
“Assalamualaikum Husna!” Pemuda ini mengagetkan gadis sekolah menengah akhir yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.
“Eh kak Bagas?” Ujar Husna sedikit kaget.
“Assalamualaikum Na!” Ujarnya kembali kala salam yang dirinya lontarkan tidak dijawab oleh gadisnya, ah indah sekali. Ingin rasanya membawa anak dibawah umur dihadapannya ke kantor urusan agama sekarang juga tapi apalah daya, umurnya masih sangat muda.
“Eh ya, Waalaikumsalam kak.” Jawabnya dengan sopan.
“Mau pulang?” Tanya kembali, ah basa basi macam apa ini? tujuan kamu datang kesini bukankah ingin mengatarkannya pulang wahai tuan Bagas yang tampan?
“Iya kak.” Jawabnya kembali.
“Yaudah ayo aku anterin kamu pulang!” Ujarnya kembali mempersilahkan Husna untuk melangkah lebih dulu.
“Kak tapi?"Ujar Husna meragu, dirinya kembali bersuara "Kak Bagas kok bisa sampai sini?” Tanya nya kembali sebelum masuk kedalam mobil.
“Nanti aku jelasin Na, masuk dulu. Gak enak dilihat yang lain kan?” Ujarnya menasehati Husna yang tak kunjung masuk.
“Tapi kak?” Gadis itu masih saja meragu.
“Kamu sibuk?” Bagas bertanya memastikan, apakah kehadirannya sekarang menganggu?
“Enggak kak.” Jawabnya dengan sopan
“Yaudah, kabari Bundamu dulu kalau kamu pulang terlambat hari ini Na. Biar aku saja yang berbicara.” Ujar Bagas mengingatkan dengan sopan.
“Eh gak usah kak, biar Husna saja yang izin ke Bunda. Sebentar kak!” Ujar Husna mengambil ponsel dalam saku miliknya. “Assalamualaikum Bunda, Husna izin pulang terlambat ya, Husna pergi dengan Kak Bagas terlebih dahulu.” Ujarnya samar di dengar Bagas dari kejauhan saat melihat gadisnya tengah meminta izin.
ada sedikit rasa Bahagia yang ada dihatinya, Husna menyebut nama Bagas kepada Bundanya bukan? berarti?
“Bagaimana? Diizinkan?” Tanya Bagas kala Husna sudah berjalan mendekat kedirinya.
“Alhamdulilah sudah, tapi Bunda berpesan pulangnya sebelum magrib ya kak.”
“Oke tentu tuan putri, silahkan masuk.” Bagas mempersilahkan Husna untuk masuk kedalam mobil miliknya.
“Terimakasih kak.”
******************
Susana perusahaan Gemilang cukup kondusif akhir-akhir ini, Papa Herlambang sudah benar-benar meninggalkan perusahaan memilih mengistirahatkan dirinya dan menikmati masa tua bersama istri tercinta, mama Anggita.
Christian sudah cukup mempuni untuk memimpin perusahaan ini, setidaknya kinerjanya sangat baik pada perusahaan. Dibantu dengan Sebastian selaku sekretaris miliknya.
“Ganteng banget, Bismillah istri ceo.”
“Info mbah dukun yang bisa melet dia dong.”
__ADS_1
“Indahnya jika dia jodoh hamba YA ALLAH!” Beberapa karyawati berbisik kala sang bos melintas di depannya, tak bisa di pungkiri pesona Christian memang sangat kuat dan terpancar. Pemuda ini cukup ramah di luar setiap kali bertemu seseorang tapi akan berubah jika sudah berurusan dengan pekerjaan, sangat disiplin.
“Lo gak ada niatan mau pilih salah satu karyawati lo disini, liat noh mereka natap elu kayak ikan terdampar. Klepek-klepek semua.” Ujarnya menggoda, ah Sebastian akan berperilaku usil jika jam kerja sudah habis atau dijam istirahat. Karena Charistian akan mau menenanggapi ocehannya.
“Lo aja sana sama mereka, gue belum mau nikah.” Jawabannya selalu itu, belum mau menikah katanya? memang apalagi yang dirinya cari saat ini? kekeyaan? umur? pendidikan? rumah? mobil? bahkan jika Christian hari ini ingin membeli aset pun tinggal memilih dan membayar, Lantas apa lagi yang ditunggu oleh sahabatnya satu ini.
“Gue gak minat sama karyawati disini." Ujar Sebastian.
"Jangan-jangan lo....." Tuduhnya tanpa filter.
"Anj! Gue masih normal bro. Gue maunya sama kakak lo aja boleh gak sih? Hehehehe.” Usilnya selalu begitu.
“Gue tampol loh, dih ogak gue punya kakak ipar kayak lo gini sih!” Memandang Sebastian remeh, meskipun dirinya tau bahwa sahabatnya ini juga lelaki idaman semua wanita kan?
“Jahat bener mulut lo, gue juga gak jelek jelek amat. Soal pekerjaan pun, lo tau kan kalau gue pekerja keras gini. Bisa kali?” Masih berusaha mendapatkan restu dari calon adik iparnya.
“Hahaha….. Jam istirahat habis, kerja! Sekarang lo sekretaris gue, bukan sohib gue.”
“Yaelah, iya bos!” Pasrahnya.
*********************
“Bagaimana Na dengan sekolah?” Tanya Bagas kala keduanya berjalan beriringan, namun masih dengan jarak.
“Bagaimana apanya kak?”
“Ha?” Jawab Husna linglung.
“Hahahaha….. tentang ujian akhir kenaikan kelas Na, kamu kan minggu depan sudah ujian?” Tanya Bagas kembali menjelaskan namun dengan nada yang lebih santai.
“Oh, tidak ada masalah kak semuanya berjalan dengan baik kok. Ehmm… kakak sendiri bagaimana kuliah disana?” Tanya Husna.
“Gak enak Na, banyak sedihnya karena sering kangen sama kamu.” Jujur Bagas, memang benar bukan?
“Apaan sih kak, serius.” Husna menjadi tersipu.
“Hehehehe…….. Cie malu.” Goda Bagas kembali. “ Duduk dulu Na, kamu mau pesen makanan apa?”Tanya Bagas mempersilahkan duduk.
“Nasi goreng saja kak, sama air putih.”
“Oke, tunggu ya.”
“Iya kak, terimakasih.”
“Silahkan dimakan!” Ujar Bagas kala setelah beberapa menit keduanya menunggu makanan tersebut.
Banyak yang mereka ceritakan tentang hari ini, tak mau mengelak gadis ini merasa nyaman kala berbicara dengan Bagas sosok laki-laki dewasa yang baik memperlakukan dirinya sebagai perempuan.
__ADS_1
"Loh kak? buat apa beli kue banyak seperti ini!" Tanya Husna kala melihat Bagas masuk kedalam mobil dengan 5 kantong kresek besar berisikan roti.
"Hehehehe, Gakpapa Na lagi pengen makan kue kue di indonesia yang lembut kayak kamu gini. Disana kue kebanyakan keras Na, hehehe........." Alasan yang sangat tidak masuk akal, namun Husna mempercayainya.
"Ah begitu........."
"Na, suka pantai?" Tanya Bagas sambil mengendarai mobil, mengantarkan Husna pulang.
"Pantai? kurang suka kak."
"Sukanya? Pasti aku ya......." Goda pemuda itu kembali.
"Hahaha.... jangan goda Husna terus kak." Ujarnya memperingati, " Ehm..... Husna lebih suka ketempat yang lebih tenang dan jarang ada banyak orang, Kalau bisa memilih? Husna lebih suka ke taman daripada pantai kak!" Jawabnya.
"Besok sibuk?" Tanya Bagas.
"Enggak kak, paginya mungkin Husna mengaji dulu sama Bunda setelah itu?" Ujarnya nampak sedikit berfikir. "Belajar mungkin." Tuturnya.
"Loh? tidak masuk sekolah?"
"Ehm.... Enggak kak, Besok semua guru ada rapat jadi sekolah diliburkan." Jelasnya.
"Oke, udah sampai." Jawab Bagas, pemuda itu segera keluar dan membukakan pintu untuk Husna.
"Silahkan turun dan ini." Menyerahkan 3 kantong plastik kue kepada Husna. " Gak boleh nolak rezeki Na, gak baik." Ujar Bagas kembali saat Husna ingin menolak pemberiannya.
"Hah........ Terimakasih kak, lain kali jangan seperti ini. Husna tidak enak." Jujurnya.
"Husna...... kok tidak masuk?" Bunda Sulis tiba-tiba muncul dan menegur keduanya. "Ayo-ayo masuk dulu, mau adzan magrib." Bunda Sulis kembali bersuara.
"Assalamualaikum Bunda!" Husna mengucapkan salam sambil berjabat tangan dengan sang ibu.
"Waalaikumsalam, Bagas ya?" Ujar Bunda Sulis bertanya.
"Assalamualaikum tante, iya." Ujar Bagas memberikan salam.
"Waalaikumsalam. Ayo masuk dulu." Ujar Bunda Sulis mempersilahkan.
"Eh.... saya langsung saja tante, tidak enak nantinya takut menganggu. Maaf kalau saya terlambat memulangkan Husna." Ujar Bagas tak enak hati.
"Sudah, tidak apa-apa. Masuk dulu, nanti dilanjut pulang setelah adzan magrib." Nasihat Bunda Sulis pada Bagas, "Itu sudah magrib. Ayo masuk dulu, tak baik magrib-magrib diluar." Tuturnya.
"Baik tante." Pasrah Bagas melangkah masuk, jantungnya berdegub kencang, ini pertama kalinya dirinya masuk kedalam rumah Husna.
******************************
HAPPY READING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
__ADS_1