Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia
Ayah Angkat


__ADS_3

Marbella membuka matanya dan melihat Daddy Edward memapah ke dua anak kembarnya tanpa meminta bantuan anak buahnya sambil sesekali mengobrol dan tertawa bersama.


'Waktu aku kecil, aku tinggal di panti asuhan di mana kurang kasih sayang hingga di usia sepuluh tahun aku di adopsi oleh seorang pria dan menjadikan aku seorang gadis yang kuat dengan mengajariku berbagai ilmu bela diri dan juga di ajari membaca serta menulis.' Ucap Marbella dalam hati.


'Umur lima belas tahun aku diberikan misi untuk membunuh orang sesuai perintah pria yang mengadopsi ku dan misi berhasil hingga aku dijadikan sebagai mesin pembunuh.' Sambung Marbella dalam hati.


'Selama misi aku sering melihat ke dua orang tuanya tidak pernah melihat seperti yang aku lihat sekarang di mana orang tuanya sangat dekat dengan anak mereka. Apakah aku tega menyakiti mereka?' Tanya Marbella bimbang.


Tidak berapa lama datang Mommy Alona bersama Adara kemudian membantu Edwind untuk di bawa ke ruang UGD.


"Edwind dan Edmund kalian tidak apa-apa?" Tanya Mommy Alona.


"Tidak apa-apa Mom, hanya lecet sedikit." Jawab Edwind dan Edmund bersamaan.


"Syukurlah, oh ya terima kasih sudah menolong ke dua putra kami." Ucap Mommy Alona sambil menatap ke arah Marbella.


"Sama-sama Nyonya, sesama manusia harus saling membantu." Jawab Marbella sambil tersenyum.


'Maaf aku terpaksa berbohong.' Ucap Marbella dalam hati.


'Kenapa aku semakin tidak tega untuk melukai mereka?' Tanya Marbella dalam hati dengan wajah bingung.


Mommy Alona hanya menganggukkan kepalanya hingga akhirnya Edwind, Edmund dan Marbella kini berada di ruang UGD sedangkan yang lainnya menunggu di pintu luar UGD.


Hingga lima belas menit kemudian Edwind, Edmund dan Marbella keluar dari ruangan UGD menuju ke arah Mommy Alona, Daddy Edward dan Adara.


"Mommy dan Daddy kita jadi berangkat sekarang?" Tanya Edwind.


"Kalian tidak apa-apa kalau berangkat sekarang?" Tanya Mommy Alona balik bertanya.


"Tidak apa Mom." Jawab Edwind dan Edmund bersamaan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap Daddy Edward.


"Baik Mom." Jawab mereka bersamaan kecuali Marbella.


"Maaf, kalau begitu saya pamit pulang." Ucap Marbella.


"Kamu tinggal di mana? Biar kami yang mengantarmu pulang." Ucap Mommy Alona yang merasa hutang budi dengan Marbella.


"Tidak perlu repot-repot Nyonya, saya pulang sendiri saja apalagi Nyonya dan keluarga Nyonya mau pergi." Ucap Marbella.


"Panggil saja Mommy sama seperti ke tiga anak kembar kami memanggilku dengan sebutan Mommy." ucap Mommy Alona sambil berjalan ke arah Marbella.


"Tapi ..." Ucapan Marbella terpotong oleh Mommy Alona.


"Mommy melihat apa yang tadi kamu lakukan di mana kamu menolong ke dua putraku ketika ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Seandainya saja kamu tidak menolong ke dua putraku tepat waktu mungkin saja ..." Ucap Mommy Alona menggantungkan kalimatnya.


Marbella hanya menundukkan kepalanya dalam hatinya berkecamuk melanjutkan misinya atau berhenti. Tanpa di duga Mommy Alona memeluk Marbella membuat Marbella terkejut sekaligus merasakan nyaman seperti di peluk seorang Ibu di mana dirinya belum pernah merasakannya. Marbella membalas pelukan Mommy Alona sambil memejamkan matanya.


'Maafkan aku Ayah angkat, aku terpaksa melanggar untuk tidak membunuh mereka karena aku tidak tega melakukannya. Jika Ayah angkat menyuruh orang lain maka dengan sangat terpaksa aku melawan orang suruhan Ayah Angkat walau nyawaku menjadi taruhannya.' Ucap Marbella dalam hati.


"Kamu tinggal di mana? Biar kami yang mengantarmu pulang." Ucap Mommy Alona mengulangi perkataannya.


"Aku tinggal di panti asuhan Kasih Bunda dan berencana besok mencari kontrakan." Jawab Marbella berbohong.


'Maaf sebenarnya aku tinggal di rumah ayah angkat ku tapi aku tidak mau mencelakai kalian karena di sana banyak anak buahnya yang mempunyai ilmu bela diri yang lumayan tinggi.' Sambung Marbella dalam hati.


"Bagaimana kalau kamu ikut kami dan tinggal di negara kami?" Tanya Mommy Alona penuh harap.


"Apakah boleh?" Tanya Marbella sambil menatap ke arah Daddy Edward kemudian berlanjut ke arah Edwind, Edmund dan Adara.


"Tentu saja boleh." Jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


Marbella hanya menganggukkan kepalanya membuat Mommy Alona tersenyum bahagia.


'Entah kenapa ketika melihat Marbella, aku merasakan seperti melihat diriku di masa laluku.' Ucap Mommy Alona dalam hati.


Merekapun pergi meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan mobil. Daddy Edward duduk di kursi pengemudi sedangkan Mommy Alona duduk di samping pengemudi. Edmund dan Marbella duduk di kursi belakang pengemudi.


Untuk Edwind dan Adara naik mobil ambulance di mana ada Katty berbaring di brangkar bersama ke dua orang tua Katty. Untuk Charli berada di mobil ambulance di mana Cintya berbaring di brangkar.


Hingga tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di bandara hingga Edwind tiba-tiba teringat dengan perkataan Paman Alex kalau pesawat pribadi milik Tuan William yang juga Ayahnya Katty ada bomnya namun bomnya sudah dijinakkan.


"Daddy, Mommy dan semuanya, Edwind baru ingat kalau pesawat milik Daddy William ada bomnya jadi kita naik pesawat pribadi kita." Ucap Edwind dengan wajah serius.


"Apa? Edwind, kamu jangan bercanda." Ucap Daddy William dengan wajah terkejut.


"Edwind tidak bercanda, tadi pagi Paman Alex menghubungi Edwind kalau pesawatnya ada bomnya jadi lebih baik kita naik pesawat pribadi milik Daddy." Ucap Edwind.


"Kalau begitu Katty dan Cintya langsung masuk ke dalam pesawat pribadiku begitu pula dengan kita." Ucap Daddy Edward.


"Baik Dad." Jawab mereka bersamaan.


"Baik Calon besan." jawab Daddy William dan Mommy Chaterine bersamaan.


"Maaf, aku mau ke toilet sebentar." Ucap Marbella tiba-tiba.


"Mau Mommy temani?" Tanya Mommy Alona.


"Tidak usah Mom, hanya sebentar saja kok." Ucap Marbella sambil tersenyum.


Mommy Alona hanya menganggukkan kepalanya kemudian Marbella pergi meninggalkan mereka menuju ke arah toilet. Setelah pergi menjauh Marbella menyalakan ponselnya setelah beberapa saat banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari ayah angkatnya membuat Marbella menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menekan tombol nomer Ayah angkatnya.


("Hallo Ayah, ada apa menghubungi Marbel ..." Ucapan Marbella terpotong oleh Ayah angkatnya).

__ADS_1


("Marbella, apa kamu mencoba mengkhianati Ayah?" Tanya Ayah angkatnya tanpa basa basi).


("Maksud Ayah?" Tanya Marbella pura-pura tidak tahu).


__ADS_2