
“Na, bagaimana cara menenangkan hati atas kegelisahan?” Ujar Bagas bertanya, keduanya sudah duduk dibangku taman pada pagi hari itu. Masih jam 8 pagi jika dilihat dari jam tangan mahal yang melingkar ditangannya.
“Maksudnya kak?” Gadis itu tak mengerti kearah mana pembicaraan yang Bagas maksudkan.
“Ya kalau kamu lagi gelisah akan suatu hal apa yang kamu lakukan?” Berusaha bertanya kembali dengan banyak keraguan yang dirinya bawa.
“Hem? Gelisah ya? Seperti ragu? Atau bagaimana?” Masih tak mengerti dan mencoba memastikan kembali sepemahan dirinya.
“Bagaimana kalau ragu?” Tanya Bagas.
“Husna tidak pernah ragu akan suatu hal.” Menjawab tanpa keraguan sama sekali.
"Kenapa?" Menjawab seolah tak percaya, Bagaimana mungkin ada manusia yang tak memiliki keraguan atas segala hal yang ada.
“Apapun yang telah terjadi kemarin hari ini atau besok yang belum kita ketahui adalah sebuah ketetapan dari ALLAH SWT yang tidak bisa diubah kan? Lantas sebagai manusia untuk apa mengkhawatirkan itu, bukankah
memperbaiki hari kemarin lebih menyenangkan daripada mengkhawatirkan sesuatu yang sudah ALLAH SWT gariskan?” Terangnya berusaha menjelaskan.
"Hah............." Hembusan nafasnya terdengar sangat berat setelah mendengar apa yang Husna jelaskan.
"Apakah Bunda berbicara sesuatu hal yang menyinggung kakak?" Tanya Husna hati-hati.
Malam itu..............
FLASBACK ON
"Diminum dulu nak Bagas, sambil menunggu Husna yang sedang mandi." Ramah Bunda Sulis memberikan secangkir teh hangat untuk tamunya.
"Terimakasih tante, tidak usah repot-repot. Saya jadi tidak enak magrib-magrib begini bertamu seperti ini!" Ujar Bagas mengeluarkan isi hatinya.
"Tidak apa-apa, diminum." Mempersilahkan dengan sopan.
"Baik tante." Ujar Bagas meminum teh hangat yang disajikan.
"Sudah kenal Husna sejak lama?" Pertanyaan yang tidak dirinya prediksi sebelumnya muncul mengudara, situasi yang bahkan tidak pernah terfikirkan kini harus di hadapi.
__ADS_1
Mengapa ini lebih menegangkan daripada mengerjakan soal ujian?
"ehm.... itu....." Gugupnya, hanya suara gemetar yang mampu dirinya keluarkan dari sekian banyaknya kosakata yang seharusnya ada.
"Tidak usah gugup seperti itu, Husna sudah menceritakan sama tante tentang nak Bagas." Bunda Sulis kembali bersuara, mencairkan ketegangan yang ada.
"Maaf tante jika saya lancang suka dengan anak tante, tapi saya janji saya tidak mengajak Husna berpacaran atau melakukan kegiatan yang dibenci oleh Agama. Saya dan Husna hanya berteman tante." Terang Bagas menjelaskan dengan susah payah. Tak dapat dipungkiri bahwa ada sedikit rona bahagia dalam hatinya kala mengetahui fakta bahwa Bunda Husna tau tentang dirinya.
"Alhamdulilah jika nak Bagas mengerti, persoalan hati manusia tidak bisa mengendalikannya. Tante tidak pernah menyalahkan nak Bagas jika suka dengan anak tante Husna. Kita tidak bisa memilih ingin melabuhkan hati kesiapa ya bukan?"
"Ah iya tante."
"Dari sekian banyak wanita, Bukankah Husna masuk kedalam wanita yang sangat tidak menarik dari segi penampilan dengan busana yang mungkin terbilang sangat kebesaran." Mengulik kenapa pemuda ini tertarik dengan putri semata wayangnya.
"Ehm.... saya tidak bisa menjelaskan untuk itu tante, maaf. Tapi darinya saya belajar untuk memperbaiki apapun dalam diri saya, baik sikap dan agama supaya pantas bersama Husna, terkadang saya merasa bahwa sayalah orang yang tidak tau diri dengan lancangnya mencintai Husna yang sangat sempurna dari segala sisi." Jujurnya dari hati yang terdalam.
"Nak Bagas berlebihan." Bunda Sulis menyangkal.
"Maaf tante, tapi saya sangat serius saat berkeinginan untuk meminang Husna menjadi istri saya dimasa depan kelak." Terangnya kembali, oke kita perjuangkan rasa ini sekarang walaupun untuk masa depan.
"Insyaallah saya pastikan itu tidak tante." Jawabnya tanpa ragu.
"ehm... Begitu."
"Maaf tante jika saya lancang berbicara dan ada kata saya yang mungkin tidak berkenan." Berusaha meminta maaf saat respon yang ditujukan Bunda Husna hanya sebaris kata.
"Tidak apa-apa. Sekarang nak Bagas kesibukannya apa?" Mencari topik lain untuk diketahui, hanya memastikan pemuda ini pantas! Maaf jika terlalu berlebihan menurut kalian? Tapi bagi seorang ibu yang hanya memiliki satu putri ini bukankah hal yang wajar?
"Saya sedang menempuh pendidikan di Inggris tante mengambil jurusan Bisnis Manajemen, dan minggu ini bisa pulang ke Indonesia dikarenakan liburan." Jawabnya jujur tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.
"Oh begitu. Berangkat lagi kesana kapan Nak Bagas?"
"Mungkin minggu depan lagi tante, ehm.... Bagas ingin meminta izin tante untuk mengajak Husna pergi besok pagi boleh tidak?" Ujarnya ragu ragu meminta izin. kepalang basah bukan? kita minta izin saja untuk menculik anaknya, eh mengajak anaknya keluar maksudnya.
"Memangnya ingin kemana?"
__ADS_1
"Hanya berjalan jalan saya ditaman tante, jika tidak diizinkan tidak apa-apa. Saya menghormati keputusan tante! Maaf kalau saya lancang." Ujarnya pelan.
"Sudah jangan tegang seperti itu, tante izinkan untuk pergi dengan Husna besok pagi. Tante yakin kamu anak yang baik, tapi ingat dijaga ya Husnanya jangan sampai melakukan perbuatan yang tidak baik." Nasihatnya kepada Bagas.
"Baik tante, terimakasih." Terlihat jelas rona gembira di wajah Bagas kali ini.
"Panggil Bunda saja seperti Husna,tidak apa-apa."
"Ah... ehm... Iya Bunda!" Jawabnya dengan gugup.
"Ingin Sholat disini sambil menunggu Husna?" Tawar Bunda Sulis.
"Tidak usah Bunda, Bagas Sholat dimasjid terdekat saja. Bagas permisi dulu." Ujar Bagas kala dirasa Adzan sudah berhenti berkumandang.
"Yakin tidak menunggu Husna?" Bunda Sulis kembali memastikan.
"Tidak Bunda, sampaikan salam saya pada Husna saja. Assalamualaikum Bunda!" Ujar Bagas berpamitan.
"Waalaikumsalam."
FLASHBACK OFF
"Tidak Na, Bunda mu baik kepadaku. Buktinya dia mau mengizinkan mu keluar bersamaku kan?"
"Lantas?" Tanya Husna kala merasa pemuda ini mulai bersikap aneh.
"Hah..... Entahlah Na. aku merasa berat untuk pergi ke Inggris, ingin rasanya kuliah di Indonesia biar bisa dekat dengan kamu." Nafasnya berat, pandangannya menatap keatas menyadarkan tubuhnya pada bangku taman.
"Jangan seperti itu, banyak orang yang ingin diposisimu kak. Pergi belajarlah dengan tenang Husna disini baik-baik saja. Ada Bunda sama Ayah yang akan selalu siap sedia jagain Husna." Terangnya menenangkan pemuda ini.
"Hah........ Iya Na!" PAsrahnya
*******************
HAPPY READING!
__ADS_1