
("Kakak akan ke sana, di rumah sakit mana?" Tanya Edwind sambil tersenyum bahagia karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan wanita yang dicintainya).
("Rumah Sakit Akhirnya Aku Menemukanmu di ruang perawatan." Jawab Adara).
("Baik, Kakak secepatnya akan ke sana." Ucap Edwind).
("Hati-hati Kak." Ucap Adara).
("Ok, kamu juga hati-hati." Ucap Edwind).
("Ok, bye." ucap Adara).
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Edwind kemudian Adara menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Aku sangat lapar mau ke kantin, kamu tidak apa-apakan aku tinggal?" Tanya Adara.
"Tidak apa-apa, aku titip susu coklat hangat ya." Pinta Katty.
"Ok." Jawab Adara singkat.
Adara keluar dari ruang perawatan dan berjalan dengan santai menuju ke arah kantin hingga dirinya melihat seorang pria tampan sedang mencengkram erat rahang seorang gadis cantik tanpa ada orang yang berani menolongnya.
Adara yang tidak tega melihat gadis tersebut berjalan ke arah mereka dengan langkah cepat.
Grep
__ADS_1
"Lepas! Gadis itu bisa ma ti!" Pekik Adara sambil berusaha melepaskan tangan pria tampan tersebut.
"Jangan ikut campur!" Bentak pria tersebut dengan nada dingin.
"Aku akan ikut campur sampai Tuan melepaskan tangannya." Ucap Adara sambil berusaha menarik tangan pria tampan tersebut.
"Apa kamu mau menggantikannya?" Tanya pria tampan tersebut sambil memalingkan wajahnya ke arah Adara dengan tatapan dingin dan datar.
"Ya, tapi lepaskan tangan Tuan." Jawab Adara yang tidak tega melihat wajah gadis tersebut mulai membiru karena kekurangan pasokan oksigen.
Pria tampan tersebut melepaskan cengkraman tangannya kemudian bersiap mengarahkan tangannya ke arah leher mulus Adara.
"Uhuk .. Uhuk ... Uhuk ..."
Plak
"Pergilah!" teriak Adara.
Tanpa banyak bicara gadis itupun pergi tanpa memperdulikan apa yang terjadi dengan Adara padahal Adara sudah menyelamatkan nyawanya.
Pria tampan tersebut tersenyum menyeringai ketika Adara menepis tangannya. Pria tampan itupun bersiap menyerang Adara membuat Adara bersiap untuk melawan.
Pria tampan dan Adara saling serang dan memukul hingga beberapa saat Adara mulai terdesak bersamaan kedatangan empat pria untuk membantu Adara namun dihalangi oleh empat bodyguard milik pria tampan tersebut.
"Berhenti!" teriak seorang pemuda tampan.
Bruk
__ADS_1
Grep
Adara yang sangat familiar dengan suara pemuda tampan tersebut langsung membalikkan badannya bersamaan pria tampan tersebut memukul tengkuk Adara membuat Adara mulai kehilangan kesadaran bersamaan pria tampan tersebut memeluk Adara.
Deg
Deg
'Kenapa jantungku berdetak kencang? Tidak ... Tidak mungkin aku menyukai gadis ini karena semua gadis itu sama.' Ucap pria tampan tersebut dalam hati.
"Kak Edmund." Panggil Adara dan tidak berapa lama Adara tidak sadarkan diri.
Di saat krisis datang kakak kembarnya Adara nomer dua yang bernama Edmund.
"Lepaskan adikku!" Bentak Edmund.
"Lepaskan putri kami!" teriak Daddy Edward dan Mommy Alona bersamaan sambil berjalan ke arah pria tampan tersebut.
Pria tampan tersebut terpaksa mendorong tubuh Adara dan langsung ditahan oleh Edmund kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Tidak usah di kejar lebih baik kita urus putri kita " Ucap Mommy Alona.
Daddy Edward hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan sedangkan Edmund menggendong Adara menuju ke arah UGD dengan diikuti oleh ke dua orang tuanya.
"Siapa pria itu? Kenapa menyerang putri kita?" Tanya Daddy Edward sambil berpikir.
"Mommy juga tidak tahu Dad, dalam perjalanan menuju ke restoran Adara dan Cintya di serang dan sekarang di rumah sakit putri kita di serang juga. Apa orangnya sama?" tanya Mommy Alona.
__ADS_1
"Daddy akan meminta bantuan keluarga besar Alvonso untuk mengetahui siapa yang menyerang putri kita." Ucap Daddy Edward.
"Bukankah orang- orang Daddy sudah menangkap mereka yang menyerang putri kita dan Cintya? Kenapa tidak tanya saja sama mereka, siapa yang menyuruhnya?" Tanya Mommy Alona.