
Laki-laki tidak berguna memang, wajahnya begitu kusut pagi ini.
Tidur? TIDAK! Laki-laki ini bahkan dengan gilanya melakukan hal yang menurutnya mengacu adrenalin namun merugikan orang lain.
Baginya tak apa, Papanya kayaraya. Ujarnya berbangga diri. Tapi dalam dirinya tetap akan diselimuti rasa takut akan penyampaian atas tindakannya yang dilakukannya.
“Uhhh……” Bahkan bulu kuduknya meremang kala membayangkan ekspresi sang Mama.
“Sialan banget si, kenapa juga aku harus kalah malam tadi!” Umpatan kala mengingat balapan mobil liar yang dilakukan mengalami kerugian hingga mobil baru miliknya menjadi hadiah yang menggiurkan untuk lawan.
Mampuslah, kau memang nampaknya lebih baik dipendam dalam tanah atau dibuang dalam lautan lepas tuan Muda Chris. Hidupmu menyusahkan orang lain saja.
Samar terdengar beberapa orang yang mengolok tentang dirinya, dengan pakaian lusuh dan duduk di halte bus yang ada ditengah kota “Masih memikirkan cara pulang kerumah!” Disaat seperti ini memang otaknya sangat bodoh sekali.
“Ini kak!” Gadis kecil memberikannya sebuah uang sebesar 50.000 ribu rupiah padanya, dengan seragam layaknya bocah SMP, ya karena memang masih SMP.
“Eh?” Dahinya menyerit, setelah menerima ataupun menolak tapi tangannya dipaksa untuk menerima lembar uang yang diberikan oleh gadis kecil itu.
“Kata Bunda kalau ada orang kesusahan harus saling tolong menolong, maaf ya Husna hanya punya uang segitu.” Ujarnya Nampak polos, gadis ini hanya tau kata tolong kala melihat seorang mahluk tuhan yang begitu mengenaskan keadaannya.
“Eh? Gak usah dek, aku gak butuh!” Ujarnya mengembalikan uang itu, gila saja seorang tuan muda ternama disangka pengemis oleh bocah ingusan. Tapi nampaknya ia memang butuh uang tersebut kan?
Hey!!!! Husna hanya membantu anda tuan, tulus! tidak ada satu katapun yang mengatai anda seorang peminta-minta atau bahkan pengemis ya meskipun penampilan anda sangatlah mencerminkan.
“Eh? Kakak butuh makan?” Tanyanya lagi. “Ini Husna punya ini!” Tawarnya memberikan bekal, bukan tawar lagi! Tapi gadis itu sedikit memaksa untuk pemuda itu menerimanya.
“Husnaa…….” Panggilnya.
“Bunda?” Dahinya menyerit, “Ini kakak makan aja bekal Husna, dan ini uang jajan Husna buat kakak gakpapa! Udah dulu Husna di panggil Bunda, bye!” Kakinya melangkah pergi meninggalkan Chris yang terbengong diam.
__ADS_1
Aneh, dimata Chris. Masih ada orang baik yang peduli ternyata, ditengah kota besar yang saat ini orang berlalu lalang tanpa peduli sekitar. Bahkan jika dilihat dari penampilannya pun saat ini orang akan enggan untuk menyapa dirinya, seperti Preman. Tapi gadis itu dengan berani menyapa bahkan memberikan bantuan padanya.
Kembali ke Husna, “Kamu kenapa kesana sih? Ngapain sayang?” Tanya Bunda Sulis dengan raut khawatir.
“Husna hanya memberikan uang dan bekal sama kakak itu!” Tunjuknya kala sudah dimobil bersama dengan Ibunda, ah anak ini memang tak bisa di tinggal sedikitpun bahkan sang BUnda hanya menyuruhnya untuk berdiam diri saja dimobil kan? TUNGGU!!!!
“Kenapa memberikan pada orang asing hem? Bahkan penampilannya?” Ujar Bunda Sulis menelisik dengan curiga atas penampilan pemuda yang baru saja di tolong oleh Husna.
“Bunda, gak boleh begitu. Bunda kan selalu mengajarkan Husna untuk saling tolog menolong dan tidak memandang fisik seseorang!” Ujarnya Husna mengeleng pelan, seolah meminta sang Bunda untuk tidak berprasangka buruk terhadap seseorang.
“Iya tapi kan Husna, dilihat dari penampilannya dia lebih seperti Preman!” Ujar Bunda masih menelisik dan menilainya dari kejauhan.
“Bunda gak boleh gitu ah!” Ujar Husna kembali mengudara.
Dari ujung sana, tuan muda yang sok tak mau menerima makanan dari gadis kecil itu, akhirnya dengan lahap mengunyahnya bahkan hingga tandas. Tak peduli dengan keadaan sekitar yang menatapnya seperti orang yang tidak pernah makan berhari-hari saja. IH! Menjijikkan.
“Sudah, Ayo berangkat ke sekolah. Lain kali kamu boleh menolong seseorang tapi jangan semuanya dan dilihat dulu penampilannya, Bunda takut kalau kebaikan kamu nanti disalah gunakan.” Ujar Bunda Sulis menasehati putri kesayangannya.
“Ah ya Bunda, tenang saja Husna kan sudah besar pasti sudah bisa menjaga diri sendiri!” Ujarnya dengan tersenyum.
“Iyaya! Tapi Husna harus tetap waspada! Ingat ini juga hari kamu pertama masuk sekolah menengah pertama!” Peringatnya lagi.
“Iya, Husna tau itu Bunda sayang!” Ujar Husna tersenyum hangat pada sang Bunda.
Hari pertama Husna memasuki tingkat sekolah akhir, ia juga dengan sengaja meminta untuk menimba ilmu disalah satu pondok pesantren disana. Bunda Sulis melengguh tak rela atas keputusan yang dibuat oleh satu-satunya putri kesayangan nya, namun apalah daya! Mereka sudah berjanji kan pada Husna.
********************
“Bisa gak sih, lo jangan nyusahin gue sekali aja!” Keluh Sebastian, kala pagi hari miliknya harus mengurusi manusia tak berguna seperti Chris.
__ADS_1
“Ealah, ketimbang jemput doang lo protes banget si kayak mak mak komplek!” Keluh Chris dengan geram.
“Lha elu, udah gede bukannya tobat sadar malah makin menjadi!” Umpatnya kembali mengudara, umpat saja terus biar Ruan muda Christian Pradipta Herlambang sadar sesadar-sadarnya.
“Diem ngapa! Gue mau tidur nih!” Ujar Chris mulai mencari posisi nyaman untuk dirinya terlelap. Lagi dan lagi Sebastian adalah orang yang paling di rugikan dalam masalah ini. Ia bahkan tak tau menahu apa yang sedang terjadi.
“Pinjem Handphone lo dong!” Ujar Chris menunda tidurnya dan memaksa Sebastian untuk memberikan ponsel miliknya dengan segera.
“Buat apa sialan, nyusahin banget idup lu!” Masih mempertahankan tak rela untuk sekedar meminjamkan Handphone.
“Pinjem bentar ealah, pelit banget.” Terus mendesak dan memaksa.
“Hp lu kemana?” Tanyanya mempertahankan miliknya.
“Batrenya abis bego, lagian tadi waktu gue telfon lu juga pinjem hp ke orang!”Jujurnya.
“Gue kagak nyuruh lo telfon gue sepagi ini bego, lagian kenapa harus gue sih Chris! Lo kan bisa nelfon bokap, atau nyokap, atau………”
“Yang gue hafal cuman nomor lo doang!” Ujar chris berhasil mereput handphone milik Sebastian dan mulai memberikan kabar orang rumah.
TERKUTUKLAH Charistian Pradipta!!!!!!!! Bagaimana bisa dengan luwesnya pemuda ini berbicara dengan sang Mama seperti itu.
“Bangs*t lu ya, nama gue lu fitnah mulu!” Ujar Sebastian dengan umpatan kala penggilan telfon itu sudah berakhir.
“Cuman nama lu doang yang ampuh! Pelit banget jadi orang, timbang pinjem nama.” Ujar Chris kembali mencari posisi yang aman.
“Ya lu kira-kira dong! Ada rasa malu dikit kek, minimal kalau mau fitnah jangan depan muka orangnya!” Ujar Sebastian dengan umpatannya, tapi memang Chris adalah mahluk paling menjengkelkan dengan santainya ia sudah terlelap begitu tenang dan damainya.
********************************
__ADS_1