Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!

Gadis Muslim, Milik Tuan Arogan!!!
Liburan


__ADS_3

Pesawat bernama “Garuda Indonesia” baru saja mendarat di Bandara dengan penerbangaan yang berasal dari Inggris. Pemuda tampan itu cukup berkharisma, kaos berbalut kemeja dengan celana jeans, tak lupa kacamata hitam yang bertengger. Sangat sempurna.


Kampusnya memasuki musim liburan semester, kalau di Indonesia? Mungkin berbeda tergantung dari kebijakan kampus yang sudah di terapkan dengan sedemikian baiknya.


Baru saja menyelesaikan ujian akhir pada sore hari, malamnya Bagas langsung pulang ke negaranya. Pemuda ini rasanya tidak akan pernah lelah jika menyangkut tentang Husna bukan?


Rindu keluarga? Ah saya rasa tidak? Atau Rindu dengan Rama, sahabatnya? Itu sangat tidak mungkin sekali bukan?


Bagas pulang dengan segudang rindu yang ditujukkan pada gadisnya, Bukan Bagas! Dia masih tidak memberikan jawaban lebih atas perasaamu itu, Kau saja yang ingin dirinya menjadi milikmu bukan?


“Anj lo, kalau enggak sahabat dari dulu udah gue tendang lo dari tadi!” Rama mengomel ketidaktahuan diri Bagas untuk menjembut dirinya dijam kuliah yang seharusnya dia hadiri.


“Ealah, gitu doang protes kayak mak-mak komplek aja lo.” Ujarnya tidak terima disamakan dengan ibu-ibu.


“Lagian baru juga pergi 6 bulan udah balik sini, ngapain si? buat Indonesia penuh aja!” Tanyanya masih dengan nada kesal.


“Gue udah liburan anj, gue disono mau ngapain? Ya mending gue balik lah. Kan bisa ketemu lo juga, emang lo gak kangen sama gue?” Alibinya supaya Rama tidak terus-terusan mengomel.


“Dih mulut lo gayanya, lo tu gak kangen ke gue atau keluarga lo. Lo cuman kangen sama Husna kan?” Tebaknya langsung tepat pada sasaran.


“Hehehe…. Jelas banget ya muka gue.” Menjawab seperti tidak punya dosa saja.


“Awas ya sampe lo muji Husna, gue beneran bakal tendang lo supaya masuk lagi noh didalam pesawat.” Ujar Rama memperingati.


“Kejam amat lo jadi sahabat. Btw gimana kabar istri gue!” Mulai tidak tau diri nampaknya.


“Dih, kayak si Husna beneran mau aja sama lo.” Cacinya mengejek.


“Ram…..!”


“Iya-iya maaf. Oh ya ada yang gue mau bicarain ke elu.” Ujar Rama, kali ini wajah manusia tengil satu ini cukup serius mengatakan bait kata.


“Soal Husna?”Tanya lagi, memang hanya itu yang ingin Bagas ketahui bukan?


“Kan emang itu yang lu harapain dan pengen lu denger kan?” Menjawab sesuai isi hati sahabatnya.


“Hem……”


“Yaudah mampir ke kost gue dulu, tapi sebelumnya kita beli makan siang dulu. Gue yang pilih restorannya dan lo yang bayar.” Ujar Rama sambil memasuki mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir Bandara.

__ADS_1


“Kok enak di elu sih?” Protes Bagas yang saat ini duduk disebelahnya.


“Mau gak? Itung-itung gaji jadi mata-mata untuk menjaga neng Husna ya kan?” Godanya.


“Gue tampol mulut lo kalau nyebut dia pake kata neng, hanya gue yang boleh manggil dia gitu.” Jawab Bagas dengan keposesifannya.


“Belum jadi aja udah posesif pak-pak.” Ujarnya setengah berbisik.


“Gue gak pernah kawin sama mak lo ya, jadi jangan panggil gue bapak. Lagian lo kalau mau ngomel jangan disini, suara lo masih kedengeran.


“Iye iye, maap!”


Rama adalah definisi orang yang selalu memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin yang tidak akan datang di lain hari lagi bukan? Bayangkan mulut remaja ini tidak sesuai dengan kenyataan, beberapa cemilan dan bahan pokok di belinya dengan alasan itung-itung amal dengan mahasiswa kost.


“Hah…… lo tu kayak orang miskin habis kena gusur.” Protes Bagas kala keduanya sudah sampai di kost milik Rama dan sang pemilik tengah


mengeluarkan barang belanjaannya dan menata di meja yang sudah tersedia.


“Hehehehe……..” Ujarnya dengan cengiran tak berdosa. “Oh ya, gue pernah liat Husna sama cowok makan berdua, berapa minggu setelah lo pergi ke Inggris.” Ujar Rama memulai pembicaraan setelah memberikan makan siang untuk Bagas.


“Kok lo baru cerita sekarang!” Ujar Bagas dengan sewot ditengah kunyahan makannya.


“Itu termasuk, harusnya lo tuh ngabarin apapun tentang Husna.”


“Lo gak bisa gituin dia, lagian gue juga gak bisa harus stay 24 jam buat mantau dia, kalau Husna tau mungkin dia akan gak nyaman.” Jelas Rama.


“Tapi kan?”


“Kalau dia jodoh lo, berapa banyak cowok yang datang pun pasti lo pemenangnya .” Ujarnya berusaha menenangkan Bagas, sohibnya.


“Sebenernya gue pengen banget cerita ke elu saat itu juga, tapi gue tau lo baru sampai sana dan pasti lo sibuk dengan tugas dan menyesuaikan tempat, gue disini juga masih sibuk nyesuain lingkungan kampus ini.”


“Oke, Thanks. Sorry kalau tadi…” Ujarnya tak enak hati.


“Gue lihatnya gak terlalu lama, mereka duduk di ruangan yang privat tapi masih bisa dilihat.” Mulai menjabarkan.


“Temen seangkatan Husna? Atau angkatan kita di SMA!” Tanya Bagas, kali ini dengan nada pelan.


“Gue gak pernah lihat orang itu disekolah kita, dan menurut gue dia bukan lagi anak sekolahan deh.” Otak minimnya mulai mengingat kejadian tersebut.

__ADS_1


“Lalu?”


“Dia seperti pegawai kantoran ya mungkin bisa di bilang om-om.” Ujar Rama menjelasakan dengan raut wajah mengingat.


“Lo yakin? Atau jangan-jangan itu bukan Husna, mata lo aja yang rabun mungkin?” Mulai menyalahkan Rama atas informasi yang baru saja dia dengar.


“Mata gue normal, dan gue lihat dengan jelas itu Husna meskipun sebentar dan dari kejauhan!” Tuturnya kembali seolah tidak terima atas fakta yang baru saja Bagas lontarkan untuk dirinya ini.


“Tapi gak mungkin bisa saja itu bokapnya Husna kan?” Masih berusaha menyangkal.


“Bukan! Gue udah coba selediki dia tapi susah untuk cari tau, setelah 3 bulan akhirnya gue bisa tau siapa om-om yang sama Husna waktu itu.” Tuturnya berdiri mencari sesuatu.


“Siapa?”


“Gue cuman tau kalau itu laki-laki satu perusahaan dengan tempat Ayahnya bekerja, kalau gak salah nama perusahaannya PT Gemilang dan gue cuman ada fotonya. Tentang nama dan jabatan dia bahkan kehidupan pribadinya, gue gagal buat cari infonya.” Ujar Rama menyerahkan sebuah foto.


“PT Gemilang? “ Ujar Bagas nampak berfikir. “kayaknya gak asing deh ini orang!” Ujar Bagas menerima foto tersebut.


“Selain laki-laki di foto ini sama elu, setau gue si Husna gak pernah mau ketemu lawan jenis deh.” Memberikan sebuah fakta yang dirinya saja masih ragu, mungkin? Imbuhnya di akhir kalimat.


“Gue mau pindah aja lah kuliah disini!” Putus Bagas dengan gegabah.


“Bac*t lo kalau ngomong difiikir dulu, gue tau lo orang kaya tapi hargai orang tua lo juga yang udah susah payah biayain bego.”


“Gue takut Husna diambil orang deh.”


“Emang lo bisa mastiin? Kalau lo kuliah disini dan pantau Husna 24 jam doi akan suka balik ke lo? Yang ada itu cewek malah risi ke elo bego!” Ujarnya Rama kembali menjabarkan atas tindakan gegabah yang akan segera dilaksanakan oleh Bagas.


“Ya terus gue harus gimana?”


“Sabar bro, gue ada disini juga bantuin lo. Lagian doi masih mau kan sesekali balas chat lo?” Tanyanya mengulik informasi.


“Ya masih mau si, tapi jawabannya selalu datar dan hanya beberapa kata.”


“Kan emang si Husna gitu.”


*************************


HAPPY READING.................

__ADS_1


__ADS_2