekapan mulut didapatkan dari sahabatnya itu.
"Diem setan, noh!" Ujar Bagas memberikan isyarat.
"Lu ngapain si ngintipin orang sholat?" Ujar Rama.
"Belum dhuhur deh tapi dia kok udah sholat? emang bisa ya sholat duluan gitu?"
"Pinter bener, makanya ngaji tu jangan sampai iqro doang! jangan cuman pinter diakademik doang, agama juga! Fiks lo adalah contoh manusia masuk neraka jalur.........."
"Mulut kau, siapa juga yang mau masuk neraka. elu aja sana, jangan ngajak ngajak!" Sewot Bagas dengan mulut pedas seoarang Rama.
"Dah biarin. Sini!" Ujar Rama menarik Bagas untuk bergegas menjauh dan mencari tempat yang aman.
"Apaan sih elu, gue kan?" Ujar Bagas memberontak.
"Elu memang sahabat gue!" Ujarnya ingin mengambil amplop tersebut, namun tertahan karena Rama kembali menariknya.
"Eits, gue kasih ini gak ngeratis ke elu ya!" Ujar Rama.
"Apaan lagi!" tanyanya.
"Traktir makan ke kantin!" Ujar Rama tak tau diri.
"Ogah, makan lu kayak kuli bangunan tujuh tanjakan." Ujar Bagas bergidik ngiri membayangkan uang saku miliknya akan habis oleh satu manusia didepan.
"Kalau gak mau ya...."
"Oke deal" Ujar Bagas, berkorban sedikit satu hari gakpapa ya.
Hari pertama, masih gagal mengejar Cinta Husna. Bertemu kembali untuk hari ini saja tidak, tapi its okey. ini baru hari pertama dan semangat mengejar cinta Husan ya...
__ADS_1
...********************...
"Izin pimpinan!" Ujar Ayah Hardi mengintrupsi.
"Silahkan!" Papa Herlambang mempersilahkan stafnya untuk menyuarakan pendapat.
Rasa saling menghormati meski berbeda tingkat kedudukan dengan tak memandang jabatan membuat perusahaan ini lebih maju dan berkembang dalam dunia bisnis.
"Saya kurang setuju dengan pendapat Pak Sam dalam mempromosikan produk kita melalui Pameran dan menambah pegawai di bagian promosi!" Ujarnya menyuarakan.
"Tapi bukankah, setiap produk baru yang diluncurkan akan seperti ini? Melalui pameran dan menambah dana di bagian promosi!" Pak Sam menjawab, masih mempertahankan pendapatnya.
"Biarkan Pak Hardi berbicara terlebih dahulu. Setalah itu anda bisa menyuarakan pendapat anda!" Ujarnya.
"Maaf bapak bapak semua yang saya hormati diruang rapat ini. Baik saya lanjutkan. Berdasarakan analisis laporan keuangan beberapa tahun kebelakang, diawal peluncuran produk baru perusahaan akan mengalami laba yang sangat minim hanya 5% saja demi menutup besarnya biaya promosi." Ujar Pak Hardi menunjuk beberapa bagian yang memang sangat tinggi.
"Terkait sewa tempat dan pengadaan beberapa poperti, serta tambahan pegawai yang harus memperomosikan dan berjaga di stan setiap malam hingga 1 bulan." Ujar nya menerangkan.
"Lantas, apa yang Pak Hardi sarankan untuk menurunkan biaya promosi dan meningkatkan laba?" Tanya beberapa orang.
"Di era yang semakin canggih seperti ini, lebih baik kita mempromosikan nya melalui sosial media dan bekerjasama dengan beberapa pihak terkait, itu jauh lebih efektif karena bisa menjangkau setiap sudut daerah di Indonesia. sehingga tidak perlu mengadakan pameran yang bertujuan nya hanya untuk memperkenalkan produk baru dengan ruang lingkup yang sempit. secara otomatis kita tidak perlu menambah biaya pegawai bagian promosi yang begitu besar." Ujarnya menyampaikan pendapat dengan didukung rencana biaya yang telah ia susun.
"Silahkan pak Sam jika ingin menyanggahnya!" Ujar Pak Herlambang selaku pimpinan mempersilahkan.
"Saya tidak setuju, ini sudah tradisi perusahaan memperkenalkan produk baru dengan membuat sebuah pameran dan semua produk yang kita promosikan gratis." Ujarnya mempertahankan pendapat.
"Memberikan secara gratis sebuah produk baru sangat tidk efektif lagi dan selaras dengan biaya pembuatannya." Ujar Pak Hardi memberikan pengertiannya. "Lebih baik kita menjualnya sesuai dengan harga yang kita sepakati dan memberikan reward atau keuntungan terkait perusahaan kecil yang mampu menjual produk kita sebanyak mungkin, sehingga kerjasama yang terjalin antara kita dengan perusahaan kecil bisa semakin kukuh tak tergoyahkan." Jawabnya final.
PROK!
PROK!
PROK!
Suara tepuk tangan menggama, sangat sempurna dan semua orang menyetujui apa yang di rencanakan oleh Pak Hardi.
Sekarang, perusahaan ini sudah begitu besar dengan beberapa anak cabang. Tentu, harus ada perubahan yang selaras dengan jalanannya globalisasi yang ada, agar perusahaan ini tetap berjalan serta berdiri kedepan tanpa menoleh kebelakang atas kesuksesan sekarang. Setiap perusahaan yang didirikan, sang pemilik akan tetap berambisius agar perusahaannya tetap maju dan berdiri kokoh sesuai keinginannya.
__ADS_1
...*********************...
...HAPPY READING!!!!!!...