Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Mulai khawatir


__ADS_3

Kepercayaan adalah rasa yang diberikan oleh seseorang terhadap manusia lain untuk menjalankan sebuah tindakan yang diberikan padanya dengan penuh rasa tanggung jawab.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan diketuk oleh Pak Hardi, “Maaf Pak Sam, saya ingin menyerahkan berkas ini kepada anda untuk segera ditanda tangani!” Ujar Pak Hardi masuk kedalam ruangan dengan sopan.


Laporan anggaran pembiayaan guna rangkaian acara peluncuran produk baru sudah selesai dibuat.


“Apa-apaan ini!” Ujar Pak Sam bingung, ada beberapa point yang dicoret karena ia merasa tak setuju dengan nominal yang tertera dalam anggaran itu.


“Perbaiki!!!” titahnya mengembalikan dokumen rancangan kepada Pak Hardi.


“Maaf sebelumnya pak, rancangan ini sudah saya konfirmasi kepada Tuan Herlambang dan beliau menyetujuinya jadi…….” Laju kata yang akan keluar dari mulut Pak Hardi tertahan, kala…..


“Kenapa Pak Hardi lancang sekali dengan memberikan rancangan anggaran biaya ini langsung kepada pimpinan tanpa melalui saya terlebih dahulu?” Tanya Pak Sam tak mengerti dengan apa yang direncanakan manusia didepannya ini, bukankah aturan nya Pak Hardi harus melewati dirinya dahulu sebelum menyerahkannya kepada Tuan Herlambang selaku pimpinan perusahaan.


“Maaf pak, saat selesai acara rapat Tuan Herlambang langsung meminta saya segera mengemailkan anggaran biaya dan……” Penjelasan dari mulut Pak Hardi tertahan oleh bantahan pelan yang dilakukan Pak Sam kepadanya.


“Saya kurang setuju dengan anggaran yang anda buat pak Hardi, ada beberapa titik ini yang menurut saya besarnya nominal yang diberikan tidaklah relevan dan baik. mohon diperbaiki dan kirim kembali kepada saya terlebih dahulu. Ini perintah dan ingat atas posisi anda disini yang mejadi bawahan saya.” Titahnya mengingatkan terkait dengan aturan perusahaan yang berlaku.


“Saya minta maaf Pak Sam, segera akan saya perbaiki.” Ujar Pak Hardi menunduk dan bergegas pergi keluar, meninggalkan ruang kerja milik Pak Sam.


Helaan nafas panjang diambil, meraup sebanyak mungkin oksigen dan menghembuskannya secara perlahan. Pak Sam, namanya. Dirinya sudah bekerja pada perusahaan milik Tuan Herlambang sejak merintis dulu. Merupakan lulusan terbaik dibidang keuangan bisnis dan Ilmu Hukum pada masanya, mendidikasikan dirinya bekerja sebaik mungkin.


Era Industri 4.0 memaksa seseorang harus mengembangkan dirinya dan terkadang hal tersebut membentuk suatu tekanan yang terus menekan dan menyebabkan hilangnya kepercayaan dalam diri akan kualitas potensi dalam diri, kurangnya tingkat kepuasan atas pencapaiannya. Sudah 5 tahun terakhir dirinya memanipulasi laporan keuangan dengan begitu apik dan sangat sulit untuk di curigai. Namun, nampaknya kehadiaran Pak Hardi akan menjadi ancaman yang besar saat ini, bagi dirinya sendiri. Itu prediksinya.


Koruptor terlahir dari adanya kesempatan dan peluang untuk beberapa oknum yang kurang puas atas pencapaian yang ia raih selama ini, mempertahankan sebuah gengsi untuk mengikuti beberapa gaya yang tengah menjadi buah bibir para remaja, sungguh tindakan yang tercela. Dan orang yang paling hina adalah dia yang pandai dalam bidang keuangan dan hukum. Tau dimana titik dirinya akan memanipulasi laporan keuangan sehingga memberikan dampak keuntungan finansial bagi individu serta tau hukum apa yang bisa membuatnya terlepas tanpa syarat apabila tindak kecurangan yang dirinya lakukan terbongkar.


Sungguh,ilmu nampaknya akan menjadi sia-sia saat sang pemilik tak menempatkannya pada kebenaran yang seharusnya.


...***********************...


“Diminum dulu Ayah!” Ujar Bunda Sulis memberikan secangkir teh hangat pada suaminya, ini sudah jam 10 malam tapi dirinya baru saja sampai di dalam rumah, sangat sepi dan sunyi. Mereka hanya tinggal berdua , sedangkan Husna berada dipondok pesantren.


“Mandi dulu ya, Bunda sudah siapkan semuanya!” Ujarnya dengan lembut, usia memang sudah tak lagi muda! Tapi cinta akan selalu muda untuk penerimanya.


“Apa ada masalah dikantor?” Tanya Bunda Sulis kala suaminya sudah selesai mandi dan memakai piyama tidur.

__ADS_1


“Sedikit!” Ujarnya masih bisa tersenyum hangat.


“Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja Ayah, kesehatan yang paling utama. Bunda dan Husna tak masalah jika kita harus….” Ucapannya tertahan.


“Tidak! Kalian adalah cinta dan keindahan yang aku punya dan aku akan menjamin kebahagiaan dalam diri kalian!” Ujar Ayah Hardi tersenyum.


Pria tua itu tiba-tiba merindu pada putri cantik miliknya.


Pagi menyapa begitu cepat, bahkan dirasa sangat cepat. Dirinya baru saja memejamkan mata. Menjadi imam untuk istrinya saat sholat adalah awal pagi yang begitu menyenangkan.


“Bunda sudah siapkan semuanya, ini!” Dua bekal diberikan sang istri kepadanya.


“Terimakasih, Ayah berangkat dulu ya!” Pamit Ayah Hardi, perjalanan ditempuh 10 menit dari lokasi rumahnya menuju pondok pesantren sang putri.


“Ayah?” Dahi Husna menyerit kala melihat mobil milik sang Ayah terparkir di depan gerbang pondok pesantren pagi itu.


“Assalamualaikum Ayah!” Ujar Husna senang, tanpa sadar ia memeluk cinta pertamanya, sangat erat!


“Waalaikumsalam.” Ayah Hardi menyambutnya dengan tulus, bekal makanan diberikan kepada sang putri.


“Tumben Ayah kesini?” Tanyanya.


“Emang gak boleh ya? Ayah kesini jengguk putri kesayangan Ayah ini.” Ujar Ayah Hardi menggoda putrinya.


“Iyaya, ya gimana? Ayah gak bisa jauh dari putri Ayah ini!” Ujar Ayah Hardi dengan jujur.


“Ayah ada masalah dikantor?” Tanya Husna langsung bisa menebak.


“Tidak!” Dustanya.


“Ayah bisa bohong dengan Bunda tapi tidak dengan Husna, Ayah!” Ujar Husna. “Jika Ayah tak bisa bercerita kepada Husna saat ini juga tak apa, tapi satu hal yang harus Ayah ingat! Bunda dan Husna akan selalu ada dan mencintai Ayah apapun keadaan Ayah!” Ujar putri cantiknya kembali, ini begitu tulus.


“Siap bos! Selamat bersekolah tuan putri!” Ujar Ayah Hardi kala keduanya harus berpisah.


“Bye bye Ayah! Assalamualaikum.” Pamit Husna mencium tangan Ayah dan melambaikan tangan untuk berpisah.


Pada dasarnya seorang anak tak membutuhkan sejumlah barang maupun uang untuk melegakkan rasa bahagia dalam dirinya, cukup berikan kasih sayang dan mengerti atas tindakan baik, berikan dukungan dan tak mematahkan atas sebuah hasil yang dicapai, sungguh!!! Sosok laki-laki yang bernama Ayah akan terasa sangat sempurna bagi putri kesayangannya.


Hari kedua, nampaknya laki laki tampan bergelar ketua OSIS kembali gagal mendekati si cantik Husna. Ia tak menemukan gadis itu di sepanjang acara.


“Lesu banget itu muka?” Ujar Rama menegur sohibnya.

__ADS_1


“Gue gak ketemu vitamin gue, jadi lemes deh!” Ujar Bagas mendramatisir keadaan, sangat menggelikan.


“Dih, gue geli dengernya. Dah lah, mau cabut pulang.” Ujar nya “Lo gak pulang?” Tanya Rama kala Bagas masih santai duduk tak ada pergerakan apapun.


“Males gue, ntar lah kalau hujannya udah reda!”


“Lha lu ngapain harus nunggu hujannya reda? Kan lu bawa mobil?” Tanya Rama makin tak mengerti.


“Males gue, dahlah mau kekantin.” Ujar Bagas melangkah pergi, cukup deras hujan kali ini. Meski sekolah sudah mulai sepi, tapi masih ada beberapa anak yang tetap tinggal menunggu hujan reda, meskipun ini sekolah berbasis internasional, masih ada beberapa siswa yang pergi kesekolah menggunakan sepeda motor dan yeah! Mereka tak membawa jas hujan.


“Ini yang di namakan jodoh!” Ujar Bagas, senyumnya kembali mengembang kala melihat Husna duduk disalah satu kursi dikantin sekolah sendirian.


“Boleh gue duduk?” Ujar Bagas dengan sopan.


“Tidak!” Jawab Husna singkat , tetapi Bagas tetap duduk didepan gadis itu dengan cengirannya.


“Jangan pindah atau anak anak itu akan gangguin lo!” Ancam Bagas, telunjuknya mengarah pada segerombolan siswa laki-laki yang berjalan kearah kantin. Ah…….. bisa ae kadal organisasi satu ini.


“Kenapa gak pulang?” Tanya Bagas.


“Hujan.”


“Yaudah gue anterin lo pulang aja, kebetulan gue bawa mobil!” Ujarnya tanpa basa basi, tak tau diri sekali.


“Terimakasih atas tawarannya, tapi aku gak minat.” Jawabnya dengan sopan, membuka lembar buku pelajaran yang dirinya baca.


“Tapi gue mau, lagian lo gak bakal kehujanan atau kebasahan, gue……….” Terangnya, nadanya sedikit memaksa.


“Hah…..” Helaan nafasnya panjang, “Aku gak suka hujan kak, dan aku lebih gak suka berkendara saat hujan meskipun dengan mobil.”


“Oh sorry!” Ujar Bagas. “Suka baca?” Tanyanya lagi.


“Ya, apalagi ilmu hadist dan tafsir!” Ujar Husna singkat.


“Oh ya kebetulan kita belum kenalan, aku Bagas………” Ujarnya tertahan.


“Hujannya udah berhenti, aku duluan kak!” Ucap Husna langsung berlari kecil, segera meninggalkan Bagas yang masih terduduk.


...**************...


...Maaf terlambat update, semalem kehilangan bab ini. huhuhu.... jadi nulis dari awal, hehehe........

__ADS_1


...HAPPY READING!!!!...


__ADS_2