Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia
Menggigil


__ADS_3

"Kamu menahan tubuh Marbella di saat aku mengeluarkan racun dari tubuh Marbella." Jawab Alex.


"Hanya menahan tubuhnya tidak begitu sulit, tapi kenapa Paman mengatakannya itu padaku agak ragu?" Tanya Edmund penasaran.


'Karena kamu memegangi tubuh polos Marbella di saat aku mengeluarkan racunnya.' Bisik Alex.


'Kenapa tubuh Marbella harus polos?' Bisik Edmund yang ikutan berbisik.


'Hanya dengan cara seperti itu agar bisa mengeluarkan racun.' Jawab Alex.


'Kalau aku melihat berarti Kak Alex juga ikut melihat dong? Aku tidak setuju.' Bisik Edmund dengan nada cemburu.


Ctak


"Kenapa Paman menyentil keningku?" Tanya Edmund dengan nada protes.


'Paman tidak mungkin melihatnya karena terhalang oleh kain. Sebenarnya Paman bisa saja berdua dengan Marbella tapi Paman tidak mau nanti di suruh tidur di luar sama istriku. Karena itulah Paman memintamu untuk memegangi tubuh Marbella.' Bisik Alex.


'Paman serius tidak bisa melihat tubuh polos Marbella?" Tanya Edmund yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alex sambil masih berbisik.


Di pikiran Edmund, Alex pasti bisa melihat tubuh polos Marbella karena bagaimana mungkin hanya dirinya yang bisa melihat sedangkan Alex yang mengobati Marbella.


"Apakah wajah Paman terlihat tidak serius?" Tanya Alex.


"Maaf Paman." Jawab Edmund.


"Ada apa Edmund? Kenapa kalian berdua berbisik?" Tanya Mommy Alona penasaran begitu pula dengan Dewi Arumi istri Alex.


"Edmund ..." Ucap Edmund menggantungkan kalimatnya dengan wajah memerah.


'Si*l membayangkan hal itu membuat wortel importku langsung menegang.' Sambung Edmund dalam hati.


"Maaf, kita tidak ada waktu lagi." Ucap Alex yang tersadar karena waktunya sangat sempit.


Mommy Alona yang ingin bertanya ke Edmund terpaksa tidak jadi bertanya.


"Boleh minta kain putih atau warna lain yang panjang dan lebar serta tidak tembus pandang?" Tanya Alex pada ke dua orang perawat.


"Boleh Tuan." Jawab ke dua perawat tersebut bersamaan.


"Sekalian minta pembatas kain." Ucap Alex.


"Baik Tuan." Jawab perawat tersebut.


Ke dua perawat itupun menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan oleh Alex setelah tersedia Edmund dan Marbella masuk ke dalam di mana mereka berdua dikelilingi oleh kain putih yang tidak tembus pandang.


"Maaf selain aku, Edmund dan Marbella di larang berada di ruangan." Ucap Alex.

__ADS_1


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


"Mommy sekitar setengah jam masuk ke dalam tolong bantu Daddy." Pinta Alex pada istrinya yang sedang berjalan ke arah pintu keluar.


"Ok." Jawab Dewi Arumi singkat.


Satu persatu orang keluar dari ruangan tersebut hingga menyisakan Edmund, Alex dan Marbella.


"Edmund." Panggil Alex dari balik kain putih.


"Ada apa Paman?" Tanya Edmund dengan jantung berdebar-debar.


Antara takut kehilangan Marbella sekaligus bayangan tubuh polos Marbella yang membuat Edmund penasaran karena untuk pertama kalinya dirinya akan melihatnya terlebih orang tersebut adalah gadis yang disukainya.


"Bukalah seluruh pakaian Marbella tanpa sehelai benangpun." Ucap Alex.


"Baik Paman." Jawab Edmund.


Dengan tangan gemetar Edmund mengulurkan ke dua tangannya ke arah tubuh Marbella sedangkan Alex hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian memijat keningnya yang tidak pusing.


"Edmund, jangan lama membukanya karena semakin lama maka nyawa Marbella tidak bisa diselamatkan." Ucap Alex menjelaskan.


"Baik." Ucap Edmund.


Edmund menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melepaskan pakaian milik Marbella hingga dua belas menit kemudian tubuh Marbella polos tanpa sehelai benangpun.


Edmund menelan salivanya dengan kasar ketika melihat tubuh polos Marbella dan tanpa sadar le dua tangannya memegang dua gunung kembar milik Marbella.


"Pas di tanganku." Ucap Edmund tanpa sadar.


"Edmund, jika pikiranmu kotor maka terpaksa Paman akan minta tolong perawat pria atau dokter pria untuk memegangi tubuh Marbella." Ucap Alex dengan nada mengancam.


"Maaf Paman, sekarang apa yang harus aku lakukan?" Tanya Edmund yang tidak rela jika tubuh polos Marbella di lihat oleh pria lain.


"Kamu dudukkan dan letakkan punggung Marbella tepat di telapak ke dua tangan 🧤 ku dan ingat kamu harus menahannya agar tubuh Marbella tidak terjatuh." Jawab Alex.


"Sudah jelas ucapan ku?" Tanya Alex.


"Jelas Paman." Jawab Edmund.


Edmund mendudukkan Marbella di mana punggung Marbella menempel di ke dua telapak tangan 🧤 Alex yang terlihat menonjol di kain putih tersebut.


"Ingat jangan sampai tubuh Marbella ambruk." Ucap Alex.


Alex kembali mengingatkan Edmund agar tubuh Marbella tetap duduk dengan tegap.


"Baik Paman." Jawab Edmund patuh.

__ADS_1


"Oh ya hampir lupa, ambil dua kain putih ini." Ucap Alex sambil melempar ke dua kain putih tersebut dari atas.


Pluk


Ke dua kain putih itupun jatuh tepat di atas kepala Edmund kemudian Edmund mengambil ke dua selimut tersebut.


"Kain yang ukurannya agak panjang untuk menyelimuti ke dua kaki kalian agar darah yang nanti keluar mengenai kain putih itu sedangkan kain yang satunya lagi ukuran sedang untuk menlap mulut Marbella." ucap Alex menjelaskan.


Edmund menyelimuti ke dua kakinya dan berlanjut ke dua kaki Marbella sedangkan kain yang ukuran sedang diletakkan di samping Edmund.


"Sudah Paman." Jawab Edmund.


"Ok. Paman akan menyalurkan tenaga dalam agar racun di dalam tubuh Marbella keluar dan ingat jika Marbella mengeluarkan darah hitam dari mulutnya, Kamu jangan sekali - kali membersihkannya kecuali Paman mengatakan sudah selesai." Ucap Alex menjelaskan sambil ke dua telapak tangannya masih memegang ke dua punggung Marbella.


"Baik Paman." Jawab Edmund sambil memejamkan ke dua matanya.


Sambil ke dua tangannya memegang bahu Marbella, ke dua mata Edmund memejam karena bagaimanapun dirinya pria normal melihat tubuh polos Marbella yang seakan melambai-lambai seakan ingin di sentuh.


Edmund berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya karena bagi Edmund saat ini adalah keselamatan Marbella. Hingga dua puluh satu menit kemudian ...


"Uhuk .... Uhuk... Uhuk ..."


Marbella mulai terbatuk-batuk dan Edmund merasakan tubuh Marbella mulai terasa berat membuat Edmund membuka matanya. Edmund melihat mulut Marbella mengeluarkan darah berwarna hitam sesuai apa yang tadi dikatakan oleh Alex.


'Kata Paman, aku tidak boleh membersihkan mulut Marbella.' Ucap Edmund dalam hati sambil menahan tubuh Marbella agar tidak terjatuh ke arah depan.


Marbella tidak henti-hentinya mengeluarkan darah segar berwarna hitam membuat Edmund kuatir dengan keadaan Marbella. Hingga lima belas menit kemudian Alex sudah selesai dengan tubuh mulai melemah karena banyak mengeluarkan tenaga dalam.


"Sudah selesai dan sekarang kamu bersihkan mulut Marbella hingga bersih dengan menggunakan kain satunya lalu ke dua kain tersebut di lempar ke arah samping kiri melewati pembatas kain." Ucap Alex.


"Baik Paman." Jawab Edmund dengan patuh.


Edmund melakukan apa yang diperintahkan oleh Alex hingga mulut Marbella bersih dari darah yang keluar dari mulut Marbella.


"Sudah Paman." Jawab Edmund.


"Ok, kalau begitu pakaikan pakaian Marbella." Ucap Alex.


"Baik Paman." Jawab Edmund.


'Seandainya saja kita sudah menikah pasti sudah aku makan.' Sambung Edmund dalam hati.


Edmund mendorong perlahan tubuh Marbella agar berbaring di ranjang kemudian Edmund mengambil segitiga bermuda milik Marbella. Namun tiba-tiba tubuh Marbella menggigil membuat Edmund sangat terkejut terlebih Marbella masih setia memejamkan ke dua matanya.


"Paman, kenapa tubuh Marbella menggigil dan ke dua tangannya sangat dingin seperti es?" Tanya Edmund dengan wajah panik sambil meletakkan kembali segi tiga bermuda tersebut.


"Apakah ke dua tangannya saja atau seluruh tubuh Marbella?" Tanya Alex.

__ADS_1


__ADS_2