Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Babak baru.


__ADS_3

"Jadi kamu kenapa masih disini?" Ujar Bunda Sulis bertanya kala tubuhnya dirasa sudah lumayan membaik.


"Jagain bunda dong." Masih bisa tersenyum dan merapikan beberapa sisa makanan.


"Husna...." Ujarnya menekan kata.


"Hah... Baiklah Bunda. Husna memilih keluar dari pondok pesantren saja, supaya bisa menemani Bunda." Jujurnya.


"Husna tapi itu kan impian kamu."


"Bagaimana Husna bisa tenang meraih mimpi Husna, jika surga Husna saja sedang membutuhkan Husna."


"Tapi kan ada Ayah!" Ujar Bunda.


"Bunda harus istirahat sudah malam." Ujar Ayah Hardi memperingati kedua wanita cantik miliknya.


"Ini keputusan Husna bunda, bagi Husna bunda dan Ayah adalah segalanya." Senyum manis itu di layangkan pada sang Bunda.


Malam dirumah sakit untuk ketiga anggota keluarga itu, banyak kasih dan sayang yang selalu dilimpahkan pafa ketiganya dari masing masing anggota.


...***************...


"Papa!!!!" Ujar Christian dengan omelan lesunya, sifat kekanakan-kanakan tersebut nyatanya masih bersemayam dalam diri tuan muda ini, belum sepenuhnya menghilang.


"Ini sudah ke10 kalinya kamu mengeluh seperti itu Christian."


"Pa, tapi ini...."


"Jika di kantor aku bukanlah Papamu, aku adalah Direktur utama perusahaan "Gemilang." dan kamu adalah anak magang yang harus belajar dalam pantauan saya!"


"Papa....." masih berusaha merenggek.


"Mohon hormati saya pak Christian, saya disini adalah atasan anda!"


"Oke, oke!" Ujarnya lesu, diurungkan sudah segala bentuk omelan dan protes yang hendak dilayangkan pada sang Papa.

__ADS_1


Jam nampaknya sangat tidak berpihak pada Christian, sangat lama dalam perpitaran waktu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Ujar Pak Herlambang mengintruksi.


"Maaf Pak, jika menganggu waktunya. Saya ingin menyerahkan anggaran biaya guna perancangan produk baru kita yang sudah saya revisi dan disetujui oleh Pak Sam." Ujar Pak Hardi memberikan berkasnya.


"Apa memerlukan perbaikan yang banyak dari hasil anggaran kemarin yang sudah kita sepati di rapat."


"Tidak Pak Herlambang, hanya sedikit perubahan. Mohon dicek kembali."


"Baik saya kan cek."


"Apa ada yang perlu ditanyakan lagi Pak Herlambang, jika tidak saya pamit untuk undur diri." Ujarnya meminta permisi.


"Baik Pak, saya permisi!" Ujarnya membungkuk dengan sopan lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Sorot mata yang tadinya mengantuk dan ingin membuang segala bentuk dokumen yang ada didepannya seketika menjadi sirna karena Pak Hardi yang baru saja memasuki ruangan sang Papa.


Setiap gerak gerik laki-laki tua itu selalu dilihat dan dilirik oleh Christian, seperti ajang penilaian dalam lomba. memang penilaian, tapi menilai atas baik atau tidaknya sosok Pak Hardi dimata Christian. hingga langkah kaki tua itu keluar meninggalkan ruangan milik sang Papa.


"Pah, siapa?" Tanyanya langsung , arah matanya masih berpusat pada pintu keluar.


"Cuman staf papa, kenapa?" Tanyanya.


"Gakpapa pa!" Ujarnya mengakhiri tanda tanya yang meskipun banyak pemikiran negatif yang keluar dari otaknya.


Genap satu bulan Christian dipaksa berjuang keras memahami segala bentuk dokumen dan transaksi yang berkaitan dengan kegiatan bisnis utama perusahaan Gemilang, jika otaknya bisa mengeluh, mungkin ia akan mengumpatkan kata-kata kasar pada sang pemilik.


"Kusut bener muka lo!" Ujar Sebastian bertanya pada sohibnya itu.

__ADS_1


"Gila, otak gue mau pecah rasanya. mending gue lanjut kuliah lagi deh daripada harus ngurus perusahaan papa gue!" Ujarnya menggerutu, mengeluarkan segala bentuk protes.


"Gayaan mau kuliah S2 lu, kemarin kaalau bukan karena gue mungkin lu gak bisa lulus. masih aja jadi penyumbang dana di itu kampus."


"Sialan lu, pake di ingetin lagi.


"Ya gimana ya? habis kalau lu susah nyarinya gue sih, jadi mesti gue wanti-wanti sedari awal biar gak nyusahin gue kedepannya."


"Bac"t lo gue tampol juga nih lama lama."


"Hahahahaha......."


Obrolan itu cukup seru nampaknya untuk kedua pemuda yang memang memiliki satu pemeikiran yang sefrekuensi, ah menyenangkan nampaknya jika memiliki sahabat yang saling mengerti.


"Oh ya, gue mungkin gak bisa nemenin elu cerita buat 6 bulan kedepan, gue mau magang!" Ujar Sebastian memberitahu disela makan nya.


"Elu cepet banget, tiba-tiba aja udah magang."


"Bukan gue yang kecepetan sih, tapi elu nya aja yang jalannya lemot."


"Sehari lu gak ngehina gue kayaknya gak lega." Sinisnya begitu tajam menatap Sebastian yang ada di depannya.


"Hehehe......" cengirnya, "Harusnya lu bersyukur atas apa yang lu punya, jangan kebanyakan ngeluh. lo liat banyak diluar sana yang lulus kuliah susah susah cari kerja sana sini, bawa berkas panas panasan masukin ke satu perusahaan ke perusahaan lain. La lu enak, cuman disuruh ngelanjutin bisnis Papa lu mana tu bisnis udah gede, syukuri aja ngapa si bro!" Ujar Sebastian memberikan wejangannya.


"Setdah tumben pikiran lu bisa luas kayak gitu, emang ya calon magister manajemen gitu loh!" Sindirnya.


"Lu mah dikasih tau.........."


"Oke, oke, thanks bro!" Ujar Christian menyela kala melihat raut waajah sahabatnya akan meledak.


*******************************


HAPPY READING, sebelumnya author ingin meminta maaf yang sebesar besarnya karena sudah hampir 1 bulan gak update sama sekali karena di 1 bulan tersebut banyak kejadian yang tidak enak untuk di lewati.


Jaga kesehatan semuanya.....

__ADS_1


__ADS_2