Gadis Pecal Lele Jatuh Cinta

Gadis Pecal Lele Jatuh Cinta
BAB 10. GEDUNG PENCAKAR LANGIT _GPLJC


__ADS_3

Membuat ia mengerutkan keningnya. Siapa yang menghubungiku jam segini?" gumamnya dalam hati sembari langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada seseorang yang menghubungi dirinya. Yang ia juga tidak mengetahui siapa.


Hallo assalamualaikum dengan warung pecel lele Wardah di sini." Saa Wardah di dalam sambungan telepon selulernya.


"Waalaikumsalam, sahut salah seorang pria yang ada di ujung telepon. "Maaf saya Garnier pemilik jas yang dulu kamu kotori."


"Iya Mas, ada yang bisa saya bantu? ucap Wardah di dalam sambungan telepon selulernya dengan ramah.


Malam ini akan ada acara di kantor saya. Jadi saya berniat untuk memesan menu makanan seperti yang saya makan biasanya di warung. apakah kamu bersedia untuk menghantarkan ke kantorku?" ucap pria itu di dalam sambungan telepon selulernya.


"Insya Allah bisa Mas, Kalau boleh tahu Mas ingin memesan berapa?" tanya Wardah penuh selidik


"Saya ingin memesan sekitar 50 kotak saja. kirimkan nomor rekening Kamu. Saya akan transfer biayanya. Totalnya Berapa biaya yang harus saya keluarkan ?" ucap pria itu kepada Wardah. Baik Tuan, Saya akan menghantarkan menu makanan yang anda pesan.


"Berapa biayanya? tanya pria itu penuh selidik. Satu setengah juta Tuan." sahut Wardah


"Okey, kamu kirimkan sekarang juga nomor rekeningmu. Aku akan transfer langsung." ucap pria itu langsung mematikan sambungan telepon selulernya.


Wardah pun melakukan seperti apa yang diucapkan pria itu, mengirimkan nomor rekeningnya kepada sang pemesan menu makanan dari warung miliknya. Tidak menunggu lama setelah Wardah mengirimkan nomor rekening miliknya ke pada pria itu, pembayaran menu makanan pesanan lelaki itu pun sudah masuk ke rekening milik Wardah.


Membuat Wardah seolah tidak percaya begitu saja. "Ya Allah, terima kasih atas rezeki yang kau limpahkan kepada hamba." gumam Wardah dalam hati sembari memperhatikan layar ponselnya, kalau nominal uang yang ada di rekening milik warga sudah bertambah sebesar apa yang dijanjikan oleh pria itu.

__ADS_1


Terlihat Wardah pun memberitahu pesanan itu kepada Oval dan teman-temannya. Agar mereka bersiap untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Garnier. Dengan penuh perjuangan dan semangat, Mereka pun mengerjakan menu makanan pesanan Garnier, mereka tidak ingin membuat pria itu kecewa akan menu yang dipesan oleh pria itu.


Karena ini merupakan pesanan pertama lelaki itu sampai ke kantor yang ia Pimpin. "Aku jadi penasaran siapa sebenarnya sosok lelaki itu." gumam Wardah dalam hati. "Mengapa dia begitu baik kepadaku? dan mengapa pria itu langsung mengirimkan uang pesanan miliknya, padahal jarang sekali orang-orang percaya begitu saja. Apalagi jumlahnya yang tidak sedikit seperti ini." batin Wardah sembari terus mengerjakan apa yang diminta oleh pria itu.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya menu makanan pesanan pria itu pun selesai mereka kerjakan. Wardah pun meminta tolong kepada Oval dan yang lainnya Untuk tetap menjaga warung miliknya jam operasi warung itu tutup.


Sementara saat ini, Wardah berlalu dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya untuk Membawa menu makanan yang dipesan oleh Garnier. Ia pun melihat di layar ponselnya, alamat yang dikirimkan pria itu kepadanya.


Wardah berlalu menghantarkan menu makanan yang di pesan Garnier sebelumnya. Setelah tiba di sebuah gedung tinggi pencakar langit itu, Wardah begitu takjub melihat kantor besar Kantor milik pria itu. "Siapa sih sebenarnya pria itu? Sepertinya dia kaya sekali." gumamnya Wardah di dalam hati.


Mas Tunggu sebentar ya, Saya ingin bertanya dulu benar tidaknya alamatnya Di Sini." ucap Wardah kepada Driver taksi online dibalas anggukan dari driver taksi online .


Setelah menghubungi nomor ponsel pria itu dan sambungan telepon seluler itu pun, tersambung pria itu meminta wardah untuk menunggunya di lobby.


Drive taxi online itu membantu Wardah mengangkat menu makanan itu, masuk ke dalam kantor. Terlihat Garnier sudah berada di sana. Ia meminta beberapa anak buahnya untuk mengangkat menu makanan itu, ke lantai di mana mereka akan mengadakan meeting.


"Tolong angkat menu makanan ini ke ruang meeting." ucap pria itu kepada salah satu OB yang bertugas di sana.


"Terima kasih Mas. sudah memesan menu makanan di warung pecel lele milik saya." ucap Wardah membuat lelaki itu terhenyak.


"Apa?

__ADS_1


"Jadi warung pecel lele itu milikmu?


"Dan kamu yang menciptakan resep pecel itu? tanya pria itu bertubi-tubi kepada Wardah.


"Iya Mas, warung pecel lele itu memang saya yang mengelola. Dulunya warung pecel lele itu dikelola oleh kedua orang tua saya. Tetapi setelah tragedi terjadi menimpa keluarga saya, membuat saya di usia 15 tahun melanjutkan usaha kuliner itu." ucap Wardah sambil berusaha menutupi kesedihannya.


Mendengar penuturan Wardah, terlihat pria itu ingin sekali mengetahui siapa sosok wanita yang ada di hadapannya.


"Oh ya Mas, saya pamit dulu. Kok saya malah menjadi curhat seperti ini kepada mas." ucapnya sambil mengembangkan senyumnya menatap pria itu dengan tatapan seksama.


Garnier mengembangkan senyumnya. "Tidak apa-apa, Nanti Lain kali kita cerita lagi Jika kamu memiliki waktu. Saya akan sering-sering datang ke sana. Soalnya masakan kamu enak dan gurih." ucap pria itu memuji menu makanan yang disediakan di warung pecel lele miliknya.


"Terima kasih Mas." ucap sawit Wardah langsung berpamitan kepada Garnier.


Garnier menatap kepergian Wardah sampai bayangan wadah menghilang dari pandangannya. "Luar biasa wanita itu, masih muda dan Sepertinya dia masih belasan tahun apalagi seperti yang dia ucapkan,ia baru tamat SMA." gumam pria berparas tampan itu sembari terus memperhatikan langkah Wardah masuk ke dalam taksi.


Benar-benar wanita yang unik. Kenapa aku begitu dekat dengan wanita itu, dan sepertinya aku ingin sekali lebih mengenal wanita itu." gumam Garnier di dalam hati sembari melangkah masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruang kerjanya.


Tentunya setelah Wardah berlalu pergi dari sana. Ia juga meminta kepada karyawan karyawati yang bekerja di kantor miliknya, untuk segera berkumpul di ruang meeting. karena ada sesuatu hal yang akan ia bicarakan kepada para karyawannya. Garnier begitu salut kepada Wardah yang mandiri di usianya yang masih sangat muda tetapi keluarga sudah mandiri. "jarang sekali wanita seperti itu apalagi di zaman sekarang." gumam Garnier sembari berjalan ke ruang meeting.


Bersambung.....

__ADS_1


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2