Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Kelulusan Chris, Selamat ya!


__ADS_3

"Bunda.........." Ujar Husna, kakinya setengah berlari mendekati sang Bunda yang tengah terbaring lemah di atas ranjang.


"Husna....  Bunda gakpapa, jangan nangis ya!" Ujarnya memberikan ketenangan kepada sang putri.


"Hiks, Kenapa Bunda bisa sakit seperti ini!" Ujarnya kembali.


"Bunda hanya kecapekan sayang, Ayah mana?" Ujarnya bertanya.


"Ayah disini Bunda, ini Ayah bawakan bubur, dimakan selagi hangat ya!" Ujar Ayah Hardi masuk dengan penuh hati-hati.


"Husna, Ayah mandi dulu ya nak. Kamu tolongin Ayah buat suapin Bunda ya!" Ujarnya kembali meminta tolong kepada putrinya.


"Ya ayah."


Dengan penuh ketelatenan, gadis kecil itu memberikan suapan demi suapan kepada Bundanya. Terlihat jelas raut wajah kekhawatiran dan cemas dalam wajah gadis kecil itu.


Jika kebanyakan orang tua akan merahasiakan apabila dirinya sakit kepada anak yang posisinya tidak tinggal di dalam rumah dengan mereka, tidak berlaku dengan keluarga tuan Hardiyanto.


Bunda Sulis selalu mengajarkan keterbukaan dan mengatakan, "Kita ini keluarga, tak baik menyembunyikan hal apapun!"


Keterbukaan satu sama lain, karena pada dasarnya! saat anak beranjak dewasa, orang tua harus bisa memposisikan sebagai teman dan sahabat bukan lagi orang tua.


Sehingga saat anak memiliki masalah sekecil apapun, dirinya akan bercerita kepada orangtua, Ini meminimalisir atas tindakan yang tidak diinginkan yang pada dasarnya masa muda adalah masa mencoba-coba sesuatu hal yang baru.


"Bunda sudah kenyang sayang, Bunda jauh lebih baik sekarang!" Ujarnya tersenyum, mata tua itu beberapa kali memegang perutnya yang penuh dengan nyeri.


"Bunda sakit perut?" Tanyanya dengan heran.


"Iya sedikit sayang! Tak apa." Jawabnya.


"Sebaiknya Bunda periksa dulu kerumah sakit. jangan memandang remeh rasa sakit." Ujarnya kembali.


"Apa yang di sarankan Husna ada benarnya Bunda, Ayah setuju!" Ujar Ayah Hardi yang telah selesai membersihkan dirinya.


Tanpa mau menerima penolakan apapun, akhirnya mau tak mau Bunda Sulis dilarikan kerumah sakit malam itu juga.


"Bagaimana dok?" Husna dan Ayah Hardi menunggu dengan harap cemas.


"Ikut keruangan saya pak!" Ujarnya kembali,


"Baik dok!" Jawab keduanya dengan patuh. "Jadi istri saya sakit apa dok?" Tanyanyanya.


"Begini Pak, ada kista dalam rahim istri anda dan ukurannya sudah besar. Jalan satu-satunya hanya dilakukan operasi pengangkatan kista!" Terang dokter tersebut. "Tenang saja, ini hanya operasi kecil, jaminan nya 99% akan berhasil, setelah kista itu dikeluarkan maka istri bapak tidak akan mengalami rasa sakit kembali." Menjelaskan sedetail mungkin.


"Apa hanya operasi jalan satu-satunya dok?" Ujarnya bertanya.

__ADS_1


"Obat hanya menetralisir rasa sakitnya pak, kista itu akan tetap berkembang biak dan semakin besar!" Terang dokter begitu lugas.


"Hah...... Baiklah dok, saya setuju jika istir saya harus dioperasi!" Putus Ayah Hardi.


"Baik, bapak tanda tangani surat ini, kita akan mensurvei kembali terlebih dahulu kondisi Nyonya Sulis, jika dalam keadaan stabil kita bisa melakukan operasinya dengan segera!"


"Baik dok, kami permisi!" Ujarnya, kaki tua itu melangkah keluar mengandeng tangan sang putri.


"Ayah......" Tubuh kecil itu memeluk erat, tangisnya tak bisa lagi dibendung.


...*************************...


"Cie selamat ya!" Ujarnya disambut hangat oleh seluruh keluarganya dirumah, meja makan sudah di isi beberapa makanan yang sangat menggugah selera.


"Thanks Kak!" Ujarnya memeluk sang kakak, Claudya.


"Thanks Ma!" Tak lupa memeluk sang Mama, meskipun banyak konflik yang dirinya ciptakan sehingga membuat Mamanya beberapa kali meradang dengan penuh amarah tapi Christian sangat mencintai Mamanya.


"Thanks Pa!" Ujarnya.


"Nah gitu dong, anak Mama pasti bisa!" Ungkapan itu disambung dengan suasana penuh haru dan bahagia milik keluarga besar Herlambang.


"Ini!" Kunci diserahkan untuk putra kesayangannya dari Papa.


"Mobil keluaran terbaru dan milikmu!" Ujarnya.


"Papa........ Thanks!" Harunya menyambut kebahagiaan.


"Inget jangan dijual lagi dan jangan nakal!" Ibunegara sudah memberikan titah dan sebaiknya turuti saja Christian, jangan bandel lagi untuk kesekian kalinya.


"hehehehe.... oke Ma!" Ujarnya dengan cengengesan.


Lain hal dengan Christian yang telah merampungkan pendidikannya, kini kita beralih ke perjuangan pemuda yang bernama Bagas yang cukup mengenaskan. Sangat.


"Cantik sih, tapi bisu dan aneh banget, itu hijab atau telapak meja! Besar banget!" Ujar beberapa pemuda dengan kekehannya memandang penuh hina atas Husna yang kebetulan melewatinya.


"Heh! lo budek?" Salah satu mereka menarik hijab milik Husna.


"Brengs*k!!!" Entah dari mana Bagas datang dengan menatap nyalang dua pemuda itu dan langsung memberikan bogeman mentah.


"Sekali lagi lo ganggu dia! Gue bunuh lo berdua!" Ujar Bagas dengan sinis, masih terlihat jelas amarah yang meletup letup.


"Sok pahlawan lu buat cewek kayak dia!"Ujar salah satu pemuda dengan nada meremehkan.


Perkelahian pun tak bisa di hindarkan.

__ADS_1


"Udah!" Husna berusaha berujar dan menengahi tapi sia-sia, suara lembutnya nyatanya tidak sampai kependengaran milik Bagas.


"Apa-apan si lo!" Ujar Rama yang datang dan berusaha menengahi, "Lo kenapa si gas!" Ujarnya mendorong sahabatnya lebih jauh.


"Kalian bertiga ikut Bapak ke ruang BK!" Nasib sial memang datang tanpa kita ketahui, oh terimalah nasibmu Bagas.


Skor 3 hari adalah hukuman yang diberikan untuk ketiga pemuda itu, termasuk Bagas tentunya.


"Bagas kamu harus bisa menahan emosi kamu, ingat posisi kamu disini masih sebagai ketua osis!!!" Ujar Guru BK memberikan pengertian pada Bagas setelah 2 siswa yang terlibat perkelahian dengan dirinya pergi meninggalkan ruang BK.


"Maaf pak!" Ujarnya menunduk.


"Hah.... untuk kamu hukuman saya ringankan, saya akan memberikan surat peringatan kekamu mengingat semua jasa yang telah kamu berikan pada sekolah saat kamu menjabat sebagai ketua osis!"


"Makasih pak." Ujarnya menunduk dengan hormat dan pergi meninggalkan ruang BK.


"Lo kenapa si men? Demi cewek..." Ujar Rama, kakinya di sejajarkan saat melihat Bagas keluar dari ruang BK.


"Lo mau gue hajar untuk selanjutnya." Bagas ternyata masih belum bisa mengendalikan emosinya.


"Oke oke, tapi kan...."


"Diem deh, lu mending tinggalin gue sendiri dulu!" Ujar Bagas final.


"Oke fine!" Dengan perasaan kesal, Rama membiarkan Bagas sendiri.


"Kenapa harus membela saya?" Tanya Husna yang datang tiba-tiba, membuat keheningan yang sejak tadi tercipta di taman tersebut menjadi sedikit mencair.


Hening.


"Ini obat dan kapas nya!" Ujar Husna menyerahkan pada Bagas dengan menaruh di samping ia duduk.


Hening.


"Maaf saya tidak bisa mengobati luka anda secara langsung dan terimakasih atas pertolongan anda pada saya!" Ujar Husna dengan sopan.


"Anda Anda Anda!!! emang gue bos elu!" Ujar Bagas, dan akhirnya omelan itu kembali kediri bocah tengil itu. Mengambil kapas dan obat yang Husna sediakan dan di oles sendiri secara perlahan.


"Hahaha...." Tawa kecil itu pertama kali Bagas dengar dari mulut Husna.


"Cantik banget..........." Bathin Bagas, matanya langsung menatap tanpa berkedip.


...**************...


...HAPPY READING!!!!!...

__ADS_1


__ADS_2