
Kala kakinya melangkah keluar dari cafe tempatnya tadi berbincang dengan sahabat karibnya yaitu Sebastian, mata miliknya sedikit terkejut dengan kehadiran gadis cantik itu, masih mempergunakan seragam sekolah lengkap.
"Gila itu cewek, ternyata laris manis juga. mana sekarang pacarnya lebih muda." Tuturnya bergumam kala melihat selulet Husna yang berada dalam toko buku dengan seorang pria sebayanya.
"Lu ngomongin apa sih?" Tanya Sebastian yang sempat mendengar sahabatnya itu bergumam.
"Gakpap, lu jadi laki kepo amat!" Ketusnya.
"Gue bukannya kepo tol*l, ya elu nya juga sih! Ngapain bergumam di samping gue, kan gue mikirnya elu kagak ikhlas setelah traktir gue makan tadi. Kagak jadi berkah ini.........." Ucapan Sebastian terhenti.
"Bac*t bener astaga itu mulu elu!" Ujar Christian geleng-geleng kepala. "Lagian kalau gue bilang kagak ikhlas kayak elu mau ganti aja." Sindirnya begitu telak.
"Hehehe...."Ujarnya tersenyum.
"Harusnya kakak gak usah ngikutin kemana langkah kaki Husna berjalan" Ujar gadis cantik ini, jujur saja semenjak hari itu. Hari dimana Husna memberikan jajanan sebagai tanda terimakasih, Bagas bagaikan bayangan tubuh Husna.
Ini sungguh menjengkelkan.
"Aku juga mau beli buku kok!" Kilahnya berlagak sok, padahal ini adalah hari bebas setelah anak SMA kelas 3 melaksanakan ujian penentuan kelulusan minggu kemarin.
"Bukannya kakak sudah lulus, untuk apa cari buku?" Pertanyaan telak yang membuat Bagas seketika bungkam
"Eeee itu... apa ya? itu... Belajar."Jawabnya sangat bisa terdeteksi bahwa sedang berbohong.
"Hah, sudahlah kak jangan berbohong dan mencari alasan, dan tak perlu berterimakasih hanya sebuah...."
"Tapi itu berarti bagi aku Husna, kamu kan tau kalau aku...."
"Ya, dan shut!!!! ini toko buku. Jangan berisik ya!" Titahnya kala merasa nada bicara Bagas sudah meningggi, khawatirnya akan mengundang sorot mata pengunjung lain ke arah keduanya.
"Oke, oke sudah?" Tanya Bagas, kali ini bertanya sedikit pelan.
"Iya........." Jawab Husna dengan kaki melangkah ke arah kasir.
"Ini mbak saya yang bayar!" Ujar Bagas langsung memberikan kartu debit miliknya.
"Kak, ini......." Ujar Husna pelan.
"Gakpapa, gak enak dilihat mbaknya. Masa kamu bayarin aku!"
"Tapi.....:
"Udah dek gakpapa, gak usah malu-malu. cowoknya baik banget, mana ganteng lagi. Kalau saya seumuran kamu, saya juga mau kok jadi pacarnya, Ikhlas!" Goda petugas kasir wanita tersebut.
Senyum yang cukup sombong dilayangkan Bagas pada Husna.
__ADS_1
"Uangnya aku ganti aja ya kak, ini!" Ujar Husna memberikan 3 lembar uang seratus ribuan kala keduanya sudah keluar dari toko buku itu.
"Eh gak usah, kalau kamu mau bayarin aku mending temenin aku makan, laper nih!" Ujar Bagas seperti anak kecil.
"Tapi aku yang bayar ya!" Usul Husna.
"EH?"
"Ya atau tidak?" Putus Husna final.
"Iya deh iya....." Jawab Bagas, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak datang untuk kedua kalinya bukan?
...*****************************...
"Kita kayak orang pacaran deh kalau gini!" Ujar Bagas menggoda kala keduanya sedang asyik menikmati makanan yang sudah tersaji.
"Duh, aku salah ngomong ya? Maaf." Ujar Bagas kembali bersuara kala melihat reaksi yang ditunggujukan Husna yang kurang nyaman dengan pernyataannya tersebut..
Bagaimana bisa? ada wanita yang dengan terang-terangan menolak pesona seorang Bagas, tampan, kaya, ketua osis, ketua basket. Bahkan wanita di seluruh sekolahnya berbondong-bondong ingin menjadi pacarnya?
Mengapa perempuan didepannya berbeda? Ujarnya terus bertanya dan bergelut dalam hati.
SUNGGUH TAK MASUK DIAKAL.
"Hah.... Pacaran itu dosa kak! dan di agama jelas sudah diterangkan dengan detail bagaimana akibat dan mengapa itu dilarang ALLAH SWT!" Jujurnya, argh! Gadis ini terlalu agamis di era seperti sekarang yang beranggapan bahwa "LANTAS DARIMANA DATANGNYA JODOH? KALAU TIDAK PACARAN TERLEBIH DAHULU?" banyak yang mengira demikian.
Bukankah saat kamu terlahir didunia sudah berpasang-pasangan? ALLAH SWT menjanjikan itu bukan?
"Yaudah yuk kita nikah aja!" Memang mulut dan otak dengan pola pikir dangkal ya seperti ini lah terbentuk dalam diri Bagas.
Tapi tunggu? Sejak kapan anak ini berfikiran untuk menjalin sebuah komitmen yang serius? nampak tidak masuk diakal, seperti bukan dirinya.
"Kak, jangan berbicara yang tidak-tidak!" Tegur Husna dengan sopan.
"Iya deh iya, maaf! Kalau gitu kita bisa jadi teman kan?" Tanyanya masih harus memperjuangkan sebuah status dianggap apa dirinya dimata Husna Ayu.
"Boleh, tentu. kita berteman dengan siapa saja bukan?"
"Yang bilang mau dan boleh kamu membagi teman yang lain siapa Husna? maunya aku aja teman kamu!" Bathin Bagas meronta , namun hanya kata "Iya ya..." yang mampu keluar dari mulutnya disertai dengan senyuman.
"Duh keciduk ya kalian berdua!" Rama bagaikan mahluk tak kasat mata yang dengan santainya duduk diantara dua orang tersebut.
"Siapa yang nyuruh lu duduk?"Ujar Bagas dengan tatapan sinisnya.
"Neng Husna, boleh kan abang duduk disini! Abang kesini sendirian, neng Husna gak kasihan kalau abang makan disana sendirian gak ada temannya!" Muka Rama memang pantas untuk diberikan gamparan.
__ADS_1
"Sok lu, bodo amat gue! pergi gak!" Ujar Bagas masih tak terima.
"Sudah kak Bagas, gakpapa kok. kak Rama boleh gabung disini kok." Ujar Husna sopan.
"Noh kuping elu denger gak? Husna fine-fine ja gue gabung disini. Kalau elu keberatan ya elu aja sana yang pindah!" Ejek Rama pada Bagas sahabatnya.
Tring
Tring
Tring
"Husna izin angkat telfon dulu ya kak, dari Ayah!" Ujarnya dengan nada yang sopan.
"Duh, Ayah mertua gue!" Khayalan dalam hati Bagas.
"Iya Ayah, Husna sudah selesai membeli buku dan ini segera turun kebawah. Assalamualaikum!" Ucap Husna menutup telfon dari Ayahnya.
"Kenapa?" Tanya Bagas.
"Husna harus turun kebawah duluan ya kak, Ayah nunggu di parkiran mall ini."
"Aku antar!" Ujar Bagas menawarkan.
"Tidak perlu kak, kak Bagas disini saja nemenin Kak Rama, Husna duluan ya!" Ujar Husna melangkah dengan tergesa-gesa, meninggalkan dua insan yang sama-sama menjengkelkan bagi hidupnya, akhir-akhir ini sih.
"Elu sih ganggu gue aja!" Ujar Bagas menggeplak kepala Rama kala Husna sudah pergi meninggalkan keduanya.
"Gue bilangin ya, elu tuh jangan sok ngejar banget kayak gitu. Tetep stay cool kayak Bagas yang dulu kenapa?" Ujar Rama menasehati.
"Gue rela banting harga demi doi!" memang pesona pada pandangan pertama begitu kuat dan luar biasa.
"Dih gue geli ngedengernya, lagian tu anak baru masuk kelas 1. terus elu pepet kayak perangko, apa itu anak gak mikir kalau elu cowok cap buaya? solanya elu terlalu pro dan pengen banget jadiin dia pacar."
"Oh yaya!"
"Nah mikir, ngejar cewek juga ada tak tik nya bro, mana dia agamis lagi. minimal deketin pelan pelan, cari tau tentang apa yang dia sukai, jangan lu ikutin kek bayangan."
"Tumben elu pinter?"
"Rama gitu loh, gue gak mau elu ditolak sama doi!" Ujar Rama.
"UH... so sweet!"
"Bukan peduli, tapi gue gak mau direpoti kalau elu galau!" Bahhahahaa kejujuran Rama membuat wajah Bagas masam seketika.
__ADS_1
...****************************...
...HAPPY READING!!!!!!!!!!!!!!...