Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Perasaan


__ADS_3

Duduk di bangku taman memandang keindahan langit malam yang menyuguhkan taburan bintangnya. Cukup indah dengan angin sejuk yang berhembus.


"Kenapa putri Bunda masih diluar rumah malam malam begini hm?" Bunda Sulis datang dan duduk disamping putrinya.


"Hehehe.... eh bunda, tidak apa-apa bun!" Jawabnya tersenyum.


"Bagaimana tadi? senang?" Tanya Bunda Sulis pada putri kesayangannya.


"Begitulah, dia baik Bunda. Husna tak enak hati kalau tidak memperlakukannya baik. Toh dia hanya seminggu disini, nanti akan kembali lagi ke Inggris." Terang Husna, berusaha sejujur mungkin. Ibu memanglah sahabat terbaik dalam bercerita untuk anak perempuannya kan?


"Ah begitu? Ehm.... Husna suka sama Nak Bagas?" Tanya Bunda Sulis hati-hati.


"Suka, dia baik dan tidak pernah berlaku kasar pada Husna." Tuturnya menjelaskan yang sebenarnya.


"Bukan seperti itu maksud Bunda, tapi suka terhadap seorang laki-laki dewasa dari perempuan dewasa juga." Menjalaskan dengan penuh pengertian.


"Jika kak Bagas berlaku baik seperti ini terus menerus pada Husna, mungkin dimasa depan Husna akan menyukainya Bunda." Jawabnya sedikit ragu.


"Mengapa harus menunggu lagi untuk memutuskan?" Tanya Bunda Sulis.


"Husna sepertinya tidak pantas rasanya untuk Kak Bagas, banyak wanita cantik diluar sana yang mungkin akan menyukainya dimasa depan kelak daripada Husna ini!" Mulai merasa kecil akan dirinya sendiri.


"hey, tak boleh seperti itu. Putri Bunda cantik dan tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya dimata Bunda." Memberikan semangat pada putri semata wayangnya.


"Ah Bunda bisa aja bikin Husna seneng." Ujar Husna tersipu malu.


"Harus dong!" Senyumnya. "Menurut Bunda Nak Bagas adalah pemuda yang baik, Bunda berpesan jika Husna mulai mencintainya doakan saja yang baik-baik untuknya agar dipermudah segala hal. dan minta sama Tuhan agar kelak Husna dan Nak Bagas bisa berjodoh sesuai dengan takdir yang telah ditetapkannya." Memberikan nasihat kembali.


"Baik Bunda, Husna akan ingat selau pesan Bunda." Diiringi senyuman secerah mentari.

__ADS_1


Waktu nampaknya bergulir dengan cepat, hari ini lebih berat dari yang pertama. Hatinya makin gelisah, seolah meminta kedua kakinya untuk tidak pergi dan menetap di Indonesia saja.


"Hati-hati kak, semoga selamat sampai tujuan. jangan lupa kue nya dimakan, buatan Bunda sebagai tanda terimakasih, hehehe...." Pesan singat diterima Bagas dari Husna.


Gadis itu tidak dapat mengantarkan Bagas ke Bandara dikarenakan ada jadwal ujian yang saling bertabrakan dengan jadwal keberangkatan Bagas.


"Oke Husna. Ehm.... Na, tawaranku masih sama." Balasnya. Tawaran yang akan membiayai full penuh Husna berlibur ke Inggris kala masa liburannya telah tiba. Namun gadis ini menolak berdalih tidak ingin merepotkan, lebih baik uangnya kakak simpan. Nasihatnya begitu.


"Hehehehe... tidak kak, terimakasih sebelumnya. Husna lebih suka menghabiskan liburan di Indonesia bersama Bunda!" Tolaknya kembali menjelaskan, harus ada kalimat penjelas atas jawaban yang dirinya lontarkan. Jika tidak ada pemuda ini akan banyak bertanya yang pertanyaanya sangat memusingkan Husna.


Gadis ini akan menghabiskan masa Liburannya untuk mengaji, memperdalam ilmu agamanya bersama Bunda dan belajar menjahit, kata Husna seperti itu.


"Baiklah Na!"


Christian, presdir PT Gemilang. Informasi ini sudah Bagas dapatkan H-1 keberangkatannya kembali ke Inggris. Hanya bertemu tak sengaja dan mengajak makan Husna, selama dirinya di Indonesiapun ia tidak menunjukkan pergerakan akan menggoda Husna bukan?


Mungkin ini hanya kekhawatiran yang berlebihan pada dirinya sendiri, Ujar Bagas berusaha berdamai dengan segudang kegelisahan.


Adanya kantor cabang yang  baru 3 bulan terakhir ini telah beroperasi dengan sangat baik, dibawah pimpinan Tuan Hardiyanto selaku Ayah dari Husna. Loyalitas pria paruh baya itu terhadap perusahaan cukup diperhitungan. Sangat baik dalam mengemban amanah. Papa Herlambang lah yang mengajukan usulan itu secara pribadi kepada putranya, disusul dengan pendapat para jajaran direksi perusahaan yang setuju.


Pundi-pundi rupiah sudah terbayang akan berapa besar keuntungan yang diperoleh nya. "Apa persiapan minggu depan sudah matang dengan sempurna Christian?" tanya Papa Herlambang kala berkunjung keperusaannya.


"Semua berjalan dengan sempurna, keuntungan yang akan kita peroleh nantinya sebagaian akan Christian gunakan untuk mengembangkan perusaahaan cabang agar lebih besar lagi Pa!" Jawabnya dengan kalimat non formal karena dalam ruangan hanya ada kedua orang tersebut.


"Papa bangga denganmu!" Ujarnya kembali.


Tok tok tok


Pintu diketuk beberapa kali dengan pelan, Sebastian masuk dengan tergesa-gesa. raut wajahnya sangat  cemas. Kira-kira hal penting apa yang membuatnya melangkah tergesa dijam istirahat seperti ini.

__ADS_1


"Maaf Bos, apa bisa saya menganggu? ada hal penting yang ingin saya bicarakan!" Ujarnya dengan sopan kala melihat Papa Herlambang juga berada diruangan yang sama.


"Bicaralah sebastian, jangan sungkan." Kini Papa Herlambanglah yang menjawab pertanyaannya.


"Tapi tuan?"


"Sudah bicaralah." Ujar Christian mempersilahkan.


"Kita mengalami masalah yang cukup serius bos. produk baru yang kita munculkan...." Ujarya terbata, "Ada perusahaan lain yang sudah meluncurkannya hari ini dengan harga yang dibawah standar dan kualitas yang lebih baik dari kita." Jelasnya secara rinci tanpa bertele-tele.


"Apa!!! Bagaimana bisa?" Christian masih tak bisa menyangka.


DEG!!!!


Tubuh Papa Herlambang seketika lemas, tangannya memegang bagian dada,merasakan nyeri yang hebat dijantung miliknya.


"PAPA!!!!!!!!!!"


"TUAN!!!!!!!!" Kedua laki-laki muda itu perlahan mendekat ke pria paruh baya.


"Kamu urus ini dulu, saya akan mengantarkan Papa saya kerumah sakit." Jawab Christian dengan cepat.


"Baik bos."


Perjalan ke rumah sakit kali ini cukup singkat hanya membutuhkan waktu beberapa menit dari waktu yang seharusnya, Christian mengendara dengan sangat tergesa-gesa.


"Pa jangan khawatir,  Christian akan menyelesaikan masalah ini dengan segera." Kata tenang terus dilayangkan Christian sepanjang perjalanan kerumah sakit, hingga Papanya masuk kedalam ruang tindakan.


"***************************************

__ADS_1


HAPPPY READING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


__ADS_2