
"Gimana hasilnya?" Tanya Sebastian saat melihat Christian keluar dari ruangan dosen pembimbing.
"Huh....... sorry kayaknya gue......." Ujarnya tertahan dengan memasang muka yang cukup mengenaskan.
"Dah gak usah sedih, gue tetep akan bantu lo kok. emang harus ada penolakan dulu dan drama kalau ngerjain tugas akhir tapi its okey elu udah........." Laju kata Sebastoan tertahankan kala.....
"Udah acc minggu depan gue sidang bro!" Ujar christian, raut wajah tadi diubah cukup cepat dan sekarang berganti dengan wajah yang saat sumringah.
"Lo yakin?"
"Yakinlah ini!" Ujar Christian menunjukkan lembar skripsi miliknya yang sudah ada tandatangan dibumbui stampel fakultas.
"Wah selamat bro, lo harus traktir-traktir gue kayaknya ini!" Tengilnya Sebastian langsung meminta imbalan tanpa tau malu.
Perkara omelan yang tertunda, Christian hampir melemparkan buku dengan kekuatan penuh untuk menyumpal mulut sahabatnya itu, bagaimana tidak? omelan Sebastian sangat terngiang-ngiang dan membuat sispapun yang mendengarnya akan memanas.
Ya itu karena ulahmu sendiri Tuan Christian yang terhormat.
"Cie kayaknya seneng banget itu muka?" Tanya Claudya yang tengah duduk diruang televisi bersama dengan Mama Anggita, kedua wanita cantik pemegang tahta tertinggi itu nampaknya tengah bersantai.
"Iya dong!" Ujar Christian langsung duduk disamping kakaknya, dengan tak tau diri ia menenggak minuman sang kakak, biarkan saja namanya juga kakak sendiri bukan? Jadi tak masalah.
"Eh lu, gak sopan bener ye!" Nada sensitif kala minuman yang baru setengah ia minum kini sudah tandas tak tersisa.
"Pelit amat sama adek sendiri, btw lo kok udah dirumah aja biasanya kan?" Tanya Christian dengan dahi menyerit heran.
"Nih tanyain sama mama lu." Ujar Claudya menunjuk Mama Anggita.
"Kenapa?" Ibu negara sudah memasang kuda-kuda ingin sewot.
"Gakpapa ma, gakpapa kok!" Ujar Christian, ngeri membayangkan amukannya. "Liat nih, gue bakal ujian minggu depan!" Menyerahkan lembar skripsi pada kakaknya untuk melihat, masih dengan nada sombong.
"Wih keren!" Ujarnya bertepuk tangan, tak lupa memeriksa sebuah kebenarannya "Tumben lu mau kerjain skripsi?" Tanya Claudya mersa aneh.
__ADS_1
"Udah kagak usah ditanya, tumban tumben. Bagi duit kenapa kak? Buat hadiah gitu?" Meminta tanpa ada basa basi.
"Gak usah dikasih kak!" Mama Anggita mengintruksi.
"yeah mama, kan Christian mau selesai ini loh!" Ujarnya nelangsa merasa tak mendapatkan sebuah keadilan.
"Bukannya papa sudah menjanjikan hal yang sangat menguntungkan saat kamu lulus? Udah tungguin aja." Mama Anggita berujar.
"Yeah mama, yaudah deh Chris mau mandi aja!" Ujarnya beranjak, kakinya melangkah lesu masuk kedalam kamar ridurnya.
TRING!!!!!
Sebuah notifikasi pesan masuk dalam handphone miliknya "Gue udah tf elu 50jt, chek aja. Selamat belajar!" Ujar sang kakak, dan benar saldo dalam rekening miliknya bertambah 50 jt.
"Elu memang kakak gue yang paling baik!" Tuturnya bersenandung ria, sangat mengerti kemauan sang adik.
***********************
Layaknya siswa lainnya, banyak hal baru yang ditemui dan dijumpai, cukup menyenangkan atas segala kejadian. Teman, sahabat, suasana kelas yang menyenangkan.
Pribadinya pun berubah, taat beribadah, ya meskipun niatnya ingin melihat Husna saja. setidaknya ia sudab mulai taat akan kewajibannya.
Membayangkan dirinya didepan menjadi imam kemudian menengok menjawab salam kiri kanan dan menoleh kebelakang ada Husna yang menyambutnya dengan tangan terkulur, indah bukan? Lupakan khayalan itu Tuan Bagas, Husna saja masih bersikap dingin padamu.
"Tidak!" Jawaan singkat itu yang keluar, soal nama sudah tidak menjadi perdebatan keduanya. Siapa tak mengetahui sosok Bagas, kalau Husna? pemuda itu pasti sudah pasti tau mencari semua tentangnya bukan?
"Ayolah Husna, kamu berbakat!" Ujarnya kembali.
"Tidak!" betul bukan? sekarang Bagas sudah memanggil namanya dengan jelas.
"Tapi kau siswa berprestasi, aku menjaminmu akan diterima di posisi anggota dan akan."
"Tidak, apalagi dengan caramu yang seperti ini untuk membujukku, sungguh aku tidak berminat dengan organisasi!"
__ADS_1
"Oke oke baiklah maafkan aku...."
"Hm........."
"Aku suka kamu!" Peduli apa lagi, ia sudah sabar selama ini untuk menahannya, ungkapkan saja. Sabar dalam hal semingguan, sayang untuk terus diam dan melewat bidadari indah didepannya.
Sorry, Bagas tak ingin ditikung oleh siapa pun.
"Wajar seseorang menyukai orang lain, Tuhan memberikan rasa itu!" Jawabnya nampak ambigu.
"Suka dengan mu sebagai wanita Husna?"
"Ya aku tau, aku kan memang wanita? apa aku terlihat seperti sosok laki laki bagimu? bukan kan?" Jawab Husna sekenanya, memang fakta nya seperti itu kan?
"Mencintaimu sebagai wanita dan ibu dari anak anak ku nanti!" Final Bagas memperjelas apa yang dirinya maksud.
"Jangan sebercanda itu kak, kita masih sekolah dan Tuhan tidak memperbolehkan mahluknya untuk berpacaran!" Terangnya memberikan pengertian yang cukup bisa dimengerti.
"Tapi.........."
"Jika dilanggar bukankah akan mendapatkan dosa? dan Tuhan tidak akan mengampuni mu!" Ujarnya kembali.
"Oke oke baiklah, aku akan menantimu dan kelak aku akan meminta jawaban itu!" Usulnya mencari celah agar bisa diterima.
"Tanyakan saja saat aku dewasa nantinya, jika kedua orang tua ku menyetujuimu. Insyaallah aku akan menerimamu, tapi jangan menungguku kak, jika kau temukan wanita yang lebih baik saat proses itu , maka menikahlah dengan dia!" Ujar Husna, dirinya sudah berdiri "Berhenti untuk terus mengejarku saat disekolah, itu tidak baik jika dilihat orang lain bukan? kita bukan muhrim yang pantas ada diruangan dengan jarak yang dekat dan fokuslah pada ujian akhirmu."
"Saya permisi, Assalamualaikum!" Ujar Husna, kakinya benar-benar pergi melangkah.
Ini pertama kalinya, entah Tuhan memberikan ketanangan macam apa? yang jelas, penolakan yang dilakukan Husna sama sekali tidak menimbulkan rasa kecewa atau sakit hati dengan macam apapun.
Dirinya mengajarkan sebuah penantian panjang, dan semoga Tuhan merestui itu.
"Aku akan menunggu mu!" Ujarnya tersenyum.
__ADS_1
*****************************
...HAPPY READING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!...