
"Aku percaya Kak Edwind tidak akan melukaiku." Jawab Katty.
'Aku sudah lumpuh dan ke dua tanganku tidak bisa digerakkan seperti dulu di tambah wajahku rusak. Jadi aku sudah pasrah jika seandainya aku mati di tangan Kak Edwind ataupun oleh orang lain.' Sambung Katty dalam hati.
"Aku membawakan obat untukmu, kalau percaya minumlah obat yang aku bawa." Ucap Edwind sambil mengeluarkan botol kecil kemudian membuka tutup botol tersebut.
Tanpa banyak bertanya Katty membuka mulutnya sedangkan Edwind memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya. Katty tanpa ragu menelan obat tersebut membuat Edwind tersenyum bahagia.
"Terima kasih kamu percaya padaku kalau aku tidak akan melukaimu ataupun memberikan racun." Ucap Edwind.
Katty hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga dirinya merasakan tubuhnya terasa sangat sakit membuat Katty meringis menahan rasa sakit teramat sangat.
"Ada apa? Kenapa kamu seperti menahan rasa sakit? Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Edwind dengan wajah terkejut.
"Tubuhku sakit sekali, apakah obat yang aku minum beracun?" Tanya Katty sambil tersenyum namun terlihat jelas wajah kecewa Katty.
"Jika obat itu memang beracun kenapa kamu percaya padaku dan meminumnya?" Tanya Edwind dengan wajah kecewa karena mengira dirinya meracuni Katty.
"Karena aku cacat baik wajah, ke dua tangan dan ke dua kakiku. Karena itulah jika ada orang yang memberikan aku racun maka aku akan meminumnya." Jawab Katty sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit.
"Kamu tidak semangat untuk hidup?" Tanya Edwind dengan wajah terkejut.
"Ya, jika memang obat yang aku minum ternyata beracun aku minta sama kak Edwind cukup aku yang diracuni." Ucap Katty sambil membuka matanya.
__ADS_1
Katty sangat terkejut ketika melihat wajah Edwind tidak terlihat jelas dan rasa sakit semakin bertambah besar membuat Katty kembali memejamkan matanya.
"Apakah di matamu, aku pria seperti itu?" Tanya Edwind.
Hening
Hening
"Katty." Panggil Edwind dengan wajah terkejut sambil mengecek nadi Katty.
Hening
"Masih bernapas, apakah obat yang diberikan tidak manjur?" Tanya Edwind pada dirinya sendiri sambil mengingat beberapa jam yang lalu.
Untuk wajah Katty, Edwind di minta oleh Katarina untuk di operasi di rumah sakit milik Daddy Alvonso karena Katarina akan membantunya untuk mengoperasi Katty agar kembali dengan normal dan tidak cacat.
"Katty, aku mohon sadarlah." Mohon Edwind untuk pertama kalinya memohon sambil menekan tombol darurat.
ceklek
Tidak berapa pintu ruang perawatan terbuka dengan lebar kemudian dokter masuk ke dalam dan diikuti oleh perawat.
"Maaf Tuan, silahkan menunggu di luar." Ucap perawat tersebut.
__ADS_1
Edwind hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruang perawatan hingga dirinya melihat ke dua orang tua Katty bersama Mommy Alona.
"Kenapa dokter datang? Apa yang terjadi dengan putriku?" Tanya Mommy Catherine.
"Aku tidak tahu tiba-tiba Katty tidak sadarkan diri." Jawab Edwind yang tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.
"Kamu tidak menceritakan tentang reuni itukan?" Tanya Daddy William dengan nada dingin.
"Tidak." Jawab Edwind dengan tegas.
Daddy William menatap ke arah Edwind dan tidak ada kebohongan di matanya kemudian Daddy William menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Kapan kamu akan menikahi putriku Katty?" Tanya Daddy William dengan wajah serius.
Edwind memalingkan wajahnya ke arah Mommy Alona untuk meminta penjelasan karena dirinya terkejut dengan perkataan Daddy William.
"Edwind, Mommy sudah menceritakan apa yang telah terjadi dan kamu akan bertanggung jawab untuk menikahi Katty." Ucap Mommy Alona yang mengerti arti tatapan Edwind.
Edwind menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke arah Daddy William dan Mommy Chaterine secara bergantian.
"Edwind akan bertanggung jawab menikah dengan Katty dan mengenai acara pernikahan Edwind ingin menikah secara sederhana yang hanya dihadiri keluarga." Ucap Edwind.
"Kenapa sederhana dan hanya dihadiri keluarga?" tanya Daddy William dan Mommy Chaterine bersamaan mengulangi perkataan Edwind dengan wajah kecewa.
__ADS_1