
("Kamu pikir Ayah tidak tahu apa yang telah kamu lakukan? Kamu menyelamatkan ke dua anak kembar Tuan Edward padahal Ayah sangat yakin kalau mereka akan mati di tabrak truk tapi kamu sengaja menyelamatkannya." Ucap Ayah angkatnya dengan nada kesal).
("Saat ini Ayah tahu kalau kamu ingin pergi bersama mereka dengan menggunakan pesawat pribadi milik Tuan Edward dan Ayah yakinkan kalau kamu akan mati bersama keluarga Tuan Edward." Ucap Ayah angkatnya).
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Ayah angkatnya membuat Marbella terkejut mendengar ucapan Ayah angkatnya. Marbella langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah toilet.
Sampai di toilet Marbella masuk ke salah satu toilet kemudian menguncinya. Marbella melepaskan semua pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian menggantungkan pakaiannya di pintu lalu menatap pakaiannya dengan teliti hingga dirinya melihat ada benda kecil menempel di pakaian yang dikenakannya.
Marbella menarik benda kecil tersebut kemudian menyembunyikan benda tersebut di bawah closed. Marbella kembali menatap pakaian miliknya dan ternyata ada lagi hingga akhirnya ada empat benda yang tersembunti di pakaian miliknya dan bisa dipastikan adalah alat penyadap.
'Pantas saja Tuan Vincent tahu kalau aku berkhianat.' Ucap Marbella dalam hati sambil meletakkan tas yang ada ponselnya di atas closed.
__ADS_1
Marbella dengan sengaja meletakkan tasnya berikut ponselnya di dalam toilet. Marbella hanya membawa kartu identitas dan atm pribadinya dengan nama lain tanpa sepengetahuan Ayah angkatnya.
Marbella kembali mengenakan pakaiannya kemudian keluar dari kamar mandi menuju ke tempat semula di mana keluarga Daddy Edward sedang menunggu dirinya.
"Pesawat milik Daddy juga ada bom lebih baik kita naik pesawat lain." Ucap Marbella yang tidak memperdulikan jika nanti nyawanya dalam bahaya akibat mengkhianati Ayah angkatnya.
"Kamu serius Marbella?" Tanya Daddy Edward dengan wajah terkejut.
"Benar atau tidaknya Dad, lebih baik kita naik pesawat milik Cintya kebetulan orang tua Cintya juga mempunyai pesawat pribadi." Jawab Adara yang menjawab pertanyaan Daddy Edward.
Daddy Edward hanya menganggukkan kepalanya dan akhirnya mereka naik pesawat menuju ke negara kelahiran mereka tanpa ada halangan sedikitpun.
Di negara yang berbeda seorang pria paruh baya sangat marah karena Marbella telah tega mengkhianati dirinya.
__ADS_1
"Dasar anak kurang aj*r, percuma aku merawat dan mendidiknya!" Teriak Ayah angkatnya.
Prang
Prang
"Kalau tahu begini, aku tidak akan mengambil anak itu di panti asuhan!" Teriak Ayah angkatnya sambil membanting barang-barang yang ada di dekatnya.
"Kalian berempat pergi ke luar negri dan bunuh semua keluarga Tuan Edward termasuk anak yang tidak tahu di untung!" Perintah Ayah angkatnya.
Selama ini pria tersebut mengambil anak-anak panti asuhan, anak-anak jalanan dan menculik anak untuk di latih menjadi mesin pembunuh di mana dirinya melatih mereka dengan keras.
Banyak yang memakai jasa dirinya untuk melakukan pekerjaan kotor di antaranya membunuh lawan bisnis mereka yang membuat mereka kalah tender, menyewa bodyguardnya untuk membunuh saudaranya karena ingin menguasai harta warisan dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab ke empat pria tersebut sekaligus anak asuhan nya kemudian pergi meninggalkan mansion megah tersebut.
"Marbella, kamu harus mati karena telah berani mengkhianatiku." Ucap pria paruh baya tersebut sambil menahan amarahnya.