
"Seluruh tubuh Marbella sangat dingin Paman." Jawab Edmund sambil memeluk tubuh Marbella agar hangat.
"Itu karena efek dari racun itu." Jawab Alex.
"Apa yang harus aku lakukan Paman agar Marbella tidak kedinginan?" Tanya Edmund.
"Apakah kamu berencana akan menikah dengan Marbella?" Tanya Alex tanpa menjawab pertanyaan Edmund.
"Tentu saja Paman, memang kenapa Paman?" Tanya Edmund balik bertanya.
"Kalau begitu lakukan hubungan suami istri agar racun di dalam tubuh Marbella benar-benar hilang semuanya." Jawab Alex sambil berusaha berdiri karena tubuhnya sangat lemah seperti tidak bertulang.
Alex sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam karena itulah tubuhnya lemah bersamaan pintu ruangan tersebut terbuka.
Alex menatap ke arah pintu dan melihat istrinya sedang berjalan ke arah dirinya dengan wajah kuatir. Edmund yang ingin mengatakan sesuatu ke Alex tidak jadi mengatakannya.
"Sayang, kenapa tubuhmu menjadi lemah?" Tanya Dewi Arumi sambil menahan tubuh suaminya.
"Aku sudah mengeluarkan tenaga dalam ku karena itulah tubuhku jadi lemah." Jawab Alex pada istrinya.
"Edmund, lakukan sekarang dan jangan buang waktu." Sambung Alex pada Edmund.
"Baik Paman." Jawab Edmund sambil melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun.
"Lakukan apa sayang?" Tanya Dewi Arumi pada suaminya.
"Nanti aku ceritakan, ayo kita pergi dari sini." Ucap Alex yang tidak ingin mendengar suara merdu dari ruangan tersebut.
"Ok." Jawab Dewi Arumi singkat sambil pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kini Edmund dan Marbella tinggal berdua di ruangan tersebut selain itu kini tubuh Edmund polos tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
Ada adegan dewasa jika di bawah umur silahkan di skip begitu pula bagi yang tidak suka. Terima kasih
Edmund mencium bibir Marbella dengan lembut dan berakhir dengan lu x mat x tan sedangkan tangan kanannya memainkan pucuk gunung kembar himalaya.
Setelah puas mencium bibir Marbella, Edmund memasukkan salah satu pucuk kembar himalaya ke dalam mulutnya kemudian menyusunya seperti bayi raksasa.
"Ahhhhhhh..." suara merdu keluar dari mulut Marbella.
Edmund langsung menghentikan kegiatannya kemudian menatap ke arah Marbella yang ternyata masih setia memejamkan matanya. Edmund kembali memberikan pemanasan setelah di rasa cukup berlanjut ke permainan inti di mana tubuh mereka berdua disatukan.
Dihentakan pertama Edmund gagal namun Edmund tidak menyerah, di hentakkan ke dua Edmund gagal lagi dan dihentakan ke empat barulah berhasil itupun baru kepala wortel import nya.
"Sstttttt... Sakit..." Rintih Marbella.
"Maaf sayang, aku berjanji secepatnya kita menikah." Ucap Edmund sambil menatap Marbella yang masih memejamkan matanya.
Sretttt
"Akhhhhhhhh.... Sakittttt..!" teriak Marbella sambil memaksakan membuka matanya namun wajah Edmund tidak terlihat jelas membuat Marbella kembali memejamkan matanya.
Edmund mendorong perlahan wortel importnya agar lebih dalam masuk ke goa yang masih sangat sempit itu hingga Edmund merasakan ada penghalang yang berhasil di tembus oleh wortel importnya bersamaan teriakan kesakitan Marbella.
Edmund mendiamkan wortel importnya sambil menatap wajah cantik Marbella hingga perlahan Marbella membuka matanya tapi bayangan Edmund masih sama yaitu terlihat samar.
"Sakit ... Hiks ... Hiks ... " Ucap Marbella sambil terisak dan memeluk tubuh Edmund.
'Kenapa aku tidak bisa melihat wajah pria itu? Kenapa bagian privasi ku sangat perih?' tanya Marbella dalam hati.
Cup
"Maaf, kakak janji akan menikah denganmu." Ucap Edmund kemudian mengecup bibir Marbella dengan lembut.
__ADS_1
Setelah Marbella tenang barulah Edmund menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar dari wortel importnya.
Cup
"Terima kasih, secepatnya kita menikah." Ucap Edmund kemudian mengecup kening Marbella.
Marbella hanya menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya kembali. Sedangkan Edmund menarik wortel import nya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping.
Edmund menyelimuti tubuh polos Marbella kemudian memunguti satu persatu pakaiannya lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Hingga lima belas menit kemudian Edmund sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang tadi dikenakan.
Edmund mengambil baskom dan air hangat yang berada di dalam kamar mandi kemudian menlap tubuh polos Marbella hingga bersih. Edmund berkali-kali menelan salivanya dengan kasar ketika menlap tubuh Marbella.
Hingga lima belas menit kemudian siksaan tersebut sudah selesai karena Edmund sudah selesai menlap tubuh Marbella dan memakai pakaian yang tadi dikenakan.
"Aku janji akan menikah denganmu." Ucap Edmund sambil mengusap rambut Marbella.
Ceklek
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka membuat Edmund turun dari ranjang untuk melihat siapa yang datang.
"Sudah selesai?" Tanya Alex.
"Sudah Paman." Jawab Edmund yang mengerti pertanyaan Alex.
"Bagus, tolong bongkar kain penutup itu dan bakar kain putih yang ada noda darah namun sebelumnya gunakan sarung tangan dulu!" Perintah Alex pada ke dua perawat tersebut.
"Baik Tuan." Jawab ke dua perawat tersebut.
Ke dua perawat tersebut membongkar pembatas tersebut setelah selesai Alex mengecek kondisi Marbella yang masih setia memejamkan matanya.
"Kenapa Marbella belum juga sadar?" Tanya Edmund dengan wajah kuatir.
__ADS_1