
"Aku rekan bisnisnya Tuan Alexander." Jawab pria tersebut.
"Tuan Alexander yang mana?" Tanya Daddy Delon orang tua Daddy Edward sekaligus Opanya Edwind, Edmund dan Adara yang tiba-tiba datang bersama saudara - saudaranya.
Glek
Pria itu menelan saliva nya dengan kasar karena dirinya tidak menyangka kalau keamanan pesta pernikahan Edwind dan Katty sangat ketat. Rencananya dirinya ingin menembak Marbella karena suaranya sangat ramai dan dirinya akan mudah lolos.
Tapi rencana tinggal rencana karena kini para tamu undangan mengeluarkan pistol ke arah dirinya sedangkan para wanita entah sejak kapan sudah tidak ada di ruangan pesta pernikahan tersebut.
Grep
"Kenapa kaget?" Tanya Daddy Edward sambil menahan tangan kiri pria tersebut sedangkan tangan kanannya di tahan oleh Daddy Delon.
"Kita bawa ke markas saja." Ucap Daddy Delon.
"Tidak lebih baik kami yang bawa karena saat ini cucu Kak Delon sedang menikah jadi otomatis biar Kak Delon yang menemani tamu undangan." Ucap Daddy Nathan.
Daddy Delon hanya menganggukkan kepalanya kemudian Daddy Nathan pergi bersama ke tiga putra kembarnya, ke dua menantunya dan beberapa anggota keluarga Alexander.
"Marbella." Panggil Edmund sambil berjalan ke arah Marbella.
"Ya." Jawab Marbella singkat.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu kalau dia adalah musuh yang menyamar menjadi tamu undangan?" Tanya Edmund penasaran.
"Ketika aku menatap tamu undangan, aku tidak sengaja melihat gerak gerik pria itu mencurigakan." Jawab Marbella.
'Maaf, sebenarnya pria itu adalah rekan kerjaku dan aku tidak ingin Kak Edmund dan keluarga Kak Edmund terluka.' Sambung Marbella dalam hati.
Edmund hanya menganggukkan kepalanya walau dalam hati kecilnya yang paling terdalam kalau Marbella menyembunyikannya.
Tanpa sepengetahuan mereka seseorang melihat Marbella dengan tatapan kebencian. Setelah tiga jam kemudian satu persatu para tamu undangan pergi meninggalkan pesta pernikahan. Keluarga besar Alexander menginap di hotel tersebut dan kebetulan milik keluarga besar Alexander.
xxxxxxx
Malam menjelang pagi, keluarga besar Alexander berkumpul di meja makan untuk makan bersama termasuk Marbella yang sudah di anggap keluarga Alexander.
Begitu pula dengan Adara mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju apartemennya hingga di jalan sepi mobilnya diikuti oleh seseorang.
Cittttttt
Adara terpaksa menghentikan mobilnya karena mobil tersebut tiba-tiba menyalip mobilnya kemudian keluarlah enam orang dari dalam mobil tersebut.
"Kalau tahu begini tadi aku ikut bareng sama Kak Edmund atau salah satu sepupuku." Ucap Adara sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
Adara menghubungi Daddy Edward dan Sambungan pertama langsung di angkat Mommy Alona karena Daddy Edward sedang mengendarai mobil.
__ADS_1
("Ada apa Adara?" Tanya Mommy Alona tanpa basa basi).
("Mommy tolong bilang Daddy, mobil Adara di ...." Ucapan Adara terpotong oleh gebrakan mobilnya).
(Brak Brak Brak Brak)
("Keluar!" Teriak para pria bersamaan).
("Pasang GPS, Mommy akan ke sana." Ucap Mommy Alona panik).
("Baik Mom." Jawab Adara sambil menyalakan GPS).
Dor Dor Dor
Prang
Ke tiga penjahat menembak kaca mobil secara bersamaan hingga tidak membutuhkan waktu lama kaca mobil tersebut pecah.
Adara yang tidak ingin terluka kena tembak terpaksa membuka pintu mobil bersamaan mereka mengarahkan pistolnya ke arah kening Adara.
Adara tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah kemudian Adara di bawa pergi oleh mereka.
Di tempat yang berbeda di mana Marbela bersama Edmund menuju ke apartemen milik Edmund tiba-tiba ponsel milik Marbela berdering sekali membuat Marbella mengambil ponselnya dari tasnya untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan tersebut.
__ADS_1
'Tuan Vincent kirim pesan, isinya apa ya?' Tanya Marbella dalam hati sambil menekan tombol untuk membaca isi pesan tersebut.