
Ruang inap ini tampak sangat canggung kala sang pemimpin perusahaan Gemilang baru saja tiba diruangan dengan sebuket bunga dan sekeranjang buah dikedua tangannya.
Pak Hardi tak tau lagi harus bereaksi seperti apa, lidahnya kelu bahkan untuk menelan ludahnya sendiri ia amat kesusahan.
"Apakah Husna putrinya melakukan sebuah kesalahan tadi?" Ujarnya bermonolog pada dirinya sendiri. "Apakah mengirim Husna untuk sekedar mengantarkan dokumen keperusahaan termasuk melanggar kode etik?" Jelaskan situasi macam apa sekarang ini.
"Anda tak perlu setegang itu Pak Hardi, saya kesini murni menjengguk anda dan putri anda tidak melakukan kesalahan apapun!" Akhirnya Christian bersuara kala tiga orang tersebut hanya diam dalam kebungkaman, wajah Pak Hardi yang awalnya tegang seketika mencair dan berujar.
"Terimakasih Pak Christian, tapi anda tidak perlu serepot ini. Maaf jika saya izin tak masuk bekerja secara mendadak." Mulut laki laki tua itu berujar dengan penuh susah payah menjawab sang bos yang ada dihadapannya saat ini.
"Saya merasa tidak direpotkan sama sekali pak Hardi, anggap aja kehadiran saya ini sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada karyawannya." Berujar sangat merendah sekali anda Pak Christian, contoh seorang pemimpin yang bertanggung jawab bukan? hehehe....
"Oh ya, saya bawakan buah buahan ini untuk anda!" Ujarnya menyerahkan sekeranjang buah tersebut.
"Terimakasih pak, lain kali tak usah membawa apa-apa. Anda datang menjengguk, saya sudah merasa sangat tersanjung." Ujar Pak Hardi menerima sekeranjang buah itu, dan meminta bantuan sang istri untuk menyimpannya.
"Dan ini bunga untuk Husna." Ujarnya tanpa ragu menyerahkan sebuket bunga cantik yang ada ditangannya.
"Eh?" Ujar Husna kaget, tangannya belum mau menerima pemberian bunga tersebut. Pak Hardi dan Bunda Sulis juga terkejut, namun keduanya memilih bungkam atas kejadian tersebut.
"Ya untuk kamu, terimakasih karena sudah mengantarkan dokumen tersebut pada perusahaan." Ujarnya mencari alasan, ini kesalahan bukan? mengapa Christian harus berterima kasih seperti itu kepadanya. Soal dokumen memang kewajiban sang Ayah untuk menyelesaikannya bukan? dan dirinya sebagai seorang anak hanya membantu sedikit dengan mengantarkannya keperusahaan. Yang harusnya berterimakasih adalah Ayahnya sendiri kan?
"Ah iya, terimakasih pak!" Ujar Husna menerima bunga tersebut dengan segala keraguan.
"Mari duduk Pak, saya ambilkan cemilan dan minuman sebentar." Ujar Bunda Sulis dengan sopan menawarkan pada Christian.
"Tidak usah repot-repot bu, kalau boleh saya ingin mengajak Husna untuk makan di kantin ini, kebetulan saya belun makan. Apakah boleh?" Ujar Christian meminta izin.
Arghhhh mau yang seperti Christian, tolong harus order dimana? apakah di shopee ada? Jika mahal boleh tidak kita cicil dengan paylatter? Hehehehe....
"Eh? Tentu boleh. Husna juga belum sarapan kan tadi." Ujar Bunda Sulis langsung memberi izin.
"Bunda, Husna bisa makan nanti saja, Gakpapa."
"Sudah temani dulu Pak Christian, kamu sekalian makan. Kamu harus jaga kesehatan, jangan sampai telat makan dan sakit. Ayah juga harus istirahat, sudah sana temani saja Pak Christian." Ujar Bunda Sulis menasehati putrinya, seperti menjual kan?
"Baik Bunda." Pasrahnya.
"Saya izin mengajak Husna keluar ya Pak Hardi dan Bu Hardi. Nanti pasti saya kembalikan dengan selamat tanpa kurang satupun. Saya permisi!" ujarnya. Pak Hardi hanya mampu mengiyakan dan menganggukan kepalanya.
"Bunda, apa tidak apa-apa?" Ujar Pak Hardi sedikit protes dengan apa yang dilakukan sang istri, memberikan izin dengan mudahnya. Ya Pak Hardi tau jika Christian adalah pemimpin perusahaan, tapi kan? dirinya disini memposisikan sebagai Ayah dari Husna bukan bawahan Pak Christian.
"Tak apa-apa Ayah, Bunda lihat Nak Christian orang yang baik dan bertanggung jawab. Jika dia ada niat buruk dengan Husnam bukankah tadi dia akan marah saat Ayah menyuruh Husna kekantor dengan membawa dokumen penting itu? tapi buktinya tidak kan? dia malah datang dan menjengguk Ayah disini!" Jelas Bunda Sulis, untung saja dua manusia itu sudah pergi daritadi.
"Tapi Ayah masih khawatir."
"Tak apa-apa, Husna pasti bisa menjaga dirinya. Percaya." Ujar Bunda Sulis kembali meyakinkan sang suami.
__ADS_1
...******************************************...
"Kamu mau makan apa?" Ujarnya bertanya mendahulukan keinginan Husna.
"Hah, ini bukan kantin rumah sakit tapi restoran pak!" Ujar Husna protes, bagaimana tidak? laki-laki didepannya memang tak bisa dipercaya lagi, ini pemaksaan yang kesekian kalinya meskipun menguntungkan Husna sih, hehehe.... Tapi gadis kecil itu tak suka.
"Saya gak suka makanan dirumah sakit."Singkatnya.
"Hah.... yasudah terserah bapak aja lah."
"Kamu mau makan apa?" Tanyanya kembali.
"Kue dengan teh hangat saja." Jawabnya dengan singkat.
"Hah? tidak-tidak. Kamu harus makan nasi untuk sarapan pagi ini!" Ptotesnya dengan begitu jelas.
"Menjelang siang tepatnya pak."
"Saya pesankan nasi dengan sayur sop dan beberapa olahan seafood, untuk penutupnya saya pesankan beberapa potongan buah. Kue yang kamu pesan dibungkus saja, sekalian untuk kedua orang tuamu." Finalnya tanpa mempertimbangkan keinginan Husna, dasar laki-laki.
"Terserah bapak saja saya pasrah." Ujarnya, laki-laki didepannya akan selalu bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan bukan? jadi percuma saja berdebat dengannya. Lebih baik selesaikan makananya agar dirinya bisa lepas dari laki-laki didepannya ini.
"Jangan panggil saya pak, pak pak, Saya bukan bapak bapak." Ujarnya lagi kembali tak terima dengan panggilan Husna sepanjang jalan kala dirinya sudah memesan makanan tersebut.
"Ya kan memang anda bos Ayah saya, ya sudah sewajarnya saya memanggil anda dengan sebutan bapak." Menuturkan alasan yang sangat logis.
"Lalu? ingin di panggil apa?" Ujarnya bertanya, apapun usulnya akan tidak diterima dengan manusia aneh satu itu kan? lebih baik bertanya daripada sakit hati atas penolakan dari inisiatif baik yang dirinya lakukan.
"Sayang mungkin?" ujar Christian menggoda.
"Permisi, ini makanan anda pak. dan ini pesanan anda nak. Silahkan dinikmati, saya permisi." Ujar salah satu pramusaji yang telah selesai menghidangkan makanan dimeja tersebut.
"Hahaha..... bapak dengar sendiri kan? pelayan tadi memanggil saya apa? dan anda seperti apa?" Ujar Husna sedikit tertawa kala melihat muka masam Christian saat ini.
"Saya pastikan kamu akan memanggil saya pak."
"Bagus deh, anda memang cocok saya panggil dengan sebutan pak." Wajahnya senang, akhirnya bisa memnangkan perdebatan ini, fikirnya.
"Bapak dari anak yang akan kamu lahirkan nanti."
UHUK!!!!!!!!!!!! UHUK!!!!!!!!!!!! UHUK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
"Ini minum!" Ujar Christian langsung mengulurkan segelas air untuk Husna.
"Saya bisa sendiri pak, terimakasih." Ujar Husna.
"Kamu kan bisa panggil saya dengan sebutan kak? atau mas mungkin." Masih mengusulkan sebuah panggilan untuk dirinya.
__ADS_1
"Saya anak pertama, tidak mempunyai kakak ataupun saudara kandung laki laki." Tidak mau mengakui apapun.
"Cih......" Ujar Christian sebal dengan jawaban perempuan di depannya ini.
"Saya pulang sendiri saja ya pak." Ujar Husna izin pamit kala dirinya sudah selesai menyantap makanan didepannya.
"Eh, saya kan yang mengajak kamu keluar. ya saya harus mengantarkan kamu pulang juga." Contoh laki-laki yang bertanggung jawab.
"Apakah pemimpin perusahaan Gemilang seperti anda tidak memiliki pekerjaan? pasti ada. Makanya saya pulang sendiri saja, anda tak perlu repot repot mengantarkan." Mencari apapun alasan agar tidak lagi bersama laki-laki satu ini.
"Tidak ada, pokoknya hari ini jadwal saya kosong dan kamu harus menemani saya pergi." Dia pemimpinnya bukan? jadi dia sendiri yang mengatur dan menentukan jam kerjanya.
"Lah kok jadi saya yang harus mengantarkan ada, cari cewek lain saja. Saya sibuk." Menolak dengan sangat mentah-mentah.
"Saya sudah mengirim pesan kepada Ayahmu dan izin untuk mengajak mu jalan jalan. Beliau mengizinkan kok, ini buktinya." ujar Christian menyerahkan handphone miliknya, memperlihatkan chat tersebut.
SIALAN!!!!!!!! Husna ucap Astaqfirulloh, sabar ya. Semoga Tuhan memberikan stock sabar yang lebih padamu untuk menghadapi spesies manusia satu ini.
"Pak tapi kan saya tidak setuju."
"Ayahmu setuju dan sebagai anak harusnya kamu patuh pada perintah orang tua." Tidak mau kalah, intinya bagaimanapun caranya Husna harus mau menemaninya.
"Pemaksaan banget sih pak!"
"Cuman sama kamu saja saya pemaksaan, biasanya cewek lain yang memaksa saya pergi." Cih, sombong sekali. Ya meskipun apa yang dirinya katakan adalah sebuah fakta.
"Oh jadi sering keluar bersama wanita dan berganti-ganti?" Tuduhnya.
"Eh, enggak ya. saya selalu menolak, cuman sama kamu doang saya........"
"Ya sudah ayo, bapak mau kemana? Saya akan temani. Hitung-hitung tanda terimakaish sudah mentraktir saya direstoran mewah seperti ini, dan memberikan Ayah saya izin untuk tidak masuk bekerja." Pasrah saja, toh laki-laki ini tetap akan mempunyai caranya sendiri untuk memaksa dirinya agar MAU bukan?
"Menemani saya jalan jalan kali ini adalah bentuk kebaikan saya memberikan izin cuti pada Ayah kamu ya. dan traktiran saya yang tadi bukan termasuk ya." Ngelunjak sekali anda jadi manusia.
"Perhitungan banget sih pak." Husna, kamu boleh menampolnya untuk saat ini, Ayo lakukan.
"Kamu yang memperhitungkan, saya tidak kok." Tidak mau disalahkan atas tuduhan baru itu.
"Oke, jadi anggap saja bapak ikhlas, kita sudah tidak ada tanggungan balas budi setelah saya menemani anda jalan-jalan hari ini." Ubah saja kalimatnya bukan?
"Eh tapi berhubung kamu sudah menganggap itu harus dibalas, berarti kamu masih punya hutang budi sama saya." Memang kurang ajar.
"Terserah bapak aja, atur saja. Capek saya berdebat." Pasrah Husna, baru kali ini dirinya menemukan lelaki sebawel Christian. Ingin rasanya menyumpal mulut itu dan mengurungnya disuatu tempat agar tidak menganggu dirinya lagi.
...******************************...
HAPPY READING SEMUANYAAA.....
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR...... HEHEHHEE............