
"Papa dengar minggu depan kau akan ujian skripsi bukan?" entah dari mana Tuan Herlambang datang dengan membawa secangkir kopi ditangannya.
"Pa? Tumben Papa kesini?" Ujar Christian bertanya.
"Sudah lama papa tak memiliki waktu luang berdua dengan mu bukan?" Ujar Papa Herlambang. Tubuh paruh baya itu duduk di balkon kamar sang putra.
"Apa ada sesuatu hal ingin papa bicarakan?" Tanyanya tak faham, kenapa harus selarut ini datang ke kamar Christian.
"Tidak ada sesuatu hal atau masalah apapun, semua sudah berjalan selayaknya dan sebaik mungkin!" Mulut paruh baya itu bertutur dengan begitu lembut, menghirup dan menyesap kopinya dengan nikmat. "Ikut Papa ke kantor besok!" Ujarnya tiba tiba, sangat aneh.
"Pa, aku...." Ujarnya tergagap.
"Ayolah, kau harus liat masa depanmu!" Bujuknya selembut mungkin.
"Tapi pa...."Ada kegelisan dalam diri yang nampaknya tak enak untuk dijelaskan dengan gamblang. bahkan tutur kata lembut, sangat susah memberikan sebuah pengertian.
"Kau tak mau meneruskan bisnis Papa bukan?" Tanyanya lagi.
"Papa aku...." Ucapannya tergagap.
"Bicaralah nak, papa menghargaimu!" Ujar Pak Herlambang mencairkan suasana agar tak secangung dan semenegangkan seperti ini.
"Chris tak mau dengan semua ini, duduk dikursi dengan sejumlah dokumen dan bertemu orang orang yang bahkan menghalalkan semua cara untuk menjilat para investor!" Terangnya.
"Papa tau apa yang kau maksud! Tapi satu hal yang perlu kau ingat, Tuhan tidak memberikanmu atau siapapun orang yang lahir untuk memilih dari orangtua mana kita dilahirkan bukan?" Tanyanya.
"Chris tau maksud papa!"
"Andai Papa bisa memiliki seorang anak kembali, Papa tak akan memaksamu Chris, tak ada orang tua yang memaksakan kehendak dan menekan kebahagiaan anaknya, tapi papa tak punya pilihan lain!" Ujar Papa Herlambang, mata tua itu mulai mengembun saat berkata.
"Kau tau? Dulu saat mama mengandungmu. kau sangat merepotkan bahkan menyusahkan papa dan mama!" Menelisik sepertihan masa lalu.
"Benarkah?"
"Ya, kau membuat mamamu benci atas hal apapun yang papa lakukan jika terkait bisnis! Appaun. dan benar, saat kau lahir dan sampai sebesar sekarang kau sangat membenci kata bisnis!" Ujarnya nampak perih menyampaikan tiap kata. "Tapi Tuhan nampaknya tak mengizinkan Papa dan Mama mendapatkan anak selain dirimu, Tuhan hanya menginginkan cinta papa dan mama habis untukmu saja!" Ujarnya kembali.
"Maaf Pa, mungkin Chris kurang bisa memahami kemauan dan keinginan dari Papa dan Mama!"
"Kau tak perlu meminta maaf Chris, Papa yang seharusnya minta maaf karena telah memaksamu. Tapi kamu satu satunya harapan yang Papa miliki saat ini. Jangan kecewakan Papa!" Ujarnya beranjak.
Kata jangan kecewakan papa nampaknya akan menjadi bayang bayang yang membuat Christian tak bisa menolak lagi keinginan Papanya.
...*******************...
Tak
Tak
__ADS_1
Tak
Tak
Suara sepatu berjalan dengan gagahnya saling bersautan.
"Masuklah!" ujar Papa Herlambang mengintruksi Christian untuk masuk kedalam ruangan presdir kala itu. Ini pertama kalinya dirinya menginjakkan kaki di perusahaan keluarga, dan miliknya sendiri. Jika waktunya sudah tiba.
"Duduk!" Ujarnya meminta sang anak untuk duduk dengan nyaman.
"Nyaman!" Ujar Christian selembut mungkin.
"Kelak semua ini akan menjadi milikmu, termasuk ruangan ini!" Ujar Papa Herlambang dengan senyuman, "Ini!" Menyodorkan dengan lembut kehadapan sang putra.
"Apa" Tanyanya dengan dahi menyerit.
"Tanda tangani Chris, setelahnya Papa juga akan menandatanginya."
"Pihak pertama yang bertanda tangan Tuan Herlambang akan di berikan 100% kekayaan yang ia miliki kepada Christian Pradipta Herlambang selaku pihak kedua dan juga anak kandung dari Tuan Herlambang." Ucap Christian membacanya dengan mode tergagap. "Apa?" Ujar Christian nampak kaget.
"Papa memberikan semua ini untukmu, kaulah yang berhak atas semuanya!" Ujar Papa Herlambang dengan tersenyum manis. "Anggap saja sebagai hadiah kelulusan mu nanti!" Ujar Papa Herlambang dengan candaannya.
"Tapi Pa? Kenapa secepat ini?" Dahinya dengan heran, apa yang dimaksud sang Papa memberikan semua dengan posisi dirinya sendiri masih menjabat menjadi seorang ketua komisaris.
"Syarat dan ketentuan berlaku Christian, kau baru bisa menduduki kursi ketua komisaris saat umurmu 25 tahun dan lulus kuliah!" Ujarnya menerangkan, agar Christian merasa tidak terbebani.
"Tak perlu terburu buru, Papa akan selalu mendampingi setiap proses belajar mu. Kau tanyakan pada Papa saat mengalami kesulitan dan kau juga bisa tanyakan pada Pak Sam!" Ujarnya lagi.
"Pak Sam?"
Tok
Tok
Tok
"Nah itu dia." Papa Herlambang berbicara, "Masuk!" Titahnya mengintruksi.
"Maaf direktur, ada keperluan apa memanggil saya kemari?" Ujarnya bertanya dengan sopan tak lupa membungkuk.
"Kenalkan ini putra saya, Christian!" Ujar Papa Herlambang memperkenalkan putra semata wayangnya.
"Christian."
"Pak Sam, tuan muda." Ujarnya membalas dengan sopan.
"Kau berkelilinglah disini, Papa akan menyelesaikan tugas Papa!" Ujarnya pada sang putra, "Tolong temani putra saya Pak!" Pak Herlambang nengintruksi Pak Sam yang berdiri tak jauh dari keduanya.
__ADS_1
"Baik Direktur, mari tuan muda!" Ujarnya mempersilhakan untuk keluar terlebih dahulu.
Berkeliling dan berkenalan dengan beberapa staf serta tugas apa yang mereka kerjakan, dari lantai teratas hingga kebawah. Ruang produksi dan penyimpanan bahan baku juga diperlihatkan, semua diterangkan dengan jelas oleh Pak Sam kepada Tuan muda Christian.
"Terimaksih Pak Sam atas bantuannya."
"Anda tak perlu sungkan tuan muda!" Ujarnya tersenyum ramah.
"Sekali lagi terimakasih. Anda boleh kembali kepekerjaan anda Pak, saya akan disini!"
"Tapi tuan."
"Tidak apa apa Pak!"
"Baik tuan muda saya permisi!" Ujarnya membungkuk hormat.
Kantin kantor, cukup bisa membuat dirinya menenangkan. menarik nafas dan membuangnya beberapa kali, membayangkan kehidupan berat yang mau tak mau harus di lanjutkan olehnya.
"Gadis itu?" Dahinya menyerit, ini benar atau tidak! Tapi sangat buram dilihat.
Tak lama, seseoarang laki laki paruh baya menghampirinya. keduanya berpelukan dengan erat.
"Yang berhijab sama saja ternyata!" Ujarnya memandang remeh, pandangan itu dialihkan ke lain arah, membiarkan saja. toh peduli apa dirinya tentang gadis itu, "Pantas saja, dalam memberi sesuatu kepada orang lain berlebihan. Simpanan gadun ternyata!" Mulut mu tak peduli tapi hatimu mencaci, memandang remeh bahkan merendahkannya.
Hingga hari itu tiba, dimana Christian saat ini. Duduk di ruang tunggu dengan harap cemas dan raut wajah yang menegang menunggu giliran.
"Tegang amat itu muka!" Ujar Sebastian meledek.
"Sialan lo!" Sinisnya.
"Hahaha... Santai bro, lu bisa kok. Gak semenyeramkan yang ada di otak lo. Apalagi ada gue yang bantuin nyusun ini!"
"Eh bacot lo diem aja ya, ini masih di area kampus dan didepan ruangan ujian. Jangan lemes kenapa!"
"Iye iye, Maaf!!!"
Christian , silahkan masuk! Petugas Admin hari itu mengintruksi Christian untuk masuk kedalam ruangan.
"Doain gue!" Ujarnya kembali menatap sohibnya.
"Elu mah kalau lagi disituasi kayak gini langsung inget kalau lu punya Tuhan!" Sinisnya.
"Etdah, timbang doaian apa susahnya."
"Iye iye, Jangan lupa bismillah!" Ujarnya sebelum akhirnya Christian masuk dan menghilang dalam ruang ujian.
...****************...
__ADS_1
...HAPPY READING!!!!!!!!...